NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis yang Mulai Kabur

Sejak pesan singkat semalam, tidur Alina tidak benar-benar lelap.

Ia terbangun sebelum alarm berbunyi, menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Di sampingnya, Arsen tidur telentang dengan satu lengan terlipat di atas dada. Wajahnya terlihat jauh lebih muda saat tanpa ekspresi dingin khasnya.

Untuk sesaat, Alina membiarkan dirinya hanya… melihat.

Pria ini bukan sekadar pewaris konglomerat yang kejam seperti rumor yang beredar. Ia keras, ya. Rasional. Terkadang terlalu tajam. Tapi ia juga berdiri di depannya saat keluarganya menekan. Ia mempertaruhkan saham pribadinya tanpa menyalahkan siapa pun.

Dan yang paling berbahaya ia mulai memperlakukannya bukan sebagai pion.

Alina bangkit pelan agar tidak membangunkannya. Ia mengambil ponsel dan keluar ke balkon kecil kamar.

Udara pagi masih dingin.

Pesan dari Adrian bertambah satu.

“Livia mengatur makan siang tertutup dengan dua anggota dewan. Ia bergerak cepat.”

Alina menghela napas perlahan.

Livia tidak main-main. Perempuan itu tahu cara memanfaatkan celah baik dalam bisnis maupun hubungan pribadi.

Alina mengetik balasan singkat.

“Pantau. Jangan intervensi dulu.”

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

“Anda yakin?”

Ia menatap kota yang mulai terang.

Tidak, ia tidak sepenuhnya yakin.

Tapi ia ingin melihat satu hal lagi.

Seberapa jauh Arsen akan bertahan ketika tidak ada yang menyelamatkannya.

Atau… seberapa jauh ia sendiri mampu membiarkannya jatuh.

Di kantor, suasana lebih tegang dari biasanya.

Beberapa staf berbisik saat Alina melintas. Berita tentang saham dan manuver Livia sudah menyebar. Dalam dunia bisnis seperti ini, rumor bergerak lebih cepat dari fakta.

Di ruang rapat utama, Arsen duduk di ujung meja panjang. Wajahnya tak menunjukkan kelelahan meski jelas ia hampir tidak tidur.

Alina duduk di sisi kanannya.

Itu bukan kebetulan.

“Livia menawarkan opsi pendanaan alternatif,” lapor direktur keuangan. “Dengan syarat satu kursi tambahan di dewan.”

Arsen tersenyum tipis. “Jadi ini bukan bantuan. Ini akuisisi perlahan.”

“Secara teknis, tidak,” jawab sang direktur hati-hati. “Tapi dampaknya bisa ke arah sana.”

Beberapa orang melirik Alina.

Seolah ingin melihat apakah ia akan bereaksi.

Alina hanya membuka tablet di depannya. “Jika kita menerima, publik akan melihatnya sebagai tanda kelemahan.”

Semua mata kini benar-benar tertuju padanya.

Arsen bersandar sedikit. “Lanjutkan.”

“Nilai saham kita turun bukan karena fundamental perusahaan, tapi karena sentimen,” lanjut Alina tenang. “Jika kita menerima tawaran sekarang, kita mengakui bahwa tekanan itu efektif.”

“Dan jika kita menolak?” tanya salah satu anggota dewan.

Alina mengangkat pandangannya. “Kita kirim pesan bahwa kita tidak mudah dipermainkan.”

Ruangan hening.

Arsen tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Alina beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.

“Aku setuju,” katanya akhirnya.

Keputusan itu dibuat.

Tawaran Livia ditolak.

Satu jam kemudian, Livia muncul di lobi utama Wijaya Group.

Tanpa janji.

Tanpa pemberitahuan.

Alina melihatnya dari balik dinding kaca ruang kerja Arsen. Gaun merah marun yang ia kenakan tampak mencolok di antara warna-warna netral kantor.

“Dia tidak pernah datang tanpa tujuan,” gumam Alina.

Arsen berdiri di sampingnya. “Aku tahu.”

Beberapa menit kemudian, Livia sudah duduk di ruang tamu pribadi lantai atas.

“Aku hanya ingin membantu,” katanya lembut, seolah-olah keputusan rapat tadi tidak pernah terjadi. “Arsen, kau tidak harus menghadapi ini sendirian.”

“Aku tidak sendirian,” jawab Arsen datar.

Tatapan Livia beralih pada Alina.

Senyumnya manis, tapi matanya tajam.

“Tentu saja,” ucapnya pelan. “Istri kontrakmu pasti sangat mendukung.”

Kata itu sengaja ditekan.

Alina tidak tersinggung. Ia justru tersenyum balik. “Aku mendukung keputusan yang tepat.”

“Dan kau yakin keputusan menolakku tepat?” tanya Livia.

