NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Jejak Yang Tertinggal

Rumah kecil tempat Nadira dibesarkan masih berdiri seperti dulu. Cat temboknya memang mulai memudar dimakan waktu, tetapi halaman depannya tetap dipenuhi pot-pot bunga yang dirawat dengan rapi oleh ibunya. Aroma melati yang ditanam di dekat teras bercampur dengan wangi teh hangat yang baru saja diseduh, menghadirkan ketenangan yang selalu dirindukan Nadira setiap kali pulang.

Sudah beberapa hari sejak pembobolan Toko Buku Senja dan berbagai kejadian aneh yang terus mengikutinya. Semakin banyak pertanyaan muncul, semakin kuat keinginannya untuk mengetahui masa lalu ayahnya. Ia merasa jawaban atas semua teka-teki itu mungkin selama ini berada lebih dekat daripada yang ia kira.

Ibu Nadira, Lestari, keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir teh.

"Nggak bilang mau datang, Ibu jadi nggak sempat masak makanan favoritmu."

Nadira tersenyum tipis. "Aku cuma ingin ngobrol, Bu."

Lestari mengangguk pelan. Ada sesuatu dari raut wajah putrinya yang membuat beliau tahu kedatangan Nadira kali ini bukan sekadar melepas rindu.

Mereka duduk berdampingan di ruang keluarga. Dinding rumah itu masih dipenuhi foto-foto lama. Ada foto Nadira saat pertama kali masuk sekolah dasar, foto keluarga sederhana ketika ayahnya masih hidup, hingga beberapa piagam yang masih tergantung rapi di sudut ruangan.

Tatapan Nadira berhenti pada sebuah foto lama. Ayahnya berdiri mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan senyum sederhana yang selalu membuatnya merasa tenang.

Tanpa sadar, ia menarik napas panjang.

"Bu..."

"Hm?"

"Ayah dulu sebenarnya kerja di mana?"

Lestari tampak sedikit heran. "Lho, kok tiba-tiba tanya begitu?"

Nadira terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membuka tas yang dibawanya. Ia mengeluarkan map tua berisi surat pengangkatan kerja yang beberapa waktu lalu ditemukan di gudang Toko Buku Senja.

"Aku menemukan ini."

Lestari menerima surat itu perlahan. Begitu melihat nama suaminya tertulis di sana, matanya seketika melembut.

"Iya..." Lestari mengusap pelan permukaan kertas yang mulai menguning. "Ini memang surat pengangkatan kerja ayahmu."

"Jadi benar... Ayah bekerja di Wijaya Group?"

Lestari mengangguk pelan. "Iya." Dia tersenyum kecil mengenang masa lalu. "Dulu setelah lulus kuliah, Ayahmu diterima sebagai auditor internal di salah satu kantor cabang Wijaya Group. Waktu itu perusahaan mereka belum sebesar sekarang."

Nadira mendengarkan dengan saksama.

"Beliau memang ditempatkan di kantor cabang. Setiap hari berangkat pagi, pulang menjelang malam. Kadang kalau sedang musim audit, bisa beberapa hari lembur."

"Berarti Ayah memang nggak pernah pindah ke kantor pusat?"

Ibunya menggeleng. "Setahuku tidak."

Jawaban itu membuat Nadira mengernyit. Apa yang ditemukannya di buku catatan ayah seolah menunjukkan hal berbeda.

"Tapi..." ucapnya pelan. "Di catatan Ayah ada banyak laporan yang berhubungan dengan kantor pusat."

Ibunya tampak berpikir beberapa saat. "Sebenarnya pernah."

"Apa?"

"Dulu Ayahmu memang beberapa kali diminta membantu audit data yang dikirim ke kantor pusat."

Nadira langsung mengangkat wajah.

"Maksudnya?"

"Kalau ada proyek besar, kantor cabang biasanya mengirim laporan keuangan untuk diperiksa lagi. Nah, Ayahmu termasuk salah satu auditor yang dipercaya melakukan pengecekan sebelum semua data dikirim."

"Jadi meskipun bekerja di cabang, ayah tetap menangani audit proyek-proyek besar?"

"Iya."

Nadira perlahan mulai menyusun potongan-potongan informasi yang selama ini tercerai-berai. Berarti benar dugaannya. Ayahnya bukan auditor biasa. Meski statusnya berada di kantor cabang, tanggung jawabnya ternyata jauh lebih besar. Ia kembali membuka buku catatan yang dibawanya.

