Terlahir kembali sebagai pangeran tertua di Kekaisaran Xingluo seharusnya adalah tiket keberuntungan. Namun bagi Dai Xuan, itu adalah hukuman mati. Di bawah hukum rimba keluarga kerajaan Dai yang kejam, kegagalan membangkitkan Martial Soul Harimau Putih berarti satu hal: tersingkir atau binasa.
Dunia mencemoohnya. Saudara-saudaranya memandangnya rendah sebagai "produk gagal". Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik tubuh yang dianggap lemah itu, tersimpan kekuatan dari dunia lain.
Bukan Harimau Putih biasa yang ia bawa, melainkan White Tiger Soul-Locking Ability. Kekuatan unik yang mampu mengunci takdir, membelenggu jiwa, dan mematahkan aturan absolut Benua Douluo. Dengan kekuatan jiwa penuh bawaan (Innated Full Soul Power), Dai Xuan memulai langkahnya dari kegelapan.
"Aturan dibuat oleh mereka yang berada di atas. Karena Harimau Putih kalian tidak mengakuiku, maka aku akan menciptakan takdirku sendiri."
Dingin, analitis, dan tanpa ampun kepada musuh. Dai Xuan tidak butuh pengakuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerahan dan Kesetiaan Yang Wudi
BRUUAKKK!
Suara keras menggema ketika sosok yang berpakaian hitam itu dengan kasar menendang batu besar yang menghalangi jalan. "Sialan sekali! Sudah capek menghadapi Yang Wudi, sekarang malah harus menghadapi sekelompok orang dari Akademi Star Luo!" Serunya penuh dengan kebencian, mata yang merah memandang jauh ke arah rombongan yang telah menyusul.
"Jangan bersikeras, kita harus mundur sekarang juga." Kata pemimpin kelompok itu dengan suara rendah namun tegas, menyadari bahwa mereka telah berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. "Kemenangan itu bukan hanya tentang kekuatan belaka, tetapi juga tentang memilih waktu yang tepat untuk bertindak."
Tanpa berkata lagi, mereka dengan cepat menghilang ke dalam semak-semak, menyisakan hanya debu dan suara angin yang berbisik di antara pepohonan.
Di Lokasi Tertutup Lembah
Richard menghela nafas lega saat melihat kelompok pemburu dari Aula Roh menghilang. Dia kemudian dengan cermat mengecek kondisi Yang Wudi yang masih terbaring lemah di tanah, tubuhnya penuh dengan luka dan bercak darah yang mengkhawatirkan.
"Bagaimana mungkin mereka menemukan kita di tempat yang terpencil seperti ini?" Bisik Richard dengan suara pelan, matanya penuh dengan kekhawatiran. Dia tahu bahwa jika Kaisar mengetahui bahwa putranya terluka parah dalam perjalanan yang dia kelola, konsekuensinya akan sangat berat.
"Aku tidak melakukan apa-apa... benar-benar tidak!" Kata Dai Weisi dengan nada yang penuh dengan rasa dirugikan, menyembunyikan bagian di mana dia telah mencoba untuk mengganggu fokus Dai Xuan dengan omong kosongnya.
Richard menggelengkan kepalanya dengan rasa tidak berdaya. Sejak pertama kali bertemu dengan Dai Xuan, dia tahu bahwa sang Pangeran Pertama tidak akan pernah tinggal diam jika ada yang mencoba untuk merusak apa yang dia sayangi.
"Baiklah, mari kita fokus pada penyembuhanmu dulu ya, Weisi." Ucap Richard dengan lembut sambil membantu Dai Weisi untuk duduk di atas batu besar yang relatif rata. "Kita tidak bisa melakukan apa-apa terhadap Dai Xuan tanpa izin Kaisar, jadi lebih baik kita fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan saja."
Setelah beberapa saat, Dai Weisi mulai menceritakan seluruh kejadian dengan menambahkan beberapa bagian yang membuat dirinya tampak sebagai korban yang tidak bersalah. Namun Richard tahu betul bahwa cerita tersebut tidak sepenuhnya benar—dia bisa membaca ekspresi dan bahasa tubuh Dai Weisi yang menunjukkan bahwa dia sebenarnya merasa senang dengan hasil pembukaan Roh Zhu Zhuyun.
"Kita harus kembali ke Akademi segera. Jika ada yang terjadi pada Zhuyun karena perlakuanmu terhadapnya, Dai Xuan tidak akan tinggal diam." Kata Richard dengan suara yang penuh peringatan. Dia tahu bahwa hubungan antara Dai Xuan dan Zhu Zhuyun bukan hanya tentang status atau kekuasaan, melainkan tentang ikatan yang mendalam yang telah mereka bangun bersama selama bertahun-tahun.
