"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Menurut Mas?
"Bunda..."
Dengan gerakan yang sangat hati-hati—terlalu hati-hati, Kharisma membuka pintu kamar Nada dengan kepala tertunduk. Rasa bersalah masih menggerogotinya karena masalah di meja makan.
Saat pintu itu berderit terbuka, dan ia tidak mendapati jawaban dari Nada, Kharisma kian resah dan merasa bersalah.
Di sana, ia bisa melihat Nada duduk di tepi tempat tidur besar dengan mata yang menatap lurus-lurus ke arah tembok bercat putih polos. Dia tidak menghiraukan apapun, bahkan sepertinya tidak menyadari kehadiran Kharisma.
Perlahan-lahan Kharisma kembali menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik pelan, dan melangkah mendekati ranjang tempat Nada berada. Langkah kakinya teredam oleh karpet tebal yang membentang di atas marmer yang dingin.
"Bunda," panggilnya sekali lagi, dengan nada tak kalah lembut.
Barulah kali itu, Nada menyadari kehadirannya.
Wanita itu menoleh cepat, sadar dari lamunannya, dan memasang senyum. Seketika dia kehilangan tampang kosong yang beberapa detik lalu Kharisma lihat dengan jelas.
"Sayang? Kenapa kamu di sini?" tanya Nada, bergeser untuk memberikan tempat untuk Kharisma.
Nada menepuk tempat di sebelahnya, mempersilahkan menantunya untuk duduk. "Sini, duduk sama Bunda."
Kharisma masih ragu-ragu, menatap tempat kosong dan wajah Nada yang selalu mengukir senyum di hadapannya bergantian.
Dengan helaan napas samar, akhirnya Kharisma menurut dan mendaratkan diri di samping Nada.
"Ada apa?" Nada mengelus surai panjang Kharisma dengan lembutnya. "Ada yang mau diceritakan ke Bunda? Prabujangga apakan kamu lagi?"
Pertanyaan Nada membangkitkan kembali kenangan akan kata-kata Prabujangga beberapa saat yang lalu. Saat Kharisma mengejarnya di taman Mansion yang luas dan berakhir sia-sia.
Lebih tepatnya, berakhir buruk.
Prabujangga dengan begitu mudahnya ingin menggantikan Kharisma dengan wanita lain jika satu bulan kedepan ia tidak bisa memberikan laki-laki itu kabar yang dia mau.
Kabar kehamilan.
Kharisma lantas menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, Bunda. Aku hanya mau memastikan apa Bunda baik-baik saja setelah..." Kharisma menelan ludah, tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Bunda tidak apa-apa, sayang. Ini sudah biasa bagi Bunda," Nada menjawab dengan ekspresi teduhnya. "Bunda hanya cemas dengan kamu. Bunda tidak menyangka kalau Prabu bisa berkata seperti itu."
Nada menghela napas, menjauhkan tangannya dari rambut Kharisma dan menatap perempuan itu cukup lama. Tatapannya menyiratkan rasa iba yang tidak mampu Kharisma mengerti. Tatapan kasihan seakan-akan Kharisma mengalami nasib malang.
"Menikah di keluarga ini adalah petaka, apalagi kita adalah perempuan," ujar Nada tiba-tiba. "Terlalu banyak tuntutan yang diberikan, tapi mereka menganggap bahwa apa yang mereka mau dari kita adalah hal paling mudah untuk diberikan."
Kharisma mengerjap, menatap tangan Nada yang meraih buku-buku jarinya. Wanita itu mengelus lembut jari-jari lentik Kharisma, menunduk dengan kilasan kesedihan di matanya.
"Bunda mengira bahwa Bunda berhasil mendidik Prabu menjadi sosok berbeda dari semua laki-laki di keluarga ini. Tapi Bunda salah, ternyata Bunda sangat gagal dalam mendidik putra Bunda sendiri."
Setitik air mata jatuh di pipi Nada, yang dengan buru-buru dihapus dengan usapan.
