Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luna Menyerang Paula
"Aku tidak menyangka aku harus melakukan ini," Pax berdecak tidak suka. Pasalnya Paula mengajaknya berkencan ke mall. Oh Tuhan, apa yang dilakukan adik manisnya itu. Seketika ia menyesal telah mengajak Paula berkencan.
Dalam sejarah hidupnya sepanjang 28 tahun, belum pernah kejadian ia berkencan di mall. Bahkan saat duduk di bangku sekolah, ia selalu menyenangkan para wanitanya dengan kemewahan, dan sekarang juga demikian. Tempat berkencannya adalah di atas ranjang mewah!
"Oh ayolah, Pax! Ini lah yang dilakukan pasangan pada umumnya. Di sini kita bisa melakukan apa saja. Arena bermain, bioskop, restoran, semuanya bisa dilakukan di dalam satu tempat dan aku ingin melakukannya." Paula menarik paksa tangan saudaranya agar masuk ke dalam mall tersebut.
Dengan berat hati, Pax akhirnya melangkahkan kakinya.
"Aku bisa membelimu mobil, Lala," Pax mencoba membujuknya dengan menyogoknya sebuah mobil sport keluaran terbaru, limitid edition.
Paula menggeleng dengan tegas, "Walau uangku tidak sebanyak yang kau miliki, tapi aku masih mampu untuk membelinya, Pax. Sudah, jangan banyak protes, nikmati saja kencan kita hari ini. Ini juga pertama kali bagiku, dan sayangnya aku harus melakukannya dengan saudaraku sendiri. Ingat Pax, wanita menyukai hal yang sederhana tapi penuh makna."
"Wanita suka kemewahan," Pax menyahut sembari memutar bola matanya jengah.
"Itu karena para wanita yang kau dekati tidak ada yang beres."
Begitu memasuki mall tersebut, semua mata langsung tertuju pada mereka. Perhatian penghuni mall menjadi milik mereka seutuhnya. Bahkan beberapa gadis menjerit histeris, segera mengabadikan kejadian langka yang jarang terjadi. Ya, sekali pun seorang model, Pax adalah pria yang tidak pernah diliput media, ia anti akan hal itu. Ia tidak suka diwawancarai. Bertemu dengannya langsung, juga adalah hal yang tidak mungkin, karena ia tidak pernah menetap di satu tempat.
Gosip tentang dirinya, jangan harapkan bisa wara wiri di televisi, karena satu menit berita tentangnya beredar, perusahaan yang berani menayangkannya akan mendapatkan mimpi buruk. Dalam sekejap perusahaan itu akan hancur.
Tapi jika publik yang mengambil foto dan menyebarkannya di media, dia bisa apa? Bisa meminta Ansel dan beberapa orangnya segera memusnahkan foto itu dari media. Ck! Pelit sekali kau, Pax!
Paula bergelayut manja di lengan Pax yang memasang wajah merengut kesal, berbanding terbalik dengan wajah Paula yang terlihat sangat sumringah.
"Tersenyum lah, Pax!" Paula mendelik dan mencubit kedua pipi pria itu agar membentuk sebuah senyuman. "Kau terlihat seperti pria teraniaya."
"Ya, itu memang aku. Kau menganiayaku."
"Wah, bajunya indah sekali," Paula mengabaikan Pax yang masih memasang wajah kesalnya, dengan menatap kagum pada sebuah gaun indah yang dipajang di etelase. "Oh Tuhan, tasnya juga sangat cantik."
"Kita bisa membelinya," Pax memutar bola mata melihat tingkah Paula yang menurutnya berlebihan menunjukkan kekagumannya pada sebuah barang yang jelas bisa ia beli beserta tokohnya sekalipun.
"Hais!" Paula memukul lengan Pax dengan kesal. "Aku sedang melakukan apa yang biasa dilakukan oleh pasangan normal jika sedang berkencan. Menginginkan sesuatu yang tidak mungkin dimiliki. Jadi si wanita memang menyukainya, tapi tidak memaksa kekasihnya untuk membeli setelah melihat bandrol harga. Dan jika pria mencintai si wanita, ia akan berusaha mendapatkannya dan memberikannya sebagai kejutan. Bukankah itu sangat manis, Pax." pekik Paula dengan menyatukan kedua tangannya hingga mengeluarkan bunyi satu tepukan.
Pax menatap Paula dengan raut tidak percaya, "Untuk itu penting mencari pasangan yang bisa memberikanmu segalanya. Jangan hanya karena fantasi konyolmu itu, kau lantas mencari kekasih miskin yang harus bekerja mati-matian untuk memberi kejutan padamu," tukas Pax dengan sengit.
"Kau menyebalkan! Tidak semua pria seberuntung dirimu. Tapi di luar sana pasti ada banyak pria sederhana yang mempunyai sejuta cinta yang bisa hidup hanya untuk satu wanita. Aku penasaran, seperti apa nantinya wanita yang akan membuatmu bertekuk lutut hingga kau melupakan dirimu siapa dan kehilangan akal sehatmu. Sampai tiba waktunya, percayalah, Pax! aku akan menertawakanmu!" ucap Paula dengan bersunguh-sungguh.
