Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
Sore itu, paviliun taman istana Oakhevene diselimuti oleh warna jingga kemerahan yang perlahan memudar, digantikan oleh semburat ungu senja. Cassian dan Aurelia duduk berhadapan, namun perhatian mereka tidak lagi tertuju pada cangkir teh yang mengepul di atas meja kayu ek. Fokus mereka sepenuhnya terikat pada selembar perkamen yang disegel dengan logam perak murni—sebuah dekrit resmi dari Kerajaan Valencia. Isinya sangat spesifik dan menuntut: Cassian dan Aurelia diperintahkan segera kembali ke ibu kota Frosthelm untuk menetap di istana Frosthold, karena para tetua bersikeras bahwa pewaris yang dikandung Aurelia harus tumbuh di sana agar memiliki "darah murni" Valencia sejak di dalam kandungan.
Aurelia meletakkan perkamen itu dengan tangan sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang tertahan. "Isi dekrit ini bukan sekadar permintaan, Cassian. Mereka ingin menggunakan kehamilan ini sebagai alat legitimasi untuk mengunci kita di dalam Frosthold. Mereka ingin memisahkan kita dari pengaruh hangat Oakhevene agar anak ini hanya mengenal dinginnya tradisi mereka."
Cassian meraih tangan istrinya, menggenggamnya dengan erat. "Dunia ini telah berubah, Aurelia. Aku tidak akan membiarkan mereka merasa bahwa aku adalah pangeran yang tunduk pada keinginan mereka. Kita akan kembali ke Frosthelm, namun sebagai penguasa yang membawa perubahan nyata bagi Frosthold."
"Jika kita pergi ke sarang itu, kita akan melakukannya dengan kekuatan kita sendiri," ujar Aurelia dengan sorot mata tajam. "Aku akan meminta izin Ayah, dan ada satu orang yang harus kita ambil kembali dari isolasi agar ia bisa menjaga rumah kita saat kita pergi."
Restu dan Permintaan Izin
Aurelia melangkah mantap menuju ruang kerja Raja Alistair. Ia menemukan ayahnya sedang menatap peta wilayah Perserikatan. "Ayah, Valencia menuntut kami kembali ke Frosthelm. Mereka bersikeras bahwa cucumu harus tumbuh di Frosthold agar murni dalam tradisi mereka. Aku ingin restu Ayah sebelum kami pergi."
Raja Alistair memandang putrinya dengan tatapan penuh kasih namun berat. "Itu adalah wilayah yang penuh dengan masa lalu yang kelam, Aurelia. Kau tahu benar betapa sulitnya hubungan kita dengan kerajaan utara itu."
"Aku tahu, Ayah. Tapi aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh tanpa mengenal asal-usulnya, dan aku tidak akan membiarkan Frosthold tetap membeku dalam ketakutan," tegas Aurelia.
Raja Alistair akhirnya mengangguk. "Jika itu adalah jalan yang harus kalian tempuh untuk menyatukan benua ini, maka pergilah. Tapi berjanjilah padaku satu hal: jangan biarkan kejamnya es di sana membekukan hatimu."
Menjemput Elian: Pertemuan yang Penuh Kenangan
Setelah mendapatkan restu, Aurelia dan Cassian melakukan perjalanan magis menuju pegunungan terpencil tempat Akademi Tertutup berdiri. Di sinilah Elian, adik Aurelia, telah menghabiskan tiga tahun terakhir. Begitu gerbang terbuka, sosok Elian muncul, tampak lebih jangkung dan dewasa.
"Kakak?" seru Elian tidak percaya. Saat Aurelia memeluknya, air mata adiknya itu pecah. "Aku pikir aku tidak akan melihat kalian lagi sebelum masa studiku selesai."
Aurelia mengusap rambut adiknya, merasakan nostalgia yang mendalam. "Kau tumbuh begitu cepat, Elian. Ingatkah kau saat kita bermain di taman istana dan kau menangis karena jatuh dari pohon apel? Aku harus menggunakan sihirku agar kau tidak menyentuh tanah."
Elian tertawa, air matanya masih membekas. "Aku ingat. Kakak selalu terlalu protektif. Tapi sekarang, lihatlah, aku sudah belajar sihir pertahanan tingkat tinggi."
