Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua rubah licik
Aroma kopi yang kuat memenuhi pantry kantor. Vallerie sedang menyandarkan pinggulnya di meja konter, memperhatikan Eleanor yang sedang mengaduk tehnya dengan gerakan pelan.
"Elea, sepertinya Dominic mulai dingin kepada Aleta."
Eleanor mengangguk kecil, meski sorot matanya masih menyimpan keraguan. "Tapi dia sepertinya masih tidak tega pada wanita itu. Dia hanya menegurnya, belum mengusirnya."
Vallerie terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat anggun sekaligus berbahaya. "Tentu saja. Dia hanya perempuan lemah, dibandingkan dengan kita? Tentu saja tidak ada apa-apanya."
Tepat saat itu, suara langkah kaki yang ragu-ragu terdengar mendekat. Eleanor dan Vallerie saling bertukar pandang. Vallerie memberikan kode lewat kerlingan matanya saat melihat siapa yang datang.
Aleta masuk ke pantry dengan mata sembab. Melihat Eleanor dan Vallerie, ia tampak ingin berbalik pergi, namun harga dirinya sepertinya menahan langkah itu. Ia berjalan menuju dispenser, mencoba mengabaikan kehadiran mereka.
"Kasihan sekali," suara Vallerie memecah keheningan, terdengar sangat sinis. "Ada seseorang yang mencoba menjadi nyonya di rumah orang lain, tapi berakhir hanya menjadi sampah."
Aleta mengepalkan tangannya, ia berbalik dengan wajah memerah. "Aku tidak pernah mengganggu siapa pun! Dominic yang membawaku ke sini!"
"Dominic membawamu karena kasihan. Bukan karena butuh," timpal Eleanor.
Aleta mendekat dengan emosi yang meluap. "Kalian berdua hanya iri! Eleanor, kamu takut aku merebut Dominic, kan? Kamu wanita sombong yang tidak punya hati!"
Vallerie melangkah mendekat ke arah Aleta, menatapnya dengan pandangan merendah. "Oh? Kamu pikir suara kerasmu bisa mengubah kasta? Lihat dirimu, Aleta. Kamu gemetar."
Vallerie kemudian berbisik di telinga Eleanor, namun cukup keras untuk didengar Aleta, "Elea, jangan biarkan wanita rendah ini menyentuhmu. Dia mungkin membawa sial."
Aleta yang sudah meledak amarahnya, mencoba menggapai lengan Eleanor untuk menariknya. "Jangan menghinaku!"
Di sinilah gerakan itu terjadi. Alih-alih menghindar, Eleanor justru membiarkan Aleta mencengkeram lengannya. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terhitung, Eleanor justru menyentakkan tangannya sendiri ke arah pinggiran meja konter yang tajam sambil menjerit tertahan.
Eleanor terjatuh ke lantai, memegang lengannya yang kini tergores cukup dalam oleh sudut meja. Darah mulai merembes di blusnya yang berwarna terang.
"Elea!" teriak Vallerie dengan nada panik yang dibuat-buat, namun ia tetap berdiri di tempatnya melirik Aleta."Aleta! Apa yang kamu lakukan?! Kamu mendorongnya?!"
Aleta mematung, wajahnya pucat pasi. Tangannya masih gemetar di udara. "T-tidak... aku tidak mendorongnya sekeras itu! Dia... dia jatuh sendiri!"
"Sakit..." rintih Eleanor, air matanya jatuh dengan sempurna.
Vallerie berjongkok di samping Eleanor, menatap Aleta dengan tatapan dingin yang menusuk. "Kali ini kamu keterlaluan?"
"Aku tidak menyerangnya!" teriak Aleta histeris.
"Simpan pembelaanmu," potong Vallerie. Ia melirik ke arah pintu pantry di mana beberapa karyawan mulai berkerumun karena mendengar keributan. "Semua orang melihatnya."
Vallerie menatap lama orang yang berdiri disana. "Benar kan?"ucapnya.
Vallerie membantu Eleanor berdiri. "Ayo, Elea. Kita ke ruanganmu. Aku akan memanggil dokter pribadimu."
"Tidak perlu, Val..." ucap Eleanor lemah, suaranya bergetar. "Cukup biarkan Dominic tau bahwa aku tidak apa-apa. Aku tidak ingin dia memarahi Aleta lagi karena aku."
Vallerie tersenyum dalam hati. Luar biasa, Eleanor. Dialogmu sempurna. Dengan mengatakan itu, Eleanor justru memastikan bahwa Dominic pasti akan tahu.
Sambil memapah Eleanor keluar, Vallerie melewati Aleta dengan senyum miringnya, yang masih berdiri mematung seperti orang bodoh.
Aleta menatap kepergian itu dalam diam. Padahal sebelumnya Aleta tau Vallerie membantunya diam-diam, tapi sekarang kenapa dia seakan ingin menghancurkannya dan bersekongkol dengan Eleanor lagi?
Aleta pikir, Vallerie berubah kasihan padanya, tapi ternyata semua itu hanya sandiwara? Atau mungkin pembelaan nya waktu itu supaya Dominic tidak memarahi Eleanor lagi?
Aleta mengepalkan tangannya erat, Dominic hanya miliknya, tidak boleh siapa pun mendekati nya. Bahkan dua wanita itu sekalipun.