Pax tergelak, tanganya terulur mengacak rambut adiknya. "Sayang sekali keinginanmu itu tidak bisa kupenuhi. Wanita adalah hal terakhir yang kuinginkan dalam hidupku."
"Kau tidak ingin menikah?"
"Tanpa menikah, aku bisa bersenang-senang."
"Tidak ingin seperti Mom dan Dad? Grandma, Grandpa. Uncle dan Aunty, semuanya terlihat begitu bahagia dan penuh cinta bersama anak-anak mereka."
Pax tampak berpikir, lalu kemudian menggidikkan bahu tidak acuh.
"Pax, apa kau juga pernah mengalami kejadian buruk bersama wanita yang kau cintai, seperti yang dialami Pollux, kakak kita?" Paula bertanya serius. Ayolah, ia tidak ingin salah satu dari saudaranya itu melajang sampai menua yang nantinya akan disesalinya karena kesepian berkepanjangan.
Pax kembali tertawa, "Yang benar saja. Kita selalu hidup bersama selama 28 tahun. Adakah yang luput dari perhatianmu? Hm, lebih tepatnya mungkin ini sebuah kutukan."
"Kutukan?" tanya Paula dengan mengernyitkan dahi.
Pax mengangguk dengan wajah geli, "Kutukan dari para wanita yang mungkin sakit hati. Menyumpahiku agar menjadi seorang penyendiri,"
"Untuk itu berhenti bermain-main dengan selangkaangan para wanita itu!" Paula mencubit perutnya gemas bercampur kesal.
"Itu hal yang sulit." Pax segera merangkul pundak Paula. Kembali menuntunnya untuk berjalan. "Hanya dua hal yang bisa membuatku menundukkan kepala. Satu" Pax membentuk angka satu dengan jari telunjuknya, "Di hadapan Mommy. Dua," jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. "Di bawah selangkaangan... Argh!" Pax meringis karena Paula kembali mencubit perutnya.
"Kau menjijikkan, Pax!" Paula segera menjauh darinya.
"Hei, kau mau ke mana?"
"Toilet. Jangan ke mana-mana. Tetap di tempatmu."
Pax mengangguk, "Jangan membuatku menunggu lama jika tidak ingin kutinggal."
**
Paula masuk ke dalam toilet wanita, selesai buang air kecil, seperti kebanyakan yang dilakukan wanita pada umumnya, memeriksa dandanan mereka. Paula pun demikian, ia berdiri di depan cermin besar yang ada di dalam toilet.
Pintu terbuka, membuat Paula menoleh dan seketika tubuhnya menegang kaku.
Wanita yang baru masuk itu juga tampak terkejut melihat keberadaan Paula.
"Hai, kau sendirian?" tanya Luna dengan senyum manis yang mampu membuat semut beramai-ramai menghampirinya. "Sepertinya memang begitu," Luna melirikkan matanya pada tangan Paula yang mencengkram erat tali tasnya.
"Jangan takut begitu. Kau membuatku seperti orang asing, Lala." Luna mengunci pintu toilet, dan berjalan perlahan menghampiri Paula yang dengan wajah pucat dan tubuh bergetar berusaha untuk menjauh.
"A-apa..Ja-jangan mendekat," Sekuat tenaga Paula menahan tangisannya. Ia benci ini. Ia benci keadaannya. ia benci dirinya.
"Oh Lala, kenapa aku tidak boleh mendekat?" tanya Luna dengan suara lembut mendayu. "Apakah aku begitu hina dan kotor, sehingga tidak boleh berdekatan dengan seorang princess?" Luna merubah nada suaranya sehingga terdengar sangat terluka. "Lalu jika aku hina dan kotor, apa sebutan yang pantas untuk seorang pembunuh?"
Paula menggelengkan kepalanya, ia menutup kedua telinganya. Luna sudah berdiri tepat di hadapanya, membuat Paula kehilangan kekuatan dikedua kakinya. Ia seketika terduduk lemas di lantai.
Luna tertawa puas melihat Paula yang sedang ketakutan, "Aaron menjauh darimu, karena takut jika sewaktu-waktu kau membunuhnya. Aaron-mu tidak peduli lagi padamu, dia takut, Lala."
"He-hentikan..Bu-bukan aku.." Ingin rasanya Paula berteriak meminta pertolongan, tapi suaranya tercekat seolah tertahan di tenggorokan. Dadanya terasa sesak, ia mengalami kesulitan untuk bernapas. "Aa-aku membencimu,"
"Aaron mencintaiku dan Aaron takut padamu," Luna menimpali dengan senyum indah yang terpatri di wajahnya.