“Untuk saat ini,” jawab Alina ringan.

Livia berdiri. Ia berjalan mendekati Alina, berhenti hanya sejengkal.

“Kau pintar,” bisiknya cukup pelan agar hanya mereka berdua yang mendengar. “Tapi permainan ini bukan tentang kecerdasan saja.”

Alina menatapnya lurus. “Aku tahu.”

“Lalu tentang apa?”

Alina tersenyum tipis. “Tentang siapa yang lebih sabar.”

Livia terdiam sesaat, lalu terkekeh pelan.

“Kita lihat saja,” katanya sebelum berbalik pergi.

Begitu pintu tertutup, ruangan terasa lebih ringan.

Tapi hanya sedikit.

Sore itu, harga saham kembali berfluktuasi. Tidak separah kemarin, tapi cukup untuk membuat media terus berspekulasi.

Di ruang kerjanya, Arsen berdiri di belakang kursi Alina saat ia memeriksa laporan.

“Kau menikmati adu argumen dengan Livia?” tanyanya tiba-tiba.

Alina tidak menoleh. “Aku hanya menjawab.”

“Kau tidak takut?”

“Takut pada apa?”

“Dia tidak mudah menyerah.”

Alina berhenti mengetik.

“Aku juga tidak.”

Arsen tersenyum samar. “Aku mulai percaya itu.”

Keheningan jatuh di antara mereka lagi.

Bukan canggung. Lebih seperti sesuatu yang belum dinamai.

“Kau tahu,” kata Arsen pelan, “awalnya aku pikir kau hanya akan menjadi formalitas. Nama di atas kertas.”

Alina menoleh perlahan.

“Dan sekarang?” tanyanya.

“Sekarang aku tidak yakin siapa yang sebenarnya mengendalikan situasi.”

Jantung Alina berdetak lebih keras.

Jika ia tahu kebenaran, mungkin ia akan tertawa pahit.

Karena jawaban itu… lebih rumit dari yang ia kira.

Malamnya, Alina menerima panggilan video dari Adrian.

Wajah pria itu muncul di layar dengan ekspresi serius.

“Dewan semakin tidak sabar,” katanya tanpa basa-basi. “Mereka tidak suka ketidakpastian.”

“Ketidakpastian membuat orang menunjukkan warna aslinya,” jawab Alina.

“Dan warna Arsen?”

Alina terdiam.

Ia teringat caranya berdiri di depannya saat keluarga menekan. Cara ia menolak tawaran Livia tanpa ragu setelah mendengar analisanya.

“Dia tidak mudah goyah,” katanya pelan.

Adrian menatapnya tajam. “Itu bagus untuk bisnis.”

Alina mengangguk.

“Tapi?” desak Adrian.

Ia menelan ludah.

“Tapi ini mulai tidak terasa seperti bisnis.”

Keheningan menyelimuti layar beberapa detik.

“Anda tahu konsekuensinya jika terlalu terlibat,” ucap Adrian hati-hati.

Alina tahu.

Jika ia jatuh hati, ia akan kehilangan objektivitas.

Jika ia mengungkap identitasnya terlalu cepat, semuanya berubah.

Jika ia menunggu terlalu lama… mungkin ia sendiri yang terluka.

“Aku masih memegang kendali,” katanya akhirnya, lebih pada dirinya sendiri.

Adrian tidak terlihat sepenuhnya yakin, tapi ia tidak membantah.

Setelah panggilan berakhir, Alina duduk diam di tepi tempat tidur.

Pintu kamar terbuka.

Arsen masuk, melepas jasnya.

“Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat,” katanya.

“Sedikit,” jawab Alina jujur.

Arsen duduk di sampingnya. Jarak mereka kini lebih dekat dari biasanya dan tidak ada kecanggungan yang dulu selalu ada.

“Jika suatu hari kau merasa terjebak dalam situasi ini,” katanya pelan, “aku akan membebaskanmu. Kontrak bisa kita akhiri lebih cepat.”

Kalimat itu seperti pisau halus.

Karena anehnya, Alina tidak ingin mendengarnya.

“Dan kau?” tanyanya balik.

“Apa maksudmu?”

“Jika kau yang merasa terjebak?”

Arsen menatapnya lama.

“Aku tidak terbiasa terjebak,” jawabnya pelan. “Tapi… untuk pertama kalinya, aku tidak sepenuhnya ingin keluar.”

Napas Alina tercekat.

Garis antara kontrak dan kenyataan mulai kabur.

Dan di tengah permainan saham, dewan, dan manuver Livia… ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya tumbuh perlahan.

Perasaan yang tidak ada dalam klausul mana pun.

Perasaan yang, jika tidak hati-hati, bisa menghancurkan mereka berdua lebih cepat daripada krisis bisnis apa pun.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!