Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
usaha Sugeng
Melihat adiknya yang terdiam Sekar menjadi sedikit bersalah telah mengatakan itu.
"Sekali lagi maafin mbak sama Isna ya geng, ngga perlu di pikirin ucapan mbak tentang mimpi Isna kemarin. Mimpi itu cuma bunga tidur, Mbak yakin banget kamu ngga akan lakuin hal itu..." ujar Sekar.
"Iya mbak, mbak ngga perlu minta maaf, mbak nggak salah kok." Jawab Sugeng berusaha tenang.
"Emm... jadi kamu aja ya geng yang besok nemeni Isna beli hape.."
"Apa dia mau pergi sama aku mbak? Katanya dia takut sama mimpi itu, atau mungkin dia malu di boncengin sama aku mbak."
"Ngomong apa kamu to geng, ngga mungkin Isna malu di boncengin kamu mbak yakin dia cuma canggung aja, secara dia jarang gaul sama laki laki apalagi Sekolah SMEA itu kebanyakan murid perempuan. Kalau dia ngga mau ya udah aku aja yang beliin. Coba dulu aja Geng, biar hubungan kamu sama Isna harmonis gitu... setidaknya kamu udah berusaha akrab. Mbak juga ngga enak sama kamu geng, kalau anakku diemin kamu dan kesannya kayak takut sama kamu. Kurang akrab gitu kesannya."
Sugeng menghela nafas panjang dan berat...
"Aku nggak masalah dia takut atau diemin aku kayak mana mbak, aku adik kamu mbak... mau gimana pun modelannya dia aku tetap perduli dan berusaha bantu sebisa mungkin. Mbak ngga usah khawatir dia diemin aku, aku udah terbiasa sakit hati dari kecil. Aku cuma ngga mau kesannya aku baikin dia dengan beliin dia hape. Ya udah besok sore aku coba ajak dia."
***
Sore hari setelah adzan ashar Sugeng menyudahi kegiatannya mencetak batako. Ia segera mandi, sholat ashar dan berusaha mengajak Isna keluar.
Sugeng tak mendapati Isna berada di kamarnya, Sugeng pun berjalan ke belakang rumah dia melihat Isna sedang mengambil sepatunya yang sedang ia jemur di atas genting.
"Na, kamu udah mandi belum?" Tanya Sugeng berusaha basa basi.
Isna tampak terkejut, ia menatap Sugeng dan ekspresinya terlihat seolah menyimpan ketakutan.
Isna menjawab pertanyaan Sugeng dengan gelengan kepala.
"Mandi na, anterin Mas bentar."
"Kemana?"
Sugeng bingung ingin menjawab apa, "emm... ke pasar."
"Ini udah sore, pasar udah tutup lah."
"Bukan mau kepasarnya, ngg-- nggak bisa ya?"
Isna tak menjawab, ia nyelonong masuk sembari menenteng sepatunya.
"Sudahlah biar Mbak sekar aja yang beliin dia hape. Setidaknya aku udah berusaha akrab dengan dia, dan aku juga ngga punya niat buat perk*sa dia." Batin Sugeng.
Setelah memakai baju Sugeng segera menuju ke depan rumah... tepatnya ke warungnya yang kini sudah menjadi milik mbak Sekar.
"Aku udah mandi mbak, udah sore mbak mandi apa bantuin nenek masak sana. Abis itu anterin Isna beli hape."
"Di.. dia ngga mau sama kamu ya geng? Kamu udah ngajak belum?"
"Udah, kayaknya dia ngga mau. Dia ngga jawab, udah sana mbak aja ngga papa.. duitnya di laci kamar aku, masuk aja."
Sekar terdiam, ia merasa tak enak hati kepada adiknya atas sikap anaknya. Padahal adiknya berniat baik kepada anaknya.
Sekar masuk ke dalam rumah, menghampiri anaknya di dalam rumah.
"Na, kok kamu ngga mau nemenin pamanmu? kan ngga sibuk."
"Emang mau kemana sih Buk? Nggak bisa sendiri aja apa? Kenapa juga harus di temenin."
