NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranti Septriharaira M.T (202130073)

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Bukan malam pertama

Pintu kamar hotel itu tertutup pelan tanpa bunyi dramatis, hanya suara lembut yang justru menegaskan kesunyian. Tidak ada ucapan setelahnya, tidak ada tawa kecil yang biasanya muncul di akhir sebuah pesta. Kesunyian datang terlalu cepat, seperti sesuatu yang memang sudah menunggu mereka sejak awal.

Karpet tebal berwarna abu-abu meredam langkah mereka. Ruangan itu terasa luas, bersih, dan rapi. Lampu-lampu temaram menyala stabil, tidak hangat, tidak pula dingin. Cahaya itu netral, seperti hubungan yang baru saja disahkan di depan banyak saksi, namun belum benar-benar hidup.

Raka meletakkan kunci kartu di atas meja kecil dekat pintu. Tangannya bergerak tenang, terlatih, hampir tanpa ragu. Jas putih yang baru saja ia pakai digantung rapi di lemari, dasinya dilepas dengan satu gerakan yang efisien. Tidak ada sisa euforia pernikahan di wajahnya, hanya kelelahan yang tertata.

Melani berjalan lebih dulu ke dalam kamar. Sepatu hak tingginya dilepas perlahan, lalu clutch kecilnya diletakkan di atas meja rias. Ia berdiri sejenak di depan cermin besar, tidak langsung duduk, tidak langsung berbicara. Ia tahu Raka ada di belakangnya, tapi tidak menoleh.

Mereka baru menikah beberapa jam lalu.

Janji telah diucapkan. Dan cincin yang memeluk jemari menunjukkan status saat ini, sepasang suami istri.

Namun di ruangan ini, semua itu terasa seperti adegan film yang sudah selesai diputar.

“Aku mandi dulu,” kata Raka akhirnya.

Suaranya datar, tanpa beban emosi.

Melani mengangguk ringan. “Iya.”

Jawaban itu sederhana, nyaris terlalu mudah.

Raka melangkah ke kamar mandi tanpa menoleh lagi.

Air kamar mandi mengalir lama, menciptakan simfoni monoton yang beradu dengan uap panas yang kian menyesakkan.

Raka berdiri mematung di bawah pancuran, membiarkan air hangat menghantam bahunya yang kokoh. Tangannya menekan ubin dingin dengan urat-urat yang menonjol, sementara kepalanya tertunduk dalam. Di balik tirai uap yang mengaburkan cermin, pikirannya justru terseret kembali ke hiruk-pikuk resepsi pernikahannya beberapa jam lalu—tepatnya pada percakapan beracun di pojok ruangan yang masih terngiang jelas di telinganya.

Kata-kata Putra terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

(Ngomong-ngomong malam terakhir lo… aman, kan?)

Raka menggeram rendah, suaranya tenggelam dalam deru air. Sialan. Putra benar. Pertanyaan itu jatuh pelan tapi memiliki berat yang mampu meruntuhkan kewarasannya. Selama ini, Raka adalah arsitek bagi hidupnya sendiri ketika setiap langkah terukur, setiap risiko dihitung. Tapi malam itu, malam di mana ia membiarkan nalurinya mengambil alih di atas sofa beludru bersama seorang gadis asing adalah satu-satunya variabel yang gagal ia audit.

“Intinya, Rak… lo terakhir itu main bersih atau nekat?” pertanyaan rekan sejawatnya itu seolah menampar wajahnya sekarang.

Nekat? Itu bukan kata yang ada dalam kamus seorang Mayor Penerbang. Tapi kenyataannya, ia tidak main bersih. Ia bermain tanpa pengaman, tanpa identitas, dan tanpa belas kasihan pada seorang gadis yang ternyata masih murni. Ia baru saja melakukan kesalahan paling fatal dalam kariernya yaitu meninggalkan jejak permanen di tempat yang salah.

Tiba-tiba, sebuah kilasan memori menghantamnya lebih keras dari tetesan air. Sebuah benda pipih yang ia sandarkan di antara tumpukan buku di nakas malam itu. Ponselnya. Raka tersentak kecil di bawah pancuran. Ia baru teringat bahwa ia sempat menekan tombol record. Di tengah kegilaan nafsu dan pengaruh alkohol tipis, ia telah mengabadikan setiap detik kehancuran itu menjadi sebuah file digital.

File video itu masih tersimpan rapi di galerinya, sebuah bom waktu digital yang bahkan belum sempat ia tonton ulang. Membayangkan isi rekaman yakni suara rintihan gadis itu, ekspresinya saat Raka merenggut kesuciannya, hingga detil di atas sofa membuat bulu kuduk Raka meremang, bukan karena takut, tapi karena sensasi gairah yang mendadak bangkit kembali dengan liar.

"Dikubur, bukan dihapus," ucapan rekannya tadi benar-benar menusuk.

Raka mematikan kran air dengan sentakan kasar. Keheningan mendadak menyergap, hanya menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari rambutnya ke lantai marmer. Ia menatap bayangannya yang buram di cermin yang beruap. Ia bisa mengubur kejadian itu dalam-dalam, tapi video itu adalah saksi bisu yang tidak akan pernah bisa ia hapus dari ingatannya.

