Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kali Dipilih
Naya duduk di mejanya sambil menatap layar komputer namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Ia baru saja melewati malam yang berat, ingatan tentang Damar, rasa bersalah kepada ibunya, membuat tidurnya hampir tidak ada.
Di sisi lain lantai, CEO berdiri di depan jendela ruang kerjanya seperti sudah menjadi rutinitas paginya sebelum jam kerja yang padat.
Mereka sama-sama memulai hari dengan rasa lelah. Tapi pekerjaan tidak peduli itu, pekerjaan tak akan menunggu, waktu tidak akan berhenti hanya untuk menunggu mereka benar-benar siap.
Ruang rapat lantai eksekutif masih dipenuhi layar presentasi yang belum selesai. Grafik pertumbuhan perusahaan terpampang besar di dinding, namun angka-angka itu terasa kosong di matanya.
CEO itu berdiri di depan meja panjang, membuka satu laporan demi laporan yang dikirim berbagai divisi. Alisnya sedikit berkerut.
Format berbeda, data berulang, beberapa angka bahkan tidak sinkron.
Ia menutup salah satu file dengan napas tipis.
"Kalau begini, rapat besok pagi hanya akan jadi formalitas," gumamnya pelan.
Sekretarisnya, Bu Rina, berdiri di samping meja sambil mencatat revisi.
"Kita bisa minta tim marketing merapikan slide, Pak."
Ia menggeleng, "masalahnya ini bukan slide. Tapi datanya." tegasnya.
Ia membuka folder lain, laporan audit semester lalu.
Gerak tangannya melambat.
Tabelnya rapi. Konsisten. Catatan kecil di bagian bawah halaman menjelaskan perubahan angka tanpa bertele-tele. Semua tersusun sederhana dan jelas.
Ia menggulir halaman demi halaman.
Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada usaha untuk terlihat pintar. Semuanya tepat.
"Siapa yang menyusun ini?" tanyanya cepat.
Bu Rina mendekat sedikit, membaca nama di pojok dokumen.
"Administrasi, Pak. Atas nama... Naya."
Ia mengangguk kecil, tanpa komentar.
Namun tangannya tetap berhenti di halaman terakhir.
Ada satu catatan kecil 'Data Disesuaikan Dengan Laporan Cabang Agar Tidak Terjadi Selisih Interpretasi.'
Kalimat itu sederhana tapi menunjukkan seseorang yang berpikir jauh ke depan, bukan sekadar menyelesaikan tugas.
Ia bersandar pada kursinya. Menutup laptop perlahan.
"Kita pakai orang ini."
Bu Rina mengangkat kepala, "Pak?"
"orang yang menyusun laporan ini." tegasnya, ia mengetuk dokumen dengan jarinya. "Saya butuh orang yang memahami datanya dari awal."
"Baik, Pak. Saya akan segera panggil supervisor administrasi. "
"Tidak perlu." Jawabnya cepat, hampir refleks.
"Langsung saja kepada orangnya."
"Baik Pak," Bu Rina mencatat tanpa banyak bertanya.
Ruangan kembali hening.
Langkah kaki terdengar lebih cepat dari biasanya. Beberapa staf keluar masuk ruang rapat dengan membawa map tebal.
"kok bisa gitu sih tadi?" bisik salah satu.
Bisik-bisik kecil itu terdengar di area administrasi.
Naya yang sedang merapikan arsip digital mendengarkan itu, "ada apa ya?" pikirnya.
Tapi tak ada waktu untuk mencari tahu hal itu, laporan ada yang harus dikerjakan.
Naya mengangkat kepala ketika telepon mejanya berbunyi.
"Administrasi, Naya berbicara." senyum Naya ramah, walau itu hanya lewat telpon.
"Naya, ke ruang Bu Rina, sekretaris CEO sekarang, Ya." suaranya terdengar tegas sebelum sambungan terputus.
Senyum itu berubah menjadi tatapan penasaran.
Naya mengernyit bingung, jarang sekali dia dipanggil langsung oleh sekretaris eksekutif. Biasanya semua turun lewat supervisor divisi.
Ia segera berdiri, merapikan kemejanya.
"Nay.... Mau kemana?" tanya Nadira.
"Aku disuruh ke ruangan sekretaris utama." jelasnya sambil mengernyit bingung.
"Hah? Ada apa?"
Nadira spontan menghentikan jemarinya yang sedang mengetik laporan. Ia jelas terkejut karna biasanya paling tidak yang akan memanggil mereka hanya supervisor.
