Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Keesokan paginya, Liana terbangun dengan tubuh yang luar biasa sakit.
Sinar matahari yang menerobos celah ventilasi kamar kostnya terasa begitu menyengat, memaksa netranya yang sembap untuk terbuka.
Detik berikutnya, rasa perih yang teramat sangat menjalar dari bagian bawah tubuhnya, seketika menghantam kesadarannya dan mengingatkannya pada neraka semalam.
Liana bangkit dengan bertumpu pada lengannya, tetapi ia langsung meringis.
Di pergelangan tangannya, jejak memar kebiruan berbentuk cengkeraman jari tangan yang besar tercetak dengan begitu jelas.
Kulitnya yang putih kini ternoda oleh tanda kebrutalan seorang monster.
Air mata Liana kembali menetes, luruh membasahi bantalnya yang sudah lembap sejak semalam.
Dengan tubuh gemetar, ia meraih tas kanvas lusuh yang tergeletak di lantai dekat tempat tidur.
Jemarinya meraba ke bagian dalam, lalu menarik selembar kain yang sengaja ia sembunyikan di sana.
Sebuah bandana kain hitam dengan rajutan inisial "Kz" berwarna perak yang kontras.
Liana menatap benda itu dengan tatapan kosong sekaligus ngeri.
Kain inilah yang semalam merenggut penglihatannya, mengurungnya dalam kegelapan saat kehormatannya dihancurkan tanpa ampun.
Benda ini adalah bukti nyata—sebuah saksi bisu bahwa kejadian traumatis semalam bukan sekadar mimpi buruk atau delusi dari rasa lelahnya. Itu nyata. Ia telah dinodai oleh pria asing berdarah dingin.
"Mengapa harus aku...?" bisik Liana parau, suaranya tercekat di tenggorokan yang terasa kering.
Dadanya berdenyut menyakitkan, dipenuhi rasa sesak dan kehancuran yang tak kasatmata.
Jiwanya terguncang hebat, rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini.
Namun, jam dinding yang terus berdetak seolah menariknya kembali pada realitas yang kejam. Pukul tujuh pagi.
Meskipun batinnya menjerit menolak, Liana memaksa dirinya untuk turun dari ranjang.
Kakinya gemetar saat menapak di lantai semen yang dingin, menahan rasa sakit di sekujur persendian.
Ia melangkah ke kamar mandi, menyalakan pancuran air, dan mulai menggosok kulitnya dengan kasar.
Ia menuangkan sabun berkali-kali, menggosok lengan, leher, dan tubuhnya hingga memerah, mencoba menghapus sisa-sisa aroma maskulin dan sentuhan menjijikkan yang masih terasa melekat erat.
Liana menangis di bawah guyuran air, meredam suara tangisannya agar tidak terdengar oleh penghuni kost lain.
Setelah selesai, ia menatap pantulan dirinya di cermin buram.
Wajahnya pucat, matanya bengkak, tetapi ada binar tekad yang dipaksakan di sana.
Liana tahu ia tidak boleh ambruk. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan dunia.
Ia adalah sebatang kara di kota kejam ini; ia butuh pekerjaan di perusahaan logistik itu untuk membayar sewa kost dan bertahan hidup.
Mengurung diri dan meratapi nasib tidak akan memberinya makan.
Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Liana memakai kemeja kerja berlengan panjang untuk menutupi memar di tangannya.
Ia memulas riasan tipis demi menyamarkan rona pucat di wajahnya, menyembunyikan luka terdalamnya di balik topeng profesionalisme.
Sebelum melangkah keluar kamar, ia melirik tasnya, meyakinkan diri bahwa benda bertuliskan "Kz" itu terkunci rapat di dalam sana—sama seperti tekadnya untuk mengubur memori malam itu sedalam mungkin.
Liana menarik napas panjang, menegakkan bahunya, dan melangkah keluar untuk menghadapi dunia.
Langkah kaki Liana terasa begitu berat saat ia memasuki area kantor administrasi logistik.
Atmosfer tempat kerja yang biasanya sibuk dan bising oleh deru truk di luar, hari ini terasa berbeda.
Di beberapa sudut ruangan, para karyawan tampak berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling berbisik dengan raut wajah tegang.
"Kalian dengar tidak? Semalam di jalur pergudangan belakang ada bentrokan besar," bisik seorang staf dari divisi keuangan yang dilewati Liana.
"Iya, katanya geng motor Black Cobra diserang musuhnya. Ada kecelakaan parah juga di sana semalam. Polisi sampai turun tangan subuh tadi
Mendengar kata 'kecelakaan' dan 'jalur pergudangan," jantung Liana serasa berhenti berdetak.
Darahnya berdesir dingin. Ia mempercepat langkah, setengah berlari menuju kubikel mejanya demi menghindari obrolan yang membuat luka semalam kembali menganga.
Liana duduk di kursinya, mencoba fokus pada layar komputer. Namun, jemarinya membeku di atas papan ketik.
Sepanjang pagi itu, Liana bekerja dengan gerakan lambat dan tatapan kosong.
