NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Ditunggu

Minggu datang lebih cepat dari yang Kevin kira.

Tapi rasanya… juga lebih lama dari biasanya.

Langit cerah. Angin sore pelan banget.

Di Taman Kota, daun-daun bergerak seolah ikut deg-degan.

Kevin berdiri sambil pegang tangan Cantika.

Tangannya kecil. Hangat.

Tapi jantung Kevin… dingin.

“Ayah, tante udah datang belum?”

Cantika jingkrak-jingkrak kecil.

“Belum, Sayang.”

Padahal Kevin sendiri hampir nggak berani lihat ke arah pintu masuk.

Lalu…

Langkah itu muncul lagi.

Pelan. Ragu. Tapi nyata.

Siska.

Dia pakai dress putih sederhana. Rambut panjangnya dibiarin jatuh.

Wajahnya pucat… tapi matanya penuh sesuatu yang nggak bisa dijelasin.

Takut.

Rindu.

Penyesalan.

Cantika yang pertama kali lihat.

“TANTE RUMAH SAKIT!!”

Suara kecil itu pecah, bikin beberapa orang nengok.

Siska berhenti.

Matanya langsung basah.

Cantika lepas tangan Kevin dan lari kecil.

Kevin refleks mau manggil.

“Cantika—”

Tapi langkah anak itu sudah sampai.

Siska jongkok. Tangannya gemetar.

Cantika langsung peluk lehernya.

“Kangen banget!”

Siska nggak bisa jawab.

Air matanya jatuh duluan.

Tangannya pelan balas pelukan itu.

Hati yang selama ini kosong… tiba-tiba penuh.

Kevin berdiri beberapa meter dari mereka.

Dia lihat semuanya.

Dan dadanya… sakit.

Bukan karena marah.

Tapi karena pemandangan itu terlalu pas.

Seolah dunia lagi nunjukin sesuatu yang nggak bisa dia tolak.

Cantika mundur sedikit, natap wajah Siska.

“Tante nggak sedih lagi kan?”

Siska senyum sambil nangis.

“Nggak… Tante senang banget sekarang.”

Cantika pegang pipinya.

“Jangan nangis ya. Nanti Cantika ikut nangis.”

Kevin akhirnya melangkah mendekat.

Tatapan dia dan Siska bertemu.

Sunyi.

Angin lewat di antara mereka.

“Terima kasih… sudah kasih waktu,” suara Siska pelan banget.

Kevin angguk tipis.

“Cuma satu jam.”

Siska ngerti.

Dia nggak protes.

Mereka duduk di bangku taman.

Cantika di tengah.

Anak itu cerita banyak banget.

Tentang sekolah.

Tentang boneka barunya.

Tentang gambar tiga orang gandengan tangan.

Siska dengerin dengan mata berbinar.

Sesekali Kevin nangkep tatapan Siska ke arah Cantika.

Tatapan ibu.

Dan itu bikin Kevin gemetar pelan.

“Ayah,” Cantika tiba-tiba ngomong.

“Iya?”

“Kalau tante duduk di sini terus… boleh nggak?”

Kevin terdiam.

Siska juga.

Waktu kayak berhenti beberapa detik.

Kevin lihat Cantika.

Lihat Siska.

Lalu lihat langit.

Hatinya ribut.

Marahnya belum hilang.

Lukanya belum sembuh.

Tapi…

Dia juga nggak bisa bohong.

Cantika butuh jawaban.

Dan mungkin… dia juga.

“Satu jam dulu,” jawab Kevin akhirnya.

Cantika cemberut lucu.

“Tapi hati Cantika maunya lama…”

Siska langsung nunduk.

Air matanya jatuh lagi.

Kevin tarik napas panjang.

“Cantika,” suaranya lembut tapi tegas,

“Kadang sesuatu yang lama itu… harus dimulai dari yang sebentar dulu.”

Cantika mikir.

Lalu angguk.

“Oke. Tapi nanti tambah lagi ya?”

Kevin nggak langsung jawab.

Tatapannya ketemu Siska.

Di mata perempuan itu ada harapan.

Rapuh.

Tapi tulus.

Dan untuk pertama kalinya…

Kevin nggak merasa ingin kabur.

Jam di HP bunyi pelan.

Satu jam.

Waktu habis.

Cantika langsung peluk Siska lagi.

“Tante jangan hilang ya.”

Siska pegang wajah kecil itu.

“Tante nggak akan hilang… kalau Cantika mau ketemu lagi.”

Cantika langsung nengok ke Kevin.

Mata bulatnya penuh permintaan.

Kevin diam lama.

Lama banget.

Lalu…

“Kita lihat nanti.”

Bukan ya.

Bukan tidak.

Tapi juga bukan janji.

Dan itu cukup untuk hari ini.

Siska berdiri.

Sebelum pergi, dia lihat Kevin.

“Terima kasih… sudah nggak lari.”

Kalimat itu pelan. Tapi kena.

Kevin cuma jawab singkat,

“Aku belum maafkan kamu.”

Siska angguk.

“Aku tahu.”

Nggak ada drama.

Nggak ada tangisan berlebihan.

Cuma dua orang dewasa…

yang sama-sama tahu mereka lagi berdiri di depan masa lalu.

Siska melangkah pergi.

Cantika melambai semangat.

Kevin pegang tangan anaknya lagi.

“Ayah…”

“Iya?”

“Tante cantik ya.”

Kevin hampir ketawa kecil.

“Iya.”

“Cantika mau dia jadi ibu.”

Langkah Kevin berhenti sebentar.

Angin sore lewat lagi.

Matahari mulai turun pelan.

Perjalanan ini belum selesai.

Lukanya belum sembuh.

Tapi hari itu…

untuk pertama kalinya sejak lama…

mereka bertiga berdiri di tempat yang sama.

Bukan sebagai orang asing.

Tapi sebagai kemungkinan.

Dan kadang…

kemungkinan itu lebih kuat dari masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!