NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Preman, sampah, dan diplomasi martabak

Uang hadiah seratus juta sudah cair ke rekening bersama yang dikelola oleh Gia Kirana. Namun, alih-alih foya-foya, Gia langsung membuat pembagian anggaran yang super ketat. Tujuh puluh dua juta dikunci untuk UKT, sisanya—dua puluh delapan juta—dijadikan modal awal untuk proyek nyata: "Unit Pengolahan Limbah Mandiri" di Pasar Inpres dekat kostan Eno Surya.

"Kalau kita cuma menang lomba tapi mesinnya cuma dipajang di kampus, itu namanya pajangan, bukan solusi," tegas Gia saat mereka berkumpul di parkiran pasar yang becek.

Masalahnya, pasar bukan ruang kelas yang steril. Pasar punya hukumnya sendiri. Baru saja mereka menurunkan mesin 'Resimen Hijau' dari mobil boks, tiga orang pria bertubuh besar dengan tato di lengan dan wajah penuh bekas luka sudah berdiri menghalangi jalan.

"Woy, mahasiswa! Mau ngapain bawa barang rongsokan ke sini?" tanya salah satu pria yang dipanggil Bang Jago. Dia adalah penguasa lahan parkir dan pengelolaan sampah ilegal di pasar itu.

"Ini bukan rongsokan, Bang," sahut Bagas Putra, melangkah maju dengan tenang. "Ini mesin pengolah sampah. Biar pasar Abang nggak bau dan sampah sayurnya nggak numpuk jadi gunungan."

"Nggak peduli gue mesin apa. Sampah di sini itu urusan gue. Kalau kalian mau taruh barang di sini, ada 'uang sewa lahan' sama 'uang keamanan'. Sebulan lima juta," kata Bang Jago sambil meludah ke samping.

Eno hampir saja protes soal harga yang nggak masuk akal itu, tapi Rhea Amara menahan lengannya. Dewi Laras melihat situasi mulai memanas. Dia tahu, kalau mereka pakai kekerasan, mereka bakal kalah jumlah.

"Bang," Laras maju dengan senyum paling ramah yang dia punya. "Gini aja. Kita nggak mau ganggu bisnis Abang. Justru, kalau sampah ini diolah jadi pupuk cair, hasilnya bisa kita jual bareng. Abang dapet bagian dari setiap botol yang laku, tanpa harus capek-capek manggul sampah ke TPA."

Bang Jago tertawa sinis. "Pupuk? Siapa yang mau beli pupuk dari sampah sayur busuk?"

Diplomasi hari pertama gagal total. Mereka diusir dari pasar. Namun, Enam Serangkai nggak menyerah.

Malamnya, Eno punya ide gila. "Orang kayak Bang Jago itu nggak bisa dideketin pakai rumus Statistika atau pasal Hukum, Gi. Mereka itu dideketin pakai perut dan harga diri."

Keesokan subuhnya, jam tiga pagi saat pasar mulai ramai, Eno dan Bagas datang lagi. Tapi kali ini mereka nggak bawa mesin. Mereka bawa tiga kotak martabak telur spesial dan berliter-liter kopi hitam panas.

Mereka duduk di pos parkir, nunggu Bang Jago datang. Begitu Bang Jago muncul dengan wajah bantalnya, Eno langsung menyapa. "Pagi, Bang! Dingin-dingin gini enak nih martabak anget sama kopi."

Bang Jago bingung, tapi aroma martabak itu emang nggak bisa bohong. Dia duduk, mulai makan, dan suasana jadi sedikit cair.

"Kalian ini... mahasiswa nggak ada kapoknya ya?" gumam Bang Jago sambil mengunyah.

"Kita cuma mau cari uang kuliah, Bang, sama kayak Abang yang cari nafkah buat keluarga," kata Bagas santai. "Kita tawarkan kerja sama. Mesin kita taruh di pojokan yang nggak kepake. Sampah yang Abang kumpulin, kita olah. Abang yang pegang distribusinya ke pedagang tanaman di ujung pasar. Kita bagi hasil 50:50. Abang jadi 'Direktur Operasional' sampah di sini."

Mendengar kata "Direktur", dada Bang Jago sedikit membusung.

"Beneran? Gue nggak perlu keluar modal?"

"Nol rupiah, Bang. Cuma butuh izin Abang aja," tambah Eno.

Seminggu kemudian, mesin Resimen Hijau resmi beroperasi di pojok Pasar Inpres. Bau busuk yang biasanya menyengat mulai berkurang. Para pedagang senang karena pasar jadi lebih bersih. Bang Jago dan anak buahnya sekarang malah jadi "satpam" paling galak yang jagain mesin itu dari tangan-tangan jahil.

Namun, keberhasilan ini tercium oleh pihak luar. Sore itu, saat Juna Pratama sedang mengecek sensor mesin, sebuah mobil sedan mewah yang sangat dikenal Laras berhenti di depan pasar.

Seorang pengacara keluar, tapi kali ini dia membawa dokumen yang berbeda.

"Selamat sore, adik-adik. Saya mewakili perusahaan pengembang properti yang baru saja membeli lahan pasar ini. Saya punya perintah pengosongan. Seluruh pasar ini, termasuk mesin kalian, harus dikosongkan dalam waktu 48 jam untuk pembangunan mal."

Laras tertegun. "Mal? Tapi ini pasar rakyat satu-satunya di sini!"

"Lahan ini sudah sah milik kami. Dan satu lagi," si pengacara menatap Laras dengan dingin, "pemilik saham terbesar di proyek mal ini adalah perusahaan baru yang... yah, katakanlah milik kerabat jauh ayahmu yang sudah bebas bersyarat."

Enam Serangkai saling pandang. Pak Gunawan mungkin kalah dalam satu pertempuran, tapi jaringan bisnisnya ternyata sedang mencoba meratakan tempat perjuangan baru mereka dengan buldoser.

"Bang Jago!" teriak Eno. "Ada yang mau ngerusak 'kantor' kita nih!"

Bang Jago yang lagi asyik ngopi langsung berdiri, memanggil semua anak buahnya. "Siapa yang berani ganggu bisnis pupuk gue?!"

Konfrontasi antara mahasiswa, preman pasar, dan pengembang kelas kakap mulai memanas di depan gerbang pasar. Perang memperebutkan lahan rakyat baru saja dimulai.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!