Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Langkah Menuju Rumah Allah
Udara pagi terasa sangat sejuk.
Langit mulai perlahan berubah dari gelap
menuju warna biru lembut.
Di rumah kecil itu…
Isya sudah bersiap sejak pagi.
Kerudungnya sudah rapi.
Di meja kecil dekat pintu, sebuah tas kecil
berisi buku catatan kajian sudah ia siapkan.
Nenek juga sedang merapikan selendangnya.
Hari itu adalah hari Minggu.
Seperti biasanya…
mereka akan pergi ke masjid untuk mengikuti kajian pagi.
Kajian itu biasanya dimulai pukul delapan.
Isya melihat jam dinding sebentar.
Masih cukup pagi.
Namun ia memang suka bersiap lebih awal.
Di saat itu…
pintu kamar terbuka.
Ba’da keluar dengan rambut sedikit berantakan.
Matanya masih terlihat mengantuk.
Ia melihat Isya dan nenek yang sudah bersiap.
“Kak Isya mau ke masjid?”
Isya mengangguk.
“Iya. Kajian pagi.”
Ba’da terdiam beberapa detik.
Lalu ia berkata dengan nada serius.
“Ba’da ikut.”
Isya sedikit terkejut.
“Kajian itu untuk wanita, Ba’da.”
Ba’da menggeleng.
“Aku tidak ikut kajiannya.”
Isya menatapnya penasaran.
“Lalu?”
Ba’da menjawab polos.
“Ba’da ikut ke masjid saja.”
Ia menambahkan lagi,
“Ba’da mau belajar juga.”
Isya terdiam beberapa saat.
Nenek tersenyum kecil melihat Ba’da.
“Bagus itu.”
“Kalau anak kecil ingin ke masjid, biarkan saja.”
Isya akhirnya tersenyum.
“Baiklah.”
Namun setelah itu ia terlihat berpikir sebentar.
Kemudian ia berkata,
“Kalau Ba’da ikut…”
“Kita berangkat lebih awal saja.”
Ba’da menatap kakaknya.
“Lebih awal?”
Isya mengangguk.
“Iya.”
“Kajian mulai jam delapan.”
“Kalau kita datang satu jam lebih awal…”
Isya menatap Ba’da sambil tersenyum.
“Kakak bisa mengajari Ba’da beberapa hal dulu.”
Ba’da langsung terlihat penasaran.
“Belajar apa?”
Isya duduk sebentar di kursi dekat pintu.
“Belajar sunnah-sunnah Nabi.”
Ba’da langsung mendekat dan duduk di depannya.
Wajahnya terlihat serius sekarang.
Isya tersenyum melihatnya.
“Yang pertama…”
“Kalau kita mau ke masjid, lebih baik kita sudah berwudhu dari rumah.”
Ba’da sedikit memiringkan kepalanya.
“Kenapa?”
Isya menjelaskan dengan lembut.
“Karena setiap langkah menuju masjid itu bernilai pahala.”
Ia lalu berkata pelan,
“Rasulullah ﷺ bersabda…”
"Barang siapa bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan kewajiban dari kewajiban Allah, maka setiap langkahnya menghapus satu dosa dan langkah yang lain mengangkat satu derajat."
Ba’da membuka matanya sedikit lebih lebar.
“Jadi… kalau jalan ke masjid dapat pahala?”
Isya mengangguk.
“Iya.”
“Makanya kalau kita sudah berwudhu dari rumah…”
“langkah kita menuju masjid menjadi ibadah.”
Ba’da terlihat sangat memperhatikan sekarang.
Isya lalu mengambil sesuatu kecil dari meja.
Sebuah siwak.
Ba’da menatapnya dengan penasaran.
“Itu apa?”
Isya tersenyum.
“Ini namanya siwak.”
“Rasulullah ﷺ sangat suka bersiwak.”
Ia kemudian menjelaskan lagi.
“Nabi bahkan pernah bersabda…”
"Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat."
Ba’da mengangguk-angguk kecil.
“Berarti sebelum ke masjid kita bersiwak?”
Isya mengangguk.
“Iya, boleh bersiwak atau sikat gigi.”
“Supaya mulut kita bersih ketika membaca Al-Qur’an dan shalat.”
Kemudian Isya mengambil tas kecilnya.
Ia membuka tas itu.
Di dalamnya ada buku kecil dan pulpen.
Ba’da menatapnya lagi.
“Itu buat apa?”
Isya tersenyum.
“Itu untuk mencatat ilmu.”
Ba’da terlihat semakin penasaran.
Isya menjelaskan lagi dengan lembut.
“Para sahabat Nabi dulu sangat menjaga ilmu.”
“Kalau mereka mendengar sesuatu yang bermanfaat…”
“mereka akan mengingatnya atau menuliskannya.”
