Karina, seorang wanita cantik yang sangat mandiri. Karena di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki toko bakery sendiri hasil kerja kerasnya.
Namun, tiba-tiba saja hidupnya berubah drastis saat ada seorang laki-laki yang datang ke tokonya mencari roti untuk sang ibu, hingga membuat hidupnya terus di hantui oleh laki-laki itu yang ternyata seorang duda.
Andrian Jayatama Persadha, seorang duda berusia 41 tahun, yang sudah menduda selama 7 tahun tiba-tiba saja di paksa menikah lagi oleh ibunya, hingga dia bertemu seorang wanita cantik yang menurutnya tipe idaman ibunya sekali.
Akankah perjuangan Andrian membuahkan hasil untuk mendapatkan hati Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Istri
Setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah untuk beraktivitas kembali, Karina kini sudah kembali menjalani hari-harinya. Dia sudah kembali membuka toko kue kebanggaan yang hasil kerja kerasnya sendiri.
Seperti biasa, pagi diawali dengan kehebohan laki-laki berusia 41 tahun itu. Dimana Dia sedang bucin-bucinnya dengan Karina.
"Sayang, nanti siang saya jemput untuk makan siang bersama oke." isi pesan yang Adrian kirimkan pada Karina.
"Gak bisa, Om. Toko lagi rame banget, kebetulan banyak pesanan juga. Jadi maaf banget, aku nggak bisa temenin om makan siang." balas Karina pada Adrian yang membuat laki-laki itu merasa lemas.
Apalagi ketika pesannya tidak dibalas oleh Karina lagi. Itu sudah menandakan, bahwa gadis itu benar-benar sibuk saat ini.
"Selamat datang di Karina Bake A Love." sapanya dengan ramah seperti biasanya, membuat para pelanggan yang datang merasa senang dan ikut tersenyum ketika melihat senyuman yang begitu indah milik Karina.
"Cari apa, ibu?" tanya Karina sekali lagi ketika wanita tua datang menghampirinya.
"Mau cari cake yang gak manis banget ada? Soalnya saya suka cake, tapi nggak boleh makan gula berlebih." ucap ibu-ibu tadi membuat Karina kembali tersenyum.
"Ada ibu, silahkan sebelah sini." Karina membawa Ibu tadi ke arah etalase tempat di mana kayak gitu berada dan menjelaskan apa-apa saja yang terdiri dari kue tersebut, membuat ibu yang menjadi customernya tersenyum.
"Kami cantik, baik, sopan, ramah lagi. Mau gak jadi mantu ibu?" tanya wanita itu tiba-tiba membuat Karina tersenyum.
Hal seperti ini sudah biasa dihadapi, karena memang banyak wanita-wanita seperti Ibu ini yang selalu mengatakan ingin menjadikannya seorang menantu.
"Hahaha, ibunya ada-ada aja. Lagian mana ada yang mau sama perempuan bau tepung sama bau telur kayak saya ini, Bu. Laki-laki sekarang carinya spek bidadari, bu. Yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang modis, yang wangi, sedangkan saya, ah. Ibu ini ada-ada aja." balas Karina tersenyum.
"Ih, kamu tuh cantik dan nggak bau tepung dan bau telur seperti yang kamu bilang tadi. Ibu seriusan tahu, Ibu mau jadiin kamu menantu. Mau gak?"
"Hahaha, tanya dulu sama anaknya Bu. Mau nggak punya istri kayak saya. Soalnya, kalau tidur saya suka ngorok." jawab Karina yang menimpali candaan ibu itu.
"Oke, nanti ibu tanya dulu sama anak ibu ya. Kalau dia nggak mau berarti dia yang bodoh. Soalnya kamu cantik begini, masa iya dia nggak mau."
"Ah, terima kasih atas pujiannya ibu. Tapi maaf, bukan maksud saya mau ngusir, tapi antrian lagi panjang. Sekali lagi, maaf banget ibu." menyadari semua itu membuat ibu-ibu tadi merasa bersalah.