"Bangs*t," umpatnya pelan.

Di luar, Melani berdiri di depan cermin besar kamar tidur.

Gaun pengantinnya telah berganti menjadi gaun tidur berwarna krem. Potongannya sederhana, tapi tegas, mengikuti garis tubuhnya tanpa berlebihan. Rambut sebahunya terurai rapi, jatuh di bahu dengan cara yang hampir terlalu terkontrol.

Ia memiringkan kepala, mengamati siluetnya sendiri dengan ketelitian seorang perempuan yang terbiasa menilai dan dinilai.

Ia tahu tubuhnya bekerja untuk banyak definisi yaitu ideal, berkelas, terkendali. Ia tahu bagaimana berdiri, bagaimana bergerak, bagaimana menampilkan diri tanpa terlihat berusaha.

Ia menatap pantulan dirinya sedikit lebih lama dari biasanya.

Biasanya, tatapan laki-laki mudah dibaca.

Ada yang terang-terangan, ada yang pura-pura acuh, tapi tetap terlihat.

Namun Raka berbeda.

Sejak tadi, ia tidak menunjukkan tanda-tanda biasa.

Tidak ada lirikan yang terlalu lama.

Tidak ada gestur tergesa-gesa.

Tidak ada perubahan nada suara.

Dan justru itu yang membuat Melani merasa tertantang.

Ia terbiasa menjadi pusat perhatian.

Terbiasa merasa diinginkan tanpa harus meminta.

Namun malam ini, ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai pola.

Ia menggeser sedikit posisi tubuhnya di depan cermin, mengamati bagaimana cahaya lampu jatuh di kulitnya. Ia tahu garis tubuhnya rapi, posturnya terjaga, kulitnya halus. Ia tidak meragukan daya tariknya.

Pertanyaannya hanya satu. Mengapa Raka tidak terlihat terpengaruh?

Ia tersenyum tipis pada dirinya sendiri, lalu mengambil ponsel. Layar menyala. Jemarinya bergerak cepat, membuka aplikasi tanpa tujuan. Itu kebiasaan lama menutup celah sunyi dengan kesibukan kecil.

Ketika Raka keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah. Kaos putih polos melekat ringan di tubuhnya, celana panjang gelap menegaskan posturnya yang tegap. Ia tidak terburu-buru, tidak pula santai berlebihan.

Mereka saling menoleh, sebentar.

Hening menggantung bukan canggung, tapi penuh perhitungan yang belum diucapkan.

“Lo mandi lama,” ujar Melani santai, masih menatap layar ponsel.

“Capek,” jawab Raka singkat.

“Oh.” Melani mengangguk pelan, lalu meletakkan ponsel. “Masuk akal.”

Ia menatap Raka lebih lama kali ini.

Ada sesuatu pada pria itu yang tidak bisa ia definisikan dengan mudah. Wajahnya tenang, bahunya tegap, gerakannya ekonomis. Ia terlihat kuat, tapi tidak agresif. Wibawanya bukan jenis yang berisik, melainkan sunyi.

Melani terbiasa membaca laki-laki.

Dan Raka bukan tipe yang mudah dibaca.

Raka di sisi lain, juga menatap Melani sekilas, lalu lebih lama dari yang ia sadari.

Ia melihat bagaimana gaun tidur itu jatuh mengikuti garis tubuhnya. Postur Melani rapi, terjaga, hampir seperti seseorang yang selalu sadar sedang dilihat. Kulitnya cerah, rambutnya tertata, setiap detail tampak seperti hasil perhitungan.

Ia mengakui keindahannya.

Namun keindahan itu terasa jauh.

Bukan tipe yang bisa membuatnya ingin mendekat tanpa berpikir.

Mereka sama-sama menyadari satu hal. Yang mereka lihat bukan sekadar tubuh, melainkan citra.

Mereka berbaring di sisi ranjang masing-masing.

Lampu temaram tetap menyala.

Jarak satu bantal terasa seperti keputusan.

Raka memandang langit-langit, mencoba mengosongkan pikirannya.

Melani memiringkan badan, menelusuri wajah Raka dengan sudut mata.

Ia mendekat sedikit tidak mendesak, lebih seperti menguji suhu.

“Lo kaku banget,” kata Melani, nada setengah menggoda.

“Lo kebiasaan bikin semua jadi proyek,” balas Raka. Ada senyum kecil di sudut bibirnya.

Melani tertawa pelan. “Santai. Gue cuma pengen kenal suami gue.”

Ia menyentuh lengan Raka secara ringan, sejenak.

Sentuhan itu bukan kebetulan. Itu pilihan.

Raka merasakannya jelas.

Namun tidak ada lonjakan yang biasa ia kenal.

Tubuhnya memilih hening.

“Besok aja,” ucap Raka jujur. “Gue capek.”

Melani berhenti.

Ada jeda sepersekian detik yang cukup untuk menyimpan ego.

Lalu ia menarik tangannya kembali.

“Oke,” katanya ringan. “Kalau lo nggak mau, ya sudah. Gue nggak rugi juga.”

Ia mengambil ponsel lagi. Layar menyala, mati, menyala lagi.

Melani lumayan kesal karena untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sepenuhnya menarik di mata lelaki.

1
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!