💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 : Pesona yang tak bisa dihindari.
Tepat pukul dua siang, Viona sudah berada di lobi seperti yang diperintahkan. Tangannya menggenggam erat tali tas kerjanya, sambil sering-sering melihat ke arah pintu lift. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dengan Arsen yang muncul dan melangkah ke arahnya.
"Dimana temanmu? Biar kita mengantarnya pulang sekalian," tanya Arsen.
"Dia sudah pulang duluan, katanya tidak enak jika harus pulang bersama dengan Paman." Viona menghela napas, "Besok-besok sebaiknya aku juga berangkat dan pulang sendiri saja, rasanya tidak enak dilihatin oleh karyawan Paman yang lain seperti ini,"
Arsen menoleh ke sekelilingnya, dimana beberapa karyawannya yang ada disana diam-diam sedang memperhatikan ke arah mereka. "Tidak perlu memperdulikan mereka, mulai besok kamu dan temanmu bisa naik mobil jemputan khusus dari kantor. Lebih baik sekarang kita pulang, ayo."
Viona mengikuti langkah Arsen, begitu mereka keluar dari pintu utama, mobil Arsen sudah ada didepan dengan asisten Ferry yang sudah berdiri di sisi mobil. Arsen membuka pintu samping kemudi dan menyuruh Viona untuk masuk.
Setelah Viona masuk, Arsen menutup pintu mobil kembali dan menoleh pada Ferry. "Catat data karyawan yang tidak memiliki kendaraan sendiri, siapkan mobil khusus untuk mengantar jemput mereka mulai besok."
Arsen menatap sejenak pada Viona yang sudah duduk santai di dalam mobil, "Dan khusus untuk dia dan temannya, siapkan kendaraan sendiri."
Ferry mengangguk paham, "Baik, Tuan. Akan saya kerjakan hari ini juga."
Setelah memberikan instruksi kepada Ferry, Arsen berjalan mengitari mobil dan membuka pintu sebelah penumpang. Dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya kembali. Perlahan mobil mulai melaju meninggalkan halaman kantor.
"Apa yang barusan Paman bisik-bisikan dengan bawahan Paman itu?" tanya Viona penasaran.
"Apa kamu begitu ingin tahu urusan pria?" tanyanya sambil tetap menjaga fokus pada jalanan didepannya.
"Tidak, bukan begitu, Paman..." ucapnya cepat dengan sebuah senyuman yang dipaksakan, "Aku hanya sedikit penasaran saja,"
Viona menghembuskan napas panjang, senyuman yang terpaksa itu seketika hilang dari wajahnya. Pandangannya menatap lurus kedepan, seolah ada sesuatu yang menganggu dibenaknya.
"Menurut Paman, Farel itu bagaimana?" tanya Viona tiba-tiba yang membuat Arsen menoleh ke arahnya. "Meskipun sudah bertunangan dengannya, aku masih belum bisa memahami karakternya,"
Arsen mengerutkan alisnya sejenak, "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Aku hanya merasa..." Viona menundukkan pandangannya, ingatannya terlempar pada kejadian kemarin saat Farel mengajaknya bertemu dengan teman-temannya, "Dia menjadi orang yang berbeda saat sudah bersama dengan teman-temannya. Dan jujur aku tidak suka jika Farel berteman dengan mereka,"
Arsen mengangguk kecil, merasa belum waktunya untuk memberitahukan semuanya, "Seiring berjalannya waktu, kamu akan bisa memahami sendiri seperti apa karakternya,"
Viona mengangguk pelan, wajahnya masih menunjukkan rasa ragu yang tidak bisa disembunyikan. "Semoga saja begitu, Paman," ucapnya dengan suara pelan, lalu menoleh ke arah Arsen dengan senyuman yang kembali hadir diwajahnya. "Apa Paman sudah punya pacar?"
"Kenapa memang?" tanya Arsen balik.
Viona menggeleng pelan, "Tidak apa-apa sih Paman, aku cuma penasaran saja. Paman ini kan sudah tua, apa tidak ada satupun wanita yang nyangkut dihati Paman,"
Arsen mengernyitkan keningnya, lalu menyunggingkan senyum tipis diwajahnya, "Tua? Apa menurutmu aku sudah setua itu?"
"Tidak juga sih," Viona tersenyum lembut, "Tapi, apakah ada seseorang yang paman sukai? Tidak mungkin tidak pernah ada kan?"
"Bukan karena tidak pernah ada, mungkin belum menemukan orang yang tepat saja." Dia menoleh sebentar ke arah Viona dengan senyuman hangat. "Lagipula ada banyak pekerjaan yang harus aku perhatikan, terutama setelah aku mengelola perusahaan sendiri. Terkadang waktu dan kesempatan tidak pernah bertepatan, Viona."
Viona mengangguk-anggukkan kepalanya dan tak lagi bertanya. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, beberapa kali dia mencuri-curi pandang pada Arsen yang tengah fokus menyetir. Matanya menjelajahi setiap detail wajah pria yang duduk disampingnya itu dari arah samping. Mata yang tajam namun selalu penuh perhatian setiap kali melihatnya, alis yang terkadang mengerut ketika sedang memikirkan sesuatu yang penting, dan bibir yang jarang tersenyum namun selalu memberikan rasa nyaman saat dia melakukannya.