"Hmph! Aku tidak percaya ada wanita yang tidak tertarik dengan jabatan Permaisuri Star Luo!" Ucap Dai Weisi dengan nada yang penuh keyakinan, namun ekspresi Richard menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya setuju dengan pandangan putranya tentang cinta dan kekuasaan.
Akademi Kerajaan Star Luo
Udara pagi yang segar menyapu halaman akademi yang rindang. Zhu Zhuyun berdiri dengan tegak di sisi Dai Xuan, matanya penuh dengan tekad yang kuat.
"Aku akan berlatih dengan sungguh-sungguh agar tidak menjadi beban bagimu, Xuan." Kata Zhuyun dengan suara lembut namun jelas.
"Jangan khawatir ya, Zhuyun. Saat kamu menghadapi lawan nanti, aku akan selalu ada di sisimu untuk melindungimu." Jawab Dai Xuan dengan senyum yang hangat, tangannya dengan lembut menyentuh kepala Zhuyun.
"Pangeran Pertama, apakah kita akan pergi ke Arena Roh hari ini?"
Suara Xiao Hui dan Yan Yuqing terdengar dari belakang mereka. Selama setahun terakhir, kedua gadis kembar itu telah tumbuh menjadi remaja cantik dengan sosok yang lebih matang. Kekuatan spiritual mereka telah meningkat dari tingkat tujuh menjadi tingkat sembilan, dan mereka akan segera mencapai tingkat sepuluh untuk mendapatkan cincin Roh pertama mereka.
Saat melihat Zhu Zhuyun yang berdiri di sisi Dai Xuan, senyum di wajah mereka perlahan menghilang dan digantikan dengan ekspresi yang sedikit canggung.
"Tidak kita pergi ke Arena Roh hari ini." Jawab Dai Xuan dengan senyum yang ramah. "Kita akan melakukan hal lain yang lebih penting."
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat pelatihan khusus. Di sana, Zhu Zhuyun mulai melakukan serangkaian latihan yang dirancang khusus untuk meningkatkan kontrolnya terhadap Rohnya—Kucing Roh Dunia Bawah. Setiap gerakan dia semakin lancar dan penuh dengan kekuatan tersembunyi.
Sementara itu, Dai Xuan mengamati dengan cermat setiap langkah dan gerakan Zhuyun, siap untuk memberikan bimbingan kapan saja jika diperlukan.
"Kamu sudah sangat baik, Zhuyun." Pujian Dai Xuan keluar dengan tulus saat Zhuyun menyelesaikan serangkaian gerakan dengan sempurna.
"Terima kasih, Xuan." Kata Zhuyun dengan senyum yang ceria, wajahnya sedikit memerah karena senang.
Pada saat yang sama, di sisi lain halaman akademi, Dai Weisi berdiri dengan wajah yang penuh dengan kemarahan melihat kejadian itu dari kejauhan. Zhu Yuexin berdiri di sisinya dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran.
"Bagaimana bisa mereka begitu akur ya, Ibu?" Tanya Dai Weisi dengan suara penuh kemarahan. "Aku tidak akan pernah menyerah pada mereka!"
"Kita tidak bisa melakukan apa-apa tanpa izin Kaisar, Weisi." Jawab Zhu Yuexin dengan suara lembut namun tegas. "Kekuasaan dan cinta adalah dua hal yang berbeda, dan kamu harus memahami itu."
Mendengar kata-kata itu, ekspresi Dai Weisi menjadi semakin gelisah—dia masih belum mengerti bahwa kekuasaan tidak bisa membeli cinta yang sesungguhnya.
Beberapa Hari Kemudian
Suara lonceng yang merdu menggema di halaman akademi, menandakan bahwa jam pelajaran telah selesai. Xiao Hui dan Yan Yuqing berjalan cepat menghampiri Dai Xuan yang sedang duduk di bawah pohon besar sambil membaca buku tentang sejarah Roh.
"Pangeran Pertama, ada kabar bahwa Turnamen Elit Guru Roh akan segera dimulai." Kata Xiao Hui dengan suara penuh semangat. "Kita akan segera mendapatkan cincin Roh pertama kita!"
"Betul sekali. Kita harus bersiap dengan baik ya." Jawab Dai Xuan dengan senyum yang hangat sebelum menutup bukunya. "Kalian berdua sudah siap untuk menghadapi ujiannya?"
