NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Permintaan yang Membingungkan

Pagi itu Ardila datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Lorong kantor masih cukup sepi, hanya beberapa karyawan yang sudah datang dan mulai bekerja. Ia berjalan menuju mejanya dengan langkah pelan sambil membawa tas kerja di tangannya. Biasanya ia langsung menyalakan komputer dan mulai membuka berkas-berkas administrasi yang harus ia kerjakan. Namun hari itu ia hanya duduk diam beberapa saat.

Pikirannya tidak tenang.

Sejak percakapan di rumah semalam, satu hal terus berputar di kepalanya. Ia harus berbicara dengan papanya.

Ardila menarik napas panjang.

“Kenapa semuanya jadi seperti ini…” gumamnya pelan.

Ia menatap layar komputer yang masih kosong. Ia tahu papanya orang yang tegas dalam urusan bisnis. Pak Arhan selalu berkata bahwa keluarga tidak boleh mencampuri keputusan perusahaan.

Tapi sekarang justru Ardila yang harus melakukan itu.

Beberapa menit kemudian Ardila berdiri dari kursinya. Ia merapikan bajunya sebentar lalu berjalan menuju lantai atas, tempat ruang kerja papanya berada.

Setiap langkah terasa berat.

Begitu sampai di depan pintu kantor papanya, Ardila berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengetuk pintu.

Tok tok.

“Masuk,” terdengar suara dari dalam.

Ardila membuka pintu perlahan.

Pak Arhan sedang duduk di kursinya sambil membaca beberapa dokumen. Ketika melihat Ardila masuk, wajahnya langsung berubah lebih hangat.

“Dila? Kamu ke sini pagi-pagi sekali.”

Ardila tersenyum kecil.

“Iya, Pa.”

Pak Arhan melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja.

“Duduk dulu.”

Ardila duduk di kursi di depan meja kerja papanya. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.

Pak Arhan memperhatikan wajah anaknya.

“Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?”

Ardila menelan ludah.

“Iya, Pa…”

Pak Arhan mengangkat alis sedikit.

“Serius sekali wajahmu.”

Ardila mencoba tersenyum kecil, tapi senyum itu terlihat gugup.

“Aku ingin membicarakan sesuatu tentang pekerjaan.”

Pak Arhan terlihat sedikit heran.

“Kamu biasanya tidak pernah membawa urusan kantor ke ruang Papa.”

Ardila menarik napas kecil.

“Ini bukan tentang pekerjaanku.”

Pak Arhan menunggu.

Ardila akhirnya berkata pelan, “Ini tentang perusahaan Papa.”

Pak Arhan semakin penasaran.

“Apa maksudmu?”

Ardila menunduk sedikit sebelum melanjutkan.

“Keluarga Rafa sedang mencari partner kerja sama untuk perusahaan mereka.”

Pak Arhan tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Ardila dengan wajah yang mulai terlihat serius.

Ardila melanjutkan dengan hati-hati.

“Papa Andreo berharap perusahaan Papa bisa bekerja sama dengan perusahaan mereka.”

Ruangan itu langsung terasa lebih sunyi.

Pak Arhan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Ini permintaan dari keluarga Rafa?”

Ardila mengangguk pelan.

“Iya, Pa.”

Pak Arhan menatap Ardila beberapa detik.

“Aneh.”

Ardila sedikit gugup.

“Aneh?”

“Kamu tidak pernah mencampuri urusan bisnis Papa sebelumnya.”

Pak Arhan berkata dengan tenang.

“Kenapa tiba-tiba kamu mengatakan hal seperti ini?”

Ardila terdiam sebentar.

Ia tidak ingin terlihat seperti memaksa.

“Aku hanya menyampaikan permintaan mereka, Pa.”

Pak Arhan berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah jendela.

Ia menatap keluar beberapa saat sebelum berkata,

“Kamu tahu Papa selalu memisahkan urusan keluarga dan bisnis.”

Ardila mengangguk.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu tetap menyampaikan ini?”