"Semua pria di keluarga ini gila dan baik di saat bersamaan," lirihnya, kepalanya menggeleng tak berdaya. "Mereka memberikan segalanya, baik cinta dan perlindungan, namun juga menuntut keturunan seakan-akan itu sangat mudah didapatkan."
Kharisma tercekat, matanya memanas melihat kesedihan di mata mertuanya.
"Bunda memiliki anak perempuan, tapi justru itu yang harus Bunda sesali seumur hidup. Mereka mengatakan bahwa seharusnya Bunda melahirkan anak laki-laki, lalu merenggut separuh nyawa Bunda saat itu juga." Nada terisak. "Mereka mengambil putri Bunda, menuntut Bunda untuk hamil kembali dan memberikan seorang putra meskipun itu sia-sia."
Nada mendongak, menatap Kharisma dengan mata berkaca-kaca.
"Karena bukan Bunda yang memberikan putra pertama di keluarga ini kala itu. Karena Bunda membuat ayah mertua kamu kalah dari saudara-saudaranya yang lain."
Kalah.
Apakah melahirkan anak perempuan adalah kekalahan?
"Bunda tidak ingin menantu Bunda merasakan hal yang sama. Bunda berusaha menanamkan di kepala Prabu bahwa anak perempuan adalah permata yang berharga. Tapi..." Nada memejamkan matanya, kepalanya menggeleng kecewa, "Bunda salah. Bunda gagal."
Kharisma tidak berpikir lagi. Dia tidak bisa menggunakan kepalanya terlalu banyak saat melihat ledakan emosi di hadapannya.
Nada, yang biasanya selalu tenang dengan kasih sayangnya kini menangis di hadapannya.
Kharisma langsung merentangkan tangan, mendekap tubuh Nada dengan pelukan erat yang menjanjikan ketenangan. Dia mengelus pelan punggung wanita itu, dan terancam gagal membendung air matanya yang nyaris tumpah.
Ia tidak tau bahwa keluarga Wimana begitu jahat pada perempuan.
"Maaf, Bunda..." lirih Kharisma, memeluk tubuh ringkih mertuanya erat-erat. "Maaf karena Bunda harus mengalami hal seperti ini..."
Tangis Nada pecah, air mata yang ia tahan-tahan mengalir deras tanpa bisa dihentikan lagi. Emosi terpendamnya meledak, berubah menjadi lirih tangis menyedihkan yang teredam di bahu menantunya. Dia memeluk Kharisma erat-erat, seakan-akan perempuan itu adalah tali penyelamat.
Tapi yang dia tangisi kini bukanlah Prabujangga. Bukan pula nasibnya.
Tapi Kharisma.
Dia menangisi nasib menantunya yang harus diberikan tuntutan yang sama seperti yang pernah diberikan padanya.
...***...
Lelah menyerang setiap sendi Prabujangga setelah sepuluh jam lamanya berkutat pada pekerjaan yang menumpuk di atas mejanya. Dia duduk, nyaris tak bergerak sedikitpun dari kursi putarnya hanya untuk menandatangani laporan dan sesekali membaca hasil evaluasi kerja.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dasi Prabujangga terlihat sedikit longgar dan miring karena rasa tercekik membuatnya mengacak-acak penampilan.
Sayangnya, semua itu bukan karena pekerjaan. Melainkan istri mudanya yang begitu lancang berputar-putar di kepalanya sepanjang hari.
Prabujangga menutup pintu mobil dengan cukup keras, memasukkan kunci kontak ke dalam kantong jasnya dan melangkah masuk ke dalam kediaman.
Prabujangga membuka pintu, berharap mendapati Kharisma yang duduk di sofa ruang tamu seperti biasanya bersama sang Mama. Entah untuk mengobrol atau paling tidak menonton drama televisi sembari mengunyah camilan dari dalam toples.
Tapi nyatanya, ruang tamu itu terlihat kosong.
Prabujangga mendongak, langsung mendapati Meara yang menuruni tangga dengan nampan di tangannya.
"Meara," panggil Prabujangga, langsung membuat sang empunya menoleh dan menunduk sopan.
"Iya, Pak?"
"Di mana istri saya?" tanya Prabujangga, menarik dasinya dengan asal dan melemparkannya ke atas meja kopi.