"Kita sudah siap, Pangeran Pertama!" Jawab kedua gadis kembar itu dengan suara penuh semangat.
Pada saat itu, Zhu Zhuyun datang dengan membawa dua gelas teh hangat. Dia memberikan satu gelas kepada Dai Xuan dan tersenyum ramah kepada Xiao Hui serta Yan Yuqing.
"Halo, kamu berdua juga akan ikut dalam turnamen ya?" Tanya Zhuyun dengan suara lembut.
"Ya, Kakak Zhuyun." Jawab Xiao Hui dengan senyum yang ceria. Meskipun awalnya mereka merasa canggung dengan keberadaan Zhuyun, namun kini mereka sudah bisa menerima bahwa dia adalah bagian penting dari kehidupan Dai Xuan.
"Kita harus berlatih bersama ya agar bisa saling mengerti kekuatan masing-masing." Kata Zhuyun dengan senyum yang hangat, membuat suasana menjadi lebih hangat.
Di kejauhan, Dai Weisi melihat seluruh kejadian itu dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan iri hati. Dia menggenggam tinjunya dengan erat hingga buku tangannya memucat.
"Aku tidak akan pernah menyerah!" Bisiknya penuh dengan tekad, namun matanya menunjukkan bahwa dia mulai meragukan apakah kekuasaan saja cukup untuk memenangkan hati Zhu Zhuyun.
Di Kediaman Keluarga Zhu
Zhu Xiongying duduk di ruang tamu yang mewah, bersama dengan Dai Ren Kaisar Star Luo dan Zhu Yuexin yang sedang menjelaskan kondisi terkini tentang putrinya.
"Zhuyun telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam mengendalikan Rohnya, Bangsawan." Kata Zhu Xiongying dengan suara penuh kebanggaan. "Dia akan segera mencapai tingkat sepuluh dan siap untuk mendapatkan cincin Roh pertamanya."
"Baiklah, itu kabar yang menggembirakan." Jawab Dai Ren dengan senyum yang puas. "Apa kabarmu tentang persiapan untuk turnamen?"
"Kita sudah siap, Yang Mulia." Jawab Zhu Xiongying dengan rasa hormat. "Kita berharap bahwa pertemuan antara Zhuyun dan Dai Xuan akan membawa keberuntungan bagi kita semua."
"Semoga saja demikian." Kata Dai Ren dengan suara yang penuh harapan. Dia tahu bahwa masa depan kerajaan tergantung pada bagaimana kedua anaknya bisa bekerja sama atau bersaing dengan cara yang sehat.
Di luar ruangan, Dai Weisi mendengar seluruh percakapan itu dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan kebencian. Dia semakin bersikeras untuk mendapatkan apa yang dia anggap sebagai haknya.
Hari Pembukaan Turnamen Elit Guru Roh
Suasana di sekitar arena sangat meriah. Ratusan peserta dari berbagai akademi di seluruh benua berkumpul di sana dengan penuh semangat. Akademi Kerajaan Star Luo, Akademi Kerajaan Tian Dou, dan berbagai akademi besar lainnya telah siap bersaing untuk meraih gelar juara.
Di tengah kerumunan, Dai Xuan berdiri bersama dengan Zhu Zhuyun, Xiao Hui, dan Yan Yuqing. Semua mata terpaku pada mereka ketika mereka memasuki arena dengan langkah yang percaya diri.
"Kita harus menunjukkan kepada semua orang bahwa Akademi Star Luo adalah yang terbaik!" Ucap Zhu Zhuyun dengan suara penuh semangat, membuat semua orang di sekitar mereka merasa terpacu.
Di sisi lain arena, Hu Liena berdiri bersama dengan teman-temannya dengan ekspresi yang penuh dengan tekad. Dia tahu bahwa pertemuan dengan Dai Xuan tidak bisa dihindari lagi.
"Kita akan menunjukkan bahwa Aula Roh adalah yang terkuat!" Ucap Hu Liena dengan suara penuh keyakinan, membuat semua orang di sekitarnya merasa termotivasi.
Pada saat yang sama, di tribun tinggi, Bibi Dong—Paus Agung Aula Roh—menatap seluruh peserta dengan ekspresi yang penuh dengan perhatian. Dia tahu bahwa turnamen ini bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang masa depan dunia Roh yang akan datang.
"Semoga semuanya berjalan dengan baik." Bisiknya pelan namun penuh dengan harapan yang mendalam.