Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
TEKANAN YANG MENYERANG
Beberapa minggu berlalu, dan tekanan dari Amara semakin meningkat. Dia mulai datang ke kantor Rayyan dengan alasan untuk membicarakan "rencana bisnis" bersama Bapak Pratama, namun sebenarnya dia hanya ingin menunjukkan kehadirannya dan membuat Sea merasa tidak nyaman.
Suatu hari, Sea harus datang ke kantor Rayyan untuk memberitahukan bahwa ada acara khusus di TK yang perlu dihadiri oleh orang tua siswa. Ketika dia sampai di depan gedung kantor yang megah, dia melihat Amara sedang berdiri di lobi dengan mengenakan jas kerja yang elegan, sedang berbincang dengan beberapa karyawan dengan senyum yang ceria.
Sea mencoba untuk berlalu dengan diam-diam, tapi Amara melihatnya dan segera mendekatinya. "Apa kamu datang ke sini untuk mencari Rayyan? Kamu tahu kan bahwa kantor ini bukan tempat untuk orang seperti kamu. Kamu harus mengenal tempatmu, Sea."
Sea menatapnya dengan tatapan yang tegas. "Aku datang untuk urusan penting, Bu Amara. Dan saya punya hak untuk berada di sini karena saya adalah calon istri Rayyan."
"Calon istri?" tanya Amara dengan nada yang menyindir. "Belum ada yang pasti tentang itu. Bahkan kedua orang tua Rayyan saja masih berharap bahwa dia akan berpikir ulang dan memilih aku sebagai istri yang tepat."
Di saat itu, Rayyan keluar dari lift dan melihat mereka berdua. Dia segera mendekati mereka dan menarik Sea ke sisi dirinya. "Apa yang kamu lakukan di sini, Amara? Kamu tidak punya hak untuk berbicara dengan Sea seperti itu!"
"Aku hanya memberitahukan yang sebenarnya, Rayyan," jawab Amara dengan suara yang lembut namun penuh dengan makna. "Kamu tahu bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bisa membantu kamu mencapai kesuksesan dalam bisnis dan kehidupanmu. Sea hanya akan menghambatmu."
Rayyan merasa sangat marah, tapi dia tidak ingin membuat adegan di depan karyawan kantornya. Dia mengajak Sea pergi dari sana dan membawanya ke mobilnya. Di dalam mobil, Sea melihat ke arah Rayyan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa aku akan menghambatmu, Rayyan?" tanya dia dengan suara yang lemah.
Rayyan segera memeluknya erat. "Tidak, sayang! Jangan pernah berpikir seperti itu. Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku, dan tidak ada yang bisa mengubah itu. Amara hanya tidak bisa menerima bahwa aku telah memilihmu darinya."
Namun tekanan tidak hanya datang dari Amara. Beberapa hari kemudian, Ibu Pratama mengundang Sea untuk bertemu di rumahnya. Saat Sea tiba di rumah besar itu, dia merasa sangat canggung dengan dekorasi yang mewah dan orang-orang pelayan yang berjalan di sekitar rumah.
Ibu Pratama menyambutnya dengan tatapan yang dingin. "Kita perlu berbicara, Sea. Aku tahu bahwa kamu mencintai Rayyan, tapi kamu harus berpikir tentang masa depannya. Dia akan menjadi pemimpin perusahaan keluarga kita, dan dia membutuhkan istri yang bisa berdiri di sisinya dengan percaya diri dan bisa membantu dia dalam setiap hal."
" Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung Rayyan, Bu," jawab Sea dengan suara yang tegas namun sopan. "Aku mungkin tidak punya latar belakang yang sama dengan dia, tapi aku akan belajar dan berusaha menjadi istri yang baik untuknya."
Ibu Pratama menghela napas. "Itu baik sekali, tapi apakah itu cukup? Amara telah belajar tentang bisnis dan manajemen perusahaan. Dia tahu bagaimana cara bergaul dengan orang-orang penting dan bisa membantu Rayyan mengembangkan bisnis keluarga kita. Kamu hanya seorang guru TK yang berasal dari keluarga petani. Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa kamu bisa bersaing dengan itu?"
Sea merasa hatinya seperti tertusuk oleh kata-kata itu. Dia tahu bahwa Ibu Pratama hanya berpikir tentang kebaikan Rayyan, tapi kata-katanya tetap menyakitkan. Dia kembali ke rumah dengan hati yang berat dan menemukan Rayyan sedang menunggunya di halaman rumah.
"Bagaimana pertemuanmu dengan ibu?" tanya Rayyan dengan suara yang khawatir.
