NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Siang hari di SMA Lentera Cendekia.

Matahari bersinar terang di atas halaman sekolah yang luas. Gedung sekolah yang megah dengan dinding putih dan kaca besar memantulkan cahaya. Pepohonan trembesi berjajar rapi di sepanjang jalan menuju lapangan olahraga.

Suasana sekolah cukup ramai.

Beberapa siswa duduk di bangku taman sambil makan bekal. Ada yang bermain gitar di bawah pohon. Beberapa siswa lain berjalan santai di koridor panjang yang menghubungkan gedung kelas dengan gedung olahraga.

Di salah satu kelas lantai dua—

Suasana mulai tenang setelah guru keluar.

Quinn masih duduk di bangkunya dekat jendela. Ia sedang menulis sesuatu di buku catatan, wajahnya terlihat serius.

Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Angin siang masuk melalui jendela yang terbuka, membuat tirai tipis bergerak pelan.

Tiba-tiba—

BRAK!

Pintu kelas terbuka keras.

Beberapa murid langsung menoleh kaget.

Di pintu berdiri Vexa dengan wajah super heboh.

“QUINNN!!”

Quinn yang sedang menulis langsung tersentak.

“Apa sih?!”

Vexa langsung berjalan cepat ke arah Quinn dengan langkah heboh.

“Cepet!”

Ia menepuk meja Quinn.

“Ayo ikut gue!”

Quinn mengerutkan dahi.

“Mau ke mana?”

Vexa hampir melompat kegirangan.

“Ke GOR!”

Quinn memiringkan kepala.

“Ngapain?”

Vexa melotot.

“Ngapain lo bilang?!”

Ia menunjuk keluar kelas.

“Ryuga lagi latihan basket!”

Beberapa murid di kelas langsung menoleh tertarik.

“Serius?!”

“Latihan tim inti ya?”

“Kapten kita lagi latihan?”

Quinn justru terlihat bingung.

“Ryuga… basket?”

Vexa menatapnya tidak percaya.

“LO SERIUS NANYA ITU?”

Quinn mengangkat bahu.

“Iya.”

Vexa menepuk dahinya sendiri.

“Ya ampun Quinn...”

Ia mendekatkan wajahnya.

“Ryuga itu kapten tim basket SMA Lentera Cendekia.”

Quinn langsung berhenti menulis.

“Hah?”

Vexa mengangguk mantap.

“IYA.”

Quinn benar-benar terlihat terkejut.

“Tunggu… tunggu… Lo bilang Ryuga?”

Vexa memutar mata.

“Ryuga Arashima Renzo, manusia dingin, ketua Ravenix, yang mukanya kayak nggak pernah ketawa itu.”

Quinn berkedip beberapa kali.

“Dia main basket?”

Vexa tertawa.

“Bukan cuma main.”

Ia berkata dramatis.

“Dia kapten tim.”

Quinn terlihat benar-benar tidak percaya.

“Gue nggak pernah lihat dia main.”

Vexa mendengus.

“Ya jelas lah. Lo kan nggak pernah ke GOR.”

Quinn berpikir sebentar.

“Dia kelihatan lebih cocok jadi berandalan motor.”

Vexa tertawa keras.

“Justru itu yang bikin keren!”

Ia langsung menarik tangan Quinn.

“Ayo!”

Quinn menahan.

“Xa—”

Vexa merengek.

“Sekali ini aja!”

Quinn masih ragu.

Namun rasa penasaran mulai muncul di wajahnya.

“Dia beneran kapten?”

Vexa mengangguk cepat.

“Beneran...”

Quinn akhirnya berdiri dari kursinya.

“Ya udah. Ayo!”

Vexa langsung melonjak.

“YES!”

Ia menarik Quinn keluar kelas.

Mereka berjalan cepat melewati koridor sekolah yang panjang.

Suara langkah sepatu menggema di lantai marmer.

Di kejauhan terlihat gedung olahraga indoor sekolah.

Dari dalam terdengar suara bola basket memantul.

DUK! DUK! DUK!

Suara sepatu berdecit di lantai.

CIIIT! CIIIT!

Vexa menyenggol Quinn.

“Kedengeran kan?”

Quinn mengangguk pelan.

Mereka masuk ke dalam GOR.

Lapangan basket besar terbentang di tengah ruangan dengan lantai kayu mengilap. Lampu-lampu besar menggantung di langit-langit tinggi.

Di tribun kecil pinggir lapangan GOR, beberapa siswi sudah duduk bergerombol. Ada yang memegang minuman, ada yang pura-pura membuka buku padahal sebenarnya hanya ingin menonton latihan.

Suara bola basket terus memantul di lapangan.

DUK! DUK! DUK!

Salah satu siswi menyenggol temannya pelan.

