NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Jari Pematah Baja dan Kutukan Es Hitam

Angin sedingin es berhembus melintasi gerbang utama Kediaman Klan Pedang Perak. Di mata dua belas penjaga berkaliber Dewa Fana Tingkat 2 itu, Ye Chen hanyalah seorang pengembara berpakaian lusuh yang bahkan belum sepenuhnya menstabilkan auranya.

"Mati kau, Pengemis!"

Dua penjaga terdepan melesat dengan kecepatan yang akan merobek udara di dunia bawah. Pedang panjang mereka memancarkan Qi Dewa elemen logam yang tajam, mengincar leher dan dada Ye Chen secara bersamaan.

Di Alam Dewa Kuno, kepadatan ruang membuat setiap serangan fisik terasa seratus kali lebih berat. Namun bagi Ye Chen, ruang yang padat ini justru menjadi medium yang sempurna untuk menghantarkan kekuatannya.

Ye Chen tidak mundur. Dia bahkan tidak berkedip.

Saat kedua pedang itu berjarak satu inci dari kulitnya, Ye Chen mengangkat kedua tangannya dengan santai.

Jari telunjuk dan ibu jarinya bergerak.

TRANG! TRANG!

Suara logam yang diredam bergema. Semua orang di halaman itu menahan napas.

Dua pedang yang terbuat dari Besi Salju Ilahi—material yang cukup keras untuk membelah gunung di alam bawah—kini terjepit erat di antara dua jari Ye Chen. Bilah pedang itu bergetar hebat, mencoba melepaskan diri, tapi jari Ye Chen kokoh bagaikan pilar penyangga langit.

"Ini... tidak mungkin..." salah satu penjaga memucat. Tenaganya seperti tersedot ke dalam lubang hitam.

Ye Chen menatap mereka dengan mata hitamnya yang tenang. "Pedang kalian... terlalu rapuh."

KRAK!

Ye Chen memutar pergelangan tangannya. Kedua bilah pedang itu patah menjadi dua bagian dengan suara renyah.

Sebelum kedua penjaga itu sempat bereaksi, Ye Chen menjentikkan potongan bilah pedang yang ada di jarinya kembali ke arah mereka.

SWUSH!

Potongan pedang itu melesat lebih cepat dari kilat, menembus zirah dada kedua penjaga tersebut dan memaku mereka ke dinding gerbang batu di belakang. Keduanya memuntahkan darah dan langsung kehilangan kesadaran.

Sepuluh penjaga tersisa membeku di tempat.

"Apa yang kalian tunggu?! Serang dia bersamaan!" teriak Yin Hao, wajahnya yang tadi sombong kini dipenuhi kepanikan.

Sepuluh penjaga itu menerjang dengan raungan putus asa.

Ye Chen menghela napas. Dia melangkah maju satu langkah.

Tubuh Guntur Asura: Getaran Kematian!

Ye Chen tidak memukul mereka. Dia hanya menghentakkan kaki kanannya ke lantai kristal.

BOOOOOOM!

Gelombang kejut fisik murni, yang diperkuat oleh Tulang Emas Gelap dan Qi Dewa yang baru saja ia konversi, meledak seperti tsunami tak kasat mata. Lantai kristal di depannya hancur menjadi serbuk. Sepuluh penjaga itu terhantam gelombang tersebut, tulang rusuk mereka remuk serentak, dan tubuh mereka terlempar ke udara seperti daun kering yang ditiup badai.

Mereka jatuh bergelimpangan di seluruh halaman, mengerang kesakitan, tak mampu lagi berdiri.

Dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas, dua belas ahli Dewa Fana rata dengan tanah.

Yin Xue, yang berdiri di belakang Ye Chen, menelan ludah dengan susah payah. Dia tahu Ye Chen kuat saat membunuh Alpha Serigala, tapi melihatnya mengalahkan ahli kultivasi manusia tanpa menggunakan teknik sihir apapun... itu adalah level monster yang sama sekali berbeda.

Kini, hanya tersisa Yin Hao.

