Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 minggu
Moses mengatakan ia memiliki waktu dua minggu di sini dengan nada ringan, seolah itu bukan sesuatu yang besar. Namun bagiku, kalimat itu terdengar seperti janji yang akhirnya berwujud.
“I’ll be here for two weeks.”
Aku menatapnya, sedikit tak percaya.
“Two weeks?”
“Yeah,” katanya sambil membuka ponselnya. “I already planned everything. Ubud, Uluwatu. I booked the hotels.”
Dua minggu berarti cukup lama untuk berhenti menghitung, berhenti menebak kapan ia akan pergi lagi. Dua minggu berarti aku boleh bernapas tanpa merasa waktu mengejarku dari belakang.
Ia memperlihatkan rencana-rencana yang sudah ia susun. Ubud, Uluwatu. Nama-nama tempat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tapi masing-masing terasa seperti pintu kecil menuju kemungkinan yang lebih baik. Ia bahkan sudah memesan hotel dan memblok tanggalnya. Tidak setengah-setengah. Tidak spontan tanpa arah. Semua sudah dipikirkan.
“You planned all of that?” tanyaku.
“I did,” jawabnya pelan. “I know I wasn’t there on your birthday. November seventh.”
Aku terdiam. Ada senang, ada haru, ada juga rasa takut yang samar—takut jika semua ini hanya jeda sebelum kenyataan kembali menamparku. Tapi untuk saat itu, aku memilih menyimpan ketakutan itu dalam-dalam.
“It’s okay,” kataku akhirnya.
Ia menggeleng. “It’s not. That’s why I came earlier. Not just to make it up to you… but to help you feel better.”
“Kamu capek,” katanya kemudian, lebih pelan. “Aku tahu kamu butuh keluar sebentar dari semua yang ada di kepalamu.”
Kalimat itu terasa menenangkan, sekaligus menyentuh bagian diriku yang selama ini mencoba kuat sendirian. Tidak banyak orang yang benar-benar melihat kelelahan yang tidak tampak.
Kami memutuskan untuk keluar sebentar. Moses bilang ia tidak membawa banyak pakaian. Ia tertawa, sedikit canggung.
“I didn’t bring many clothes,” katanya.
Aku tersenyum. “You didn’t?”
“No,” katanya ringan. “Can you help me choose?”
Permintaan kecil, tapi membuatku merasa dilibatkan. Dibutuhkan.
Kami berjalan di Beachwalk Mall, menyusuri lorong-lorong yang ramai. Aku memilihkan kemeja dengan warna yang menurutku cocok dengannya, kaus sederhana yang nyaman, celana yang bisa ia pakai untuk berjalan santai. Ia tidak banyak protes. Ia hanya mengikuti, mengamati ekspresiku, lalu mengangguk.
Aku menyerahkan satu kemeja padanya.
“Try this one.”
Ia menatap kemeja itu, lalu menatapku. “You think it suits me?”
“I wouldn’t choose it if it didn’t.”
Ia tersenyum kecil.
Ada rasa hangat yang aneh di dadaku. Aku merasa seperti sedang menjalani potongan kehidupan yang selama ini hanya ada dalam bayanganku. Hal-hal biasa yang tiba-tiba terasa istimewa karena dilakukan bersama.
Kami juga membeli beberapa baju untukku. Aku mencoba satu per satu, keluar dari ruang ganti, dan ia menatapku dengan cara yang membuatku merasa cukup—tidak dinilai, tidak dibandingkan. Hanya dilihat.
Setelah selesai, kami naik ke rooftop mall untuk makan. Angin bergerak pelan, membawa aroma laut yang samar. Langit mulai berubah warna. Kami duduk berhadapan, berbagi makanan, berbagi cerita ringan. Tentang hal-hal kecil yang tidak menuntut jawaban besar.
“Are you okay?” tanyanya.
Aku mengangguk. “I am. I feel lighter.”
“Good,” katanya singkat. “That’s all I want.”
Aku tertawa. Tertawa yang tidak dipaksakan. Aku menyadari sudah lama aku tidak tertawa seperti itu—tanpa rasa bersalah, tanpa bayangan luka yang terus mengejar.
Kami kembali ke hotel setelahnya. Tubuh terasa lelah, tapi dengan cara yang menyenangkan. Kami beristirahat, berbaring berdampingan. Tidak banyak kata yang keluar. Keheningan di antara kami tidak canggung. Justru terasa aman.
Ia memelukku dari belakang. Tangannya hangat, napasnya teratur.
“You don’t have to be strong all the time,” bisiknya. “You know that, right?”
Aku menelan ludah. “I don’t really know how not to be.”
“You’ll learn,” katanya. “You don’t have to do it alone.”
Untuk sesaat, aku membiarkan diriku percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa aku tidak perlu selalu bersiap menghadapi kehilangan.
Malamnya, kami pergi keluar lagi. Musik, lampu, keramaian—dunia yang kontras dengan ruang sunyi yang sempat menjadi tempatku runtuh. Aku berdansa, membiarkan tubuhku bergerak mengikuti irama. Aku tidak memikirkan apa pun selain detik yang sedang kujalani.
Aku tahu kebahagiaan seperti ini tidak selalu bertahan lama. Tapi aku lelah hidup dengan kewaspadaan terus-menerus. Jadi aku memilih hadir sepenuhnya.
Di sela keramaian, aku menatap Moses. Ia terlihat lelah, tapi juga tersenyum. Ada jarak tipis yang tidak bisa kujelaskan, sesuatu yang belum sempat kutanyakan. Namun aku menahannya. Tidak sekarang. Tidak saat ini.
Dua minggu ini terasa seperti hadiah.
Bukan solusi, tapi jeda.
Malam itu, saat kami kembali ke kamar, aku berbaring menatap langit-langit. Moses sudah terlelap di sampingku. Aku mendengarkan napasnya dan bertanya pada diriku sendiri—apakah aku sedang membangun harapan, atau hanya meminjam ketenangan sementara?
Aku tidak punya jawabannya.
Yang aku tahu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa sendirian sepenuhnya. Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup.