NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Keesokan harinya di sekolah.Dira berjalan masuk ke kelas seperti biasa. Ia masih pusing memikirkan tentang masalah semalam. Kenapa ia harus menikah dengan elvan.

Namun ada sesuatu yang terasa aneh pagi ini.

Semua orang menatapnya. Beberapa bahkan berbisik.

Dira mengerutkan kening.

“Ada apa sih?”

Saat ia duduk, seorang teman langsung mendekat.

" Astaga , apa lagi ini " batinnya

“Dira… kamu nggak lihat?”

“Lihat apa?”

Temannya menunjukkan layar ponsel ke arah dira .

Sebuah postingan di media sosial sekolah sedang viral.

Foto Dira turun dari mobil mewah Elvan.

Di bawahnya ada tulisan.

"Siswi SMA punya hubungan dengan CEO kaya."

Dira membelalakkan mata. “APA INI?!”

Beberapa siswa mulai berbisik lebih keras.

“Itu dia orangnya.”

“Pantas saja hidupnya enak.”

“Kirain anak baik.”

Dira langsung berdiri dari kursinya. “Aku nggak melakukan apa-apa!”

Tiba-tiba seseorang bertepuk tangan dari pintu kelas.

Vina.

Ia berjalan masuk dengan senyum puas. “Wah… ramai sekali ya.”

Dira menatapnya tajam. “Kamu yang lakukan ini.”

Vina pura-pura kaget. “Eh? Aku?”

Dira berjalan mendekat dengan wajah marah.

“Berani banget kamu ya .”

Vina menyeringai.

“Kalau memang nggak benar… kenapa kamu panik?”

Dira hampir saja menarik kerah bajunya.

Namun tiba-tiba—

Sebuah suara dingin terdengar dari belakang.

“Karena itu memang fitnah.”

Semua orang menoleh.

Seorang pria tinggi berdiri di pintu kelas.

Jas hitamnya terlihat mencolok di antara para siswa.

Elvan. Saat ia mendapat laporan dari anak buahnya ,tanpa pikir panjang ia langsung menuju sekolah dira. Di samping elvan juga ada kenzo.

Dira langsung membeku.

“Lah… dia ke sini?!”

Suasana kelas langsung hening.

Elvan berjalan masuk dengan tenang. Tatapannya lurus ke arah Vina.

“Kalau ada masalah dengan Dira…”

Suara dinginnya membuat semua orang merinding.

“Kamu berurusan langsung denganku.”

Vina langsung pucat.

Suasana kelas masih hening setelah Elvan berdiri di depan pintu.

Para siswa menatap pria tinggi dengan jas hitam itu seperti melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sekolah mereka.

Vina yang tadi sangat percaya diri kini terlihat kaku.

Elvan berjalan masuk dengan langkah tenang.

Tatapannya dingin, langsung berhenti di depan Vina.

“Kamu yang menyebarkan foto itu?”

Vina mencoba tersenyum.

“Saya tidak tahu apa maksud Anda.”

Elvan mengeluarkan ponselnya. “Menarik.”

Ia menunjukkan layar ponselnya kepada wali kelas yang baru datang karena keributan.

“Alamat IP pengunggahnya sama dengan ponsel milik Vina.”

Ruangan langsung riuh.

“Wah ketahuan…”

“Gila…”

Wajah Vina memucat. “Itu… itu tidak mungkin!”

Dira yang berdiri di samping Elvan menatap dengan tangan di pinggang.

“Tuh kan! Aku bilang juga!”

Elvan tetap tenang.

“Fitnah terhadap siswi lain bukanlah hal kecil.”

Guru langsung memandang Vina dengan wajah kecewa.

“Kamu ikut saya ke ruang kepala sekolah.”

Vina menatap Dira dengan penuh kebencian sebelum pergi.

Namun Dira malah melambaikan tangan kecil.

“Dadah.”

Kenzo dari luar kelas hanya bisa menahan tawa.

“Adikku ini… benar-benar tidak bisa diam.”

