NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kemarahan dan ketakutan

Pintu kamar itu masih terbuka.

Suasana langsung berubah tegang.

“Ibu sudah bilang apa tadi malam, Bela?!” suara ibunya meninggi, penuh emosi yang ditahan sejak tadi.

Arabella berdiri kaku di dekat kasur.

“Ibu… aku cuma—”

“Cuma apa?!” potong ibunya cepat. “Kamu masih pergi sama dia, masih diantar dia, masih dekat sama dia!”

Arabella menggigit bibirnya.

“Ibu tidak tahu semuanya…”

“Ibu tidak perlu tahu semuanya!” balas ibunya. “Yang Ibu tahu, kamu tetap dekat dengan laki-laki itu!”

Arabella mulai gemetar.

“Dia tidak seperti yang Ibu pikir—”

“Semua laki-laki itu sama!” suara ibunya semakin tinggi.

Arabella langsung terdiam.

Kalimat itu terasa keras.

“Ibu… jangan samakan semua orang…”

Ibunya tertawa kecil—pahit.

“Kamu pikir Ibu tidak pernah bilang begitu ke diri Ibu sendiri dulu?”

Arabella menunduk.

“Ibu juga dulu membela ayahmu seperti kamu membela dia sekarang!”

Air mata mulai menggenang di mata Arabella.

“Ini beda, Bu…”

“Apa bedanya?!” suara ibunya bergetar. “Dia kaya! Keluarganya besar! Kamu pikir mereka akan benar-benar menerima kamu?!”

Arabella mengangkat wajahnya.

“Kenapa harus selalu soal itu?!”

“Karena itu kenyataannya!” jawab ibunya tegas.

Arabella mengepalkan tangan.

“Aku tidak peduli soal itu!”

Ibunya langsung menatapnya tajam.

“Tapi mereka peduli, Bela!”

Hening sesaat.

Kata-kata itu terasa menghantam.

“Kamu yang akan merasakan nanti,” lanjut ibunya, suaranya mulai bergetar. “Bukan Ibu.”

Arabella mulai menangis.

“Aku cuma… ingin mencoba…”

Ibunya menggeleng keras.

“Mencoba apa? Mencoba terluka?”

Arabella tidak kuat lagi.

“Kenapa Ibu tidak pernah percaya aku bisa bahagia?!”

Suasana semakin panas.

Ibunya terdiam sejenak… lalu berkata pelan tapi menusuk,

“Karena Ibu sudah pernah bahagia… dan tahu bagaimana rasanya saat semuanya hancur.”

Arabella terdiam.

Air matanya jatuh.

“Aku bukan Ibu…”

Suaranya pelan… hampir putus.

“Tapi kamu anak Ibu!” balas ibunya.

“Dan Ibu tidak mau kamu merasakan hal yang sama!”

Tangis Arabella semakin pecah.

“Tapi aku juga punya hidup sendiri, Bu…”

Ibunya menatapnya lama.

Tatapan itu… bukan marah lagi.

Tapi penuh ketakutan.

“Ibu tidak melarang kamu hidup…”

Suaranya mulai melemah.

“Ibu cuma… takut kehilangan kamu.”

Arabella terdiam.

Kalimat itu membuat hatinya terasa sesak.

Ibunya melangkah mundur perlahan… lalu duduk di tepi kasur.

Tangannya menutupi wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya—

air mata itu jatuh.

“Ibu capek, Bela…”

Suaranya bergetar.

“Ibu sudah jatuh sekali… dan itu menghancurkan Ibu.”

Arabella hanya bisa berdiri, menangis.

“Ibu tidak ingin kamu… jatuh ke lubang yang sama…”

Tangis ibunya pecah.

Ia menunduk, bahunya bergetar.

Arabella langsung mendekat.

“Ibu…”

Ia ikut duduk di sampingnya.

Tangannya ragu-ragu… lalu memeluk ibunya.

“Ibu cuma punya kalian…” lanjut ibunya di sela tangis. “Kalau kamu terluka… Ibu tidak tahu harus bagaimana lagi…”

Tangis Arabella semakin deras.

“Aku tidak mau menyakiti Ibu…”

Suaranya bergetar.

“Tapi aku juga… tidak tahu harus bagaimana…”

Mereka berdua menangis.

Saling berpelukan.

Tanpa kata-kata lagi.

Hanya rasa takut.

Rasa sayang.

Dan luka lama yang belum benar-benar sembuh—

yang kini kembali terbuka.

Di malam itu—

tidak ada yang benar-benar menang dalam perdebatan itu.

Hanya dua hati—

yang sama-sama tidak ingin kehilangan satu sama lain.

...----------------...

Malam semakin larut.

Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram yang hangat, menenangkan suasana setelah badai emosi yang tadi terjadi.

Arabella akhirnya tertidur.

Tubuhnya masih lelah karena menangis terlalu lama.

Kepalanya terbaring di pangkuan ibunya, napasnya mulai teratur, sesekali masih terselip isak kecil yang tertahan bahkan dalam tidurnya.

Ibunya terdiam.

Menatap wajah anak sulungnya itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

Perlahan, tangannya mengusap rambut Arabella.

Lembut.

Penuh kasih.

Namun juga… penuh kekhawatiran.

“Ibu cuma ingin kamu bahagia, Bela…” bisiknya lirih.

Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih pelan.

Tidak meledak seperti tadi.

Lebih dalam… lebih sunyi.

Tatapannya tidak lepas dari wajah Arabella.

Wajah yang sejak kecil selalu ia lindungi.

Wajah yang mengingatkannya… pada masa lalu yang ingin ia lupakan.

“Ibu takut…” suaranya bergetar, hampir tak terdengar.

“Ibu takut kamu terlalu berharap…”

Tangannya berhenti sejenak di rambut Arabella, lalu kembali mengusap perlahan.

“Dan nanti… kamu yang paling sakit…”

Ibunya menarik napas panjang, mencoba menahan perasaan yang kembali mengaduk-aduk dadanya.

“Ibu pernah ada di posisi itu…”

Matanya kosong, seolah melihat sesuatu yang jauh di masa lalu.

“Percaya… menunggu… dan akhirnya ditinggalkan…”

Suaranya semakin kecil.

“Bukan karena tidak cinta… tapi karena tidak dianggap cukup…”

Air mata kembali jatuh.

Kali ini lebih deras.

“Ibu tidak mau kamu merasa seperti itu, Bela…”

Ia menunduk, memperhatikan wajah Arabella yang tertidur.

Begitu tenang.

Begitu rapuh.

“Dia mungkin baik…” lanjutnya pelan. “Ibu juga lihat itu…”

Suaranya melembut.

“Tapi dunia mereka… bukan dunia kita…”

Tangannya menggenggam pelan tangan Arabella yang terkulai.

“Ibu takut… saat semuanya jadi serius…”

Ia menelan ludah.

“Bukan dia yang menjauh…”

“Tapi keluarganya…”

Hening.

Hanya suara malam yang menemani.

“Ibu tidak kuat kalau harus melihat kamu hancur…”

Bisikan itu hampir tak terdengar.

Ia lalu membungkuk sedikit, mencium kening Arabella.

“Maaf kalau Ibu terlihat jahat…”

Air matanya jatuh tepat di pipi Arabella.

“Tapi semua ini… karena Ibu sayang kamu…”

Ia memeluk kepala Arabella lebih erat di pangkuannya.

Menjaga.

Seolah takut kehilangan.

Di malam yang sunyi itu—

seorang ibu hanya bisa berdoa dalam diam.

Agar anaknya tidak mengulang kisah yang sama.

Agar cinta…

tidak kembali menjadi luka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!