Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Kematian Ibu
Vera membeku di tempat ketika melihat sebujur tubuh yang selama ini sangat dia sayangi dan selama ini hanya wanita itu yang membela dia ketika sedang bertengkar dengan Pak Darto, kini dia sudah tidak memiliki wanita yang biasa dia panggil dengan sebutan Ibu, Isak tangis memenuhi seluruh ruangan yang sangat besar ini.
Gadis berambut pirang ini hanya terdiam dengan tatapan kosong dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa Bu Elma akan meninggal dengan sangat singkat seperti ini, pada selama ini dia tahu bahwa sang Ibu tidak memiliki penyakit berat dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung namun Kenapa mendadak saja sekarang justru meninggal dunia.
Beribu pertanyaan muncul di kepala gadis ini namun sampai saat ini dia belum bertanya kepada semua orang yang ada di sana karena dia masih tenggelam dalam kesedihan yang begitu besar, Bu Elma adalah sosok yang sangat dia cintai walau Bu Elma bukan ibu kandung dari Vera itu sendiri.
Namun hubungan mereka sudah sangat dekat dan selama ini Bu Elma yang selalu membela ketika Vera sedang bermasalah dengan Pak Darto, sekarang justru wanita itu telah tiada sehingga membuat hati Vera hancur berantakan dan tidak tahu harus bagaimana untuk menata ulang hidup ini ketika nanti semua sudah berlalu dan pasti dia akan bertengkar lagi dengan Pak Darto.
Kini tangan yang biasa membelai kepala Vera dengan penuh kasih sayang tapi sudah kaku dan pucat pasi, semua yang ada di sana menangis dan bahkan sebagian mulai menatap Vera dengan tatapan tajam karena menganggap bahwa Vera tidak pernah pulang karena tidak tahu balas budi kepada Bu Elma.
Gadis ini memang tidak memiliki nama baik dalam keluarga Karena dia selalu bertentangan dengan Pak Darto dan semua keluarga menganggap bahwa yang durhaka adalah Vera, tidak pernah Mereka bertanya bila saat ada masalah dan justru akan terus menyalahkan tanpa memandang bagaimana kejadian itu bisa terjadi di antara mereka semua.
Yang paling membuat Vera merasa kehilangan adalah ketika dia harus merasakan kesedihan seperti ini, mana dia juga sempat mengingat ketika Bu Elma mengatakan untuk segera pulang dan memperbaiki hubungan yang sudah hancur berantakan ini namun Vera saat itu masih sempat menolak karena dia tidak ingin bertengkar lagi.
Sebab bila sudah pulang ke rumah maka pasti dia akan bertengkar dengan Darto, Ayah kandung dia sendiri dan selama ini memang mereka terus saja bertentangan seperti itu karena Vera yang membela Bu Elma ketika sedang di KDRT oleh Darto sehingga pria itu merasa sangat kesal dengan tindakan Vera yang selalu ikut campur.
"Kita akan segera memandikan almarhum." Bu Rina sebagai pemandi mayat membuka suara.
"Saya juga ikut memandikan ya, Bude!" pinta Arum anak paling bungsu.
"Iya, semua anak-anak ikut memandikan biar bisa menjadi kenangan akhir." Bu Rina setuju.
"Kau sana ikut memandikan juga karena kau harus membalas Budi kepada Elma." sengit Bu Nur.
"Iya, selama ini Elma selalu menyayangi dirimu seperti anak kandung dia sendiri tapi kau yang tidak tahu cara balas budi." sentak Erna adik dari Elma.
"Jangan di ungkit lagi masalah yang sudah berlalu mari kita membicarakan hal baik saja di depan almarhum." Bu Rina tidak ingin bila mereka bertengkar saat ini.
"Anak seperti dia kalau tidak diberi peringatan mana tahu mana yang salah dan yang benar, pikiran dia selama ini selalu saja mengatakan bahwa dia yang paling benar!" Erna berkata dengan suara pedas.
"Lalu menurut dirimu Ibu meninggal dunia karena salah aku juga?" Vera sudah berdiri dan menatap Erna dengan begitu tajam.
Erna ingin menjawab namun detik kemudian dia kembali bungkam karena melihat wajah Vera yang sudah begitu tegang dan juga penuh dengan emosi besar, iya tahu bahwa gadis ini agak gila dan gila sudah mengambil tindakan maka yang ada nanti dia akan babak belur di hajar oleh Vera, dari pada itu sampai terjadi maka lebih baik dia menutup mulut.
"Tidak ada yang salah, ini semua sudah ajal dari yang maha kuasa!" Darto membuka suara dengan bariton yang begitu keras.
"Dia ini selalu saja membuat masalah kalau sudah ada di rumah!" Erna menggeram kesal dan dia segera pergi menuju arah belakang.
"Tolong ingat bahwa saat ini kita sedang berduka dan aku tidak menerima masalah." Darto menatap Vera dengan begitu tajam.
"Jangan memarahi Kak Vera seperti itu karena dia juga tidak bersalah." Arum membela Vera karena dia memang selama ini sangat dekat.
"Ayo kita mandikan jenazah almarhum saat ini juga." Rina menghentikan perdebatan di antara mereka.
Jenazah Elma segera dibawa menuju arah belakang untuk di mandikan dan tidak sampai dia menunggu dengan sangat lama lagi karena tadi malam sudah menunggu kedatangan Vera cukup lama, hari ini juga dia akan segera dikuburkan bila tidak ada halangan atau segala macam yang menghalangi perjalanan mereka.
"Kakak tidak usah pikirkan ucapan Bibi Erna karena dia memang selalu saja seperti itu." Arum memegang tangan Vera.
"Sudah lah, Ibu nanti juga akan semakin merasa sedih kalau melihat kita selalu bertengkar seperti itu." Dina juga setuju dengan ucapan Arum.
"Ya." Vera hanya menjawab singkat.
"Pokok nya Kakak nanti tidak boleh berangkat lagi ke kota untuk merantau karena saat ini kita sudah tidak punya ibu!" tegas Arum yang masih SMP itu.
"Arum, jangan membicarakan itu sekarang karena kita mau memandikan mayat Ibu." Dina menatap adik bungsu mereka.
"Aku cuma takut bila nanti Kak Vera pasti akan berangkat lagi ke kota." lirih Arum.
Vera hanya tersenyum saja karena benar apa yang di katakan oleh Arum bahwa dia tidak mungkin bertahan di dalam rumah ini, dulu saat masih ada Elma saja dia sudah tidak sanggup untuk menjalani hidup bersama dengan keluarga yang ada di desa ini jadi bagaimana mungkin dia akan sanggup bertahan ketika Elma yang selalu membela saja sudah tidak ada lagi.
"Kenapa mayat Ibu membiru seperti ini, Bude?" Vera tertegun menatap mayat Elma.
"Nak tidak boleh mempertanyakan hal seperti itu di depan mayat." bisik Rina.
"Tapi ini bukan pasangan aneh bila seluruh tubuh menjadi biru seperti ini, apa mungkin ada sesuatu yang sudah terjadi?" Vera memang sama sekali tidak menyangka.
Rina terdiam sambil menggeleng karena dia juga tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Elma ini, Darto mengatakan bahwa Elma meninggal dunia karena serangan jantung dan mereka hanya mendengar tentang kabar itu tanpa mengetahui secara jelas.
Selamat pagi besti, jumpa lagi di karya othor yang baru.
keangkuhan mu ga seberapa ver di banding rombongan ratu ular👻🥰👍
mngkn Nana kucing yg nyamar jadi Siti palsu