NovelToon NovelToon
My Shaneen

My Shaneen

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.

Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.

Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Sang Elang dan Sumpah di Atas Meja Makan

Malam itu, Mansion Asturia tidak seperti biasanya. Jika biasanya paviliun Shaneen adalah tempat yang paling tenang, malam ini suasana di ruang makan utama terasa sangat berat hingga suara jarum jatuh pun akan terdengar seperti dentuman. Lilin-lilin kristal menyala, memantulkan cahaya pada alat makan perak yang diletakkan dengan presisi milimeter—standar perfeksionis Shaneen yang menurun langsung dari kakeknya.

Di kepala meja, Lord Maximillian von Asturia duduk seperti seorang kaisar yang sedang mengawasi jajahannya. Di sisi kanannya, Shaneen duduk dengan anggun, wajahnya datar tak terbaca. Dan di hadapan mereka, duduklah Duke Matthias von Falkenhayn, yang mengenakan kemeja hitam formal tanpa atribut militer, namun auranya sebagai Jenderal tetap tak bisa disembunyikan.

"Jadi," Maximillian memulai, suaranya berat dan bergema di ruangan yang luas itu. Ia memotong steaknya dengan gerakan yang sangat elegan namun bertenaga. "Jenderal kita yang agung. Kau baru saja pulang dari perang, menghirup debu mesiu selama dua tahun, lalu hal pertama yang kau lakukan adalah menantang Raja Valerius demi cucuku?"

Matthias meletakkan pisaunya, menatap lurus ke mata biru tua Maximillian yang tajam. "Benar, Lord Maximillian. Saya tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan orang yang hanya menjaga takhta milik orang lain."

Maximillian menaikkan sebelah alisnya. "Berani sekali kau bicara begitu di depanku. Kau tahu kan, Raja Valerius itu meskipun pengecut, dia punya otoritas untuk mencabut gelar Dukemu dalam semalam karena pengkhianatanmu kemarin?"

"Gelar bisa dicabut, tapi kemampuan saya memimpin pasukan tidak," jawab Matthias tenang. "Dan alasan saya melakukan itu bukan untuk mencari masalah, tapi untuk mengakhiri spekulasi. Saya tidak akan membiarkan Shaneen menjadi bahan pembicaraan di pasar politik istana."

Maximillian menyesap anggur merahnya, lalu menatap Shaneen sejenak sebelum kembali ke Matthias.

"Kau tahu siapa wanita yang duduk di depanmu ini, Matthias?" Tanya Maximillian dengan nada yang tiba-tiba melunak namun penuh ancaman. "Shaneen bukan hanya putri seorang Marquess. Di nadinya mengalir darah Asturia yang jauh lebih murni dari siapa pun yang memakai mahkota di istana itu. Dia dididik untuk tidak pernah tunduk. Dia adalah Alpha yang aku bentuk untuk bisa bertahan bahkan jika seluruh dunia memunggunginya."

Maximillian mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit. "Apa yang bisa kau tawarkan padanya? Kekayaan? Dia punya agensi yang bisa membeli setengah dari aset kotamu. Perlindungan? Dia punya otak yang lebih tajam dari pedangmu. Jadi, katakan padaku, Jenderal... kenapa aku harus mengizinkanmu membawa satu-satunya permata berharga keluargaku ke dalam rumah tangga Falkenhayn yang kaku dan membosankan itu?"

Shaneen hanya diam, menatap potongan daging di piringnya yang ia susun menjadi bentuk persegi sempurna. Dia ingin mendengar jawaban Matthias.

Matthias menarik napas panjang. "Saya tidak menawarkan apa yang sudah dia miliki, Lord. Saya menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang agensinya atau dilindungi oleh kecerdasannya."

"Dan apa itu?" tantang Maximillian.

"Kebebasan untuk menjadi tidak sempurna," jawab Matthias tegas. "Dunia menuntut Shaneen untuk selalu simetris, cerdas, dan tanpa cela. Anda membentuknya menjadi Alpha, dan ayahnya membentuknya menjadi wanita mandiri. Tapi bersamaku, dia bisa menjadi Shaneen yang boleh marah tanpa alasan, Shaneen yang boleh menangis jika dia lelah, dan Shaneen yang tidak perlu takut jika tatanan bukunya miring satu inci pun."

Matthias menoleh ke arah Shaneen, tatapannya melembut. "Aku ingin menjadi satu-satunya tempat di mana dia tidak perlu memakai topeng. Aku akan menjadi tembok yang menahan semua tuntutan dunia agar dia bisa bernapas dengan lega di dalamnya."

Lord Maximillian terdiam cukup lama. Dia menatap Matthias, mencoba mencari kebohongan di matanya, namun yang ia temukan hanyalah ketegasan seorang pria yang sudah selesai dengan urusan dunianya.

Tiba-tiba, Maximillian mengambil sebutir apel merah dari keranjang kristal di tengah meja. Dia meletakkannya di atas piring di depan Matthias, lengkap dengan pisau perak kecil yang sangat tajam.

"Ninin sangat benci ketidakteraturan," ujar Maximillian dengan seringai kecil. "Potong apel ini menjadi delapan bagian yang sama persis. Jika satu saja ada yang meleset ukurannya, kau harus keluar dari rumah ini dan jangan pernah kembali sebelum kau belajar cara menggunakan penggaris."

Ini adalah ujian konyol namun mematikan. Stellan dan Samuel yang mengintip dari balik pintu ruang makan sampai menahan napas.

"Tamatlah sudah riwayat Matthias," bisik serentak si kembar.

Matthias mengambil pisau itu. Dia menatap apel itu seolah-olah itu adalah peta strategi perang paling rumit. Dengan gerakan tangan yang sangat stabil—tangan yang biasa memegang senapan dan pedang di tengah badai—Matthias memotong apel itu. Srak! Srak! Srak!

Delapan potongan apel tersaji. Matthias menggesernya ke arah Shaneen. Shaneen mengeluarkan penggaris kecil dari saku gaunnya dan mengukurnya satu per satu dengan teliti.

"Potongan keempat lebih besar 0,2 milimeter," ujar Shaneen dingin, menatap Matthias.

Suasana kembali mencekam. Matthias sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk.

"Tapi," lanjut Shaneen sambil mengambil potongan itu dan menggigitnya, "teksturnya bersih. Aku suka cara kau memegang pisaunya—tegas dan tidak ragu. Aku terima apelnya."

Maximillian tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi ruangan. "Hahaha! Kau lihat itu, Matthias? Dia bahkan lebih sulit dipuaskan daripada aku! Tapi baiklah... kau punya nyali. Dan kau punya kejujuran. Aku memberikan restuku padamu untuk berdiri di sampingnya."

Wajah Maximillian mendadak berubah serius lagi. "Tapi ingat satu hal. Valerius (Raja sekarang) tidak akan tinggal diam. Dia tahu bahwa jika kau dan Shaneen bersatu, posisi takhtanya terancam. Dia akan menyerangmu lewat jalur hukum atau bahkan militer. Apa kau siap menjadi pengkhianat negara demi cucuku?"

Matthias berdiri, memberikan hormat militer yang paling tulus kepada Maximillian. "Saya tidak akan mengkhianati negara. Saya hanya akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh milik saya, bahkan jika orang itu duduk di atas singgasana."

"Bagus, kamu lulus!"

"Hei, lulus apa?" Ucap Shaneen bingung. Haha

1
Vivi
👍😍
Hana Nisa Nisa
sampai tahan.nafas bacanya
Mamanya Raja
Thor cerita mu keren loh
Bae •: terimakasih ya^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!