Ardila mengangkat pandangannya.

“Karena aku ingin mencoba membantu.”

Pak Arhan berbalik menatapnya.

“Membantu siapa?”

Ardila terdiam sesaat sebelum menjawab,

“Keluarga suamiku.”

Pak Arhan menghela napas panjang.

“Dila…”

Ia kembali duduk di kursinya.

“Papa tidak pernah mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaan Andreo sebelumnya.”

Ardila menunduk sedikit.

“Aku mengerti.”

“Tapi sekarang kamu yang datang meminta.”

Pak Arhan menatapnya lembut.

“Papa harus memikirkannya.”

Ardila buru-buru berkata,

“Pa, aku tidak memaksa.”

“Aku hanya menyampaikan saja.”

Pak Arhan tersenyum kecil.

“Papa tahu.”

Ia mengambil gelas air di mejanya lalu meminumnya sedikit.

“Kamu tahu kenapa Papa akhirnya mau mempertimbangkannya?”

Ardila menggeleng pelan.

“Karena kamu yang meminta.”

Ardila terdiam.

Pak Arhan melanjutkan,

“Kalau ini bisa membuat hidupmu di rumah barumu lebih mudah, Papa tidak keberatan mencoba.”

Ardila merasa dadanya sedikit hangat.

“Terima kasih, Pa.”

Pak Arhan tersenyum.

“Tapi Papa akan tetap menilai dari sisi bisnis juga.”

Ardila mengangguk cepat.

“Itu tentu saja.”

Pak Arhan berkata lagi,

“Nanti minta mereka kirim proposal kerja sama ke perusahaan.”

Ardila mengangguk.

“Iya, Pa.”

Beberapa menit kemudian Ardila keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk.

Ia lega karena papanya tidak langsung menolak.

Tapi juga merasa sedikit bersalah.

Sore harinya Ardila pulang ke rumah keluarga Rafa.

Ia masuk ke ruang makan tempat Papa Andreo, Mama Rafa, dan Rafa sedang duduk.

Papa Andreo langsung menoleh.

“Kamu sudah pulang.”

Ardila mengangguk.

“Iya, Pa.”

Mama Rafa bertanya,

“Kamu sudah bicara dengan Papa Arhan?”

Ardila mengangguk pelan.

“Sudah.”

Papa Andreo menatapnya serius.

“Lalu?”

Ardila menjawab,

“Papa Arhan bersedia mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaan Papa.”

Rafa yang sejak tadi diam akhirnya menoleh sedikit.

Mama Rafa terlihat puas.

“Tuh kan.”

Namun Papa Andreo justru berkata dengan nada dingin,

“Seharusnya kamu dari dulu seperti ini.”

Ardila sedikit terkejut.

“Maksud Papa?”

Papa Andreo menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Kalau kamu sejak awal membantu keluarga ini, semuanya akan lebih mudah.”

Mama Rafa ikut menimpali.

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

“Padahal kamu punya posisi yang menguntungkan.”

Ardila menatap mereka dengan bingung.

“Aku hanya menyampaikan permintaan saja.”

Papa Andreo menggeleng kecil.

“Kamu ini anak pemilik perusahaan besar.”

“Seharusnya kamu lebih berguna untuk keluarga suamimu.”

Ardila terdiam.

Mama Rafa berkata lagi,

“Kalau saja kamu dari dulu tidak terlalu keras kepala.”

“Kamu bisa membantu keluarga ini lebih cepat.”

Ardila menunduk pelan.

Ia tidak menyangka setelah semua yang ia lakukan, yang ia dapat justru kata-kata seperti itu.

Ia melirik Rafa sebentar.

Namun lelaki itu tetap diam.

Seolah semua ini bukan masalah besar.

Di ruang makan itu, Ardila akhirnya menyadari sesuatu.

Kadang bukan permintaannya yang berat.

Tapi kenyataan bahwa apa pun yang ia lakukan… tetap dianggap tidak cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!