NovelToon NovelToon
Guru ABK Dikejar 2 Duda

Guru ABK Dikejar 2 Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duda / CEO
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terapi Ketiga

“Enak kan baso yang kemaren?” tanya Baskara.

“Hhmm... enak, Mas. Terima kasih ya. Inget aja ama anak buahnya yang keren ini.” 

Baskara tersenyum. Ia memegang setir dengan penuh semangat, karena celoteh tetangga lucunya.

Yang tidak Baskara ketahui adalah Aditi tidak sepenuhnya jujur. Kemarin saat makan siang bersama terapis yang lain, Aditi memilih menu bakso. 

Ketika Baskara memberinya sebungkus bakso, ia mengatakan akan memakannya di rumah dengan alasan sudah kenyang. Di rumah, yang memakan bakso itu, Indri.

Bukannya tidak menghargai Baskara, tapi ada perasaan takut di benak Aditi ketika hendak memakannya. Tiba-tiba, Aditi khawatir ususnya benjol karena makan bakso terlalu sering.

Doktrin konyol Sagara mulai merasuk ke alam bawah sadar Aditi. Aditi mencebik mengingat hal itu.

Bisa-bisa si somse joget kegirangan tau gue nggak makan baso dari Mas Bas, gara-gara takut usus benjol.

Somse rese, kemaren nggak ada tapi malah ganggu di otak. Keingetan terus.

Indri memakan bakso itu dengan lahap. Jadi dapat disimpulkan kalau bakso dari Baskara itu enak. Artinya, Aditi tidak berbohong pada Baskara, bukan?

*

*

“Halo Kak Ti, Kavi kangen nih, padahal cuma nggak ketemu sehari aja.” Suara bariton Sagara terdengar riang menyapa.

Aditi mencebikkan bibir. Dih, si somse masa iya si Kavi udah bisa nunjukin kangen ama gue. Dia kali yang kangen, hehehe...

“Masa? Bapak bikin-bikin aja itu sih?”

“Iya, Diti... Tuh, Kavi lagi liatin kamu aja kan.”

“Ya Allah, gara-gara Bapak, saya belum sapa Kavi.” Sagara terkekeh mendengar gerutu Aditi.

Aditi berlutut untuk menyamakan posisinya dengan Kavi. Ia menyapa dengan ritme andalannya. Kavi menatapnya lama.

Sagara ikut berlutut. Ia ingin melihat interaksi antara Aditi dan Kavi. Dua orang yang kini menempati urutan teratas dalam hatinya.

Kavi menekan hidung Aditi, kemudian memeluknya. Aditi balas memeluk Kavi, erat. Ia hingga memejamkan mata untuk meresapi kedamaian memeluk anak istimewa itu.

Sagara tersenyum. Ada rasa haru menyeruak melihat putranya bisa mengekspresikan rasa rindunya. Hatinya menghangat.

Tekadnya untuk memiliki Aditi semakin kuat. Ia tidak peduli apa kata Baskara dan Suci. Mereka tidak berada di posisinya. Mereka tidak mengerti apa yang ia rasakan.

Kavi memposisikan dirinya digendong oleh Aditi. Terapis baru itu menggendongnya kemudian membawanya ke sofa. Kavi masih menempel saat di pangkuan Aditi.

“Saya nggak bohong kan? Kavi kangen kamu. Kamu harus dihukum karna nuduh saya jelek,” ucap Sagara sambil menyusul duduk di sofa, di samping Aditi.

“Dih, aturan dari mana? Hukumannya emang apaan? Kalo traktir, saya nggak ada duit.” Aditi kembali terlihat merengut.

“Hukumannya bukan berupa duit. Jadi kamu pilih, mau saya peluk kamu kayak Kavi atau kamu yang meluk saya. Gimana?” Sagara menaik-turunkan alisnya.

“Ih Bapak, apaan sih? Kavi, jangan temenin Papa, modus! Genit!”

Sagara tergelak. Kavi menatap lama Aditi yang sedang bersungut-sungut. Ia tekan bibir Aditi yang sedang mencibir.

Sagara terbahak. Aditi pun ikut larut dalam tawa. Kavi menatap lama kemudian senyum tipis, sangat tipis, terbit dari bibir mungilnya. 

Sagara dan Aditi terdiam, saling berpandangan, kemudian tersenyum. Aditi memuji Kavi karena telah tersenyum. Ia peluk erat Kavi dan mencium dahi anak itu.

Hati Sagara semakin hangat. Ia memandangi Aditi, sang penyelamat harapan hidupnya.

Baskara dan Suci masuk ke dalam ruangan. Baskara menipiskan bibir melihat pemandangan di sofa. 

Kavi begitu lekat di pangkuan Aditi. Sagara terduduk di samping Aditi hampir tak berjarak. Tangan lelaki itu terulur di atas kepala sofa. Seakan-akan hendak merengkuh Aditi.