Ia mencondongkan badan sambil berbisik.

“Eh… lihat deh.”

Siswi kedua —temannya yang sedang memainkan ponsel menoleh malas.

“Apa sih—”

Namun kalimatnya langsung terpotong saat matanya tertuju ke tengah lapangan.

RYUGA.

Siswi pertama menunjuk Ryuga.

“Itu Ryuga lagi latihan.”

Siswi kedua langsung menoleh lagi, kali ini lebih serius.

"Ryuga mainnya keren banget."

Siswi ketiga menatap ke arah lapangan dengan mata berbinar.

“Gila… seriusan dia latihan hari ini?”

Siswi yang duduk di depan mereka ikut menoleh.

“Ryuga Arashima?”

Siswi pertama berbisik excited.

“Iya! Kapten basket kita.”

Siswi ketiga langsung menutup mulutnya sedikit.

“Ya ampun… gue kira dia nggak bakal latihan hari ini.”

Siswi kedua menyikutnya.

“Lo lihat cara dia dribble nggak?”

Di lapangan—

Ryuga sedang menggiring bola dengan cepat.

Gerakannya tajam dan lincah.

Siswi pertama langsung berbisik heboh.

“ASTAGA… itu keren banget!”

Siswi ketiga mengangguk cepat.

“Dia kelihatan beda banget kalau lagi main basket.”

Siswi kedua tertawa kecil.

“Beda gimana?”

Siswi ketiga berbisik dramatis.

“Lebih… bahaya.”

Mereka semua tertawa pelan.

Siswi pertama berkata lagi.

“Padahal biasanya dia dingin banget.”

Siswi kedua mengangguk.

“Iya, kayak nggak punya emosi.”

Siswi ketiga menimpali.

“Makanya makin keren.”

Mereka kembali melihat ke lapangan.

Saat itu Ryuga melakukan gerakan cepat melewati dua pemain sekaligus.

SWOOSH.

Bola masuk ring.

Ketiga siswi itu langsung menutup mulut mereka supaya tidak berteriak terlalu keras.

“YA AMPUN!”

“Masuk!”

“Gila!”

Siswi kedua memegang pipinya sendiri.

“Kenapa dia keren banget sih?!”

Siswi pertama tertawa kecil.

“Dia kan kapten.”

Siswi ketiga berkata pelan dengan nada kagum.

“Kapten basket… ketua geng motor… terus juga pewaris Arashima Group.”

Siswi kedua langsung melotot.

“Iya lagi.”

Ia berbisik dramatis.

“Paket lengkap banget.”

Siswi pertama menambahkan sambil menatap Ryuga.

“Dan mukanya juga…”

Ia menghela napas.

“…nggak masuk akal.”

Siswi ketiga tertawa kecil.

“Kalau dia senyum sekali aja di sekolah ini, gue yakin setengah siswi langsung pingsan.”

Siswi kedua mengangguk setuju.

“Tapi masalahnya…”

Ia menunjuk Ryuga yang sedang berdiri dingin di tengah lapangan memberi instruksi.

“…dia hampir nggak pernah senyum.”

Siswi pertama berkata pelan.

“Itu yang bikin dia makin menarik.”

Siswi ketiga tiba-tiba berkata heboh.

“Eh eh lihat!”

Di lapangan—

Ryuga melompat untuk dunk.

BRAK!

Bola masuk dengan keras.

Tribun kecil itu langsung heboh.

“GILAAA!”

“KEREN BANGET!”

Siswi kedua menepuk tangan pelan sambil menahan diri.

“Kenapa dia kayak karakter anime sih?!”

Siswi pertama tertawa.

“Makanya tiap latihan selalu ada penonton.”

Siswi ketiga menatap Ryuga tanpa berkedip.

“Jujur aja…”

Ia berbisik pelan.

“Kalau dia ngajak gue kabur sekarang…”

Siswi kedua langsung menyikutnya keras.

“WOI!”

Mereka semua langsung tertawa tertahan sambil tetap menatap ke lapangan—

tempat Ryuga berdiri sebagai pusat perhatian tanpa terlihat peduli sedikit pun pada semua kekaguman itu.

Di tengah lapangan—

Para pemain sedang latihan.

Zayden, Keano, dan Elric juga ada di sana.

Namun satu sosok paling menonjol.

Ryuga.

Ia mengenakan jersey hitam bertuliskan Lentera Cendekia dengan nomor punggung 7.

Keringat membuat rambutnya sedikit berantakan, tapi aura dinginnya tetap kuat.

Ryuga menggiring bola dengan cepat.

DUK! DUK! DUK!

Keano mencoba menghadangnya.

“Eh kapten! Pelan dong!”

Ryuga tidak menjawab.

Dengan gerakan cepat—

Ia memutar badan.

SWISH!

Keano langsung terlewat.

“WOI!”

Zayden tertawa dari samping.

“Skill issue.”

Keano protes.

“Diam lo!”

Ryuga terus maju.

Elric menghadangnya.

“Elric... Serius.” tegur Ryuga.

Elric berdecak.

“Ck... Ini juga serius.”

Ryuga menggiring bola lebih cepat.

DUK! DUK! DUK!

Ia melakukan crossover cepat.

Elric hampir kehilangan keseimbangan.

Keano berteriak dari belakang.

“WADUH!”

Ryuga melompat.

SWOOOSH!

Bola masuk ke ring dengan sempurna.

Beberapa siswi di tribun langsung berbisik heboh.

“Keren banget…”

Vexa langsung menoleh ke Quinn dengan wajah puas.

“Gimana?”

Quinn masih menatap ke arah lapangan.

Sedikit terpana.

Di sana Ryuga mengambil bola lagi dan berkata tegas pada timnya.

“Formasi ulang.”

Nada suaranya jelas seperti pemimpin.

Zayden menyeringai.

“Kapten galak hari ini.”

Keano mengeluh.

“Dia emang selalu galak.”

Elric hanya berkata pendek.

“Main lagi.”

Latihan dimulai lagi.

Ryuga memberi umpan cepat ke Zayden.

Zayden menangkapnya dengan mudah.

“Nice pass.”

Ia langsung mengoper lagi ke Keano.

Keano mencoba lempar tiga angka.

DUK!

Bola memantul keluar.

Keano langsung mengumpat.

“Sial!”

Ryuga mengambil bola itu lagi.

“Fokus.”

Keano menjawab sambil tertawa.

“Siap kapten!”

Vexa menyenggol Quinn lagi.

“Tuh kan.”

Quinn masih menatap Ryuga.

Matanya sedikit membesar.

Ia bergumam pelan.

“Gila…”

Vexa tersenyum lebar.

“Baru tau ya?”

Quinn mengangguk kecil.

“Iya…”

Ia menatap Ryuga yang berdiri di tengah lapangan mengatur timnya.

Aura pemimpin itu terlihat jelas.

Quinn berkata pelan.

“Gue kira… gue udah tau semua tentang dia.”

Vexa menyeringai.

“Nyatanya?”

Quinn menarik napas pelan.

“Nyatanya… gue nggak tau apa-apa.”

...----------------...

GOR SMA Lentera Cendekia siang itu terasa hidup.

Suara bola basket memantul terus terdengar di seluruh ruangan.

DUK! DUK! DUK!

Sepatu para pemain berdecit di lantai kayu mengkilap.

CIIIT! CIIIT!

Lampu besar di langit-langit menyinari lapangan. Beberapa siswi berdiri di tribun kecil pinggir lapangan sambil menonton dengan penuh minat.

Di tengah lapangan—

Ryuga baru saja menyelesaikan satu sesi latihan.

Keringat membasahi pelipisnya. Jersey hitam nomor 7 yang ia pakai sedikit menempel di tubuhnya karena keringat.

Zayden menepuk tangannya.

“Break lima menit!”

Keano langsung menjatuhkan diri di lantai.

“AKHIRNYA!”

Ia terengah-engah.

“Kapten kita kalau latihan kayak mau perang.”

Zayden tertawa kecil.

“Makanya jangan males.”

Elric duduk di bangku pemain tanpa banyak bicara.

Ryuga berjalan ke pinggir lapangan dengan langkah santai.

Beberapa siswi langsung berbisik-bisik.

“Itu Ryuga…”

“Kapten kita keren banget...”

“Auranya aur-auran…”

Di tribun—

Vexa menyikut Quinn.

“Tuh.”

Quinn pura-pura tidak peduli.

“Kenapa?”

Vexa memutar mata.

“Jangan pura-pura nggak lihat.”

Quinn melirik sekilas ke arah Ryuga.

Namun detik berikutnya ia langsung memalingkan wajah.

Seolah tidak tertarik.

Padahal sebenarnya—

Matanya sempat terpaku beberapa detik.

Saat itu—

Seseorang datang mendekati Ryuga.

Naomi.

Ia berjalan dengan percaya diri sambil membawa botol minuman dingin.

Beberapa siswi langsung berbisik.

“Itu Naomi…”

Naomi berhenti di depan Ryuga.

“Ga.”

Ryuga meliriknya sekilas.

Naomi tersenyum manis.

“Minum.”

Ia mengulurkan botol itu.

“Kamu pasti capek.”

Di tribun—

Quinn melihat itu.

Alisnya langsung turun.

Bibirnya sedikit cemberut.

Vexa yang memperhatikan langsung menyeringai.