***

Setelah kejadian di kelas, suasana sekolah akhirnya kembali tenang.

Namun Dira masih berjalan dengan wajah cemberut.

Elvan yang berdiri di dekat mobil hanya menatapnya diam.

“Masuk.”

Dira langsung melipat tangan.“Ini masih jam sekolah ”

Elvan menatapnya datar. “Masuk.”

Dira mendengus kesal tapi tetap masuk ke mobil. Begitu pintu tertutup, suasana langsung sunyi.

Beberapa menit mobil berjalan tanpa suara.Tiba-tiba Dira berbicara dengan nada kesal.

“Om sengaja ya datang ke sekolah.”

“Aku hanya menyelesaikan masalah.”

Dira memalingkan wajah ke jendela. “Aku nggak butuh diselamatkan.”

Elvan meliriknya sebentar. “Kamu hampir diserang kemarin.”

“Itu beda!”

Dira menoleh tajam.

“Yang aku marahin itu… soal nikah!”

Elvan tetap fokus ke jalan.

“Keputusan itu belum berubah.”

Dira langsung menepuk dashboard mobil.

“NAH KAN!”

Elvan menahan napas.

Dira kembali merajuk seperti anak kecil.

“Aku baru SMA! Masa disuruh nikah sama bos abangku sendiri. Kan gak lucu .”

Elvan tiba-tiba berkata pelan.

“Karena itu satu-satunya cara melindungimu.”

Dira mendengus.

“Alasan basi.”

Namun di dalam hati… sebenarnya ia juga bingung.

Kenapa Elvan terlihat begitu serius.

Selama perjalanan menuju kantor, Dira hanya melipat tangan sambil melihat keluar jendela.

Beberapa menit kemudian ia akhirnya bicara lagi.

“Aku masih marah.”

Elvan tetap fokus menyetir.

“Aku tahu.”

“Masalah nikah itu… aku belum setuju.”

“Aku juga tahu.”

Dira mendengus. Selalu saja dingin.

“Om nyebelin.”

Elvan menoleh sekilas.

“Kamu juga.”

Dira langsung menatapnya dengan mata membesar.

“Om berani bilang aku nyebelin?!”

Untuk pertama kalinya hari itu—Elvan tersenyum tipis.

***

Di kantor Bagaskara Group, Dira langsung duduk di sofa ruang kerja Elvan.

Ia mengambil camilan di meja tanpa izin.

“Kantor om dingin banget sih.”

Elvan duduk di kursinya. “Ini kantor.”

“Ya kan bisa dikasih bantal warna pink.”

Elvan menatapnya datar.

“Tidak.”

Dira menjulurkan lidah.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Kenzo masuk.

“Eh, kalian di sini.”

Dira langsung menunjuk Elvan.

“Bang! Bos kamu ini maksa bawa aku ke kantor!”

Kenzo hanya tertawa.

“Daripada kamu bikin masalah lagi di sekolah.”

Dira hendak membalas ketika seseorang muncul di pintu.

Albian. Ia terlihat sedikit terkejut melihat Dira di sana. Awalnya tadi ia hanya ingin mengantar berkas arsip.

“Dira… kamu di sini?”

Dira langsung tersenyum. “Albii!”

Elvan yang melihat itu langsung menegang sedikit.

Albian berjalan mendekat.

“Aku dengar kejadian di sekolah tadi.”

“Aku baik-baik aja kok.”

Albian menatap Elvan sebentar. Lalu kembali ke Dira.

“Kalau ada yang ganggu kamu lagi, bilang saja.”

Dira mengangguk ceria.

Elvan berdiri dari kursinya.“Aku sudah mengurusnya.”

Nada suaranya dingin.

Albian menatapnya balik. “Bagus.”

Ruangan tiba-tiba terasa canggung.

Kenzo yang melihat itu hanya menggeleng pelan.

“Kenapa rasanya seperti dua singa saling menatap?”

Dira malah sibuk makan biskuit.

“Enak banget ini.”

"Ada apa ?" tanya elvan menatap dingin albian.