“Diti, aku sama Suci nggak bisa dampingin kamu terapi ya. Kita masih harus survei lagi ke sekolah inklusi. 

Yaa, gini deh kalau mau akhir tahun. Ada Martha nanti yang bantu evaluasi.”

Aditi menganggukkan kepala pada Baskara. “OK, Mas.” 

Aditi juga tersenyum pada Suci. Sang supervisor hanya menatap datar.

“Gar, tinggal dulu ya,” pamit Baskara. Sagara mengangguk.

Baskara dan Suci menyapa Kavi dengan menyentuh pundak anak itu sebelum mereka berangkat. Kavi merespons, menatap mereka sejenak sebelum kembali bersandar di dada Aditi.

Keempat orang dewasa di ruangan itu tersenyum melihat kemajuan Kavi. Mereka semua optimis pada kondisi Kavi.

Masih ada 15 menit menuju jam terapi. Sagara masih ingin menghabiskan waktu dengan menggoda terapisnya.

“Kavi enak ya, bisa nyender di itu kamu.” Sagara memandang ke arah kepala Kavi.

“Bapak mau?” tanya Aditi.

“Boleh Dit?” Sagara membuka matanya lebih lebar.

“Mau saya gebukin maksudnya. Ih, modus. Males deh.” Aditi mencibir.

“Hehehe... soalnya bukan cuma Kavi yang kangen. Papanya juga, jadi ngaco deh.”

Etdah, kesurupan apa gimana si somse? Aduh, kenapa sih jadi gini dia? Naksir ama guenya serius ya? Somseee, kayak biasa ajaaa jangan kayak gini, huhuhu...

“Pak, udah ah. Becanda mulu. Cape nih... Ngantuk tau.”

Sagara terkekeh. “Kenapa ngantuk? Tugas dari Suci masih banyak?” Aditi mengangguk, merespons pertanyaan Sagara.

“Terima kasih ya Diti, udah mau berjuang keras buat Kavi. Saya bener-bener utang budi sama kamu.”

Sagara tersenyum pada Aditi, yang dibalas senyum juga oleh wanita muda itu.

“Boleh Pak, utangnya diuangin. Bokek nih, belum gajian.”

Sagara tergelak. “Kavi, kasian banget kamu punya terapis model gini.” Aditi mengulum senyum mendengar ucapan Sagara.

Lima menit menjelang terapi, mereka bertiga turun menuju lantai 2. Kavi berjalan digandeng oleh Sagara dan Aditi, bersamaan di kanan dan kiri.

Sebelum memasuki ruangan terapi, Sagara kembali berlutut. Ia remas pelan lengan Kavi. Ia kecup dahi putranya. Ia berdoa dan meniup ubun-ubun kepala Kavi.

Aditi tersenyum melihat pemandangan yang begitu manis antara ayah dan anak. Terlebih ini adalah anak istimewa.

Netra Sagara dan Aditi tak sengaja saling beradu saat terapi akan dimulai. Sagara tersenyum, Aditi menjulurkan lidah. Sagara terkekeh.

Sagara dan Martha kini berada di balik kaca satu arah. Memperhatikan jalannya terapi ketiga Kavi.

Aditi duduk bersimpuh bersama Kavi di matras. Seperti biasa, Aditi melakukan joint attention dengan bola berwarna. 

Kavi langsung lancar tanpa kendala menjalaninya. Aditi memuji Kavi.

Aditi memberikan stimulasi yang sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Repetisi dan konsistensi adalah kunci keberhasilan terapi.

Pada saat tactile stimulation menggunakan beras. Reaksi Kavi kini semakin tenang saat tekstur beras yang biasanya mengganggu, menyelimuti tangan kecilnya. 

Tak ada wajah meringis atau keinginan menarik tangannya. Kavi mulai menikmatinya. Aditi kembali memberikan pujian.

Stimulasi kedua, berupa fine motoric dengan menggunakan jepitan jemuran. Sama seperti terapi terakhir, Kavi diminta Aditi memasang jepitan sebanyak lima buah. 

Empat dibantu sang terapis, satu Kavi memasangnya sendiri. Ia juga berhasil. Masih miring dan tak terpasang sempurna. 

Tetap dihitung berhasil. Aditi kembali memuji Kavi. Bahkan ia mencium dahi anak itu.

Senyum Sagara mengembang sempurna di balik kaca. Kebanggaan menyelimuti hatinya. Putranya begitu tenang dan berhasil menjalankan instruksi yang diberikan kepadanya.

Aditi memposisikan diri berhadapan dengan Kavi di stimulasi yang terakhir. Di stimulasi sebelumnya, ia ada di belakang Kavi.

Dengan ritme andalannya, Aditi memberi tahu bahwa mereka akan bermain meniru. Stimulasi imitasi motorik. Kavi menatap Aditi.

"Kavi, lihat Kak Ti," ucap Aditi tegas namun lembut. Ia mulai membiasakan bicara tanpa ritme. Selang-seling.

"Kavi, lakukan ini!" Aditi menaruh kedua telapak tangannya di atas kepala, seperti membentuk kerucut.

Kavi terdiam. Hanya menatap Aditi.

Satu detik... dua detik... tiga detik... 

Sagara menahan napasnya. Ia berbisik, “Ayo sayang, kamu bisa. Ayo nak...”

"Ayo Kavi sayang, lakukan ini," ulang Aditi.

Tangan kanan Kavi perlahan terangkat. Gerakannya kaku dan ragu. Tangan kirinya menyusul. Sama seperti sebelumnya, kaku dan ragu.

Meski posisinya tidak sempurna, hanya sampai di samping telinga, tapi ujung jari-jarinya berhasil menyentuh rambut. Aditi langsung memujinya.

"Pinter! Bagus sekali, Kavi bisa ikuti Kak Ti." Aditi memberikan tepukan ringan di bahu Kavi.

Aditi mengulangi instruksi itu sampai tiga kali. Kavi mulai bisa mendekati sempurna. Aditi merasa terapi kali ini cukup. Ia tak mau Kavi mengalami kelebihan stimulasi.

Aditi memberi isyarat selesai pada Martha dan Sagara. Martha pamit pada Sagara untuk melanjutkan aktivitas lain. Sagara menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih.

Sagara gegas memasuki ruang terapi. Kavi sedang bersandar manja pada Aditi. Sagara meremas pelan bahu anaknya.

“Ke atas yuk,” ajak Sagara. Aditi mengangguk. Mereka kembali bergandengan bertiga menuju ruangan Baskara.

Aditi memberikan Kavi minum dan cemilan berupa biskuit beras yang ada di tas anak itu. Ia melakukan itu tanpa bertanya pada Sagara.

Sagara tersenyum melihat Aditi sudah tak sungkan dan begitu luwes dalam mengurus Kavi. Kecantikan Aditi meningkat 1000% hari ini di mata Sagara. Ia tak henti memandangi sang terapis.

“Utangnya Bapak nambah, soalnya udah ngerampok pandang saya. Bukan cuma nyuri-nyuri,” cetus Aditi. 

Sagara tertawa. “Salah saya bilang utang ya, jadinya ditagih terus. Siap, nambah berapa kalau liatnya nggak berenti-berenti?”

Aditi mengulum senyum. “DP dulu sebulan gaji.”

Sagara kembali tergelak. “Kecil itu sih.”

Ih, gue salting ini. Ngapain sih somse ngeliatin mulu? Mana soft spoken dari tadi. Tidaaak, kembalikan si somse ke setelan pabrik, huhuhu...

Aditi mencebik. Ia mengecek apakah Kavi sudah selesai. Kavi telah selesai. Ia menunjuk minum, Aditi memberikannya. 

Kavi mengulurkan tangan, meminta naik ke pangkuan Aditi. Ia langsung bersandar ke dada Aditi. Matanya nampak layu. Tak lama ia tertidur.

Sagara mempersiapkan bantal untuk anaknya tidur. Setelah lima menit, Aditi menempatkan Kavi ke bantal itu. Ia elus dan cium dahi sang anak istimewa.

“Diti, terima kasih ya untuk hari ini.” Sagara duduk di bangku di depan meja kerja Baskara.

“Iya Bapak. Sama-sama.”

“Kamu mau ngerjain tugas dari Suci?”

“Iya, ketebak banget ya? Hehehe...” Aditi duduk di ujung sofa, di dekat kaki Kavi. Ia mulai fokus pada ponselnya.

Sebuah kotak tiba-tiba menghalangi pandangan Aditi ke layar ponselnya. Sagara berdiri di depan Aditi. Ia pelakunya.

“Ini buat kamu. Bukan saya pinjemin. Ini baru, saya beliin buat kamu. Saya udah ukur, muat di tas kamu. Jadi bisa dipake mobile.”

Aditi menganga mendengar ucapan Sagara. “Bapak kasih saya tablet?”

Sagara mengangguk. “Biar kamu nyaman ngerjain tugas dari Suci. Kalau nggak diterima, saya bakal nyuruh Suci nambahin tugas kamu.”

Aaaa, kembaliin somse gue yang duluu. Yang ini bikin takuut. Takut gue baper. Ayaaahhh, boleh nggak Diti baper? Diti nggak kuat ini. Jangan marah, huhuhu...

1
Tukang Ngunyah
ceritanya menarik buat betah baca
Inna Kurnia: Terima kasih Kak. Semoga cocok sampai tamat ya 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
nyimak moga bagus ampe ending
Inna Kurnia: terima kasih Kakak Falea. semoga cocok sampe tamat yaa 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!