NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Hari ini adalah hari kedatangan orang-orang dari Perguruan Wijaya.

Kabar tentang kedatangan utusan perguruan pusat itu bukan hanya mengguncang Keluarga Wijaya, tetapi juga mengguncang seluruh Kota Tirta Awan.

Kota Tirta Awan berada di lapisan terbawah Kerajaan Surya Kencana, sementara Perguruan Wijaya berdiri di puncak tertinggi kerajaan itu. Jarak dan perbedaan kedudukan di antara keduanya tak terhitung banyaknya. Kedatangan orang-orang dari perguruan pusat—terlebih lagi putra bungsu ketua perguruan yang datang secara langsung—tak ubahnya seperti seorang presiden mengunjungi keluarga petani paling terpencil. Seluruh Kota Tirta Awan diliputi suasana tegang. Sebagian orang diam-diam menaruh harapan, berharap dapat menjalin hubungan sekecil apa pun dengan Perguruan Wijaya melalui berbagai cara. Namun lebih banyak lagi yang diliputi rasa takut. Begitu mengetahui bahwa mereka akan tiba sore ini, banyak orang memilih mengurung diri di rumah, takut tanpa sengaja menyinggung pihak tersebut.

Halaman utama Keluarga Wijaya telah dirapikan dengan sangat teliti, tanpa setitik debu pun terlihat. Bahkan sejak dua hari lalu, halaman terbesar dan termewah—yang biasanya ditempati Jati Wijaya—telah dibersihkan dan dihias ulang. Jati sendiri pindah ke paviliun kecil di sebelahnya. Meski tubuhnya kelelahan setengah mati, hatinya dipenuhi kegembiraan yang tak terlukiskan! Sebab ia yakin seratus persen bahwa putranya, Sandi Wijaya, akan menjadi orang yang terpilih oleh Perguruan Wijaya kali ini! Saat itu, putranya akan terbang tinggi menembus langit, dan dirinya akan menjadi sosok yang paling disegani di Kota Tirta Awan.

Sejak pukul sepuluh pagi, Jati telah memimpin para tetua menunggu di depan gerbang utama, bersiap menyambut tamu agung. Mereka menunggu hingga tengah hari… lalu hingga sore… hingga akhirnya, sekitar pukul lima sore, seorang murid Keluarga Wijaya berlari kembali sambil berteriak dari kejauhan,

“Kepala Keluarga! Mereka… mereka sudah tiba!! Orang-orang dari Perguruan Wijaya pusat telah datang!”

Tubuh semua orang terguncang. Jati Wijaya segera melangkah maju dan berseru dengan suara rendah namun tegas,

“Cepat! Segera beri tahu semua orang untuk bersiap. Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang membuat kesalahan dan menyinggung tamu mulia! Para tetua, ikut aku menyambut mereka sekarang juga!”

Jati bergegas maju. Setelah berjalan beberapa ratus meter, akhirnya ia melihat empat orang berjalan santai ke arah mereka.

Dari keempat orang itu, yang berada di depan adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun. Pakaiannya sangat mewah, namun wajahnya yang pucat kekuningan memancarkan kesan hidup berfoya-foya berlebihan. Pada wajahnya terpancar kesombongan dan keangkuhan yang liar. Ia berjalan dengan kedua tangan di belakang punggung, menatap lurus ke depan seolah satu pandangan saja dapat mengotori matanya.

Di belakangnya berjalan seorang tetua berpakaian hitam, wajahnya setenang air. Lebih ke belakang lagi, dua pemuda berpakaian seragam hitam mengikuti. Di bahu mereka masing-masing tersemat bordiran berbentuk elang perak.

Jati menarik napas dalam-dalam, lalu segera melangkah maju untuk menyambut mereka. Ia mengepalkan tangan sebagai salam, tubuhnya sedikit membungkuk, dan bertanya dengan penuh hormat,

“Mohon maaf, apakah Tuan-tuan berempat adalah tamu mulia dari Perguruan Wijaya pusat?”

Pemuda di depan berhenti, melirik mereka dengan malas, lalu berkata dengan mata setengah terpejam,

“Benar. Aku adalah Darma Wijaya dari Perguruan Wijaya.”

Sikap Jati seketika menjadi semakin hormat. “Jadi benar tamu-tamu mulia dari perguruan pusat. Ini sungguh kehormatan besar bagi kami! Hamba ini adalah Jati Wijaya, kepala Keluarga Wijaya di Kota Tirta Awan. Lima orang di belakang saya adalah para tetua terhormat kami. Kehadiran empat tamu mulia ke tempat terpencil kami sungguh membuat kami merasa sangat tersanjung.”

