bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10.GERBANG SINGA AETHELGARD DAN BISIKAN DARI VOID
Kabut tebal Lembah akhirnya tersingkap, menyisakan pemandangan Ibu Kota Kerajaan yang megah. Di hadapan mereka, berdiri Aethelgard, Ibu Kota Kerajaan yang juga dikenal sebagai "Kota Cahaya Abadi". Tembok raksasanya setinggi tiga puluh meter, dibangun dari blok-blok Aether-Stone putih yang memancarkan pendaran mana alami, membuatnya tampak seperti mutiara raksasa di tengah daratan. Di atas gerbang utama, patung singa emas dengan mata dari permata rubi menatap tajam, seolah siap mencabik siapa pun yang tidak layak menginjakkan kaki di sana.
Sir Gareth memacu kuda perang putihnya dengan angkuh. Jubahnya yang bersulam benang perak berkibar, menangkap setiap pasang mata warga yang mengelu-elukannya. Namun, keagungan itu segera terganggu oleh bunyi klotak-klotak yang tidak sinkron. Kuda-kuda kurus rombongan Arka berjalan tertatih, mengeluarkan suara nafas berat yang terdengar seperti mesin tua yang hampir meledak, sebuah orkestra kehancuran yang sangat kontras dengan kemegahan jalan protokol.
"Berhenti!"
Suara itu terdengar kencang dan beribawa. Seorang sersan penjaga gerbang dengan zirah berat berwarna coklat menghantamkan pangkal tombaknya ke lantai marmer. Matanya menyapu kemeja lusuh Arka yang penuh noda debu dan tiga remaja di belakangnya yang tampak seperti yatim piatu korban perang.
"Sir Gareth, apa maksudnya ini?" Sersan itu bertanya dengan nada yang tidak menutupi rasa jijiknya. "Aethelgard sedang mempersiapkan Ujian Ksatria Suci. Kenapa Anda membawa rombongan gembel ini ke gerbang utama? Pintu samping untuk Rakyat Jelata ada di sana."
Gareth tertawa, sebuah tawa yang kering dan penuh penghinaan. "Sabar, Sersan. Mereka adalah 'aset' dari desa Ovelia. Petualang yang kabarnya memiliki bakat luar biasa menurut laporan Zenos yang... yah, mungkin dia sedang mabuk saat mengirim pesan."
Sersan itu melirik pedang berkarat Jiro yang terikat dengan tali kulit murah dan staf kayu Elara yang tampak seperti kayu bakar yang diambil dari hutan. Ia tertawa, lalu dengan sengaja meludah tepat di depan kaki kuda Jiro. "Bakat? Ini sampah yang hanya akan mengotori lantai marmer istana. Serahkan senjata rongsokan kalian. Aturan kota: benda berbahaya yang tidak terdaftar harus disita."
Jiro tidak menunduk. Meskipun penampilannya kumuh, matanya yang telah ditempa di "Hutan Neraka" berkilat dengan intensitas yang membuat sang sersan tersentak sesaat. Tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang—bukan karena takut, tapi karena ia hampir kehilangan kendali untuk tidak memotong tombak sersan itu menjadi serpihan.
Sebelum aura membunuh Jiro bocor, Arka tiba-tiba merosot dari kudanya dengan gerakan yang sangat kaku dan hampir terjatuh ke lantai.
"Aduh! Aduh! Ampun, Tuan Ksatria yang Gagah!" Arka berteriak dengan suara cempreng, berpura-pura sibuk meraba-raba kantongnya yang sobek hingga beberapa koin tembaga kecil menggelinding ke arah kaki penjaga. "Maafkan saya, saya hanya seorang desa yang linglung. Kami hanya ingin mengadu nasib. Tolong jangan ambil besi rongsokan itu, itu satu-satunya warisan nenek moyang kami untuk membelah kayu bakar!"
Arka merangkak di lantai marmer, memunguti koinnya dengan wajah ketakutan yang sangat meyakinkan. Sang sersan mundur selangkah dengan wajah muak, takut jika kemiskinan Arka bisa menular ke zirahnya yang mahal.