Pria bersutra biru itu gemetar hebat. Kipas gioknya jatuh ke lantai. Tingkat kultivasinya memang berada di Dewa Fana Tingkat 4, tapi dia adalah bangsawan yang dibesarkan dengan pil, bukan dari pertarungan hidup dan mati.

Ye Chen berjalan perlahan mendekati Yin Hao. Setiap langkahnya terdengar seperti detak jam kematian.

"K-Kau... Kau berani menyerang anggota inti Klan Pedang Perak?!" Yin Hao melangkah mundur hingga punggungnya menabrak kereta. "Jika Ayahku tahu, kau akan dicincang—"

Ye Chen tidak membiarkannya selesai bicara.

Satu tatapan dari Ye Chen sudah cukup. Dia melepaskan setitik Niat Pedang Pembantai Asura.

Aura pembunuh yang pekat, yang telah membantai jutaan iblis dan manusia di dunia bawah, menabrak jiwa Yin Hao yang rapuh.

Di mata Yin Hao, pemuda berbaju lusuh di depannya tiba-tiba berubah menjadi lautan darah dengan ribuan mayat yang menggapai-gapai ke arahnya.

"HIIIEE!"

Yin Hao menjerit histeris. Nyalinya hancur berkeping-keping. Celananya basah oleh air kencing, dan dia jatuh terduduk di tanah, menutup kepalanya dengan kedua tangan sambil menangis.

"Jangan bunuh aku! Aku tidak mau mati!" racaunya seperti orang gila.

Ye Chen berdiri menjulang di atasnya, menatap dengan jijik.

"Sampah."

Ye Chen mengalihkan pandangannya pada Yin Xue.

"Apakah aku perlu membersihkannya secara permanen, Nona Yin?"

Yin Xue tersentak sadar. Dia melihat pamannya yang kini gila karena ketakutan. Membunuh Yin Hao di depan umum akan membawa masalah besar bagi faksi mereka, meski dia sangat membencinya.

"T-Tidak perlu," kata Yin Xue cepat. "Mentalnya sudah hancur. Dia tidak akan menjadi ancaman lagi. Kita... kita harus segera menemui kakakku."

Ye Chen mengangguk. Dia melangkah melewati Yin Hao yang masih menangis di lantai, seolah pria itu hanyalah kotoran.

Kamar Es Abadi, Area Inti Kediaman Yin.

Yin Xue memimpin Ye Chen melewati koridor-koridor mewah yang dipenuhi formasi pelindung. Semakin dalam mereka berjalan, suhu udara semakin menurun secara tidak wajar. Dinding-dinding lorong tertutup lapisan es hitam yang memancarkan hawa Yin yang mematikan.

"Ini tempatnya," Yin Xue berhenti di depan sebuah pintu perak besar. Tangannya gemetar karena dingin. "Kutukan itu semakin kuat. Biasanya hawa dinginnya tidak sampai keluar pintu."

Ye Chen mendorong pintu itu terbuka.

Pemandangan di dalam ruangan sangat mengerikan. Seluruh ruangan—tempat tidur, lemari, lantai—telah berubah menjadi bongkahan es hitam pekat.

Dan di tengah ruangan, melayang di atas tempat tidur es, adalah seorang wanita cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Yin Xue, namun terlihat lebih dewasa. Matanya terpejam rapat, kulitnya pucat pasi, dan tubuhnya terkurung sepenuhnya di dalam balok es hitam tersebut.

Yin Yue (Bulan Perak). Pewaris Utama Klan Pedang Perak.

"Kakak!" Yin Xue hendak berlari mendekat, tapi Ye Chen menahan bahunya.

"Jangan mendekat. Es itu bukan es air. Itu adalah racun jiwa yang dikristalkan," peringat Ye Chen. Matanya menyipit saat dia mengaktifkan Sutra Jantung Cermin Hantu untuk melihat aliran energi di dalam balok es itu.

"Ini bukan kutukan alami," kata Ye Chen. "Seseorang dengan sengaja menanamkan Cacing Es Hantu ke dalam meridian jantungnya. Makhluk itu memakan Qi Dewa kakakmu dan mengubahnya menjadi es untuk membekukan jiwanya secara perlahan."

