Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Retakan yang Mulai Berisi Cahaya
...— ✦ —...
Senin pagi datang dengan hujan.
Bukan hujan lebat yang dramatis — hanya gerimis tipis yang turun sejak sebelum fajar dan masih belum memutuskan apakah akan berhenti atau tidak. Langit berwarna abu-abu mutiara, dan pohon-pohon di taman belakang basah dengan cara yang membuat semuanya tampak lebih hidup dari biasanya, setiap daun mengilap seperti baru dicuci.
Kirana duduk di jendela ruang kerja dengan secangkir teh di tangan, menatap taman itu, dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun dalam tubuh ini — ia tidak langsung membuka jurnal Gwyneth atau menyusun rencana atau menghitung hari. Ia hanya duduk. Minum teh. Memandang hujan.
Satu minggu.
Sudah satu minggu penuh sejak ia membuka mata di ranjang yang bukan miliknya, melihat wajah yang bukan wajahnya di cermin, dan memutuskan — dengan cara yang tidak pernah benar-benar terasa seperti keputusan yang matang — bahwa ia akan mengubah akhir cerita ini.
Satu minggu, dan Amethysta sudah mau duduk di meja makan tanpa terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu bencana. Satu minggu, dan Xavier sudah tidak menatapnya dengan tanda tanya yang sebesar pertama kali ia pulang — tanda tanya masih ada, tapi ukurannya sudah berbeda. Satu minggu, dan Seren kemarin menyapa Kirana dengan senyum kecil yang tidak dipaksakan, bukan senyum profesional yang kosong.
Kecil. Semuanya kecil.
Tapi Kirana sudah cukup lama menulis untuk tahu bahwa cerita tidak berubah lewat kejadian besar — cerita berubah lewat momen-momen kecil yang menumpuk, yang berulang, yang pada satu titik berbalik dan membentuk sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya.
...✦ ✦ ✦...
Seren mengetuk pintu ruang kerja pukul delapan lewat sedikit.
"Nyonya, Amethysta sudah siap berangkat sekolah." Ia berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menambahkan dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya — lebih lunak di tepinya. "Dia minta izin dulu sebelum berangkat."
Kirana meletakkan cangkirnya. "Suruh masuk."
Amethysta masuk dengan seragam sekolahnya — putih biru, rambut dikepang dua dengan pita biru yang rapi, tas di punggungnya. Ia berdiri di depan Kirana dengan postur yang tidak sekaku biasanya, meski belum juga sepenuhnya rileks.
"Aku berangkat, Mama," katanya.
"Hati-hati." Kirana menatapnya. "Ada ulangan hari ini?"
Amethysta tampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu — pertanyaan yang seharusnya biasa, tapi rupanya cukup tidak biasa untuk menimbulkan reaksi. "Ada. Matematika."
"Sudah belajar?"
"Sudah. Tadi malam." Jeda kecil. "Kak Seren yang bantu."
"Bagus." Kirana mengangguk. "Kalau ada yang susah, nanti malam cerita padaku."
Amethysta menatapnya dengan mata ungu yang masih menimbang setiap kata yang keluar dari mulut Kirana seperti menimbang benda di tangan — memperkirakan beratnya, memastikan ia tidak akan jatuh jika dipegang. Lalu ia mengangguk sekali, kecil.
"Aku pergi."
"Iya. Pergi."
Amethysta sudah hampir keluar pintu ketika ia berbalik — gerakan cepat, tidak direncanakan, seperti keputusan yang diambil di detik terakhir sebelum momentum membawanya pergi.
"Mama," katanya.
"Hm?"
"Semalam aku mimpi tentang Orion." Matanya menatap lurus, tanpa basa-basi, dengan kejujuran anak kecil yang belum belajar cara menyembunyikan hal-hal yang penting. "Dia tetap di tempat yang sama. Seperti yang kamu bilang."
Lalu ia pergi — sepatu kecilnya berbunyi di lantai lorong, menghilang di balik belokan.
Kirana duduk diam selama beberapa detik setelah suara itu hilang.
Lalu ia mengambil cangkir tehnya lagi, memandang hujan yang masih turun di luar, dan membiarkan perasaan itu tinggal di dadanya tanpa mencoba menamainya.
...✦ ✦ ✦...
Seren kembali dua puluh menit kemudian dengan nampan sarapan yang tidak diminta.
"Nyonya belum makan," katanya sambil meletakkan nampan di meja. Bukan pertanyaan. Kalimat yang punya struktur seperti pernyataan tapi maksudnya seperti perhatian.
"Tidak lapar."
"Roti dan telur." Seren tidak bergerak dari tempatnya. "Tidak berat."
Kirana menatapnya. Seren menatap balik — dengan ekspresi yang sudah tidak lagi sepenuhnya netral seperti minggu lalu, ada sesuatu di baliknya yang mulai menunjukkan dirinya, pelan dan hati-hati seperti tanaman yang baru mulai tumbuh di tanah yang belum sepenuhnya ia percaya.
Kirana menarik nampan itu ke dekatnya. "Terima kasih."
Seren mengangguk, berbalik untuk pergi.
"Seren."
Wanita muda itu berhenti. "Ya, Nyonya?"
Kirana memilih kata-katanya. "Kamu sudah lama di sini. Merawat Amethysta."
"Hampir empat tahun."
"Empat tahun." Kirana menatap rotinya sebentar, lalu mengangkat pandangan. "Terima kasih. Untuk empat tahun itu. Untuk semua yang kamu lakukan yang tidak seharusnya jadi tugasmu."
Seren diam. Cukup lama untuk menjadi berarti.
Ketika ia menjawab, suaranya lebih pelan dari biasanya, dan ada sesuatu di tepinya yang mungkin bisa disebut terharu kalau seseorang memperhatikan dengan cukup seksama. "Amethysta anak yang baik, Nyonya. Mudah untuk peduli padanya."
"Aku tahu." Kirana mengangguk. "Tapi tetap — terima kasih."
Seren mengangguk sekali, cepat, lalu keluar. Tapi di ambang pintu ia berhenti satu detik — punggungnya ke Kirana — dan Kirana melihat bahunya naik sedikit, tarikan napas yang ditahan, sebelum ia melanjutkan langkahnya.
...✦ ✦ ✦...
Xavier pulang lebih awal dari kantornya.
Kirana mendengar mobilnya di jalan masuk sekitar pukul tiga sore, jauh sebelum jam yang biasa. Ia menyisihkan buku yang sedang ia baca — buku dari perpustakaan kecil, yang kali ini bukan milik Gwyneth tapi dipilihnya sendiri dari rak — dan turun ke lantai bawah.
Xavier berdiri di foyer dengan jasnya masih terpasang, dasi sedikit dilonggarkan, dan di tangannya ada sesuatu yang membuat Kirana berhenti di anak tangga terakhir.
Sebuah tas kertas kecil dari toko buku.
"Kamu pulang cepat," kata Kirana.
"Ada pertemuan yang dibatalkan." Xavier melihat ke tas di tangannya, lalu ke Kirana, dengan ekspresi seseorang yang baru menyadari bahwa ia tertangkap melakukan sesuatu yang tidak ia rencanakan untuk dijelaskan. "Aku lewat toko buku."
"Aku lihat."
Ia menaiki beberapa anak tangga, berhenti di tingkat Kirana, dan mengulurkan tas itu. "Untuk Amethysta. Buku tentang konstelasi — yang lebih lengkap dari yang sudah ia punya. Aku lihat di raknya waktu kemarin masuk ke kamarnya."
Kirana menerima tas itu. Mengintip ke dalamnya. Sebuah buku tebal dengan sampul biru gelap penuh gambar bintang-bintang, judulnya dalam huruf emas: *Atlas Bintang untuk Pemula dan yang Tidak Lagi Pemula.*
"Judulnya panjang," kata Kirana.
"Penjualnya yang rekomendasikan." Sudut bibir Xavier terangkat sedikit. "Katanya anak-anak suka judul yang terasa seperti diajak bicara langsung."
Kirana menatap buku itu, lalu Xavier. Pria ini — yang dalam novelnya ia tulis sebagai sosok yang penuh cinta tapi sering tidak tepat sasaran — kemarin sore mampir ke toko buku, memilih buku tentang bintang, karena ingat rak di kamar putrinya.
"Dia akan suka ini," kata Kirana pelan.
"Semoga." Xavier mengambil jasnya, mulai naik tangga. "Oh — ada surat untuk kamu. Aku letakkan di meja foyer."
...✦ ✦ ✦...
Surat itu dari seorang notaris.