"Gak boleh gitu, na. Mungkin pamanmu pengin akrab sama kamu, apa pengin ngobrol sama kamu. Paling cuma jajan di luar."
Isna cuma menghela nafas panjang.
"Dia adik ibuk Na. Ibu udah ceritain tentang mimpi kamu sama dia, dia kayak kaget gitu, nggak nyangka mungkin kamu mimpi begituan.. kamu tenang aja pamanmu itu orangnya baik, nyatanya kamu selama ini lihat sendiri kan? Dia ngga berani macem macem sama kamu sama mbak. Kalau ngga ada nenek dia lebih milih nongkrong di luar. Kamu udah gede Na, seharusnya kamu ngerti masalah ini... Sugeng bukan orang lain, dia keluarga kamu juga. Kamu ngga usah takut."
"Aku ada janji mau ngerjain PR sama Tuti buk.. banyak tugas.." jawab Isna yang memang saat itu sedang memasukan beberapa buku ke dalam tas sekolah.
Sekar terdiam menatap anaknya sesaat.
"Tuti? Kamu udah punya temen di sini Na?"
Isna tak menjawab, ia kembali fokus memasukan alat tulis ke tasnya.
Sekar menghela nafas panjang, "mungkin PR yang di maksud Isna harus pake hape, makanya dia mau kerumah Tuti.. tapi siapa Tuti, nggak pernah aku denger di desa ini ada anak yang namanya Tuti." Sekar berusaha mencoba mengerti ia kemudian beranjak pergi ke dapur hendak membantu neneknya masak.
Sejenak Isna terdiam... tak di pungkiri dalam hatinya ia merasa sedikit bersalah. Selama ini menurut Isna Sugeng memang orang yang baik, namun entah mengapa Isna belum bisa percaya seratus persen terhadap Sugeng.
Isna menghela nafas panjang dan berdiri sembari menggendong tas sekolahnya. Ia memang tak berbohong, ia memang hendak mengerjakan tugas bersama temannya.
Sugeng hanya memandangi Isna yang berjalan menjauh sembari menggendong tas sekolahnya.
Sugeng menghisap rokoknya dalam dalam dan ia hembuskan secara perlahan.
Ia sama sekali tak bisa berkata kata pada saat ini. Rencananya yang hendak mendekati Isna kini sudah mentok dan tak ada jalan lagi.
Di dapur...
Sekar hendak membantu neneknya memasak, namun di cegah oleh neneknya.
"Udah matengan kok nduk, tinggal goreng lauk aja. Udah kamu mandi aja ngga papa." Ujar nenek Ratmi.
"Iya nek. Ya udah Sekar tinggal mandi ya nek."
Selesai mandi Sekar tak mengajak Isna pergi, ia masih sangat berharap Isna pergi bersama dengan adiknya.
Mendung kian menebal di sore hari itu... Sugeng merokok sembari menatap langit.
"Kok Isna tadi pergi sendirian ya? Mau kemana dia... terus kenapa Mbak Sekar nggak ngajak Isna beli hape?" Batin Sugeng ia beranjak dan bergegas ke dapur.
"Kok Isna keluar sendirian Mbak? Nggak jadi beli hapenya? Udah mau hujan kayaknya, item banget mendungnya."
"Emm... besok aja geng, Isna katanya mau ngerjain tugas sama temennya... Tuti namanya.."
Sugeng mengerutkan keningnya, ia sama sekali tak mengenali adanya gadis di desa ini yang bernama Tuti.
"Kayaknya nggak ada gadis di desa ini yang namanya Tuti.. apa itu cuma alasan Isna aja biar nggak di paksa pergi sama aku?" Batin Sugeng menduga duga.
"Ya udah mbak, mbak nunggu warung, kalau ujan tutup aja. Siapa juga yang mau beli kalau hujan, udah aku beli hapenya sendiri aja."
"Kok sendiri sih geng, mbak penginnya kamu pergi bareng sama Isna." Ucap Sekar lirih, ia benar benar berharap anaknya pergi dengan adiknya.
kalo bisa up nya jgn lama2 ya min