NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31.

Sesaat Aslan melepaskan ciumannya, Alana masih berdiri bersandar di dinding, napasnya belum teratur dan wajahnya terasa panas membara hingga ke telinga. Ia menunduk sedikit, jari-jarinya gemetar pelan saat berusaha mendorong tubuh Aslan dengan sedikit kasar, bibirnya sedikit terbuka yang masih menyisakan rasa hangat oleh sentuhan Aslan . Rasa malu bercampur dengan getaran cinta yang kuat menyelimuti hatinya. Ia tahu Aslan melakukannya karena rasa memiliki dan cemburu, namun cara pria itu menegaskan haknya begitu tegas dan terbuka, membuatnya merasa seolah-olah ia adalah satu-satunya dunia bagi Aslan—sesuatu yang membuatnya bahagia sekaligus sangat malu.

"Kau... kau benar-benar tidak tahu malu," bisik Alana pelan suaranya diredam, matanya menatap lurus ke wajah Aslan. "Bagaimana kalau ada orang lewat atau teman-temanku yang melihat? Apa yang akan mereka pikirkan?"

Aslan tersenyum miring, menyisir rambut Alana dengan jari-jarinya lembut namun tegas. "Biarkan mereka berpikir apa saja. Yang penting mereka tahu kau milikku. Dan lagipula... aku suka melihatmu merah padam seperti ini. Hanya aku yang berhak melihatmu seperti ini."

Alana mendengus pelan, namun jauh di dalam hatinya tak bisa menahan senyum kecil di bibirnya. Ia merapikan gaun dan rambutnya sebaik mungkin, berusaha mengembalikan penampilan dan ketenangannya, meskipun ia sadar tatapannya masih berkilau dan pipinya belum kembali ke warna semula. "Aku tidak mau kita terus disini, Ayo, masuk sebelum aku semakin malu di sini."

Mereka pun berjalan beriringan kembali menuju ruang utama perayaan. Tangan Aslan tidak pernah lepas dari pinggang Alana, memegangnya erat seolah menjadi tanda pengenal yang tak terlihat, memandu gadis itu melewati kerumunan.

Begitu mereka masuk, perhatian beberapa orang langsung tertuju pada mereka, namun yang paling diperhatikan oleh Aslan adalah tatapan dari sudut meja di mana Keanu Abigail duduk.

Keanu memang sudah melihat kedatangan mereka. Jantungnya seakan terhenti sejenak saat melihat cara Aslan memeluk pinggang Alana, dan lebih menyakitkan lagi saat ia melihat wajah Alana yang masih memerah serta cara gadis itu sesekali melirik ke arah Aslan dengan tatapan yang penuh cinta dan ketaatan. Rasa sesak itu kembali menyerang dadanya, tajam dan berat, seolah ada beban batu yang menekan paru-parunya. Ia tahu sejak awal peluangnya tipis, bahkan mungkin tidak ada, namun melihat bukti nyata bahwa Alana sepenuhnya milik orang lain masih saja menyakitkan.

Namun, Keanu adalah orang yang terlatih untuk tetap tenang bahkan dalam situasi paling sulit—sama seperti saat ia harus tetap fokus di ruang operasi atau saat menghadapi pasien dalam kondisi kritis. Ia menarik napas panjang, menelan semua rasa sakit dan cemburu itu, lalu mengubah ekspresi wajahnya sepenuhnya. Saat mata mereka bertemu, Keanu justru mengangkat gelasnya sedikit ke arah mereka berdua, lalu tersenyum lebar—senyum yang terlihat begitu alami, hangat, dan bahkan tampak tulus seolah tidak ada apa pun yang terjadi.

"Selamat ya, kalian berdua terlihat sangat cocok!" seru Keanu cukup keras agar terdengar, lalu ia kembali berbicara santai dengan teman di sebelahnya, seolah pemandangan pasangan yang sedang berjalan itu hanyalah hal biasa yang patut disambut gembira.

Senyum itu, ketenangan itu, dan sikapnya yang seolah tidak terpengaruh sama sekali justru menjadi hal yang paling membuat darah Aslan mendidih. Bagi Aslan, kemarahan atau permusuhan itu lebih mudah dihadapi karena itu berarti lawannya sedang berjuang. Tapi sikap Keanu yang seolah sudah ikhlas, sudah menerima, dan bahkan tampak mendukung, membuat Aslan merasa seolah-olah kemenangan yang ia raih tadi tidak dihargai, atau lebih buruk lagi, seolah Keanu berada di posisi moral yang lebih tinggi darinya. Itu adalah taktik yang cerdas, dan Aslan menyadarinya, itulah yang membuatnya semakin kesal. Ia merasa seolah pukulan yang ia layangkan menghantam bantal empuk—tidak ada perlawanan, dan justru ia yang terlihat seperti orang yang berlebihan bereaksi.

Aslan menggertakkan giginya, cengkeramannya di pinggang Alana semakin kuat tanpa sadar. Ia ingin berjalan ke sana, ingin mengguncang bahu pria itu dan bertanya apakah semua itu hanya sandiwara. Tapi ia tidak bisa, karena di mata orang lain, Keanu hanya bersikap ramah dan baik hati.

Rasa kesal dan kekesalan yang menumpuk itu membuat dada Aslan terasa sempit. Ia tidak bisa meledak di depan semua orang, tidak bisa membuat keributan di hari bahagia Alana. Menyadari bahwa ia sudah berada di ambang ledakan, Aslan pun berbisik di telinga Alana.

"Aku mau ke kamar mandi sebentar. Tunggu aku di sini, jangan ke mana-mana."

Nada suaranya yang dingin dan tegas membuat Alana terkejut. Ia melihat wajah Aslan yang masam dan menyadari bahwa pria itu sedang menahan amarah yang besar—kemungkinan besar karena sikap Keanu tadi. "Aslan, kau..."

"Tunggu di sini," ulang Aslan, kali ini sedikit lebih lembut, namun tetap tak terbantahkan. Ia melepaskan pelukannya, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju arah kamar mandi pria yang terletak di sisi lain bangunan.

Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat di belakangnya, keheningan seketika menyelimuti, jauh dari suara musik dan tawa. Aslan tidak langsung pergi ke wastafel. Ia berdiri tegak di tengah ruangan, kepalan tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ledakan emosi yang ia tahan sejak tadi akhirnya meledak.

Dengan suara menggeram tertahan, Aslan menghantamkan tinjunya ke dinding ubin yang keras.

DUG!

Suara benturan itu bergema di ruangan sempit itu. Rasa sakit yang menjalar dari buku jarinya justru sedikit membantu meredakan rasa panas yang membakar dadanya. Ia menghantamnya sekali lagi, lalu sekali lagi, melampiaskan semua kekesalan, rasa cemburu, dan rasa tertantang yang ia rasakan saat berhadapan dengan ketenangan palsu Keanu.

"Brengsek..." geram Aslan pelan, napasnya memburu. Ia mencondongkan tubuh ke wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin—wajah yang marah, mata yang menyala, dan aura yang berbahaya. Ia tahu Keanu tidak melakukan kesalahan apa pun secara aturan, pria itu hanya mencintai wanita yang sama dengannya. Tapi bagi Aslan, keberadaan Keanu saja sudah merupakan ancaman, dan sikap pria itu yang seolah-olah sudah ikhlas justru membuatnya terlihat seperti orang yang lebih baik, sesuatu yang tidak bisa diterima oleh ego Aslan.

Ia menyalakan keran, membiarkan air dingin mengalir deras, lalu membasuh wajahnya dan tangannya yang memar sedikit. Air dingin itu membantu menurunkan suhu tubuhnya, namun tidak sepenuhnya memadamkan api di dadanya.

"Dia pikir dia bisa menang hanya dengan bersikap baik?" bisik Aslan pada pantulannya di cermin, matanya menyipit tajam. "Dia salah besar. Alana milikku. Dan aku akan memastikan, baik dia atau siapa pun, paham bahwa tidak ada ruang bagi orang lain. Tidak ada."

Ia menarik napas panjang beberapa kali, berusaha menyusun kembali perisai dirinya. Ia tidak bisa keluar dengan wajah marah seperti ini, karena ia harus kembali ke sisi Alana. Tapi di dalam hatinya, ia membuat keputusan baru: ia tidak akan hanya sekadar menjadi tunangan Alana. Ia akan memastikan bahwa ikatan di antara mereka begitu kuat dan terlihat jelas, sehingga bahkan harapan sekecil apa pun yang mungkin masih tersimpan di hati Keanu Abigail akan hancur dengan sendirinya.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!