persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Tentang Aroma Hujan yang Tertinggal dan Rahasia di Balik Loker
Rabu pagi biasanya adalah sisa dari kelelahan hari sebelumnya. Bandung pagi ini masih menyisakan aroma aspal basah, seolah-olah langit belum benar-benar selesai mencuci kota ini. Saya berangkat dengan seragam yang sedikit lembap karena jemuran tidak kering sempurna, tapi setidaknya Si Kumbang sudah kembali sehat setelah saya bersihkan karburatornya semalam sambil mengobrol dengan Ayah di garasi.
Saya berjalan melewati lorong sekolah yang masih sepi. Di barisan loker siswa, saya berhenti sejenak. Menjadi Bumi itu terkadang harus punya tempat untuk menyimpan rahasia, dan loker nomor 42 adalah tempat penyimpanan segala sesuatu yang tidak bisa saya tunjukkan di permukaan. Saya membukanya, berniat menaruh buku Astronomi Dara agar tidak berat dibawa ke kelas.
Namun, di dalam loker itu, ada sesuatu yang asing. Sebuah kotak kecil berwarna biru laut dengan pita perak di atasnya. Di sampingnya ada secarik kertas kecil tanpa nama pengirim.
Isinya: Makan ini kalau kamu masih merasa dingin karena hujan kemarin. Jangan sakit, karena tidak ada yang bisa menggantikan debat anehmu di kelas.
Saya mengernyitkan dahi. Bau kotak itu sangat akrab. Bukan bau toko kue seperti Kayla, tapi bau kayu cendana yang menenangkan. Saya tahu ini bukan dari Kayla. Kayla tidak akan memberikan sesuatu secara sembunyi-sembunyi kalau dia sedang merasa bersalah; dia biasanya akan langsung mencegat saya di gerbang sambil memasang wajah memelas.
Bumi? Ngapain di depan loker sepagi ini?
Suara Arkan memecah lamunan saya. Dia datang dengan tas kulit yang terlihat sangat mahal, rambutnya tertata rapi seperti baru saja keluar dari salon. Dia berdiri di sebelah saya, seolah ingin menunjukkan bahwa lokernya yang berada di nomor 44 juga lebih bersih daripada milik saya.
Bukan urusan kamu, Kan. Saya cuma lagi memastikan tidak ada tikus yang masuk ke wilayah saya, jawab saya sambil cepat-cepat memasukkan kotak itu ke dalam tas.
Arkan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat meremehkan. Tikus biasanya suka tempat yang kotor dan berantakan, Bumi. Mungkin kamu harus mulai merapikan hidupmu, bukan cuma lokermu. Oh iya, nanti pas jam istirahat, Kayla mau bawa bekal buat kita makan di ruang mading. Kamu kalau mau ikut boleh, tapi ya itu tadi... topiknya mungkin akan membosankan buat orang luar.
Saya menutup pintu loker dengan keras sampai bunyinya menggema di sepanjang koridor. Orang luar? Kamu baru dua bulan di sini, Kan. Kamu itu pendatang yang kebetulan punya motor merah. Jangan merasa seolah-olah kamu sudah memiliki peta seluruh wilayah di sini, kata saya sambil menatap matanya tajam.
Arkan tidak marah. Dia malah tersenyum menang. Pendatang yang cerdas bisa jadi penguasa lebih cepat daripada penghuni lama yang cuma bisa melamun, Bumi. Itu hukum alam.
Saya berjalan melewati dia tanpa membalas lagi. Berdebat dengan Arkan itu seperti mencoba menjelaskan warna pada orang yang sengaja memejamkan mata; percuma.
Di kelas, bangku depan saya terasa sangat panas. Pak Danu, guru Matematika, sudah berdiri di sana dengan penggaris panjangnya. Di belakang saya, saya bisa merasakan kehadiran Kayla. Dia duduk sangat dekat dengan Arkan sekarang. Kursi mereka hampir menempel.
