"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pelabuhan di Balik Dekapan Posesif
[POV: Vaya]
Aroma maskulin yang sangat akrab—campuran kayu cendana dan sisa hujan—adalah hal pertama yang menyambut indra penciumanku saat aku mulai sadar. Kepalaku terasa berat, dan tenggorokanku kering karena sisa kloroform, tapi rasa hangat yang menyelimuti tubuhku membuatku enggan membuka mata.
Aku merasakan tangan besar yang gemetar terus-menerus mengelus rambutku, lalu kecupan-kecupan kecil mendarat di kening, pipi, dan terakhir di punggung tanganku.
"Bangunlah, Sayang... kumohon," bisik suara parau yang sarat akan ketakutan.
Aku perlahan membuka mata. Hal pertama yang kulihat adalah wajah Narev yang sangat dekat. Matanya merah, tampak seperti pria yang baru saja melewati peperangan batin yang hebat. Begitu dia melihat mataku terbuka, dia mematung sejenak, lalu menarik napas panjang yang terdengar seperti isakan tertahan.
"Narev..." suaraku serak.
"Aku di sini, Vaya. Aku di sini," dia langsung membantuku duduk, menyandarkan punggungku di tumpukan bantal empuk di tempat tidur kami. "Minumlah ini dulu."
Dia membantuku minum dengan sangat telaten, memegangi gelasnya agar airnya tidak tumpah. Setelah rasa mual di perutku sedikit mereda, aku menatap ke sekeliling kamar yang temaram.
"Rian... dia..."
"Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi, Vaya," suara Narev tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. "Hendra sudah mengurusnya. Dia akan membusuk di penjara atas percobaan penculikan dan penganiayaan. Aku pastikan dia tidak akan pernah melihat matahari lagi tanpa jeruji besi."
Narev kemudian menunduk, tidak berani menatap mataku. Bahunya merosot. "Maafkan aku. Aku berjanji memberimu kebebasan, tapi aku hampir saja membuatmu hilang. Aku... aku memang tidak becus menjagamu tanpa harus mengekangmu."
Aku melihat tangannya yang terkepal di atas seprai. Pria ini sedang menyalahkan dirinya sendiri karena mencoba menjadi "normal".
"Narev, kemari," kataku lembut.
Dia mendekat ragu. Aku langsung menarik lehernya, memaksanya untuk masuk ke dalam pelukanku. Narev tertegun sejenak sebelum akhirnya dia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, memeluk pinggangku begitu erat seolah-olah aku akan terbang jika dia melonggarkannya sedikit saja.
"Jangan minta maaf," bisikku sambil mengelus tengkuknya. "Tadi di kafe itu... saat Rian membekapku, hal pertama yang kupikirkan adalah kamu. Aku takut sekali tidak bisa melihatmu lagi. Aku takut Mici tidak punya ibu."
Aku melepaskan pelukan sedikit untuk menatap matanya yang basah. "Narev, dengar aku. Aku pernah membencimu karena kamu terlalu posesif. Aku pernah merasa dipenjara. Tapi hari ini aku sadar... dunia di luar sana jauh lebih kejam jika aku tidak ada di bawah perlindunganmu."
"Maksudmu?" Narev bertanya bingung.
"Aku tidak mau kebebasan yang membahayakan nyawaku, Narev. Aku ingin kamu menjagaku. Kali ini, aku yang memintanya," aku menggenggam tangannya, menaruhnya di pipiku. "Jangan biarkan aku sendirian lagi. Jika itu artinya kamu harus menaruh sepuluh pengawal di belakangku, lakukanlah. Jika itu artinya kamu harus tahu setiap langkahku, aku tidak keberatan. Karena aku tahu... kamu melakukannya karena kamu mencintaiku."
Narev tertegun. Matanya berkilat penuh haru sekaligus obsesi yang kini mendapat izin. "Kau... kau serius, Cebol? Kau tidak akan merasa tercekik lagi?"
"Asal kamu tetap memberikan kehangatan ini, aku tidak akan merasa tercekik," aku tersenyum, lalu menarik wajahnya untuk mencium bibirnya.
Ciuman itu awalnya lembut, namun segera berubah menjadi dalam dan penuh emosi. Narev membaringkan tubuhku perlahan di atas kasur, menindihku dengan hati-hati agar tidak menyakiti lututku yang luka karena jatuh di aspal kemarin.
"Aku akan menjagamu sampai ke titik paling gila, Vaya," bisik Narev di sela ciuman kami. Tangannya menjelajahi lekuk tubuhku dengan penuh kepemilikan. "Aku akan membangun benteng yang tidak bisa ditembus siapa pun hanya untukmu. Kamu adalah ratuku, dan aku adalah monstermu yang paling setia."
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, kami kembali menyatu dalam gairah yang jauh lebih intim. Bukan lagi karena paksaan, melainkan karena penyerahan diri yang utuh. Setiap sentuhan Narev terasa seperti tanda kepemilikan yang kini kusambut dengan tangan terbuka.
Tengah Malam
Aku terbangun dan menemukan Narev masih terjaga, dia berbaring menyamping sambil menatapku tanpa berkedip. Tangannya melingkar di pinggangku, menjepitku di antara tubuhnya dan lengannya.
"Belum tidur, Raksasa?" godaku pelan.
"Aku hanya ingin menikmati pemandangan ini," dia mengecup ujung hidungku. "Vaya... terima kasih sudah memilihku kembali. Aku berjanji, meski aku posesif, aku akan memberikan dunia di bawah kakimu."
Tiba-tiba, suara hati Mici yang tidur di kamar sebelah terdengar sangat tenang dan damai di kepalaku.
“Hati Papa warnanya ungu tua yang hangat... hati Mama warnanya emas. Mereka berpelukan terus. Mici senang... besok pagi mau minta adik baby ah...”
Aku tersentak dan hampir tertawa mendengar keinginan Mici. Aku menatap Narev yang menatapku bingung.
"Ada apa?" tanya Narev.
"Nggak ada apa-apa," aku merapatkan tubuhku ke dadanya yang bidang, menghirup aroma tubuhnya yang kini menjadi candu bagiku. "Mici cuma bilang... dia mau kita terus seperti ini selamanya."
Narev mengeratkan pelukannya, mencium keningku lama sekali. "Selamanya, Anvaya. Selamanya."
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa