NovelToon NovelToon
Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Bumi Dan Hal - Hal Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Tentang Luka yang Perih dan Es Batu yang Mencair

Malam setelah pertandingan basket itu, Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Saya duduk di teras rumah, hanya ditemani lampu bohlam kuning yang dikerubungi laron. Siku saya yang dibalut plester oleh Kayla tadi sore masih terasa berdenyut, setiap kali saya menggerakkan lengan, rasanya seperti ada ribuan semut api yang sedang berparade di bawah kulit.

Ibu keluar membawa segelas susu hangat. Beliau menggeleng-geleng melihat luka saya. "Kamu itu Bumi, bukan Superman. Kenapa harus pakai acara tabrakan segala di lapangan?"

"Namanya juga dinamika planet, Bu. Kadang ada benturan sedikit biar kita tahu kalau kita masih punya massa," jawab saya sambil mencoba tersenyum, meski pipi saya juga sedikit lebam.

Ibu hanya menghela napas dan masuk kembali ke dalam. Saya termenung sendiri. Di kepala saya, masih terbayang wajah Kayla yang cemas tadi sore. Wajah yang sudah lama tidak saya lihat sedekat itu. Wangi parfum toko kuenya sempat menempel di seragam saya yang penuh keringat, sebuah perpaduan aroma yang sangat kontradiktif tapi entah kenapa terasa sangat akrab.

Ponsel saya bergetar. Sebuah pesan masuk.

"Bumi, lukanya jangan kena air dulu ya. Tadi aku lupa bilang. Maaf ya, gara-gara tantangan Arkan kamu jadi begitu."

Itu dari Kayla. Saya menatap layar ponsel itu lama sekali. Jempol saya sudah berada di atas tombol balas, tapi saya ragu. Apa yang harus saya katakan? "Terima kasih sudah peduli?" atau "Kenapa kamu tidak pergi saja merayakan kemenangan sama Arkan?".

Akhirnya saya mengetik: "Sudah biasa, Kay. Bumi kan memang sering dihantam meteorit. Terima kasih ya sudah jadi tim medis dadakan."

Tidak sampai satu menit, ponsel saya kembali bergetar. "Besok aku bawain kompres dingin ke sekolah. Jangan telat."

Saya tidak membalas lagi. Saya takut kalau saya terus membalas, saya akan kembali menjadi Bumi yang lemah, yang orbitnya hanya berputar di sekitar senyum Kayla.

Keesokan paginya, saya datang ke sekolah dengan gaya yang sedikit kaku. Tangan kanan saya tidak bisa diayunkan secara bebas. Saat melewati lobi, saya berpapasan dengan Arkan. Dia memakai jaket basketnya, terlihat sangat bangga dengan kemenangan kemarin. Namun, saat dia melihat saya, dia tidak tersenyum.

"Bumi, hebat juga akting kamu kemarin," kata Arkan pelan saat kami berjalan bersisian di koridor.

Saya berhenti dan menoleh. "Akting? Kamu pikir jatuh di aspal itu rasanya seperti jatuh di kasur busa?"

"Maksud saya, cara kamu menarik perhatian Kayla di tengah kemenangan saya. Itu cerdik," Arkan menatap saya dengan tatapan yang dingin. "Tapi jangan harap itu bakal berhasil terus. Kayla cuma kasihan sama kamu, bukan berarti dia mau balik lagi ke kamu."

"Kasihan itu juga perasaan, Kan. Dan perasaan tidak bisa dipaksa lewat skor basket atau petikan gitar," jawab saya tenang, lalu berjalan masuk ke kelas.

Di kelas, Dara sudah duduk manis. Dia melihat plester di siku saya dan menggelengkan kepala. "Kerak Bumi memang keras, tapi aspal sekolah ini lebih keras, Bumi. Kamu sudah membaca bab tentang gaya gesek?"

"Sudah, Dara. Dan saya juga baru belajar bahwa gaya gesek itu bisa menimbulkan panas yang membakar ego," jawab saya sambil duduk.

Tiba-tiba, Senja masuk ke kelas kami. Dia membawa sebuah kantong kecil. Dia menghampiri meja saya dengan gerakan yang sangat malu-malu, bahkan lebih malu dari biasanya.

"Bumi... ini ada minyak gosok dari kakek saya. Katanya bagus buat luka memar," kata Senja sambil meletakkan botol kecil di meja saya.

"Wah, terima kasih, Senja. Kamu selalu tahu apa yang saya butuhkan," kata saya tulus.

Saat Senja masih berdiri di sana, Kayla masuk. Dia membawa termos kecil berisi es batu dan handuk kecil, persis seperti janjinya semalam. Dia berhenti tepat di depan meja saya, melihat botol minyak gosok dari Senja, lalu melihat ke arah Senja.

Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Seperti ada dua gelombang frekuensi yang berbeda yang sedang berebut sinyal di dalam kelas.

"Oh, sudah ada yang kasih obat ya?" suara Kayla terdengar agak tajam.

Senja menunduk. "Ma-maaf, saya cuma mau bantu."

"Tidak apa-apa, Senja. Minyak gosoknya sangat berguna kok," kata saya mencoba menetralkan suasana. Lalu saya menoleh ke Kayla. "Mana es batunya, Kay? Siku saya memang butuh didinginkan, soalnya hawanya mulai panas."

Kayla tidak bicara. Dia duduk di depan saya, membuka termosnya, dan mulai mengompres siku saya dengan handuk dingin. Gerakannya agak kasar di awal, tapi lama-lama melembut. Senja memilih untuk pamit dan kembali ke kelasnya.

"Kamu terlalu ramah sama semua orang, Bumi," gumam Kayla sambil terus menekan handuk dingin ke luka saya.

"Bukankah itu yang kamu suka dari saya dulu? Ramah, jujur, dan apa adanya?" tanya saya pelan.

Kayla terdiam. Es batu di dalam handuk itu perlahan mencair, airnya menetes ke lantai kelas yang berdebu. "Dulu itu beda, Bumi. Sekarang semuanya sudah rumit."

"Yang bikin rumit itu bukan keadaannya, Kay. Tapi orang-orang di dalamnya yang mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya," kata saya.

Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa luka fisik itu mudah diobati dengan es batu atau minyak gosok. Tapi luka di dalam perasaan, dia butuh waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh. Dan terkadang, obat yang paling ampuh bukanlah perhatian yang datang tiba-tiba, melainkan keberanian untuk tetap berdiri tegak meski poros kita sedang bergetar hebat.

bel masuk kelas yang berbunyi nyaring, menyadarkan kami bahwa waktu istirahat telah usai, dan drama di SMA ini baru saja memasuki babak yang lebih dalam.

1
nickm
cerita ini layak dibuat film
nickm
cerita yang luar biasa, aku akan menunggu metamorfosis bumi kedepannya
nickm
semakin menarik ceritanya
nickm
bagus sekali ceritanya, bahasa yang runtut, alur mengalir pasti
nickm
bagus sekali, paragraf pertama yang membuatku masuk ke dimensi cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!