Kirana membacanya dua kali, kemudian tiga kali, dengan perasaan yang semakin dingin di setiap kalimatnya. Surat yang — dalam bahasa hukum yang sopan dan terukur — memberitahukan bahwa mendiang ibu kandung Gwyneth Valerine telah meninggalkan wasiat yang baru saja selesai diproses, dan ada sejumlah aset serta sepucuk surat pribadi yang menunggu untuk diserahkan kepada Gwyneth.
Ibu kandung Gwyneth.
Kirana duduk di sofa foyer dan menatap surat itu dengan otak yang bekerja keras menyambungkan titik-titik. Dalam novelnya, latar belakang Gwyneth hanya disinggung sekilas — assented sebagai perempuan yang tumbuh dalam keluarga dingin, yang belajar bahwa kasih sayang adalah transaksi, yang menjadi apa yang ia lihat selama bertahun-tahun. Kirana tidak pernah menulis ibunya sebagai karakter yang muncul karena ia tidak relevan untuk plot.
Tapi nyatanya, di kehidupan yang nyata — atau nyata dalam dunia ini — ibu itu ada. Dan baru saja meninggal.
Dan meninggalkan surat.
Kirana melipat surat notaris itu dengan hati-hati dan menyimpannya di saku. Ada bagian darinya yang ingin tahu apa isi surat itu — bukan dari rasa ingin tahu yang murni, tapi dari pemahaman bahwa surat itu mungkin menyimpan kunci dari sesuatu. Mengapa Gwyneth menjadi Gwyneth. Apa yang membentuk lapisan-lapisan dingin yang menyelimutinya sampai tidak ada yang bisa masuk, sampai bahkan putrinya sendiri menjadi korban dari sesuatu yang bukan sepenuhnya salah satu pihak.
Trauma tidak lahir dari kekosongan.
...✦ ✦ ✦...
Amethysta pulang sekolah dengan nilai ulangan matematikanya — delapan puluh lima, ditulis dengan spidol merah oleh gurunya di sudut kanan atas lembar ujian.
Ia meletakkannya di meja makan dengan cara yang tidak bisa Kirana putuskan apakah itu gestur bangga atau gestur netral — wajahnya tidak banyak bercerita, tapi ia meletakkannya menghadap ke atas, bukan terbalik atau disembunyikan di dalam tas.
"Delapan puluh lima," kata Kirana.
"Iya."
"Bagus."
Amethysta menatapnya dengan mata yang menunggu sesuatu — dan Kirana, yang sudah cukup lama mengamati gadis kecil ini, menyadari bahwa ia sedang menunggu syarat. Pujian yang diikuti tapi, atau penilaian yang terasa seperti pujian tapi sebetulnya bukan, atau keheningan yang lebih berbicara dari kata-kata.
"Kamu kerja keras," kata Kirana, dan membiarkan kalimat itu berdiri sendiri tanpa tambahan apapun.
Amethysta berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu ia melihat ke meja dan menemukan tas kertas toko buku yang Kirana letakkan di sana.
"Itu apa?"
"Dari Ayah. Tadi sore ia mampir ke toko buku."
Amethysta mendekati tas itu dengan langkah yang perlahan berubah — dari hati-hati menjadi penasaran menjadi sesuatu yang hampir bisa disebut antusias. Ia mengeluarkan buku itu, membaca judulnya, membaliknya untuk membaca sinopsisnya, membuka beberapa halaman pertama.
Dan dalam prosesnya, untuk waktu yang sangat singkat, Kirana melihat wajah Amethysta Valerine tanpa lapisan apapun di atasnya.
Hanya seorang anak tujuh tahun yang senang menerima buku tentang bintang.
Ringan. Bersih. Seperti apa yang seharusnya.
"Bagus," bisik Amethysta pada buku itu, bukan pada Kirana atau siapapun yang mendengar — hanya pada buku itu sendiri, dengan cara anak-anak berbicara pada benda-benda yang mereka sukai.
Kirana minum tehnya dan menatap hujan yang masih turun di luar jendela — lebih pelan sekarang, hampir berhenti, langit di barat mulai menunjukkan sedikit warna.
Satu minggu.
Masih banyak yang harus dilakukan. Masih banyak yang belum berubah, masih banyak luka yang belum tersentuh, masih banyak momen dalam plot yang menunggu untuk dihadapi. Surat dari notaris di sakunya terasa berat dengan cara yang tidak proporsional dengan ukuran kertasnya.
Tapi malam ini, Amethysta pulang ke rumah dan meletakkan nilai ulangannya menghadap ke atas.
Dan itu, untuk saat ini, sudah lebih dari cukup.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...