AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34
Wira pulang dengan menyetir sendiri mobil baru nya. Hypercar dari Bugatti, jenis mobil termahal kedua setelah Rolls-Royce Boat Tail. Harganya mencapai 227 Miliar. Harga yang kecil jika dibanding aset keluarga Bimasena dimana-mana yang mencapai Triliunan.
Diatas jok di sampingnya ada box mewah berisi makanan dari Vincent. Kata Vincent, pastry itu favorit Audrey. Wira pelan-pelan mencari tau lebih banyak tentang Audrey dari Vincent. Awalnya hanya menanyakan soal trauma, tapi lambat-laun jadi merembet kemana-mana.
Dan Vincent pun tidak keberatan sama sekali, justru Vincent senang karena melihat ketulusan Wira untuk menjalani pernikahan mereka meskipun tanpa cinta.
Sampai di mansion, Wira segera menuju lift untuk langsung naik ke lantai atas.
Wira membuka pintu, kebetulan tidak di kunci.
"Kak Wira, sudah pulang ?" Audrey melirik jam di layar ponselnya, baru pukul 11 kurang 10 menit.
Wira meletakkan box makanan itu di atas meja.
"Rasanya aku tidak bisa lama-lama jauh dari kamu," Wira berkata jujur. Dia sudah merasakan nikmatnya surga dunia, tentu ada keinginan untuk mengulangnya lagi dan lagi.
Sementara bola mata Audrey hampir keluar. Nafasnya tertahan, bukan karena panik. Tapi karena Audrey langsung paham artinya.
Wira maju mendekat, membuat bulu kuduk Audrey meremang seketika.
Pria itu duduk di sisi ranjang, matanya memancarkan cahaya penuh damba.
"K-kak," Ditatap sedalam itu membuat pipi Audrey bersemu merah.
Wajah Wira semakin maju, dia ingin memastikan sekali lagi kalau Trauma Audrey sudah pelan-pelan sembuh.
Cupp.
Wira mencium singkat bibir Audrey.
Audrey melebarkan matanya. Menatap Wira tanpa kedip.
"Sudah makan ?" tanya Wira dengan suara berat.
Audrey mengangguk dengan wajahnya yang polos.
Wira tersenyum, mengangkat tubuh Audrey dan membuat Audrey duduk di pangkuannya.
"K-kak...masih sakit," Audrey memalingkan wajah karena malu.
"Kalau sudah terbiasa nanti tidak sakit lagi, sayang." Pelan-pelan tangan Wira menggesek milik Audrey. Sumpah, Wira juga tidak tau apa yang sedang dia lakukan. Tapi jiwa kelelakiannya sudah meronta-ronta ingin segera tersalurkan kembali.
emphhh..
Audrey menggigit bibir nya saat gerakkan tangan Wira dari luar celana dalam nya semakin cepat.
Wira menyambar bibir Audrey, menekan tengkuk dengan satu tangannya agar ciuman mereka semakin dalam.
"Kak, pintunya belum di kunci." Ucap Audrey disela-sela ciuman mereka.
"Tenang, sayang. Tidak ada yang seorang pun di mansion ini yang berani menerobos masuk ke kamar kita tanpa mengetuk pintu dulu."
'Kamar kita,' Audrey terharu mendengarnya. Kamar ini punya Wira, tapi sekarang jadi miliknya juga.
Wira melebarkan kedua paha Audrey, menyingkap mini dress longgar yang Audrey kenakan kemudian menurunkan kain segitiga itu dengan gerakkan pelan.
"Milikmu sudah sangat basah, sayang." Wira meng-obok-obok lubang kecil itu dengan jari tengahnya, membuat miliknya justru semakin tegang dan ingin segera dikeluarkan dari celana nya.
Wira membantu Audrey berdiri, berdiri sambil membuka kedua paha nya hingga inti milik Audrey berada tepat di depan wajah Wira.
Satu tangan Audrey menahan tubuhnya dengan memegang kepala kasur. Sementara tangan yang lain menjambak rambut Wira karena tak tahan dengan jilatan dan gigitan kecil yang Wira berikan.
Audrey terus mendesah, lebih keras dari pada tadi pagi.
Untunglah kamar Wira kedap suara. Mau sekeras apapun suara Audrey, tak akan terdengar keluar.
Sambil terus menjilati milik sang istri Wira membuka kancing kemeja dan celana nya.
Pedang Wira sudah benar-benar tegak. Besar, panjang dan berurat. Sempurna sesempurna wajah dan posturnya.
Dan dipagi menjelang siang itu untuk kedua kali nya Wira menggagahi istrinya. Semua yang ada di diri Audrey membuatnya kecanduan. Dia tidak mau berhenti meski berkali-kali cairan kentalnya menghangatkan rahim sang istri.
Wira menarik Audrey yang sudah berpeluh keringat kedalam dekapannya. Berulang kali dia berterimakasih pada wanita nya itu.
Karena kelelahan, mereka pun tertidur sampai pukul 4 sore.