"Bu..."

"Ibu ingat nggak proyek terakhir yang Ayah kerjakan?"

Pertanyaan itu membuat ibunya termenung cukup lama. Tatapannya kosong, seolah sedang berusaha menarik kembali kenangan yang sudah puluhan tahun tersimpan.

"Ayahmu … sering sekali membawa pekerjaan ke rumah. Kadang setelah makan malam beliau masih membuka berkas sampai larut. Dia selalu bilang kalau angka-angka itu harus cocok."

Nadira ikut tersenyum kecil membayangkan kebiasaan ayahnya. "Lalu proyek terakhir?"

Ibunya menarik napas pelan. "Kalau Ibu nggak salah ingat... waktu itu kamu baru sekitar empat tahun.  Waktu itu Ayahmu sedang menangani audit proyek renovasi sebuah kawasan perumahan."

"Perumahan?"

Lestari mengangguk pelan. "Katanya proyeknya cukup besar. Beberapa kali harus pergi ke lokasi, pulangnya sampai malam."

Nadira mencoba mengingat sesuatu, tetapi tidak ada satu pun kenangan yang muncul. Usianya saat itu memang masih terlalu kecil.

"Ayah pernah cerita nama proyeknya?"

Ibunya menggeleng pelan. "Tidak pernah, hampir nggak pernah membawa pekerjaan ke dalam obrolan keluarga. Kalau ditanya, jawabannya selalu sama. Ayah cuma bilang sedang menghitung angka."

Nadira menundukkan kepala. Ia membuka kembali beberapa halaman buku catatan ayahnya. Di sana masih tertulis nama yang sama.

Aurora.

Beberapa kali. Dengan lingkaran merah.

"Bu..." Nadira memperlihatkan salah satu halaman. "Ibu pernah dengar nama Proyek Aurora?"

Ibunya memperhatikan tulisan itu cukup lama. Lalu perlahan menggeleng. "Belum pernah."

"Nggak pernah sekalipun?"

"Tidak."

Beliau mengusap pelan punggung tangan Nadira. "Memangnya kenapa?"

Nadira mengembuskan napas panjang.

"Beberapa hari terakhir banyak hal aneh terjadi. Toko dibobol. Ada orang yang sepertinya mengincar dokumen Ayah. Kami juga menemukan banyak halaman buku yang hilang."

Wajah ibunya perlahan berubah cemas. "Kamu bilang... ada orang mencari dokumen Ayah?"

"Iya. Untungnya dokumen itu nggak ada di toko waktu pembobolan."

Ibunya langsung menggenggam tangan Nadira lebih erat. "Nad… Hentikan penyelidikan ini."

Nadira menatap ibunya.

"Ibu takut. Ayahmu sudah meninggal. Kalau memang ada sesuatu yang sengaja beliau sembunyikan… mungkin dia memang tidak ingin kamu mengetahuinya."

Nadira menggeleng pelan. "Tapi sekarang semuanya sudah terlanjur terjadi. Aku nggak bisa pura-pura nggak tahu. Ada orang yang membobol toko, mengikuti kami. Kalau aku berhenti sekarang… aku justru nggak akan pernah tahu alasan semua ini."

Ibunya tidak langsung menjawab, hanya memandang foto suaminya yang masih tergantung di dinding ruang keluarga.

"Ayahmu orang yang jujur." Suara itu terdengar pelan. "Beliau nggak pernah berani mengambil yang bukan haknya. Kalau benar menyimpan sesuatu, Ibu yakin itu bukan untuk dirinya sendiri."

Kalimat itu membuat Nadira kembali menatap foto ayahnya.

Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian ini dimulai, ia merasa semakin mengenal sosok Hendra Pramesti.

Bukan hanya sebagai ayah yang penyayang. Tetapi juga seorang auditor yang memegang teguh prinsipnya.

Namun justru karena prinsip itulah, mungkin tanpa disadari, beliau pernah menyentuh rahasia yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.

Nadira menutup kembali buku catatan itu perlahan. Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Proyek Aurora benar-benar pernah ada.

Melainkan...

Apa yang sebenarnya ditemukan Hendra Pramesti hingga bertahun-tahun setelah kepergiannya, masih ada orang yang berusaha menghapus setiap jejak yang ia tinggalkan? 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!