Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Pagi itu, atmosfir di St. Jude’s Academy terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. Musim semi mulai mengetuk jendela kaca kelas-kelas yang kaku, membawa aroma tanah basah dan harapan baru. Namun, bagi para penghuni barisan depan, hari ini bukan sekadar hari biasa. Ini adalah titik balik bagi salah satu pilar mereka.
Di dalam kelas sejarah yang biasanya sunyi sebelum bel berbunyi, sebuah keributan kecil terjadi. Max masuk dengan langkah lebar, wajahnya dihiasi seringai nakal yang menjadi ciri khasnya.
Di tangannya, sebuah kotak kue kecil transparan bergoyang pelan. Begitu sampai di depan meja Kay, Max meletakkan kotak itu dengan bunyi thump yang sengaja dikeraskan.
"Bangun, Tuan Muda Brown! Dunia menuntutmu untuk menjadi dewasa hari ini!" seru Max.
Kay, yang sedang menyandarkan kepala di atas lipatan tangannya, mendongak dengan tatapan malas. Matanya yang tajam tampak sedikit merah, tanda bahwa ia menghabiskan malam dengan balapan liar atau sekadar merenungi kekacauan di kepalanya.
Max membuka kotak itu, memamerkan sebuah cupcake cokelat sederhana dengan satu lilin kecil yang menyala di tengahnya.
"Selamat ulang tahun yang ke-18, Brother. Secara hukum, kau sekarang bisa masuk penjara dewasa jika kau menabrakkan motor sport-mu ke gedung balai kota," canda Max sambil tertawa.
Kay mendengus, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kau konyol, Max. Membawa benda ini ke kelas seperti anak sekolah dasar."
Tiba-tiba, sebuah suara tawa pecah dari samping mereka.
Paris, yang baru saja duduk di bangkunya, merasa dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Ia menoleh ke arah barisan depan dan terpaku.
Di sana, Luciano Russo sedang tertawa. Bukan sekadar senyum tipis yang biasa ia berikan dalam pesan singkat, tapi tawa lepas yang tulus hingga matanya menyipit. Gigi-giginya yang rapi terpampang, dan bahunya yang biasanya kaku tampak rileks.
Itu adalah pemandangan paling manusiawi yang pernah Paris lihat dari seorang Luciano. Suara tawanya rendah dan merdu, memenuhi ruangan kelas yang kaku itu dengan kehangatan yang asing. Paris tertegun. Ia merasa cemburu pada momen itu—momen di mana Luciano bisa tertawa selepas itu bersama teman-temannya, sementara dengannya, Luciano selalu tampak penuh beban dan kegelisahan.
"Lihat wajahmu, Kay," ucap Luciano di sela tawanya. "Kau terlihat seperti ingin menelan lilin itu daripada meniupnya."
"Happy Birthday, Kay!" seru beberapa siswa lain yang mulai menyadari perayaan kecil itu. Nama "Michelle Brown" atau Kay memang disegani, namun di hari ulang tahunnya, aura predatornya sedikit memudar, digantikan oleh canggungnya seorang remaja yang dipaksa menjadi pusat perhatian.
Paris menunduk, jantungnya masih berdebar melihat tawa Luciano tadi. Ia merogoh ponselnya, jari-jarinya menari di atas layar. Ada rasa ingin ikut merayakan, meskipun ia tahu ia tidak bisa mendekati meja itu. Ia tidak ingin merusak suasana "Tiga Pilar" dengan kehadirannya yang dianggap remeh oleh Kay.
Namun, ia juga merasa bersalah. Bagaimanapun, semalam Kay sudah mengantarnya pulang, meski dengan cara yang sangat kasar dan pemberian obat yang menghinanya. Paris mencoba menekan egonya. Sebagai kekasih Luciano, ia merasa harus menunjukkan sopan santun.
Paris: Lucian, sampaikan ucapan selamat ulang tahun untuk Kay. Katakan padanya semoga dia panjang umur.
Paris melihat Luciano merogoh saku celananya saat ponselnya bergetar. Luciano membaca pesan itu, lalu melirik sekilas ke arah baris tengah tanpa ekspresi. Hanya sedetik, sebelum ia kembali menatap Kay.
Luciano: Ok, babe.
Luciano mematikan ponselnya dan menepuk bahu Kay. "Paris menitipkan ucapan selamat untukmu. Dia bilang, semoga kau panjang umur."
Kay membeku. Gerakan tangannya yang hendak mematikan lilin terhenti. Ia tidak menoleh ke arah Paris, namun ia bisa merasakan kehadiran gadis itu di belakangnya. Ucapan itu terasa seperti siraman air dingin di tengah api amarahnya. Gadis yang ia hina semalam, gadis yang ia beri pil kontrasepsi dengan cara yang kasar, justru mendoakannya panjang umur.