🏵️
"Bun, Kak Wira mana ?" tanya Shena yang baru saja pulang kerja.
"Kamu ini, baru juga pulang kok malah yang ditanyain Kak Wira. Istirahat, atau mandi dulu gitu loh." Ucap Bunda pada putri tertua dikeluarga Bimasena.
"Ish, nggak bisa Bun, ada yang mau aku tanyain soal kerjaan. Penting banget."
"Yasudah, langsung saja ke kamarnya. Sekalian bangunin tuh si Tuan Putri, dari pagi nggak keluar kamar. Malah minta sarapan sampai dibawa ke kamar sama Tiwi. Ck! Emang dia pikir disini hotel apa ?!" Omel Bunda Santi dengan suara cemprengnya yang khas terdengar sangat menuntut ditelinga Shena.
"Keterlaluan. Masa menantu keluarga Bimasena begitu sikapnya. Tenang, Bun. Dia biar jadi urusanku." Balas Shena geram karena terpancing emosinya.
Shena menekan tombol lift dengan tidak sabaran. Karena ini di 'mansion-nya', Shena merasa berhak untuk memberikan Audrey peringatan keras.
Sampai di depan kamar Wira, Shena langsung mengetuk pintu. Sebenarnya sih dia takut dimarahi Wira lagi, tapi mau bagaimana, emosinya sudah mau meledak ingin segera di salurkan pada Audrey tentunya.
"Kak, ini aku. Buka pintunya, aku mau bicara soal pekerjaan." Kata Shena mendadak lembut. Anggap saja ini strategi Shena agar Wira mau membuka pintu.
Namun nyatanya didalam kamar justru Audrey yang pertama membuka mata. Wira malah semakin lelap tidurnya.
Tok. Tok.
"Kak, buka dong. Aku mau nanya sesuatu, urgent nih." Lanjut Shena dengan nada merengek manja.
"Astaga. Ngapain sih tu orang, nggak bisa apa ngomongin kerjaan dikantor aja, nggak usah dibawa sampai kerumah begini," Omel Audrey sambil turun dari tempat tidur.
Merasa ranjangnya bergerak, Wira seketika bangun. "Mau kemana, Sayang ?" tanya Wira dengan mata yang terlihat masih sangat berat.
"Shena di depan kamar, dia mau nanyain kerjaan katanya." Jawab Audrey dengan nada tak suka yang sangat kentara.
"Sudah biarkan saja. Sini, tidur lagi." Ajak Wira seraya menepuk sisi kasur.
"Kak ?" Suara Shena lagi dari balik pintu membuat Audrey menunjuk ke pintu dengan wajah judesnya.
"Yasudah, kamu tidur lagi. Biar aku yang buka pintu." Wira hendak bangun namun Audrey reflek mengangkat tangan.
"Jangan, biar aku aja."
"Tapi..."
"Ssstt, sudah kakak tidur lagi aja. Aku punya ide," Ucap Audrey sambil melilitkan selimut sebatas dada seperti memakai handuk.
Wira geleng-geleng kepala, menatap Audrey yang sudah berjalan menuju pintu.
Cklek.
Pintu sudah di buka, tapi Audrey hanya memberikan celah kecil yang cukup untuk melonggokkan kepalanya saja.
"Apa ?" tanya Audrey dengan nada menantang.
Shena terpaku. Dipikirnya yang akan kekuar Wira, namun ternyata justru Audrey.
Tubuhnya menegang hebat ketika melihat bahu mulus Audrey yang terpampang nyata.
"Ka-kau!" wajah Shena merah padam.
Audrey menahan tawanya. Dia yakin seratus persen kalau saat ini Shena tengah terbakar api cemburu.
"Kenapa ? Kaget ?" Audrey mengangkat satu alisnya
"Kak Wira lagi nggak bisa diganggu. Kalau mau bicara nanti saja, tunggu kami bersih-bersih dulu."
Degh.
Jantung Shena mencelos. Sakit tapi tak berdarah. Sesaknya luar biasa, membuat Shena sampai kesulitan bernafas normal.
"Sudah sana, adik ipar ku tersayang. Jangan lupa mandi juga ya, kamu bau matahari," Audrey sengaja mengibaskan tangan didepan hidung, seolah aroma tubuh Shena benar-benar tidak enak. Padahal kenyataan nya tidak, Shena justru sangat wangi, mungkin sengaja menyemprotkan banyak parfum karena berharap bisa bertemu Wira.
Brakk!
Audrey menutup pintu dengan sedikit kasar tepat didepan wajah Shena.
Prok! Prok! Prok!
"Good Job, Babe," Puji Wira dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.
Ketika Audrey berbalik, suara tepuk tangan Wira menggema diseluruh penjuru kamar. Audrey menutup mulutnya, tertawa puas.
"Adik tirimu sekali-kali harus diberikan Shock Therapy. Mentang-mentang umurku dibawahnya, dia pikir bisa seenaknya. Huhft!"