Pikirannya melayang, terjebak dalam kegelapan dan tangisan minta tolong yang ia suarakan semalam.
Wajahnya yang biasa cerah dan penuh semangat, kini pucat pasi bagai mayat hidup.
Riasan tipis yang ia poles tadi pagi sama sekali tidak mampu menyembunyikan gurat trauma di matanya.
Rista, sahabat dekat sekaligus rekan kerja yang mejanya tepat berada di sebelah Liana, sejak tadi memperhatikan gerak-gerik aneh itu.
Menyadari perubahan drastis pada sahabatnya, Rista akhirnya tidak tahan untuk tidak bertindak.
Ia bangkit dan langsung menghampiri meja Liana.
Rista mengetuk meja Liana pelan, lalu mengerutkan kening penuh rasa khawatir.
"Pucat sekali kamu, Li. Kamu sakit?"
Deg!
Liana tersentak panik. Pertanyaan sederhana itu terdengar seperti tuduhan yang mengintimidasi di telinganya.
Ia buru-buru menarik lengan kemeja panjangnya ke bawah, memastikan memar kebiruan di pergelangan tangannya tidak mengintip keluar.
Ia mencoba tersenyum kaku—sebuah senyuman yang tampak begitu dipaksakan demi menutupi trauma hebat yang sedang mencabik-cabik batinnya.
"N-nggak apa-apa, Ris. Mungkin, cuma karena mau datang bulan," bohong Liana dengan suara bergetar yang berusaha ia tegangkan.
Matanya bergerak gelisah, tidak berani menatap langsung manik mata Rista.
Rista menyipitkan mata, menelisik raut wajah sahabatnya. Ia tahu betul bagaimana Liana jika sedang datang bulan, dan ini sama sekali tidak terlihat seperti itu. Liana tampak ketakutan, seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.
Rista tidak sepenuhnya percaya dengan alasan itu, tetapi melihat tubuh Liana yang menegang defensif, ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh demi kenyamanan Liana.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau kamu merasa sudah tidak kuat, jangan dipaksakan ya, Li. Minta izin pulang saja," kata Rista lembut sambil menepuk bahu Liana pelan sebelum kembali ke mejanya.
Sentuhan di bahu itu membuat Liana sedikit tersentak, namun ia hanya bisa mengangguk pelan.
Setelah Rista pergi, Liana menunduk dalam-dalam. Air matanya nyaris tumpah lagi. Ia tahu, mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Sementara Liana berjuang mengumpulkan sisa-sisa jiwanya yang hancur di kantor logistik, suasana di sudut lain kota menyajikan kontras yang luar biasa ekstrem.
Di lantai tiga Rumah Sakit Husada, atmosfer begitu tenang, elegan, dan steril.
Aroma aromaterapi lavender yang menenangkan menguar halus di udara, berpadu dengan pencahayaan hangat yang sengaja dirancang untuk memberi kenyamanan.
Di balik pintu kayu jati berpelat kuningan bertuliskan dr. Kenzo, Sp.OG, sebuah konsultasi medis sedang berlangsung dengan penuh profesionalisme.
Di dalam ruangan itu, seorang pria dengan potongan rambut rapi dan pembawaan yang luar biasa tenang sedang memeriksa seorang pasien.
Gerakan tangannya saat memegang alat ultrasonografi (USG) begitu presisi dan berhati-hati.
Wajahnya yang rupawan tampak fokus menatap layar monitor, menampilkan senyum tipis yang menenangkan saat menjelaskan kondisi janin kepada sang pasien.
Pria itu adalah Dokter Kenzo. Di dunia medis, ia dikenal sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang sangat dihormati, tampan, dan terkenal bertangan dingin.
Kombinasi antara kecerdasan, ketampanan yang memikat, dan reputasi medis yang cemerlang membuatnya menjadi dokter kandungan primadona.
Pasien-pasien setianya bukanlah orang sembarangan, melainkan kaum ekspatriat dan sosialita papan atas kota ini yang rela mengantre berbulan-bulan demi mendapatkan jadwal pemeriksaannya.
"Semuanya terlihat sangat bagus dan sehat, Nyonya. Jaga pola makan dan pastikan vitaminnya diminum teratur," ucap Kenzo dengan suara bariton yang lembut dan begitu meneduhkan.
Suara yang sanggup membuat pasien mana pun merasa aman dan memercayakan hidup mereka kepadanya.
Sang pasien tersenyum lebar, berulang kali mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan dengan hati puas.
Begitu pintu ruang praktik tertutup rapat dan menyisakan dirinya sendiri, transformasi yang mengerikan terjadi.
Senyum ramah yang menghiasi wajah Kenzo lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata yang sedingin es dan rahang yang mengeras kaku.
Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja ergonomis miliknya, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Tidak ada satu orang pun di rumah sakit ini—mulai dari jajaran direksi, para perawat, hingga pasien-pasien kelas atas itu— yang menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan.
Mereka tidak tahu bahwa di balik jas putih yang bersih, wangi, dan steril itu, mengalir darah seorang kriminal bertangan besi.
