NovelToon NovelToon
Pembalasan Wanita Mandul

Pembalasan Wanita Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: WeGe

"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.

"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.

"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"

Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.

"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"

........

Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.

Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.

Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?

happy reading ya🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Ayah

Halaman luas berumput jepang itu masih sama. Persis seperti tiga tahun lalu, bahkan tak berubah sejak terakhir kali rumah itu masih menjadi milik orang tua Amira.

Pagar tanaman teh-tehan pun tampak selalu rapi dipangkas, persis seperti yang dulu dilakukan ayahnya Amira, mungkin sekarang dilanjutkan oleh pamannya.

“Sepi banget,” gumam Amira berjalan ragu memasuki halaman itu. Ia menatap sekeliling, seolah memanggil kembali kenangan-kenangan masa kecil yang menyenangkan.

Amira berjalan perlahan menaiki anak tangga kecil menuju ke teras. "Terakhir kesini tiga tahun lalu waktu Meyta masuk SMA, Ziana lahir," Monolognya lagi kemudian mengetuk pintu. "Assalamualaikum! Paman, bibi!"

Tak ada sahutan tapi pintu depan sedikit terbuka. "Mungkin lagi pada di belakang rumah," jawabnya sendiri memutuskan untuk masuk.

Amira tentu masih hafal dengan tatapan letak ruangan itu, ia pun langsung menuju ke dapur untuk meletakkan oleh-oleh yang dia bawa dari rumah Rita.

"Masak apa bibi hari ini ya," Amira membuka tudung saji diatas meja makan. Tapi hanya ada sebakul nasi disana.

Dari tempatnya berdiri, Amira mendengar gemericik riuh suara air keran yang jatuh menimpa dasar ember. "Seseorang sedang mencuci!" Pekiknya senang.

Amira bergegas menuju pintu belakang yang terbuka setengah dan melongok keluar. "Tasya! ziana!" panggil Amira menghampiri Tasya yang sedang mencuci dan Zia yang berendam di dalam ember.

Dua orang yang dipanggil namanya pun mendongak menatap pada si pemanggil. Tasya langsung mengenali Amira, sedangkan Ziana yang sekarang masih berusia tiga tahun, hanya melongo melihat kakaknya yang menyalami Amira dengan takzim.

"Bapak sama ibu masih di ladang, Mbak." ucap Tasya setelah beberapa saat menyapa.

"Ya udah nggak apa-apa. Kamu apa libur?" tanya Amira memperhatikan pakaian sepupunya itu. Ada sesuatu yang mulai mengganggu perasaannya. “Biar kutebak….” Amira bergumam, sedang menghitung dalam kepalanya. “Kamu kelas dua SMP kan?”

“Iya, Mbak,” jawab singkat Tasya sambil tersenyum, namun buru-buru menunduk. Satu lagi gelagat tak enak yang dilihat Amira. 'Apa mereka sedang tak baik-baik saja?' pikirnya.

Amira menghampiri Ziana, berjongkok dan memainkan air di ember tempat gadis kecil itu berendam. "Udahan yok mandinya, airnya dingin banget ini loh,"

Tasya mengambil handuk dari tempat jemuran, kemudian kembali pada Ziana untuk membantu menyudahi mandinya.

"Eh, Mbak haus, minta air putih dong," ujar Amira kemudian berusaha mencairkan suasana.

“Mari masuk, Mbak.” Tasya mempersilahkan Amira mengikutinya masuk ke rumah.

Sementara Tasya membantu Ziana berpakaian, Amira duduk di kursi di ruang makan yang menyambung dengan dapur. Ia perhatikan tempat itu, dinding yang mulai mengelupas di beberapa tempat, perabotan dapur yang masih sama.

Amira menatap meja makan di depannya. “Meja buatan tangan ayah,” lirihnya meraba bagian tepi yang ternyata masih terukir inisial namanya, AA—Amira Azizah.

“Kesini sendirian, Mbak? Naik apa?” tanya Tasya agak berteriak dari kamar yang pintunya dibiarkan terbuka, membuat Amira bisa melihat ke dalamnya dari tempatnya duduk.

"Ya sama Mas Beni, tapi dia buru-buru kerja, jadi aku ditinggal di rumah mbak Rita."

"Oh, begitu." Tasya menjawab singkat. Tapi dari situ, Amira menangkap suara yang bergetar.