" Nih.. Berkas arsip " meletakkan map berkas di atas meja elvan.

" Ya. Kamu boleh pergi " ekspresi nya tetap datar.

Suasana semakin menegang. Albian akhirnya berbalik pergi , Namun sebelum itu ia menoleh ke arah dira yang asik makan .Membuat elvan mendengus kesal.

***

Sementara itu…Di sebuah ruangan gelap di kota yang sama. Bara duduk santai di kursi kulit.

Di depannya ada beberapa foto di meja.

Foto Dira.

Foto Elvan.

Foto Kenzo.

Seorang pria berdiri di depannya.

“Bos, rencana kita gagal. Elvan datang ke sekolah.”

Bara tersenyum tipis.

“Aku sudah menduga itu, Keponakan ku sangat ceroboh ”

Ya. Vina adalah keponakan dari Bara sebastian.

Ia mengambil salah satu foto Dira.

“Gadis ini benar-benar penting bagi Elvan.”

Pria itu bertanya pelan.“Lalu rencana berikutnya?”

Bara tertawa kecil.

“Tenang.”

Ia berdiri dan berjalan menuju jendela. “Permainan tidak akan seru kalau terlalu cepat selesai.”

Matanya menyipit dingin.

“Biarkan mereka merasa aman dulu.”

Ia menatap foto Dira sekali lagi.

“Karena saat gadis itu mulai mengingat masa lalunya…”

Senyumnya berubah menyeramkan. “Semua akan hancur.”

***

Sore itu Dira masih berada di kantor Elvan. Ia bosan menunggu Kenzo yang sedang rapat.

“Lama banget sih, bosan ” gumamnya sambil berdiri dari sofa. Dira keluar dari ruangan Elvan dan berjalan ke lobby gedung.

Ia ingin membeli minuman di minimarket depan gedung.

Begitu keluar dari gedung, udara sore langsung menyambutnya. Dira berjalan santai sambil memainkan ponselnya.

Namun ia tidak sadar…

Sebuah mobil hitam berhenti pelan di dekat trotoar.

Dua pria turun dari mobil.

“Dia orangnya,” bisik salah satu dari mereka.

Dira baru menyadari ketika seseorang menarik lengannya.

“Heh! Apaan sih—”

Salah satu pria mencoba menyeretnya ke mobil.

Dira langsung panik.

“LEPASIN!”

Namun pria itu terlalu kuat.

Tiba-tiba—

BRAK!

Seseorang menarik Dira dengan keras menjauh dari mereka.

Elvan.

Wajahnya sangat dingin. Ia begitu panik saat tidak melihat dira dalam ruangannya .

Ia langsung meninju salah satu pria sampai jatuh.

Pria lainnya langsung mundur.

“Lari!”

Mereka masuk ke mobil dan kabur.

Dira masih shock.

“Om… Elvan…”

Elvan memegang bahunya.“Kamu tidak apa-apa?”

Dira masih terengah.

“Aku… hampir diculik?”

Elvan mengangguk pelan.

Tatapannya berubah tajam.“Ini pasti ulah Bara.”

Elvan membawa Dira kembali ke kantornya.

Begitu pintu ruangan tertutup, ia menatap Dira dengan serius.

“Mulai sekarang kamu tidak boleh keluar sendirian.”

Dira langsung mengerutkan kening.

“Hah? Tapi Kenapa?”

“Karena itu berbahaya.”

Dira melipat tangan. “Aku bukan anak kecil.”

Elvan mendekat sedikit.“Tadi kamu hampir diculik.”

Dira terdiam.

Namun sifat keras kepalanya muncul lagi.

“Ya tapi kan aku bisa lari.”

Elvan menghela napas panjang.“Kamu keras kepala sekali.”

Dira mendengus.“Om juga.”

Beberapa detik mereka saling menatap.

Elvan berkata pelan namun tegas.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”

Jantung Dira tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Ia langsung memalingkan wajah.

“Ih… ngomongnya suka aneh.”

Bersambung...........

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!