“Tak perlu banyak basa-basi.” Pandangan Darma menyapu kelima tetua itu, lalu ia mengibaskan tangan dengan malas. “Tunjukkan jalan.”

“Baik, baik! Silakan ikuti saya.” Jati segera mengangguk dan berbalik untuk memimpin jalan kembali ke kediaman.

“Maaf, saya belum mengenal senior ini…” ujar Jati dengan hati-hati kepada tetua di belakang.

“Mahesa Wijaya,” jawab tetua berpakaian hitam itu dengan datar. Wajahnya tanpa ekspresi, dingin.

Jati tak berani bertanya lebih lanjut. Hatinya dipenuhi kecemasan. Ia masih bisa merasakan tingkat kekuatan tenaga dalam Darma, tetapi sama sekali tidak dapat merasakan sedikit pun aura dari Mahesa. Satu-satunya penjelasan adalah tingkat kekuatannya jauh melampaui batas yang bisa ia deteksi.

Saat mereka kembali ke kediaman Keluarga Wijaya, sekelompok besar orang telah menunggu di pintu masuk. Melihat sikap hormat Jati, jantung mereka berdegup kencang.

“Bolehkah saya bertanya, apakah Tuan adalah tuan muda dari Perguruan Wijaya?” tanya seorang pria setengah baya bertubuh gemuk yang berdiri paling depan—ia adalah Pemimpin Kota Tirta Awan, Surya Atmaja. Begitu mendengar kedatangan tamu mulia, ia langsung datang untuk memberi salam dengan suara gemetar.

Bahkan tokoh ternama seperti Kepala Keluarga Yudha maju mempersembahkan kotak giok berisi hadiah. Darma tidak menolak siapa pun dan menerima semuanya tanpa kecuali melalui pengikutnya. Setelah itu, dengan mata menyipit, ia berkata dengan nada acuh,

“Kalian semua bubar. Hari sudah sore. Jika ada urusan lain, kita bicarakan besok.”

Jati dan lima tetua dengan hormat mengantar Darma masuk ke dalam kediaman. Jati bertanya, “Empat tamu mulia pasti lelah. Apakah berkenan beristirahat sejenak? Kami telah menyiapkan kamar terbaik.”

“Tak perlu. Tubuhku tidak selemah itu.” Darma menyapu pandangan ke seluruh area kediaman Keluarga Wijaya. Ujung bibirnya terangkat, memperlihatkan rasa meremehkan. “Jika bukan karena kematian Tetua Bayu Wijaya, aku bahkan tidak akan tahu ada tempat seperti ini. Kudengar leluhur tempat ini adalah buangan yang diusir oleh Perguruan Wijaya. Namun bagaimanapun, ia tetap berasal dari perguruan pusat. Bisa berkembang sejauh ini selama bertahun-tahun… masih terbilang lumayan.”

“Ya, ya. Terima kasih atas pujiannya, Tuan Muda Darma.” Meski dihina secara terang-terangan, Jati tetap mengangguk hormat.

“Tujuan kami telah disampaikan dalam surat. Besok pagi, kumpulkan semua anggota keluargamu di halaman ini. Tidak boleh ada satu pun yang absen. Aku akan memilih sendiri satu orang untuk dibawa kembali ke Perguruan Wijaya pusat.”

“Baik! Besok pagi, seluruh anggota Keluarga Wijaya akan berkumpul di sini. Saya pastikan tidak seorang pun akan absen,” ujar Jati Wijaya dengan sigap, memberikan jaminan.

“Bagus. Waktu kami sangat berharga; kami hanya punya waktu besok. Aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tak terduga,” kata Darma dengan nada datar. Ia kemudian memiringkan kepala sedikit. “Kalian semua adalah keturunan Tetua Bayu Wijaya yang terhormat. Sudah sepantasnya kami membawa tanda mata ini. Mahesa, serahkan hadiahnya.”

Orang yang dipanggil Tetua Mahesa melangkah maju dan, tanpa ekspresi, meletakkan sebuah kotak kayu jati di hadapan Jati Wijaya. Tangan Jati bergetar saat menerimanya, wajahnya tampak tegang dan gentar. “Saya berterima kasih… berterima kasih kepada Perguruan Wijaya pusat atas hadiahnya. Saya sungguh sangat bersyukur.”

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!