"Mbak laper, boleh numpang makan?" Pertanyaan yang sengaja Amira butuhkan untuk memastikan sesuatu.

"Oh, tapi kami belum masak, Mbak. Nunggu ibu pulang bawa sayuran dari ladang."

Amira semakin yakin, bahwa hidup keluarga itu sedang nggak baik-baik saja. “Kakak-kakakmu dimana?”

"Mbak Mey kerja di pasar."

"Lalu Tirta?"

"Mas Tirta kerja di kebun juragan Jaya,"

Tak perlu pengkauan lebih, dari cara bicara Tasya, Amira mulai mengerti. Ia merogoh kantong daster yang dipakainya, kemudian mendekati Tasya yang baru selesai mengurus Ziana. "Ini tak banyak, tapi cukup untuk kalian beli lauk."

Sisa uang yang didapatkan dari Bu Siti, dia ratus ribu, ia serahkan pada Tasya. "Mbak Mira nggak bisa lama, ada kerjaan sama mbak Rita. Besok mbak Mira main sini lagi, salamin ke bapak sama ibumu, ya.”

Tasya terdiam, getar halus terlihat di bibir remaja itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan, kini terlihat jelas menggenang di sana. “Makasih, Mbak,” lirihnya hampir tak terdengar.

Amira memeluk sepupunya itu, kemudian bergegas meninggalkan rumah itu. Hatinya kembali sesak.

Amira semakin yakin bahwa keluarga pamannya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Dia bisa melihat dari cara Tasya berbicara, dari keadaan rumah yang tidak seperti biasanya, dan dari keputusan anak-anak untuk bekerja di usia muda.

Amira masuk ke rumah Rita, disambut pelukan dari sahabatnya itu. “Melihatmu begini, kau sudah tahu keadaan mereka yang sebenarnya.”

Amira mendongak, menatap Rita. “Jadi kau tahu, tapi sengaja tak memberitahuku dulu?”

"Aku tak enak padamu, aku nggak tega juga lihat anak-anaknya." Rita seolah sudah menunggu saat yang tepat itu. "Kau harus bergerak cepat, kumpulkan uang secepat mungkin, Mir!"

"Apa maksudmu, Rit?"

"Kau harus menyelamatkan rumah peninggalan orang tuamu." Rita memalingkan wajah, merasa bersalah karena tak menceritakan kondisi keluarga paman Amira sebelumnya. Ada desahan napas yang terdengar berat disana. "Kudengar mereka terlilit hutang pada rentenir."

"A-apa?" Amira mundur selangkah, merasa limbung. "Ru-rumah ayahku? Bagaimana bisa Rit? Kenapa kau tak bilang lebih awal padaku? Sejak kapan itu terjadi, Rit?!" Amira tak kuasa menahan semua pertanyaan yang bertumpuk dengan rasa tak percaya di benaknya.

"Setahun yang lalu, bibimu tertipu penelepon asing yang mengaku sebagai polisi yang mengabarkan kalau anaknya kecelakaan. Bibimu terlalu panik, waktu nya sangat bertepatan saat Tirta baru saja berangkat sekolah. Kau tahu kan, penipu punya banyak sekali cara sekarang. Mereka meminta sejumlah uang karena katanya Trisna tak memiliki SIM, mereka mengancam akan memenjarakan Kresna kalau tak segera transfer. Tentu saja bibimu mencari uang tercepat pada rentenir."

Dunia terasa berputar bagi Amira, kedua lututnya lemas seketika. Tangannya menggapai kursi, lalu lemas duduk bersandar. "Kenapa hidupku sulit sekali, Rit. Semua... kenapa datang bersamaan begini?" sesal Amira setengah mengutuki nasibnya sendiri.

...🍂🍂🍂🍂Bersambung🤗🍂🍂🍂🍂...

1
Luzi
semangat💪💪💪💪
WeGe: terimakasih 🙏
total 1 replies
@RearthaZ
lanjutin terus ya kak
@RearthaZ: iya, kak, terima kasih, selamat berkarya juga kak, aku minta maaf ya kesannya boom like, tapi beneran karya kakak bagus kok, meskipun saat ku baca sekilas bukan masuk ke genre ku, tapi karya kakak bagus kok
total 8 replies
@RearthaZ
aku mampir ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!