Ia lalu berkata pelan,
“Karena ilmu itu mudah lupa kalau tidak dijaga.”
Ba’da mengangguk perlahan.
Isya menatap adiknya dengan lembut.
“Makanya kalau kita datang ke kajian…”
“lebih baik membawa buku.”
“Supaya kita bisa menulis hal-hal penting.”
Ba’da terlihat berpikir beberapa detik.
Lalu ia berkata dengan serius,
“Ba’da juga mau belajar.”
Isya tersenyum hangat.
Ia menepuk pelan kepala adiknya.
“Pelan-pelan saja.”
“Ini latihan untuk Ba’da.”
Ba’da menatap kakaknya.
“Latihan?”
Isya mengangguk.
“Supaya nanti kalau Ba’da sudah mulai rajin shalat wajib di masjid…”
“Ba’da sudah terbiasa melakukan sunnah-sunnah Nabi.”
Ba’da akhirnya tersenyum kecil.
“Iya.”
Nenek yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua ikut tersenyum hangat.
Pagi Minggu yang tenang itu…
tiba-tiba berubah menjadi pelajaran kecil yang penuh makna.
Kemudian isya berdiri sambil mengambil sandalnya.
“Baiklah… sekarang kita berangkat.”
Ba’da juga berdiri.
Namun Isya tiba-tiba berkata,
“Tunggu sebentar.”
Ba’da menoleh.
“Kenapa?”
Isya menunjuk ke sandal Ba’da.
“Kalau memakai sandal, ada sunnahnya juga.”
Ba’da langsung menatap kakinya.
“Sandal juga ada sunnahnya?”
Isya tersenyum kecil.
“Iya.”
Ia lalu berkata dengan lembut,
“Rasulullah ﷺ mengajarkan kalau memakai sandal dahulukan kaki kanan.”
Ba’da terlihat penasaran.
“Memangnya Nabi bilang begitu?”
Isya mengangguk.
“Iya. Ada hadisnya.”
Ia kemudian menjelaskan pelan supaya Ba’da mengerti.
“Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata…”
“Rasulullah ﷺ sangat suka mendahulukan yang kanan dalam hal-hal baik.”
“Seperti ketika memakai sandal, bersuci, atau melakukan kebaikan lainnya.”
Isya lalu menambahkan lagi,
“Bahkan Nabi juga bersabda…”
‘Kalau salah seorang dari kalian memakai sandal, maka mulailah dengan kaki kanan. Dan kalau melepasnya, mulailah dengan kaki kiri.’
Ba’da mengangguk-angguk kecil.
“Oh…”
“Jadi kaki kanan dulu karena itu sunnah Nabi.”
Isya tersenyum.
“Iya.”
“Hal-hal kecil seperti ini juga termasuk mengikuti Nabi.”
Ba’da kemudian mencoba memakai sandalnya lagi.
Ia memasukkan kaki kanan terlebih dahulu dengan hati-hati.
Lalu kaki kirinya.
Isya tersenyum melihatnya.
“Bagus.”
Nenek yang melihat itu ikut tersenyum.
“Ba’da cepat belajar ya.”
Ba’da tersenyum kecil.
Hal kecil seperti memakai sandal…
tiba-tiba terasa berbeda pagi itu.
Karena sekarang ia tahu…
bahwa bahkan langkah kecil pun bisa menjadi sunnah Nabi.
Mereka pun keluar dari rumah.
Udara pagi terasa segar.
Jalanan kampung masih cukup sepi.
Beberapa orang terlihat berjalan menuju
masjid.
Beberapa langkah kemudian Isya berkata,
“Kalau keluar rumah juga ada doa.”
Ba’da menoleh.
Isya membaca pelan,
“Bismillahi, tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah.”
Ba’da mencoba menirukannya perlahan.
Isya kemudian menjelaskan,
“Artinya…”
‘Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.’
Ba’da mengangguk kecil.
Mereka terus berjalan menuju masjid.
Isya lalu berkata lagi,
“Kalau berjalan ke masjid juga ada doa.”
Ba’da langsung memperhatikan.
Isya membaca dengan lembut,
“Allahumma-j‘al fi qalbi nuuran, wa fi lisani nuuran, waj‘al fi sam‘i nuuran, waj‘al fi bashari nuuran…”
Ba’da mendengarkan dengan serius.
Isya kemudian menjelaskan arti sederhananya.
“Artinya kita meminta kepada Allah supaya diberikan cahaya dalam hati, dalam lisan, dalam pendengaran, dan dalam penglihatan.”
Ba’da terlihat kagum.
“Cahaya?”
Isya mengangguk.
“Iya.”
“Cahaya kebaikan dan petunjuk dari Allah.”