"Cacing Es Hantu?!" Yin Xue menutup mulutnya tak percaya. "Itu adalah metode pembunuhan rahasia dari Klan Ular Bayangan! Jadi pamanku benar-benar bersekongkol dengan klan musuh?!"

"Itu urusan politik kalian," kata Ye Chen, berjalan mendekati balok es hitam tersebut. "Urusanku adalah mencairkannya dan mengambil bayaranku."

Ye Chen meletakkan tangan kanannya di permukaan es hitam itu. Hawa dingin ekstrem langsung mencoba merambat naik ke lengannya, berusaha membekukan darahnya.

"Dingin yang lumayan," gumam Ye Chen.

Dia tidak menggunakan pedangnya. Menggunakan pedang akan menghancurkan es itu sekaligus membunuh wanita di dalamnya.

"Mutiara Penelan Surga... Tarik energi kotornya. Dan Api Inti Bumi... Bakar sisanya!"

Ye Chen memejamkan mata.

Di telapak tangannya, pusaran hitam Mutiara Penelan Surga mulai berputar lambat, menciptakan daya hisap yang hanya menargetkan racun. Bersamaan dengan itu, Api Ungu yang ganas tapi terkendali menyala di sekeliling lengannya, merambat masuk ke dalam es tanpa merusak tubuh Yin Yue.

Ssssssss...

Es hitam itu mulai mendesis dan mengeluarkan asap pekat.

Di dalam balok es, sebuah bayangan kecil berbentuk kelabang es tiba-tiba bergerak liar. Ia merasakan tempat persembunyiannya dipanaskan dan energinya disedot. Makhluk parasit itu mencoba menyerang sumber panas tersebut. Ia melesat melalui es, mengarahkan taringnya ke telapak tangan Ye Chen.

"Kau berani menggigit naga?" Ye Chen menyeringai dingin.

Saat cacing es itu menyentuh telapak tangan Ye Chen, pusaran hitam Mutiara langsung melahapnya hidup-hidup.

KIIIEEEK!

Suara jeritan roh bergema sesaat sebelum cacing itu musnah, diubah menjadi energi Yin murni yang mengalir ke dalam Dantian Ye Chen.

Seketika, balok es hitam itu kehilangan sumber energinya. Api Ungu Ye Chen dengan cepat mencairkan sisa es tersebut menjadi genangan air biasa.

Yin Yue jatuh dari udara.

Ye Chen dengan sigap menangkapnya dengan satu lengan dan membaringkannya kembali ke tempat tidur.

Pucat di wajah Yin Yue perlahan menghilang. Aliran darah kembali ke bibirnya, dan napasnya yang tadinya nyaris berhenti kini terdengar teratur. Perlahan, bulu mata lentiknya bergetar, dan ia membuka mata biru esnya yang mempesona.

"Xue-er...?" bisik Yin Yue lemah, melihat adiknya yang langsung berlari dan memeluknya sambil menangis.

"Kakak! Kau selamat! Kau benar-benar selamat!" isak Yin Xue.

Yin Yue menatap bingung, lalu matanya beralih pada pria berjubah abu-abu yang berdiri di dekat tempat tidurnya. Tangannya masih memancarkan sisa-sisa uap panas berwarna ungu.

"Siapa... pria ini?" tanya Yin Yue.

Ye Chen menepiskan sisa air dari tangannya. Dia tidak mempedulikan reuni keluarga yang mengharukan itu. Dia bisa merasakan bahwa energi Cacing Es Hantu tadi telah memadatkan Qi Dewa-nya hingga menembus batas.

Dewa Fana Tingkat 1 Puncak. Selangkah lagi menuju Tingkat 2. Di Alam Dewa Kuno, kecepatannya dalam meningkatkan kekuatan sangatlah tidak masuk akal.

Ye Chen menoleh menatap Yin Xue. Ekspresinya datar dan tanpa emosi.

"Adikmu selamat. Racunnya sudah kuangkat," kata Ye Chen, memotong momen haru tersebut.

Dia menyilangkan tangannya di dada.

"Sesuai kesepakatan kita. Hutang lunas. Sekarang, bawa aku ke perpustakaan klanmu."

(Akhir Bab 26)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!