Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — Pengawasan
“Target masih hidup.”
Suara Gray merambat datar melalui frekuensi terenkripsi di earpiece Leon, memecah kesunyian malam yang pekat. Suara itu tidak mengandung penilaian, hanya sebuah laporan faktual yang terasa seperti pengingat akan kewajiban yang belum tertunaikan.
Leon berdiri mematung di tepian atap bangunan tua yang terbengkalai, menghadap langsung ke arah gang sempit di jantung Distrik 6. Dari ketinggian ini, ia memiliki sudut pandang sempurna untuk mengawasi pintu depan Klinik Arden. Lampu pijar kecil di atas papan kayu yang miring memancarkan cahaya kuning redup, menciptakan lingkaran cahaya yang berusaha keras mengusir kegelapan dari trotoar yang retak dan penuh lubang.
“Ya,” jawab Leon singkat. Suaranya rendah, nyaris berbisik di bawah embusan angin malam.
Di bawah sana, pintu klinik terbuka pelan. Seorang pria tua dengan langkah gemetar keluar sambil memegangi perutnya yang tampak terbalut perban kasar. Pria itu berhenti sejenak, mengatur napas di bawah lampu jalan, sebelum berjalan perlahan menuju ujung gang dan menghilang di balik tikungan yang gelap.
Leon menurunkan teropong taktis kecil dari matanya. Lensa itu memantulkan cahaya pucat dari gedung-gedung jauh di pusat kota. “Baru saja ada pasien keluar.”
Gray tidak langsung menjawab. Suara gesekan jemari di atas papan ketik terdengar di latar belakang, sebuah ritme yang menandakan Gray sedang memproses data dalam jumlah besar. “Kau sudah berada di posisi itu selama dua jam penuh, Leon.”
Leon mengarahkan kembali pandangannya ke pintu klinik yang kini tertutup rapat. “Aku tahu.”
“Dan kau belum melakukan satu pun pergerakan untuk menyelesaikan kontrak tersebut,” lanjut Gray. Kali ini ada sedikit nada keheranan yang terselip dalam suaranya. “Padahal parameter keamanan di sana berada pada tingkat terendah yang pernah kita temui.”
Leon menyandarkan punggungnya pada pagar besi berkarat yang membatasi atap gedung. Besi dingin itu terasa menembus jaket hitamnya, memberikan sensasi nyata di tengah kebasnya pikiran. Angin malam Distrik 6 membawa aroma yang tidak asing bagi siapapun yang tumbuh di sini: bau logam dari pipa selokan yang bocor dan sisa-asap rokok murah dari bar-bar di jalan utama.
“Ini bukan jenis pekerjaan yang biasanya kau tunda tanpa alasan taktis yang jelas,” Gray berbicara lagi, mencoba memancing reaksi.
Leon tidak memberikan jawaban. Pikirannya tidak sedang sibuk mencari alasan taktis.
Di bawah sana, pintu klinik kembali terbuka. Kali ini Alice yang melangkah keluar. Ia mengenakan apron medis yang sedikit berantakan, membawa sebuah kantong plastik hitam berisi sampah medis. Alice berjalan tenang menuju tong logam besar di ujung trotoar, membuang bungkusan itu dengan gerakan santai, lalu berhenti sejenak untuk membetulkan rambutnya yang tertiup angin.
Leon mengamati setiap detail gerakan wanita itu melalui lensa teropongnya. Tidak ada penjaga bersenjata yang bersembunyi di balik bayangan. Tidak ada sistem keamanan laser atau kamera pengintai canggih di sudut bangunan. Hanya ada seorang dokter wanita yang tampak lelah, berdiri sendirian di tengah distrik paling berbahaya di Valmere.
“Leon,” Gray memanggil kembali.
“Apa.”
“Kau mengenal target itu secara pribadi melalui luka di perutmu.”
Leon berkata datar, matanya tidak lepas dari Alice yang kini sedang menatap langit malam yang kelabu. “Dia menjahit jaringanku yang robek. Itu saja.”
“Dan kebaikan kecil itu cukup untuk membuat sang Phantom merasa ragu untuk pertama kalinya?” tanya Gray.
Leon mengalihkan pandangannya ke arah jalan utama yang kosong. “Tidak ada hubungannya dengan keraguan.”
Gray menghela napas pendek, sebuah desahan digital yang terdengar lelah. “Leon, kau tidak pernah berdiri selama dua jam di atap bangunan hanya untuk menikmati pemandangan seseorang membuang sampah. Secara statistik, kemungkinan kau sedang mencari alasan untuk tidak menarik pelatuk itu meningkat sebesar delapan puluh persen.”
Leon tetap membisu. Alice sudah kembali masuk ke dalam klinik, namun lampu di dalam ruangan tetap menyala, membiarkan seberkas cahaya putih jatuh ke aspal yang basah.