Lalu beberapa saat kemudian…
Ba’da melihat sebuah batu kecil di tengah jalan.
Ia hampir saja menendangnya.
Namun Isya berkata,
“Tunggu.”
Isya mengambil batu itu lalu
memindahkannya ke pinggir jalan.
Ba’da bertanya,
“Kenapa diambil?”
Isya tersenyum.
“Itu juga kebaikan.”
Ia menjelaskan,
“Rasulullah ﷺ bersabda…”
‘Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.’
Ba’da tersenyum kecil.
“Berarti tadi Ba’da hampir menendang sedekah?”
Isya tertawa kecil.
“Bukan ditendang…”
“tapi dipindahkan.”
Ba’da mengangguk.
“Oh…”
“Kalau ada batu lagi Ba’da pindahkan saja.”
Isya tersenyum.
“Bagus.”
Kemudian ia menambahkan lagi,
“Bahkan ada kisah yang lebih luar biasa dari itu.”
Ba’da langsung menoleh.
“Apa?”
Isya berkata pelan,
“Rasulullah ﷺ pernah menceritakan tentang seseorang yang masuk surga karena menyingkirkan gangguan dari jalan.”
Ba’da langsung terkejut.
“Hah? iyakah?”
Isya mengangguk.
“Iya.”
Ia lalu menjelaskan dengan lembut.
“Nabi ﷺ bersabda…”
‘Ada seseorang yang berjalan di suatu jalan, lalu ia menemukan ranting berduri yang mengganggu orang lewat. Ia pun menyingkirkannya. Karena itu Allah berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.’
Ba’da membuka matanya lebar-lebar.
“Hanya karena memindahkan sesuatu di jalan?”
Isya tersenyum.
“Iya.”
“Karena ia melakukannya supaya tidak ada orang yang terluka.”
Ba’da menatap jalan di depannya.
Seakan-akan sekarang ia melihat jalan itu dengan cara yang berbeda.
Beberapa detik kemudian ia berkata dengan serius,
“Kalau begitu…”
“Ba’da harus sering melihat jalan.”
Isya menahan tawa kecil.
“Kenapa?”
Ba’da menjawab dengan polos,
“Siapa tahu ada tiket masuk surga di jalan.”
Isya langsung tertawa kecil.
“xixixi…”
“Bisaa ajaa.”
Ba’da tersenyum kecil.
Tak lama kemudian…
bangunan masjid sudah terlihat di depan mereka.
Masjid itu masih cukup sepi.
Karena mereka datang lebih awal dari waktu kajian.
Ba’da menatap masjid itu dengan kagum.
Isya berkata pelan,
“Sekarang kita belajar sunnah masuk masjid.”
Ba’da langsung berdiri lebih tegak.
Isya melangkah ke pintu masjid.
“Kalau masuk masjid…”
“dahulukan kaki kanan.”
Ba’da mengangguk dan menirukannya dengan hati-hati.
Isya kemudian membaca pelan,
“Allahummaf-tah li abwaba rahmatik.”
Ba’da menatap kakaknya.
“Apa artinya?”
Isya menjelaskan dengan lembut.
“Artinya…”
‘Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.’
Ba’da mengangguk pelan.
Setelah masuk…
suasana masjid terasa sangat tenang.
Udara di dalamnya sejuk.
Isya kemudian berkata lagi,
“Kalau masuk masjid, jangan langsung duduk.”
Ba’da menatap kakaknya.
“Kenapa?”
Isya tersenyum.
“Ada shalat sunnah dulu.”
“Namanya shalat tahiyatul masjid.”
Ba’da bertanya,
“Itu apa?”
Isya menjelaskan pelan.
“Itu shalat dua rakaat untuk menghormati masjid.”
“Rasulullah ﷺ bersabda…”
‘Apabila salah seorang dari kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sampai ia shalat dua rakaat.’
Ba’da mengangguk.
Mereka pun berdiri.
Ba’da meniru gerakan Isya dengan serius.
Dua rakaat shalat sederhana itu pun selesai.
Setelah itu mereka duduk.
Isya berkata pelan,
“Di dalam masjid juga ada adab.”
Ba’da langsung mendengarkan.
“Kita tidak boleh berisik.”
“Tidak boleh bermain.”
“Dan harus menjaga masjid.”
Ba’da mengangguk kecil.
Ia melihat sekeliling masjid yang masih tenang.
Beberapa orang mulai datang perlahan untuk kajian.
Ba’da kemudian berbisik pelan,
“Kak…”
Isya menoleh.
“Iya?”
Ba’da berkata dengan wajah polos.
“Kalau ada batu di dalam masjid…”
“Ba’da pindahkan juga?”
Isya langsung menahan tawa.