Malam itu, di sekitar api unggun, mereka berbicara panjang lebar. Aurelia dan Cassian memutuskan untuk tetap menyembunyikan kenyataan pahit tentang bagaimana Paman Varelius pernah mengkhianati mereka dan mencoba merebut takhta, serta tentang pertarungan maut Aurelia melawan Lord Malakor.
"Kenapa kalian datang menjemputku sekarang?" tanya Elian sambil menatap api. "Apakah ada bahaya besar?"
"Kami hanya merindukanmu," jawab Aurelia berbohong dengan lembut. "Kami akan ke Frosthelm, ke istana Frosthold. Oakhevene butuh seseorang yang bisa dipercaya untuk mendampingi Ayah saat kami pergi. Kami butuh kau, Elian."
Elian menatap kakaknya dengan serius. "Kak, aku tahu ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Kalian terlihat lebih tegang daripada saat terakhir kita bertemu tiga tahun lalu. Apakah kalian akan baik-baik saja di Frosthold?"
Aurelia menggenggam tangan adiknya. "Dunia ini penuh dengan rahasia, Elian. Beberapa rahasia terlalu berat untuk dipikul oleh orang yang sedang berjuang untuk masa depannya. Kami hanya ingin kau belajar menjadi pemimpin yang kuat di sini."
"Aku akan melakukannya," jawab Elian mantap. "Aku akan menjaga Oakhevene untuk kalian. Tapi berjanjilah, kalian harus kembali dengan selamat. Jangan biarkan dinginnya Frosthelm mengubah kalian menjadi seperti mereka."
Perjalanan Menuju Jantung Es
Perjalanan menuju Frosthelm adalah sebuah pengembaraan yang menguji kesabaran. Jarak ribuan mil memisahkan Selatan yang hangat dengan Utara yang diselimuti salju abadi. Selama berminggu-minggu, iring-iringan kerajaan membelah dataran beku. Di dalam kereta kencana yang hangat, Aurelia sering berbincang dengan Cassian tentang bagaimana mereka akan mengubah kebijakan di Frosthold.
"Frosthelm tidak akan sehangat ini," ucap Cassian suatu malam saat badai salju mengamuk hebat di luar. "Tapi denganmu di sana, aku tahu rumah tidak akan lagi terasa asing."
Aurelia menyandarkan kepalanya di bahu Cassian. "Kita akan mengubah Frosthold, Cassian. Kita tidak akan membiarkan dinginnya tradisi tua membekukan masa depan anak kita."
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, gerbang raksasa Frosthelm akhirnya terlihat di cakrawala, menjulang seperti benteng raksasa yang menembus awan. Saat iring-iringan mereka memasuki jalanan kota, rakyat menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sesampainya di istana Frosthold, udara di sana terasa jauh lebih tajam. Di tangga utama, sang Raja Tua telah menunggu dengan jubah bulu serigala. Tatapannya sedingin es yang melapisi dinding istana.
"Kalian telah menempuh perjalanan jauh," suara sang Raja Tua bergema, memantul di dinding aula yang luas. "Semoga Frosthold tidak membuat kalian menyesal telah meninggalkan Selatan yang lembut."
Cassian melangkah maju, berdiri tegak di samping Aurelia. Ia tidak menunduk, tidak pula menunjukkan keraguan. "Kami datang membawa masa depan, Ayah. Dan masa depan tidak akan menyerah pada masa lalu yang membekukan."
Aurelia merasakan bayi di dalam kandungannya bergerak, sebuah respon terhadap energi yang sangat kuat di ruangan itu. Ia tahu, perjuangan mereka di Frosthold baru saja dimulai. Mereka telah menempuh ribuan mil, namun langkah tersulit baru saja akan mereka ambil di tanah yang membeku ini, di mana rahasia kelam masa lalu masih tersimpan rapat di balik pilar-pilar es istana tersebut. Di dalam Frosthold yang megah, mereka siap untuk mencairkan kebekuan tersebut, atau setidaknya, memastikan bahwa cahaya mereka tidak akan pernah padam oleh dinginnya salju abadi Valencia.
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"