Suara ketikan Gray kembali terdengar, kali ini lebih cepat. “Aku sedang membaca ulang catatan tambahan dalam kontrak Helix.”
Leon menunggu, tangannya terlipat di depan dada.
“Helix tidak hanya menginginkan formula biologis yang mereka duga tersimpan di sana,” Gray menjelaskan dengan nada yang lebih berat. “Instruksi eliminasi itu ada karena mereka ingin memastikan tidak ada satu pun saksi hidup yang tersisa dari proyek lama. Mereka ingin menghapus semua jejak fisik dan memori.”
Leon memandang jendela klinik yang buram. Bayangan Alice terlihat bergerak perlahan di balik tirai, mungkin sedang membersihkan peralatan bedahnya. “Itu adalah prosedur standar bagi organisasi sebesar mereka.”
“Benar, prosedur itu sangat masuk akal bagi mereka,” Gray berkata pelan. “Asalkan target itu benar-benar orang yang mereka cari selama lima tahun terakhir.”
Leon menimpali dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Mungkin mereka salah orang. Mungkin ini hanya kebetulan nama yang sama.”
Gray tertawa kecil, tawa kering yang tidak mengandung humor. “Leon, organisasi seperti Helix tidak akan mengeluarkan tujuh juta dollar hanya untuk sebuah kemungkinan atau kesalahan identitas. Mereka sudah memverifikasi ini melalui algoritma pengenalan wajah paling canggih.”
Sunyi jatuh di antara mereka selama beberapa detik. Leon menurunkan tubuhnya sedikit, kembali berjongkok di balik langkan atap dan melihat melalui teropongnya. Di dalam klinik, Alice terlihat sedang menata rak obat-obatan dengan teliti. Gerakannya tenang dan ritmis, seolah-olah ia sama sekali tidak sadar bahwa hidupnya saat ini sedang ditawar dalam sebuah kontrak pembunuhan internasional yang sangat mahal.
Gray memecah keheningan itu lagi. “Kau ingin aku mengalihkan kontrak ini ke kurir atau eksekutor lain? Aku bisa membatalkan partisipasimu tanpa denda besar.”
Leon tidak langsung menjawab. Ia menatap titik merah dari lampu indikator teropongnya.
“Banyak orang di jaringan gelap yang akan dengan senang hati mengambil tujuh juta dollar itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit,” lanjut Gray.
Leon menurunkan teropongnya dengan gerakan mantap. “Tidak.”
Suara ketikan Gray berhenti seketika. “Kenapa? Jika kau tidak sanggup melakukannya, lepaskan beban itu sekarang juga.”
Leon berkata datar, suaranya kembali ke nada profesional yang biasa. “Ini kontrakku. Aku yang akan menyelesaikannya.”
Gray terdiam sejenak di seberang sana. “Baiklah. Jika itu keputusanmu.”
Angin malam bertiup lebih kencang, menggoyangkan kabel listrik yang melintang di atas gang. Leon berdiri tegak di tepi atap gedung, bayangannya memanjang ke arah jalanan di bawah. Lampu klinik Arden masih menjadi satu-satunya sumber cahaya yang terasa hangat di mata Leon.
“Ada perkembangan lain dari jaringan intelijen,” Gray berbicara lagi, suaranya beralih ke nada waspada.
Leon menunggu penjelasan tambahan.
“Seseorang mulai menanyakan keberadaan Phantom di bar-bar Distrik 3 sejak satu jam yang lalu,” Gray menjelaskan sambil terus memantau pergerakan data.
Leon mengangkat alis sedikit, merasakan lonjakan adrenalin yang sudah lama tidak ia rasakan. “Siapa orangnya.”
“Seorang pembunuh bayaran baru yang baru saja masuk ke wilayah Valmere,” Gray menjawab sambil mengirimkan profil singkat ke perangkat genggam Leon. “Mereka menyebutnya Rook.”
Leon menatap jalanan di bawah yang tetap sunyi. “Belum pernah mendengar nama itu di daftar prioritas.”
“Mantan tentara bayaran Eropa Timur dengan spesialisasi pelacakan dan penghancuran target di lingkungan urban,” Gray menjelaskan secara teknis. “Dia memiliki rekam jejak yang sangat bersih dan sangat brutal.”
Leon mengangguk sedikit di balik kegelapan. “Dia datang untuk mengambil hadiah tiga juta di kepalaku.”
“Bukan hanya itu yang dia cari,” Gray menyela. “Dia juga terlihat sedang menanyakan lokasi klinik medis ilegal di Distrik 6 yang baru-baru ini dikunjungi oleh kurir yang terluka.”