“xixixi…”
“Kalau di dalam masjid biasanya tidak ada batu.”
Ba’da mengangguk pelan.
“Oh…”
Pagi itu terasa sangat tenang.
Namun bagi Ba’da…
pagi itu menjadi pelajaran baru.
Tentang sunnah.
Tentang adab.
Dan tentang langkah kecil menuju rumah Allah.
Masjid itu masih tenang.
Kajian belum dimulai.
Sebagian orang duduk membaca Al-Qur’an.
Sebagian lagi menunaikan shalat sunnah.
Isya duduk bersandar ringan di salah satu tiang masjid.
Di tangannya terbuka mushaf Al-Qur’an.
Bibirnya bergerak pelan membaca ayat demi ayat.
Sementara Ba’da duduk tidak jauh darinya.
Awalnya ia memperhatikan orang-orang yang sedang shalat.
Namun karena masih anak kecil…
matanya mulai melihat ke sana kemari dengan rasa ingin tahu.
Di sisi lain masjid ia melihat sesuatu menarik.
Ada rak kecil berisi botol air minum.
Ba’da berdiri pelan.
Ia berniat berjalan ke sana.
Tanpa ia sadari…
di jalurnya ada seorang wanita yang sedang shalat.
Ba’da hampir saja berjalan melewati depan orang itu.
Isya yang sedang membaca Al-Qur’an tiba-tiba mengangkat pandangannya.
Dan langsung menyadari apa yang akan terjadi.
Mata Isya membesar.
“Ba’da—!”
Namun suaranya tertahan karena ia berada di dalam masjid.
Isya langsung menutup mushafnya dengan cepat lalu berdiri.
Ia berjalan cepat—hampir seperti berlari kecil.
“Ba’da… tunggu!”
Ba’da yang hampir melangkah di depan orang yang shalat itu langsung berhenti.
Isya dengan cepat menarik pelan bahu adiknya dan mengajaknya mundur.
“Pelan… pelan…”
Ba’da berkedip bingung.
“Kak… kenapa?”
Isya menarik napas kecil.
Ia lalu berbisik lembut agar tidak mengganggu orang lain.
“Ba’da hampir lewat depan orang yang sedang shalat.”
Ba’da langsung menoleh.
Benar saja.
Di depannya seorang wanita sedang berdiri dalam shalat.
Ba’da menelan ludah.
“Oh…”
Seakan mengerti sesuatu yang baru saja hampir terjadi.
Pada saat itu wanita yang sedang shalat tadi juga mengangkat tangannya sedikit ke depan.
Memberi isyarat agar tidak ada yang lewat.
Ba’da melihat itu dengan kagum.
“Kak… dia angkat tangan.”
Isya mengangguk.
“Itu juga sunnah.”
Isya lalu menjelaskan dengan suara lembut.
“Kalau seseorang sedang shalat… lalu ada orang yang ingin lewat di depannya…”
“dia boleh memberi isyarat untuk mencegahnya.”
Ba’da mendengarkan dengan serius.
Isya melanjutkan pelan.
“Rasulullah ﷺ bersabda…”
> “Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sutrah lalu ada orang yang ingin lewat di depannya, maka hendaklah ia mencegahnya. Jika ia tetap memaksa maka tahanlah, karena sesungguhnya ia bersama setan.”
Ba’da terlihat kaget sedikit.
Isya lalu menatap adiknya dengan lembut.
“Karena shalat itu ibadah yang sangat agung.”
Ba’da memiringkan kepalanya.
Isya melanjutkan,
“Ketika seseorang sedang shalat…”
“dia sedang berdiri di hadapan Allah.”
Suasana masjid yang tenang membuat kalimat itu terasa sangat dalam.
Isya berkata lagi,
“Makanya kita harus menghormatinya.”
“Tidak boleh mengganggu.”
“Tidak boleh lewat di depannya.”
Ba’da mengangguk pelan.
Ia terlihat benar-benar memahami sekarang.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan,
“Untung Kak Isya cepat datang.”
Isya tersenyum kecil.
“Tadi Kak Isya sampai hampir lari.”
Ba’da tertawa kecil.
“Hihi…”
Lalu ia berkata dengan wajah serius,
“Ba’da tidak akan lewat depan orang shalat lagi.”
Isya mengangguk.
“Bagus.”
Kemudian ia membuka kembali mushaf Al-Qur’annya.
Ba’da kembali duduk di samping kakaknya.
Kali ini ia duduk lebih tenang.
Matanya sesekali melihat orang-orang yang shalat.
Namun sekarang…
ia sudah tahu satu hal penting.
Di masjid…
ada adab yang harus dijaga.
Karena di tempat itu…
ada orang-orang yang sedang berdiri menghadap Rabb mereka.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