Naya mengangkat bahu, "Nggak tau pasti juga, Dir. Tapi aku naik dulu ya... " Naya melangkah cepat.
Di dalam ruang sekretaris, Bu Rina tampak sibuk di depan dua layar komputer sekaligus. Tumpukan dokumen memenuhi mejanya.
"Kamu Naya?" tanyanya tanpa basa basi.
Naya menunduk hormat, "Iya, Bu."
Sebelumnya Naya memang sering bertemu Bu Rina tapi hanya sekadar berpapasan, mereka belum pernah mengobrol langsung.
Bu Rina menghela napas pendek, jelas sedang dikejar waktu.
"Direksi mendadak menjadwalkan rapat besar besok pagi. Pak CEO akan presentasi strategi perusahaan. Semua data harus disusun ulang malam ini."
Naya mengangguk pelan, masih menunggu penjelasan lanjutan.
"Saya butuh orang administrasi yang mengerti arsip lama dan cepat kerja revisi."
Ia membuka sebuah folder dan memutarnya ke arah Naya.
"Kamu yang menyusun laporan audit semester lalu, Kan?"
Naya sedikit terkejut. "Iya, Bu... tapi saya hanya membantu rekap datanya."
"Justru itu, " Jawab Bu Rina cepat. "Format kamu paling rapi. Pak CEO minta data yang konsisten dengan laporan lama. Banyak staf lain yang justru membuat formatnya berbeda-beda."
Naya menelan ludah kecil. "Jadi saya harus melakukan apa, Bu?"
"Kamu langsung koordinasi dengan pak CEO malam ini."
Naya spontan membeku. "La.... Langsung, Bu?"
"Iya." Bu Rina akhirnya menatapnya penuh. "Ini permintaan beliau. Katanya, pakai staf yang memahami data dari awal, bukan yang hanya menyusun slide."
Kalimat itu membuat Naya semakin gugup.
Bu Rina menyerahkan kartu akses sementara.
"Mulai sore ini, kamu boleh pindah kerja di lantai eksekutif. Kemungkinan besar lembur."
Naya menerima kartu itu dengan hati-hati.
"Kalau ada revisi, kamu catat langsung. Pak CEO orang yang sangat detail."
Naya berjalan kembali ke area staf dengan langkah pelan. Tangannya masih menggenggam kartu kecil yang diberikan sekretaris CEO itu.
Naya duduk perlahan, masih menatap kartu tersebut. Alisnya sedikit berkerut, antara bingung dan tak percaya.
Nadira memperhatikan tingkahnya itu dengan penuh tanya. Pertanyaan yang ia simpan mulai tadi belum terjawab, ternyata ada lagi pertanyaan lain setelah melihatnya kembali. Ia menggeser kursinya mendekat ke arah Naya, menumpukkan siku di meja.
"Nay.... " panggilnya pelan.
Tak ada respon.
Nadira memanggil sekali lagi, "Nay..." masih dengan nada yang sama.
Naya sedikit tersentak, "Eh Dir, kamu kagetin aku aja..."
Jelas-jelas nada suara Nadira pelan, hanya memanggil.
Nadira menyipitkan mata curiga, "Pelan kok aku manggilnya" protesnya, bibirnya sedikit manyun.
Naya langsung merasa bersalah. Ia menoleh cepat.
"Sorry, Dir... kok langsung manyun gitu sih..." ekspresinya melembut.
Nadira tidak langsung menjawab. Tapi pandangannya kembali ke kartu yang ada di tangan Naya.
"Itu apa sih dari tadi dilihatin? Emang Bu Rina nyuruh ngapain?"
Nadira mengambil kartu itu dari tangan Naya dan membacanya. Matanya langsung membesar.
"Kamu kerja ke ruang CEO? " Nadira menatapnya tak percaya.
Naya mengangguk kecil. "Itu dia.... Katanya aku diminta bantu revisi data presentasi."
Nadira menurunkan kartu itu perlahan, ekspresinya berubah, "Sejak kapan staf administrasi diminta kerja langsung bersama CEO? " gumamnya.
Naya menghela napas pelan.
"Ini gimana sih, Dir? Harus aku ini?" menarik tangan Nadira.
Nadira masih menatap Naya lama, lalu tersenyum miring.
"Atau... ada alasan lain,"
Naya langsung menatap tajam, "Alasan apa?"
Nadira tertawa kecil, "engga... engga ada kok Nay....Bercanda"