Sea hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menangis di pelukan Rayyan. "Aku khawatir, Rayyan. Aku khawatir bahwa aku tidak akan pernah cukup baik untukmu dan keluarga kamu."
Rayyan memeluknya erat dan mencium kepalanya. "Kamu sudah cukup baik, sayang. Jangan pernah meragukan itu. Aku tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan—kamu adalah satu-satunya wanita yang aku inginkan dalam hidupku."
KEMELUT YANG MEMBURUK
Amara melihat bahwa rencananya untuk membuat Sea merasa tidak nyaman mulai bekerja, tapi dia juga tahu bahwa dia perlu melakukan lebih banyak lagi untuk membuat Rayyan berpaling darinya. Dia memutuskan untuk menggunakan informasi yang dia dapatkan dari salah satu karyawan kantor Rayyan tentang proyek bisnis baru yang sedang dijalankan oleh keluarga Pratama—proyek pembangunan kompleks perumahan di daerah baru Malang.
Dia datang ke kantor Bapak Pratama dan memberikan proposal bisnis yang dia buat sendiri tentang cara mengembangkan proyek itu dengan lebih baik. "Saya telah melakukan riset menyeluruh tentang pasar perumahan di Malang, Bapak," ucapnya dengan penuh keyakinan. "Dengan menggunakan strategi yang saya sarankan, proyek ini bisa menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar dan menarik pembeli dari kalangan atas."
Bapak Pratama melihat proposal itu dengan seksama dan merasa terkesan. "Ini adalah proposal yang sangat baik, Amara. Kamu benar-benar memahami tentang bisnis ini. Jika Rayyan memiliki orang seperti kamu di sisinya, perusahaan kita akan semakin besar."
"Aku siap membantu Rayyan dalam setiap cara yang bisa kulakukan, Bapak," jawab Amara dengan senyum yang memenangkan hati. "Cukup beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku adalah istri yang tepat untuknya."
Bapak Pratama mengangguk dan memutuskan untuk mengajak Amara bergabung dalam tim pengelola proyek itu. Dia juga memanggil Rayyan untuk memberitahukannya tentang keputusannya.
"Aku tidak ingin bekerja dengan Amara, Bapak!" teriak Rayyan dengan marah saat dia mendengar berita itu. "Dia hanya ingin menggunakan proyek ini sebagai cara untuk mendekat padaku dan membuat Sea merasa tidak nyaman!"
"Kamu harus berpikir secara profesional, Rayyan," jawab Bapak Pratama dengan suara yang tegas. "Amara memiliki ide-ide yang bagus untuk proyek ini, dan dia bisa sangat membantu perusahaan kita. Jangan biarkan perasaanmu menghalangi kesuksesan bisnis keluarga kita."
Rayyan merasa sangat tertekan. Dia tidak bisa menolak perintah ayahnya, tapi dia juga tidak ingin membuat Sea merasa sakit hati. Saat dia pulang ke rumah dan memberi tahu Sea tentang hal itu, wajah Sea menjadi pucat.
"Jadi kamu akan bekerja dengan dia setiap hari?" tanya dia dengan suara yang gemetar.
"Sayang, aku tidak punya pilihan," jawab Rayyan dengan penuh rasa sakit hati. "Aku akan mencoba untuk menjaga jarak darinya dan memastikan bahwa dia tidak melakukan apa-apa yang bisa menyakitimu."
Namun Amara tidak berniat untuk menjaga jarak. Selama bekerja bersama dalam proyek itu, dia selalu mencari kesempatan untuk mendekati Rayyan dan menunjukkan betapa baiknya dia bisa bekerja dengan dia. Dia membawa makan siang untuk Rayyan setiap hari, membantu dia menyelesaikan laporan bisnis, dan bahkan mengajaknya untuk bertemu dengan klien penting bersama-sama.
Salah satu malam, setelah bekerja lembur bersama-sama, Amara mengajak Rayyan untuk minum kopi di kafe dekat kantor. "Kamu tahu kan, Rayyan," ucapnya dengan suara yang lembut saat mereka duduk di sudut kafe yang sunyi. "Kita bekerja sangat baik bersama-sama. Kita saling memahami dan bisa saling mendukung dalam setiap hal. Bukankah itu yang kamu inginkan dari seorang pasangan hidup?"
Rayyan melihatnya dengan tatapan yang dingin. "Aku sudah memiliki pasangan hidup yang aku inginkan, Amara. Dan itu adalah Sea. Kamu harus menerima itu dan berhenti mencoba untuk merusak hubungan kami."
"Bagaimana bisa aku menerima jika aku tahu bahwa kamu akan lebih bahagia denganku?"