Bumi, panggil Kayla pelan dari belakang saat Pak Danu sedang menulis soal di papan tulis.
Saya tidak menoleh. Saya tetap fokus pada buku catatan saya.
Bumi, dengerin dulu. Aku beneran minta maaf soal kemarin. Aku gak tahu kalau Arkan bakal bilang mobilnya sempit, bisik Kayla lagi.
Saya menulis angka-angka di buku saya tanpa henti. Tidak apa-apa, Kay. Saya lebih suka naik motor. Anginnya lebih jujur daripada AC mobil, jawab saya tanpa merubah posisi duduk.
Kayla terdiam sebentar. Kamu kok sekarang ketus banget sih? Aku salah apa lagi?
Kesalahan terbesar kamu adalah merasa kalau semua hal harus kembali seperti semula hanya dengan kata maaf, Kay. Padahal ada hal-hal yang kalau sudah retak, bentuknya tidak akan pernah sama lagi, kata saya pelan namun tegas.
Tiba-tiba, sebuah kertas kecil jatuh ke meja saya dari arah samping. Itu dari Dara.
Jangan menoleh ke belakang kalau tidak mau lehermu pegal. Fokus ke variabel X, siapa tahu kamu bisa menemukan jawaban kenapa manusia suka sekali mempersulit variabel perasaan.
Saya tersenyum tipis melihat tulisan Dara. Dia selalu punya cara untuk menarik saya kembali ke bumi saat saya sedang melayang dalam kemarahan.
Istirahat tiba. Seperti yang Arkan katakan, Kayla benar-benar mengeluarkan kotak bekal yang cukup besar. Isinya nasi goreng dengan hiasan telur yang dibentuk hati. Saya melihatnya sekilas saat hendak keluar kelas bersama Dara.
Bumi, beneran tidak mau bareng? Kayla menawarkan lagi, suaranya terdengar penuh harapan.
Sudah kenyang, Kay. Kenyang sama kenyataan, jawab saya singkat sambil berjalan menuju taman sekolah bersama Dara.
Di bawah pohon rindang, saya mengeluarkan kotak biru dari loker tadi. Dara memperhatikannya dengan mata yang sedikit mengecil.
Dapat kiriman dari penggemar rahasia? tanya Dara sambil membuka kotak bekalnya sendiri yang berisi roti gandum.
Saya tidak tahu. Ada di loker tadi pagi, kata saya sambil membuka kotak itu. Isinya adalah cokelat hitam buatan rumahan dan sebuah gantungan kunci berbentuk bintang kecil.
Makan saja. Cokelat hitam bagus untuk menstabilkan hormon yang berantakan karena cemburu, kata Dara datar.
Saya mengambil sepotong cokelat itu. Rasanya pahit, tapi lama-lama ada rasa manis yang tertinggal di lidah. Enak sekali.
Dara, kamu tahu siapa yang taruh ini? tanya saya curiga.
Dara mengangkat bahu. Di sekolah ini ada ratusan siswa. Mungkin salah satu dari mereka kasihan melihat Bumi yang sedang diabaikan mataharinya.
Saya menatap bintang kecil di tangan saya. Gantungan kunci itu sederhana, tapi terasa sangat padat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, saya tidak memikirkan Kayla yang sedang tertawa bersama Arkan di ruang mading. Saya malah memikirkan siapa orang yang repot-repot membuatkan cokelat ini untuk saya.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa saat satu pintu tertutup karena kuncinya dibawa orang lain, semesta seringkali meninggalkan jendela yang terbuka di tempat yang tidak terduga. Saya tidak tahu siapa pengirim cokelat ini, tapi rasanya pahitnya jauh lebih jujur daripada janji-janji manis yang sering saya dengar sebelumnya.
saya yang menyimpan bintang kecil itu di saku seragam, tepat di atas jantung saya, menyadari bahwa mungkin orbit saya mulai bergeser ke arah konstelasi yang baru.