"Sampaikan terima kasih padanya," jawab Kay datar, suaranya terdengar sedikit tercekat.
Max menyenggol siku Kay. "Wah, lihat itu! Sang pangeran kita bahkan menitipkan ucapan lewat asisten pribadinya. Sangat romantis, bukan?"
Kay tidak menjawab. Ia meniup lilin itu dalam satu embusan napas yang panjang, seolah ingin mematikan semua gejolak yang meradang di hatinya.
Delapan Belas dan Beban Kebenaran
Sepanjang jam pelajaran, pikiran Kay tidak fokus pada materi sejarah yang disampaikan Mr. Henderson. Ia terus memikirkan angka delapan belas. Usia di mana ia dianggap sudah dewasa, usia di mana ia seharusnya sudah bisa mengendalikan hidupnya sendiri.
Namun, kenyataannya, ia merasa lebih terjebak dari sebelumnya.
Ia melirik ke samping, ke arah Luciano yang sedang mencatat dengan tenang. Di matanya, Luciano masihlah sahabatnya. Tapi di sisi lain, Luciano adalah pria yang telah merusak kesucian Paris dan menjadikannya bahan lelucon bersama Max.
Kay merasa mual. Bagaimana mungkin Luciano bisa tertawa selepas itu setelah apa yang dia lakukan? Apakah bagi Luciano, menghancurkan masa depan seorang gadis hanyalah sebuah pencapaian kecil yang patut dirayakan dengan cupcake dan tawa?
Kau sangat hebat berakting, Lucian, batin Kay.
Sementara itu, Paris terus memperhatikan punggung Luciano. Ia merasa bahagia melihat Luciano tertawa, namun ia juga merasa ada jarak yang semakin lebar.
Tawa Luciano tadi seolah menunjukkan bahwa dunia Luciano yang sebenarnya adalah bersama Max dan Kay, dunia yang keras, penuh ejekan, dan maskulinitas yang angkuh. Ia merasa dirinya hanyalah tempat persinggahan bagi Luciano saat pria itu lelah dengan dunianya.
Paris juga tidak bisa melupakan tatapan Kay di parkiran dan di dalam mobil semalam. Meskipun ia menyebut Kay "si mulut pedas", ia tidak bisa memungkiri bahwa Kay adalah orang pertama yang memperingatkannya tentang risiko dari hubungan ini, meski dengan cara yang salah.
Saat jam istirahat tiba, kantin kembali dipenuhi oleh pembicaraan tentang ulang tahun Kay. Banyak gadis yang mencoba mendekati meja mereka untuk memberikan kado, namun Kay menolaknya dengan bahasa tubuh yang dingin.
"Aku tidak butuh barang-barang bermerek kalian," ucap Kay ketus saat seorang siswi mencoba memberikan jam tangan mahal. "Simpan saja untuk kalian sendiri."
"Kay, jangan terlalu kasar. Ini hari ulang tahunmu," tegur Max sambil menyantap makan siangnya.
Kay berdiri. "Aku butuh udara segar. Jangan ikuti aku."
Ia berjalan keluar dari kantin, melewati meja Paris tanpa menoleh. Namun, saat ia berada di dekat pintu, ia sempat melihat Paris yang sedang tertawa kecil bersama Delaney. Tawa Paris yang polos dan tanpa beban.
Kay mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Hari ini dia berusia delapan belas tahun. Dia sudah dewasa secara hukum. Dan sebagai orang dewasa, ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia tidak bisa terus diam melihat Luciano mempermainkan Paris.
Namun, ia juga tahu bahwa jika ia bicara, ia akan kehilangan Luciano. Ia akan menghancurkan pertemanan "Tiga Pilar" yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil. Ia akan memicu skandal yang akan menyeret nama Brown Group dan Russo Group ke dalam lumpur.
Di sisi lain Manhattan, di dalam sebuah gedung kantor mewah, orang tua Kay mungkin sedang menyiapkan pesta besar untuknya malam ini. Tapi bagi Kay, hadiah ulang tahun terbaik yang ia inginkan hanyalah satu: melihat Paris aman dari eksperimen gila Luciano.
Ia kembali ke motornya di parkiran, menyalakan mesinnya, dan membiarkan raungannya membelah kesunyian siang itu. Delapan belas tahun bukan berarti kebebasan.
Baginya, delapan belas tahun adalah awal dari tanggung jawab yang berat untuk melindungi seseorang yang bahkan tidak menginginkan perlindungannya.
Dan di dalam kelas, Luciano kembali ke wajah dinginnya, merencanakan langkah selanjutnya dalam persamaan yang ia buat, tanpa menyadari bahwa pilar-pilarnya mulai retak tepat di hari ulang tahun sahabat terbaiknya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