“Lo cemburu?”

Quinn mendengus kecil.

“Apaan sih.”

Namun di lapangan—

Ryuga bahkan tidak menyentuh botol itu.

Ia hanya melirik sebentar.

Lalu berjalan melewati Naomi.

Naomi sedikit kaget.

“Ga?”

Ryuga mengambil tas olahraganya sendiri di bangku.

Ia membuka resleting tas.

Lalu mengambil botol minumnya sendiri.

Naomi masih berdiri dengan botol di tangannya.

Sedikit canggung.

Ryuga membuka tutup botolnya.

Klik.

Lalu ia menengadahkan kepala.

Ia minum air dengan santai.

Air sedikit menetes dari sudut bibirnya ke dagunya.

Ia mengusapnya dengan punggung tangan.

Lehernya bergerak saat menelan air.

Keringat di lehernya terlihat jelas di bawah cahaya lampu.

Beberapa siswi langsung heboh.

“YA AMPUN…”

“GILA…”

“Seksi banget…”

Salah satu siswi bahkan menutup mulutnya.

“Kenapa dia minum aja bisa sekeren itu…”

Vexa menoleh ke Quinn dengan wajah jahil.

“Lo lihat nggak?”

Quinn menatap ke arah lapangan.

Dan benar saja—

Beberapa siswi terang-terangan menatap Ryuga dengan mata berbinar.

Bahkan ada yang melambai.

“Ryuga!”

Quinn langsung mengernyit kesal.

“Norak.”

Vexa tertawa kecil.

“Tapi emang keren sih.”

Quinn mendengus.

“Dih.”

Ia bangkit berdiri tiba-tiba.

Vexa langsung kaget.

“Eh... Mau ke mana?”

Quinn menjawab ketus.

“Ke sana.”

Vexa menyeringai lebar.

“WOW... Bakal seru nih.”

Quinn berjalan menuruni tribun menuju lapangan.

Sementara itu—

Ryuga baru saja menutup botol minumnya ketika seseorang berhenti di depannya.

Ia mengangkat pandangan.

Quinn.

Ryuga sedikit mengernyit heran.

“Ra?”

Quinn menyilangkan tangan.

Tatapannya agak kesal.

Ryuga bertanya santai.

“Ngapain di sini?”

Quinn menjawab sinis.

“Lagi latihan ya?”

Ryuga mengangguk.

“Iya.”

Quinn melirik ke arah tribun tempat para siswi masih heboh.

Lalu kembali menatap Ryuga.

“Lumayan.”

Ryuga mengangkat alis.

“Lumayan?”

Quinn berkata ketus.

“Lumayan jago tebar pesona.”

Ryuga mengernyit.

“Apa?”

Quinn menunjuk sekeliling.

“Tuh lihat.”

Beberapa siswi memang masih memperhatikan Ryuga.

Quinn mendengus.

“Latihan basket apa fashion show sih?”

Ryuga benar-benar bingung.

“Gue tebar pesona?”

Quinn mengangkat bahu.

“Ya jelas. Cih... Sok keren banget lo.”

Ryuga menggeleng pelan.

“Gue cuma minum.”

Quinn langsung menjawab cepat.

“NAH... Itu dia masalahnya.”

Ryuga memiringkan kepala.

“Minum juga salah?”

Quinn mendengus.

“Cara lo minum tuh kayak lagi syuting iklan.”

Ryuga menatapnya beberapa detik.

Lalu tiba-tiba—

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

Senyum tipis yang jarang terlihat.

“Hmm.”

Quinn mengerutkan dahi.

“Apa?”

Ryuga berkata santai.

“Lo cemburu?”

Quinn langsung melotot.

“Apa?!”

Ryuga menatapnya santai.

“Tadi muka lo cemberut.”

Quinn langsung protes.

“GUE NGGAK CEMBERUT!”

Ryuga menyeringai kecil.

“Terus, lo ngapain datang ke sini marah-marah?”

Quinn menunjuk dirinya sendiri.

“Gue nggak marah!”

Ryuga menyilangkan tangan.

“Terus?”

Quinn berkata cepat.

“Ini… kritik.”

Ryuga mengangguk pelan.

“Oh.”

Quinn mendengus.

“Jangan kepedean deh. Siapa juga yang cemburu sama lo.”

Ryuga mendekat sedikit.

Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan Quinn.

“Bener?”

Quinn langsung mundur setengah langkah.

“Bener!”

Ryuga menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata santai.

“Sayang.”

Quinn langsung memerah. Tapi ia buru-buru berdehem pelan.

“Sayang pala lo.” katanya ketus.

Ryuga tertawa pelan.

“Padahal kalau lo cemburu…”

Ia tersenyum tipis.

“Gue seneng.”

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!