Luna mengulurkan tangannya, menarik kasar rambut Paula hingga kepala gadis itu dipaksa mendongak. Matanya merah penuh air mata, wajahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa. Luna lagi dan lagi tersenyum puas.
Seseorang, tolong aku. Paula membatin dan memohon.
Brak!
Salah satu pintu toilet dibuka kasar membuat Luna tersentak. Ia menoleh dan tidak berapa lama seorang wanita muncul dengan wajah datar.
"Kau tahu apa yang tidak boleh diganggu?" tanya wanita itu dengan tatapan yang terarah pada Luna.
"Saat makan dan saat boker," lanjut wanita itu dengan bahasa asing yang membuat Luna mengernyit.
"Kau baru saja mengganggu konsentrasiku, Nona. Aku mengalami sembelit beberapa hari ini. Dan disaat aku ingin membuang kotoran setelah beberapa hari tertimbun di dalam perutku, kau malah mengacaukannya, membuat kotorannya enggan ke luar." Alena melirik sekilas kepada Paula yang masih bergetar ketakutan.
Luna menatap jijik ke arahnya.
"Keluarlah!" usir Luna dengan lantang.
"Aku menolak." Alena bersedekap dengan santai.
"Jangan mencari gara-gara denganku," Luna menatapnya nyalang.
"Bacotannya membuatku hareudang seketika," Alena mendengus. "Kau lah yang mencari gara-gara denganku, Nona." Alena mendekat, menghampiri keduanya. Ia kembali melirik Paula, dan menyadari gadis itu masih bergetar ketakutan dengan napas tersenggal-senggal. Alena merogoh tasnya, mengeluarkan sebatang cokelat.
"Makanlah," ucapnya dengan lembut.
Paula mendongak, dan menemukan Alena sedang tersenyum padanya. Senyum yang berbeda dengan senyum yang ditunjukkan oleh Luna.
"Sedikit menjijikkan memakannya di dalam toilet, tapi setidaknya itu bisa menenangkanmu, mengalihkan ketakutanmu,"
Luna berdecak, membuat Alena menoleh ke arahnya. Alena menyunggingkan senyum sinis, "Ular betina yang sangat berbisa. Sebaiknya kau pergi sebelum aku benar-benar membuat perhitungan padamu,"
"Kau fikir aku takut?" Luna menimpali dengan senyum indahnya.
"Tentu saja tidak. Aku bisa melihat kau manusia seperti apa. Dan fyi, aku juga tidak takut menghadapi manusia sepertimu,"
Luna hendak membalas ucapan Alena, tapi gedoran di pintu membuatnya mengurungkan niatnya. Sebaiknya ia memang pergi.
Setelah kepergian Luna, beberapa orang masuk ke dalam toilet. Alena berjongkok dan memeriksa keadaan Paula.
"Kau baik-baik saja?" Alena merapikan rambut Paula yang berantakan.
Paula mengangguk cepat. "Te-terima kasih. Coklatnya sangat enak," Paula memaksakan diri untuk tersenyum.
Alena membalas senyumnya. "Mari kubantu berdiri," menuntun Paula ke luar.
"Kau datang sendiri?" tanya Alena, khawatir jika Luna masih menunggu Paula.
"Aku bersama seseorang." Paula sudah lebih tenang.
"Baguslah. Aku akan mengantarkamu padanya."
Pax segera berdiri begitu melihat Paula bersama orang yang tidak asing. Ia segera mendekat, menghampiri keduanya.
Paula segera menjatuhakan dirinya ke dalam pelukan Pax. Alena terkejut mendapati pria itu di sana, dan bahkan dengan penuh sayang membalas pelukan Paula sembari mengusap lembut rambut panjang gadis itu. Alena terkesima melihat penampakan yang terlihat begitu tulus tanpa dibuat-buat.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Pax bertanya dengan lembut dengan sorot mata sayu yang mampu membuat jantung Alena berdegup.
Paula menggeleng, "Aku hanya terkunci di dalam toilet, untung ada.." Paula melepaskan pelukannya, dan menoleh ke arah Alena.
"Alena," jawab Alena dengan segera seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Paula.
"Alena. Terima kasih Alena," Paula menghampirinya dan menggenggam kedua tangannya. Alena mengangguk sembari tersenyum.
"Bagaimana lukamu?" pertanyaan Pax membuat Alena dan Paula menoleh.
"Sudah kering."
"Kalian saling mengenal?" tanya Paula tidak percaya. Dan ia terpekik girang begitu Alena dan Pax kompak mengangguk.
"Kekasihmu?" Alena menggigit lidahnya atas pertanyaan yang menurutnya sangat lancang.
"Huh?" Pax dan Paula kompak mengernyitkan dahi.
"Sebaiknya aku pergi, lain kali berhati-hati lah."
Alena mengusap lengan Paula. "Dan kau, perhatikan dan jaga wanitamu dengan baik," Alena mendelikkan matanya pada Pax, sebelum ia pergi.
Pax dan Paula melongo, menatap kepergian gadis asing itu.