Karena dia sudah menunda pekerjaan gadis cantik itu.
"Ah, maaf ya sayang. Kalau begitu ibu permisi dulu cantik, sampai ketemu lagi." ucap ibu tadi pamit dan Karina membalas.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, ibu Citra namanya, terus saja memikirkan gadis cantik tadi. Dia seperti pernah melihat gadis itu. Tapi dimana ya?
"Pak, bapak kenal gadis penjual roti tadi?" tanya ibu Citra pada sopir pribadinya.
"Maaf buk, saya nggak kenal." jawab sopirnya karena memang dia tidak mengetahui siapa gadis tadi.
"Tapi kayaknya saya pernah melihat tapi di mana gitu Pak. Duh, gini nih kebanyakan minum obat. Jadinya pikun duluan. Tapi beneran deh Pak, gadis tadi saya kayak pernah jumpa tapi nggak tahu di mana. Ya ampun, kenapa harus bisa lupa segala sih." gerutu ibu Citra ketika dia tidak mengingat siapa gadis cantik tadi.
"Kita ke kantor Adrian saja deh Pak, Saya penasaran kenapa anak itu seminggu ini nggak pulang ke rumah. Sekalinya pulang pagi, udah pergi kerja lagi. Saya curiga kalau dia udah punya pacar sekarang." ucap ibu Citra pada sopirnya.
"Siap ibuk." jawab langsung sopir dan mereka pergi menuju kantor tempat di mana Adrian bekerja.
Sesampainya disana, ibu Citra langsung menuju ruangan kerja putranya dan melihat apa yang sedang dilakukan anak laki-laki itu.
"Adrian?" panggil ibu Citra ketika masuk ke ruangan kerja putranya.
"Ya, buk?" jawab Adrian saat melihat wanita yang telah melahirkan yaitu datang ke ruangan kerjanya.
"Kemana aja kamu seminggu ini? bilang sama Ibu ke mana kamu." tanya Bu Citra mengintrogasi putranya. Dia benar-benar penasaran ke mana Adrian pergi selama seminggu ini.
"Adrian kerja, buk."
"Halah, bohong kamu! Ibu yakin kalau ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Cepat bilang sama ibu perempuan mana yang lagi deket sama kamu. Ibu nggak mau ya Adrian kalau perempuan itu bukan perempuan baik-baik kayak perempuan masa lalu kamu. Atau gini aja deh, kalau ibu jodohin aja gimana?"
"Buk, Adrian bukan anak-anak yang harus dijodohkan." bantahnya pada sang ibu.
"Liat dulu, Ibu punya calon istri untuk kamu. Dia cantik, baik, ramah, sopan lagi. Kayaknya penyayang banget. Ibu udah tanya sama dia, mau nggak jadi calon mantu ibu." ucap ibunya tiba-tiba membuat Adrian semakin pusing.
"Buk, Ibu ngomong apa sih Bu? gimana kalau perempuan itu udah ada calon suami atau istri orang. Ibu mikir ke sana nggak?" tanya Adrian lagi.
"Dia single kok. Gak ada tanda-tanda mencurigakan sebagai istri orang atau pacar orang. Ini, coba lihat deh ini fotonya. Dia aslinya cantik banget tahu. Ibu juga kayak pernah melihat tapi di mana gitu. Kayak nggak asing ketemu mukanya." ibu Citra memberikan ponselnya pada Adrian, sedangkan Adrian masih sibuk dengan pekerjaan yang dan dia tidak ingin melihat ke arah ponsel sang ibu.
"Adrian, lihat dulu. Ibu yakin, setelah melihatnya kamu pasti suka." Adrian menghela nafasnya berat ketika sang Ibu terus saja memaksanya untuk melihat wanita yang katanya ingin dijodohkan dengannya itu.
Sampai di mana Dia melihat seorang wanita yang berada di ponsel sang ibu, membuatnya langsung terkejut.
"Karina?" ucapnya reflek yang langsung mengundang reaksi sang ibu.
***
belajar memangil mas jan om