"Masuklah! Cepat masuk sebelum kalian membuatku muntah!" teriak sersan itu sambil menutup hidungnya. "Sir Gareth, bawa mereka ke Barak Distrik 7. Dan pastikan mereka tidak menyentuh apa pun di jalan!"
...
Distrik 7 adalah sisi gelap Aethelgard yang sengaja disembunyikan dari peta wisata. Ini adalah tempat di mana matahari jarang menyentuh tanah karena tertutup gedung-gedung tinggi ksatria. Baraknya pengap, atapnya bocor, dan baunya merupakan campuran antara jerami basah dan besi tua yang berkarat.
Gareth meninggalkan mereka di sana dengan tatapan terakhir yang penuh penghinaan. "Cobalah untuk tidak mati karena kedinginan sebelum fajar tiba," gumamnya sebelum menghilang bersama derap kudanya yang mewah.
Di dalam barak yang remang-remang, Jiro menatap pedang besi rongsokannya. Ia tidak peduli pada bau busuk atau jerami yang keras.
"Guru..." Jiro memulai, suaranya berat dan serius. "Aku tidak peduli mereka menghina kita. Tapi pedang ini... aku ragu besi rongsokan ini sanggup menahan beban teknik kita. Aku takut ia hancur sebelum ujian bahkan dimulai."
Kael dan Elara juga menatap senjata mereka. Di Aethelgard, mereka melihat ksatria dengan pedang yang berpendar mana biru dan staf dengan kristal fokus sebesar kepalan tangan. Senjata mereka saat ini benar-benar terlihat seperti lelucon.
Arka yang tadinya sedang berbaring malas di atas tumpukan jerami, perlahan duduk tegak. Suasana malasnya tidak menghilang, tapi auranya berubah. Ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi, seolah-olah Arka baru saja menarik semua suara dari alam semesta masuk ke dalam genggamannya.
"Letakkan senjata kalian di sini," perintah Arka.
Mereka meletakkan senjata-senjata itu di depan Arka. Arka meletakkan telapak tangannya di atas tumpukan besi tersebut. Secara kasat mata, tidak ada cahaya. Namun, di tingkat molekul, Arka menyuntikkan Void Mana. Ia tidak mengubah bentuknya, ia hanya memperkuat esensi materi tersebut.
"Aku tidak memberinya sihir penguat yang bisa dideteksi," kata Arka, matanya berkilat dingin. "Aku hanya 'mengingatkan' materi ini tentang potensi sejatinya sebelum ia menjadi besi tua. Sekarang, ia memiliki kepadatan intan dalam wujud karat. Gunakan sesuka kalian. Besok, biarkan mereka melihat bahwa yang menentukan kemenangan bukanlah kilauan zirah, tapi siapa yang memegang gagang senjatanya."
...
Di puncak Menara Iantai yang menghadap Distrik 7, agen Burung Hantu Perak sedang berlutut di depan sebuah cermin sihir yang terhubung langsung ke ruang bawah tanah istana.
"Subjek Arka telah memasuki barak," lapor agen itu dengan suara bergetar. "Dia menyadari keberadaanku. Dia sengaja melakukan akting konyol di gerbang untuk memanipulasi persepsi publik."
Sebuah suara berat menjawab dari balik cermin. "Apa penilaianmu, Agen?"
"Dia adalah anomali. Dia membawa tiga 'bom waktu' bersamanya. Sir Gareth terlalu bodoh untuk menyadarinya, tapi jika ujian besok tetap dilanjutkan... kesatria kita mungkin akan di kalahkan."
"Biarkan saja," suara dari cermin itu terdengar dingin. "Jika mereka benar-benar ancaman, Aethelgard akan menjadi kuburan mereka. Jika mereka benar-benar berbakat... mereka akan menjadi senjata baru kita. Terus awasi."
Agen itu memutus kontak, namun ia tidak bisa berhenti gemetar. Ia baru saja melihat Arka melirik ke arah menaranya lewat jendela barak yang gelap, sebuah lirikan yang seolah berkata: "Teruslah menonton, panggungnya baru saja dimulai."