Viona memalingkan wajahnya cepat ke arah jendela mobil saat merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, kedua tangannya menggenggam erat ujung rok yang dia kenakan.
"Ada apa denganku? Tidak mungkinkan aku tergoda dengan paman dari tunanganku sendiri?"
-
-
-
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Viona belum juga bisa menutup matanya. Pikirannya terus tertuju pada Arsen, ada sesuatu dalam sosok pria yang dianggapnya sebagai paman, sesuatu yang membuat hatinya sedikit tergerak. Rasa aman yang dia rasakan setiap kali berada di dekat Arsen, berbeda dengan ketika bersama Farel yang terkadang membuatnya merasa tidak nyaman.
Viona menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang hanya diterangi oleh cahaya dari lampu hias diatas meja. Tangan kirinya terangkat tinggi, jari-jarinya sedikit menggenggam saat matanya terpaku pada cincin pertunangannya dengan Farel. Awalnya, cincin itu membuatnya merasa bahagia, namun kini terasa seperti beban yang mengikat.
"Aku harus berhenti berpikir seperti ini," bisik Viona dengan suara pelan dan menurunkan tangannya kembali. "Farel adalah tunanganku, dia yang akan menjadi suamiku nanti. Sedangkan Paman Arsen... dia hanya orang yang aku hormati di rumah ini sebagai keluarga Farel."
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari luar pintu kamar, membuat Viona terkejut. Dia langsung duduk tegak di atas ranjang dengan tatapan sedikit bingung. Viona menoleh ke arah jam weker yang terletak di atas nakas, jarum jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Sudah sangat larut malam.
"Siapa yang mengetuk pintu jam segini?" pikirnya, jantungnya mulai berdebar kencang. Semua anggota keluarga harusnya sudah tidur.
Dengan ragu, Viona menurunkan kakinya dari ranjang hingga ujung kakinya menyentuh karpet tebal yang menghangatkan kulitnya. Dia berjalan perlahan ke arah pintu, saat membuka kunci dan menarik gagang pintu perlahan, Viona terkejut melihat sosok Farel yang sudah berdiri di depan sana.
"Farel, kamu---" ucap Viona dengan nada sedikit terengah-engah, masih merasa terkejut dengan kedatangan Farel yang tiba-tiba.
"Ayo ikut ke kamarku sekarang," ajak Farel dengan nada yang tegas namun tetap lembut. Tanpa memberi kesempatan Viona untuk melanjutkan ucapannya, dia dengan cepat meraih tangan kanan Viona dan menarik tubuhnya keluar dari kamar.
Setelah menutup pintu kamar Viona kembali, Farel membimbingnya dengan langkah tergesa-gesa. Viona beberapa kali mencoba bertanya, namun Farel hanya diam dan terus mengarahkan langkahnya tanpa menjawab, membuat rasa cemas di dalam diri Viona semakin membesar.
Begitu memasuki kamar Farel yang terletak di dekat tangga utama, Farel langsung menutup pintunya kembali dengan rapat. Tanpa mengatakan sepatah katapun, dia membawa Viona ke arah sofa besar yang ada di sudut kamar, tangannya masih menggenggam erat tangan Viona.
"Rel, kamu ngapain ngajak aku ke kamar kamu? Ini sudah tengah malam, Rel." Viona menatap ke sekeliling, napasnya mulai terdengar berat dan tidak teratur karena rasa panik yang semakin menguasainya.
"Hari ini kamu pergi bersama dengan paman Arsen, dia tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu kan?" tanya Farel dengan nada yang lebih tenang, namun tetap penuh dengan kekhawatiran dan rasa cemburu yang jelas. "Besok aku akan membujuk kakek supaya kamu keluar dari perusahaan paman dan berkerja di perusahaan papa saja bersamaku."
"Tidak bisa begitu, Rel. Lagipula paman Arsen sangat baik padaku, jadi kamu jangan curiga yang macam-macam." ucap Viona, merasa sikap Farel terlalu berlebihan.
"Aku sudah capek, Rel. Aku akan kembali ke kamarku sekarang, kita bisa membicarakan ini lagi besok," lanjutnya, menarik tangannya dari genggaman Farel lalu berjalan menuju ke arah pintu.
Namun sebelum langkahnya mencapai pintu, tangan Farel sudah lebih cepat meraih lengannya dan menariknya kembali ke arah dirinya. Tubuh mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, napas Farel terasa hangat menyentuh wajah Viona.
"Jangan pergi dulu, Vio..." ucap Farel dengan suara yang lebih lembut, matanya menatap bibir Viona dengan intensitas yang membuatnya tertegun. Tanpa memberi kesempatan untuk merespon, dia perlahan mendekatkan wajahnya, ingin menyatukan bibir mereka dalam ciuman.
-
-
-
Bersambung...