Meara menelan ludah, kepalanya tertunduk gugup mendengar pertanyaan Prabujangga.
"Non Kharisma ada di kamar, Pak," jawabnya, terlalu tegang jika dianggap sekedar menjawab pertanyaan sederhana.
Dan Prabujangga agaknya menyadarinya.
"Sedang apa dia berada di kamar di jam segini?"
"S-sedang... menyiapkan tempat tidur, Pak," balas Meara, semakin gugup karena pertanyaan sederhana.
Jelas Prabujangga tidak bodoh. Meara tidak pernah seperti ini bahkan saat pertanyaan-pertanyaan sulit sekalipun ia tujukan. Tidak perlu dikatakan juga Prabujangga sudah tau bahwa ada yang tidak beres.
Apa lagi sekiranya yang dilakukan istri kekanak-kanakannya itu sekarang?
Dengan anggukan acuh Prabujangga akhirnya melangkah melewati Meara yang gemetar sendiri di tempatnya. Prabujangga menaiki anak tangga dengan gerakan yang tidak tergesa-gesa, namun cukup menyatakan dominasinya.
Prabujangga melepas dua kancing teratas kemejanya, berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Tanpa ragu-ragu dia meraih gagang pintu, menekannya dalam satu gerakan hingga kayu itu berderit terbuka.
Prabujangga terdiam, pemandangan tak biasa menyambut kedatangannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
Pertanyaan itu tajam dan terlalu cepat diucapkan ketika ia melihat istrinya tengah sibuk menyiapkan tikar di lantai dengan posisi memunggunginya.
Konyol. Bahkan Kharisma tidak sama sekali menjawab pertanyaannya.
Prabujangga mendekat, mencekal pergelangan tangan Kharisma ketika perempuan itu hendak meletakkan bantal di atas tikar plastik.
"Saya tidak suka diabaikan," tegasnya, mengeratkan tangannya di pergelangan tangan Kharisma. "Jawab saya."
Tuntutan Prabujangga agaknya berhasil, karena kini Kharisma menoleh ke arahnya meskipun menunjukkan raut tidak suka.
Tanpa diduga-duga, Kharisma menyentak lepas tangan Prabujangga dari pergelangan tangannya dan memasang tampang sinis yang mengundang kejengkelan.
"Menurut Mas?" selorohnya, melebarkan mata dengan galak. "Aku mau tidur."
Kharisma melanjutkan kegiatannya, meletakkan bantal di atas tikar dan meraih selimut. Gerakannya disengaja, meraih semua barang-barang dengan gerakan kasar yang membuat alis Prabujangga nyaris menyatu.
Setelah lelah bekerja, apakah pantas ia diperlakukan seperti ini?
"Berhenti. Saya belum selesai bicara dengan kamu."
Tau tidak akan didengarkan, Prabujangga meraih pinggang Kharisma dan dengan mudah memutar tubuh perempuan itu hingga terduduk di atas tikar dan menghadapnya.
"Saya sedang lelah, dan kamu memutuskan untuk bertingkah kekanak-kanakan lagi," bentaknya, rahangnya terkatup rapat. "Apa tidak bisa bertingkah normal sekali saja dan tidak membuat saya pusing?"
Kharisma mengangkat dagunya, membalas tatapan Prabujangga. "Mas juga apa tidak bisa bertingkah normal saja? Biarkan aku istirahat dan tidak menyentuhku?"
Lagi-lagi Kharisma menghentak lepas tangan Prabujangga dari pinggangnya, menarik selimut dan merebahkan diri dengan posisi memunggungi Prabujangga.
Selimut hangatnya ditarik hingga menutupi kepala, membuat Prabujangga geram sendiri.
Baru saja Prabujangga hendak menarik selimut itu menjauh, tapi kata-kata Kharisma dengan cepat menghentikan.
"Mulai sekarang aku tidak mau tidur dengan Mas Prabu," putus perempuan itu tanpa menoleh. "Lagipula untuk apa? Toh satu bulan lagi Mas akan memiliki istri baru, kan?"
Bersambung...