Kenzo adalah pemimpin tertinggi Black Cobra—geng motor paling kejam, disegani, dan tak kenal ampun yang menguasai jalanan hitam dan dunia bawah kota ini.
Jika di siang hari ia adalah sang penyelamat yang membantu kelahiran kehidupan baru, maka di malam hari, ia adalah sang malaikat maut yang tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang berani mengusik wilayahnya.
Kenzo menatap telapak tangannya yang terbalut sarung tangan medis lateks.
Ingatannya kembali berputar pada sisa-sisa kegilaan semalam.
Zat perangsang sialan yang dipaksakan masuk ke tubuhnya, kecelakaan hebat itu, dan, wanita beraroma manis di semak-semak pergudangan.
Dengan sentakan kasar, ia melepas sarung tangan lateksnya dan membuangnya ke tempat sampah medis.
Pria itu mengambil ponselnya di atas meja, lalu mengetik sebuah pesan singkat kepada anggota geng motornya luar sana.
[Cari wanita yang ada di jalur pergudangan belakang semalam. Bawa dia ke hadapanku hidup-hidup.]
Jam praktik Dokter Kenzo hari itu baru saja usai. Di luar jendela besar ruang kerjanya, langit senja perlahan meredup digantikan oleh temaram lampu kota.
Setelah membersihkan tangannya, Kenzo baru saja hendak melepas jas putih kebanggaannya ketika pintu ruang praktiknya tiba-tiba terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
Seorang wanita dengan pakaian modis masuk dengan langkah terburu-buru.
Wajah Kania tampak cemas, napasnya sedikit memburu seolah ia baru saja berlari melewati koridor rumah sakit.
Ekspresi wajahnya kembali datar, sedingin es, menatap wanita yang kini berdiri di depan mejanya itu.
"Semalam kamu kemana, Kenzo?" tanya Kania langsung, matanya menatap Kenzo dengan intens, mencoba mencari tanda-tanda atau luka di tubuh pria itu.
Sebagai wanita yang diam-diam menaruh hati dan terus memantau pergerakan Kenzo, hilangnya pria itu semalam di area pergudangan membuatnya sangat cemas.
Kenzo menaikkan satu alisnya tipis.
"Aku pulang, Kania. Kenapa?" jawabnya santai, suaranya bariton dan begitu tenang, seolah tidak ada satu pun kekacauan yang terjadi semalam.
Kania meremas tali tasnya, tampak gugup di bawah tatapan tajam Kenzo.
"T-tidak apa-apa. Aku hanya, takut kalau ada geng motor yang mengganggumu di jalan."
Sorot mata Kenzo seketika menajam. Kalimat Rista barusan memicu naluri kewaspadaannya.
Bagaimana wanita ini bisa tahu tentang kejadian semalam? Apakah dia tahu sesuatu tentang penyerangan yang dialaminya?
"Geng motor lain? Maksudnya?" tanya Kenzo dingin, menekankan setiap kata dengan tekanan yang mengintimidasi.
Menyadari dirinya hampir saja keceplosan dan takut rahasianya—atau keterikatannya dengan informasi dunia bawah—ketahuan oleh Kenzo, Kania langsung panik.
Ia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya dan memaksakan sebuah senyuman manis demi mengalihkan pembicaraan.
"Ah, bukan apa-apa! Maksudku, belakangan ini kan berita di televisi sering menayangkan bentrokan geng motor yang meresahkan di jalanan malam," kilah Rista cepat.
Ia melangkah lebih dekat ke meja kerja Kenzo, mencoba mencairkan ketegangan.
"Daripada membahas itu, bagaimana kalau kita makan malam bersama sekarang? Kamu pasti lelah setelah seharian praktik."
Kenzo hanya menatap Kania datar, tidak mengiyakan namun juga tidak langsung menolak, sementara otaknya terus menganalisis setiap gerak-gerik wanita di depannya.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, jam pulang kantor akhirnya tiba.
Liana berjalan gontai menuju tempat parkir motor di kantor logistik.
Tubuhnya masih terasa luar biasa remuk, dan setiap langkah yang ia ambil terasa bagai siksaan fisik yang nyata.
Kelelahan mentalnya jauh lebih parah; bayangan hitam dan dinginnya malam itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Saat menghidupkan mesin motor matic-nya, Liana menatap jalan keluar gerbang. Ingatannya langsung melayang pada jalur pintas pergudangan sepi yang biasa ia lalui.
Tubuhnya mendadak merinding hebat, dan rasa trauma yang pekat kembali mencekik dadanya.
'Tidak. Aku tidak akan pernah lewat sana lagi,' batin Liana berteriak histeris.
Dengan tangan yang masih gemetar di atas stang motor, Liana memutuskan untuk memutar arah.
Ia memilih untuk mencari jalan lain—jalan raya utama yang jauh lebih memutar, lebih ramai, dan diterangi lampu jalan yang terang benderang.
Meskipun membutuhkan waktu setengah jam lebih lama untuk sampai ke kostnya, Liana tidak peduli.
Baginya, jalan pintas itu kini telah menjelma menjadi sebuah gerbang neraka yang tidak akan pernah sudi ia lewati lagi seumur hidupnya.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak