Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 12
"Katakan--ini semua bohong, kan?!"
Zenna kini berada di dapur apartemennya, gemetar sekujur badan dan berlinang air mata. Sementara Rendy berdiri tak jauh darinya sembari menenggak segelas whiski, sebuah cincin emas bertatahkan berlian melingkari jari manis tangan kirinya.
"Aku tak punya pilihan, Zenna," kata Rendy pelan dan datar.
"Kamu--"
Lidah Zenna terlalu kelu untuk mengurai kata. Gemuruh dalam dadanya begitu menyakitkan.
Meski begitu, nalar Zenna tak sepenuhnya buntu. Dia tahu, cepat atau lambat, sesuatu seperti ini akan terjadi. Bagaimana pun, pewaris keluarga konglomerat seperti Rendy harus menikah untuk melanggengkan kekayaan dan keturunan. Dan perempuan yang direstui klan Wangsa, jelas bukan dirinya.
"Kamu keterlaluan, Ren!" Zenna akhirnya bisa bersuara kembali, meski parau dan melengking penuh emosi. "Sejak awal kamu tahu ini akan terjadi--kamu tahu kita tak pernah bisa bersama! Tapi kamu terus saja mengikatku dan berkeras melanjutkan hubungan ini--"
"Itu karena aku mencintaimu, Zenna! Kita saling mencintai!" balas Rendy, wajahnya merah padam karena pengaruh alkohol dan emosi. "Aku sungguh-sungguh ingin hidup bersamamu, sampai akhir! Karena itu aku memberimu segalanya, termasuk berusaha menyelamatkan nyawa ibumu juga! Harusnya kamu bersyukur, aku berjuang sekeras ini untukmu--"
"Tapi apa gunanya semua itu sekarang, Ren?!" teriak Zenna di antara derasnya air mata. "Keluargamu tak akan pernah merestui kita! Dan setelah ini, kamu akan menikah dengan perempuan lain! Kita tak bisa terus--"
"Ya, kita bisa!" bentak Rendy tak mau kalah.
Zenna tersentak, seakan baru saja diguyur air es.
"Apa maksudmu...? Kita bisa...? Kamu masih mau melanjutkan...?"
"Ya, Zenna. Aku mungkin tak bisa menentang keluargaku, atau belum. Tapi bukan berarti aku tak bisa bersamamu. Aku akan tetap mempertahankan keinginanku, mempertahankan kamu, sampai kapan pun. Itulah keputusanku," tegas Rendy.
Saking terguncangnya, Zenna tak bisa berkata-kata selama beberapa saat.
"Kamu masih ingin menjalin hubungan denganku, meski kamu sudah menikah nanti?" Dada Zenna naik turun dengan cepat, seakan ada tangan monster tak kasat mata yang meremat paru-parunya. "Apa kamu sudah gila...?"
"Ya, Zenna, aku memang tergila-gila padamu, dan aku tak akan pernah melepasmu begitu saja," Rendy memandang Zenna dengan sorot sayu penuh damba, lantas tiba-tiba maju dan menarik pinggul Zenna hingga menempel ke pinggangnya. "Aku mencintaimu--kecantikanmu, tubuhmu, seluruhnya kamu... kamu milikku."
"Tidak--lepaskan! Jangan gila kamu, Ren!"
Zenna menjerit berang dan melawan saat Rendy tanpa ragu menjamah dan menciumnya. Tetapi tenaga Rendy jauh lebih kuat. Ia dengan mudah mengungkung tubuh Zenna dan menyeretnya ke kamar.
"Lepas! Kamu gila! Lepaaas!"
Teriakan dan tangisan Zenna tak ada artinya, bagai asap lilin yang lenyap dengan mudah di udara. Rendy benar-benar seperti monster saat ia melucuti Zenna, mengunci tubuh dan lengannya di atas kasur, dan bahkan membenamkan paksa pusakanya ke bawah tubuh Zenna.
"Kamu... harus... memenuhi... keinginanku!"
Rendy mengucapkan setiap patah kata di antara bekapan, ciuman, dan hujaman yang dilancarkan ke tubuh Zenna tanpa belas kasihan. Peluh yang jatuh dari tubuhnya menyatu dengan air mata Zenna.
"Kalau kamu... tidak mau... patuh... maka... ibumu yang... harus membayar... dengan nyawanya... bagaimana?"
Tubuh Zenna seketika kehilangan tenaga untuk melawan, meskipun rongga intimnya penuh dan nyeri. Batinnya kini jauh lebih nyeri.
"Bagus...," Rendy tersenyum lebar dan semakin cepat menggerakkan pinggulnya. "Ingat... kamu milikku... hidup ibumu... ada di tanganku... sekali saja kamu... tidak memuaskanku... kamu tahu... apa yang akan terjadi... aaaahhhh!"
Rendy berteriak puas saat melepas semua benihnya ke rahim Zenna, tanpa perlindungan.
Zenna masih terbaring lemas dan kesakitan di atas tempat tidur ketika Rendy dengan tenang mengenakan pakaiannya kembali. Ia menangis sejadinya kala Rendy tanpa perasaan bersalah membelai pipinya dan berkata, "Kamu harusnya senang ada laki-laki yang memperjuangkanmu sehebat ini. Aku satu-satunya yang bisa mencintai, melindungi, dan membahagiakanmu dengan layak, Zenna. Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan? Cuma aku yang bisa menerima dan mencintaimu apa adanya--ingat itu baik-baik!"
Rendy tertawa penuh kemenangan dan pergi meninggalkan Zenna begitu saja.
Berjam-jam Zenna meringkuk dan menangis di atas tempat tidur. Sekali lagi ia hancur. Bahkan makin lebur. Dan tak ada cahaya yang menyibak gelap untuk menuntunnya selamat dari semua ini.
Tak ada.
Ia akan selalu menjadi perempuan yang ditiduri tanpa ikatan pernikahan--seperti pelacur--dan bahkan menjadi noktah hitam yang menodai pernikahan orang lain, meski itu bukan keinginan hatinya.
Entah sampai kapan.
***
Jika bukan karena ia ingat dan mencintai ibunya, Zenna akan melompat dari balkon apartemen untuk mengakhiri hidup, apalagi saat menonton acara akad nikah dan resepsi dua keluarga konglomerat yang disiarkan langsung dan meriah melalui layar kaca.
Rendy dan Aurel tampak sangat serasi dan berseri-seri. Keduanya mengikat janji suci, bertukar cincin, bergandengan mesra, bahkan saling menyuap makanan, berdansa, dan berciuman di tengah pesta yang disaksikan seluruh negeri.
Zenna merasa hancur dan sakit. Bukan karena cemburu. Ia tahu, Aurel jauh lebih pantas menjadi istri Rendy. Dan ia merasa sangat lara saat tahu dirinya adalah perusak dalam biduk rumah tangga yang baru saja melepas sauh itu--meski bukan itu yang ia inginkan.
Tetapi pilihan lain apa yang aku punya? Jika aku memaksa putus, Rendy akan... Mama akan...
Untuk pertama kalinya, Zenna membuka sebotol anggur yang selalu tersimpan di lemari khusus sebagai salah satu sajian kesukaan Rendy setiap kali dia berkunjung. Ia meminumnya sampai habis, meski tak menyukai sensasi pahit-manis yang mengerutkan lidah dan membakar kerongkongannya. Tetapi setidaknya, rasa sakit di dalam kalbunya sedikit berkurang, dan kepalanya yang ringan membuatnya bisa tidur nyenyak tanpa harus terbangun dan menangis lagi.
Tentu saja itu hanya pelarian sementara. Keesokan paginya, kepalanya terasa bagai ditusuk jarum, dan ia muntah-muntah. Nyeri batinnya kembali, berlipat-lipat dengan pengar dan mual di badan.
Butuh waktu seharian penuh baginya memulihkan diri dari efek mabuk alkohol untuk pertama kali. Ia baru bisa keluar apartemen dan menjenguk ibunya di rumah sakit, dua hari setelah ia menenggak anggur--dan dalam hati, ia berjanji tak akan melakukannya lagi.
Amalia tampak lega saat melihat putri semata wayangnya datang.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?"
Tanya Amalia sangat lembut, tetapi ekspresinya menunjukkan kekhawatiran mendalam.
"Aku baik-baik saja, Ma. Maaf kemarin nggak bisa datang ke sini... Zenna diare dan muntah seharian, keracunan makanan," gumam Zenna, lagi-lagi dusta.
Ketika Zenna mengupas dan memotong apel kesukaan Amalia, televisi yang menempel di dinding kamar menayangkan berita pernikahan Rendy dan Aurel. Lagi.
Entah mengapa, stasiun-stasiun televisi suka sekali memutar ulang peristiwa yang dianggap bombastis dan menarik minat penduduk negeri ini, seperti gosip selebritis dan pernikahan para pewaris, seakan semua itu lebih penting dari tingkah pejabat yang korup, anak-anak korban perang di belahan dunia lain, atau hutan yang semakin habis demi ditanami sawit yang menyajikan keuntungan legit.
"Yang menikah itu... bosmu, Rendy, kan, Nak?"
Tanya Amalia lagi-lagi lembut, namun rasanya seperti mata pisau yang menancap tepat di inti jantung Zenna.
"Ya...," jawab Zenna pelan, jemarinya yang mengupas apel mulai gemetar.
Amalia memandang putrinya lekat. Kesedihan menggayuti wajahnya yang pucat.
"Barangkali ini yang terbaik, Nak," kata Amalia perlahan. "Kamu pasti bisa mendapat pengganti yang lebih baik dari Rendy... laki-laki baik yang akan mencintai dan melindungimu sepenuh hati. Mama yakin itu. Lepaskan dan relakan dia ya..."
Zenna mendongak seketika, pucat dan kaku seakan baru saja disambar petir di bawah langit terang.
"Mama tahu...?"
***