Leon terdiam sejenak. Rahangnya mengencang secara tidak sadar. “Dia mencari Alice.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Gray akhirnya bertanya dengan nada yang sangat pelan. “Leon. Apa langkah kita selanjutnya.”
“Apa.”
“Kau ingin aku memberi tahu jaringan bahwa target di Klinik Arden sudah diklaim secara eksklusif? Aku bisa mengirimkan peringatan formal melalui protokol Phantom.”
Leon menatap jendela klinik sekali lagi. Alice sekarang sudah duduk di meja kerjanya, sedang menulis sesuatu di buku catatan besarnya. Ia tampak begitu damai, seolah-olah dunia di luar gang itu tidak pernah berubah menjadi tempat yang haus akan darahnya.
Leon akhirnya menjawab. “Ya. Lakukan sekarang.”
Suara ketikan Gray kembali memenuhi frekuensi earpiece dengan sangat cepat. “Aku akan segera menyebarkan pesan peringatan di seluruh jaringan gelap dan pialang informasi.”
“Pesan apa yang kau kirimkan?” tanya Leon.
Gray menjawab sambil mengunci enkripsi pesannya. “Bahwa target di koordinat Distrik 6 sudah menjadi milik Phantom sepenuhnya. Siapa pun yang mencoba masuk akan dianggap sebagai musuh terbuka.”
Leon berkata datar. “Bagus. Pastikan mereka semua mengerti pesannya.”
Gray terdiam selama beberapa detik setelah menyelesaikan tugasnya. “Leon, aku harus bertanya satu hal secara jujur sebagai rekan kerjamu selama bertahun-tahun.”
“Apa.”
“Jika kau benar-benar tidak berniat untuk menyelesaikan eksekusi kontrak Helix ini, kau harus memberitahuku sekarang juga agar aku bisa menyiapkan rencana pengalihan untuk kita berdua.”
Leon tidak memberikan jawaban langsung. Ia menatap jendela klinik yang cahayanya baru saja dimatikan dari dalam. Kegelapan segera menelan bangunan kecil itu, menyisakan keremangan lampu jalan di luar.
Alice berdiri di depan pintu klinik beberapa saat kemudian. Ia mengunci pintu kayunya dengan hati-hati, memastikan semuanya aman. Wanita itu kemudian berjalan keluar ke trotoar, berdiri sejenak tepat di bawah cahaya lampu jalan yang berkedip. Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sesaat seolah sedang menikmati udara malam yang dingin sebelum memulai perjalanan pulangnya.
Leon berbisik pelan melalui mikrofonnya. “Aku akan menyelesaikannya.”
Gray bertanya dengan nada yang tidak yakin. “Kapan tepatnya.”
Leon melihat sosok Alice mulai berjalan menjauh ke ujung gang. Ia berjalan sendirian, tanpa ada siapapun yang menjaga punggungnya. Tidak ada saksi mata di sekitar sana. Ini adalah kesempatan yang paling sempurna untuk menyelesaikan segalanya dengan satu tembakan presisi dari atap gedung.
Leon menjawab singkat. “Segera.”
“Baiklah, aku akan tetap memantau sinyalmu,” sahut Gray pendek.
Leon tetap berdiri tegak di atap bangunan itu, kakinya berada di tepi beton yang rapuh. Tangannya bergerak perlahan menyentuh gagang pistol dingin yang terselip di balik jaket taktisnya. Ia merasakan logam itu menyentuh kulitnya, sebuah pengingat akan profesi yang ia jalani selama ini.
Alice berjalan semakin jauh, bayangannya memanjang di aspal basah sebelum perlahan-lahan menghilang di kegelapan gang berikutnya. Leon masih mengawasinya tanpa berkedip.
“Gray,” panggil Leon pelan.
“Apa.”
Leon terus menatap ke arah bayangan Alice yang kini sudah benar-benar lenyap dari pandangan matanya. “Jika target dalam kontrak ini ternyata memang tidak bersalah secara personal atas apa yang dituduhkan Helix, apa prosedur standar kita?”
Gray menjawab tanpa ragu, suaranya terdengar dingin dan sangat profesional. “Moralitas bukan bagian dari variabel kontrak yang kita tanda tangani, Leon. Kita dibayar untuk hasil, bukan untuk melakukan audit etika terhadap klien.”
Leon terdiam selama beberapa detik, merasakan angin malam menusuk pori-porinya. “Ya. Kau benar.”
Meskipun tangannya masih menyentuh senjata di pinggangnya, Leon tidak menarik pistol itu keluar. Ia membiarkan Alice menghilang sepenuhnya ke dalam malam, membiarkan tujuh juta dollar itu tetap melayang di udara, dan untuk pertama kalinya dalam karier panjangnya sebagai pembunuh bayaran, Phantom membiarkan targetnya berjalan pulang tanpa luka.