Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Sorot mata yang bersembunyi
Kenapa sih sekarang Bara kayak menjauh dari aku? Emangnya aku salah apa, ya? Dulu dia perhatian banget, kenapa sekarang berubah drastis begini?"
Aluna bergumam sendiri, menatap kosong ke arah lapangan sekolah dari balkon kelas. Pikirannya benar-benar buntu memikirkan sikap dingin Bara belakangan ini. Lamunannya buyar saat sebuah tepukan mendarat di bahunya.
"Luna! Kamu kenapa, sih? Dari tadi aku perhatiin bengong terus," seru Clara yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
Aluna mengerjap, mencoba menetralkan ekspresinya. "Nggak apa-apa kok, Clara."
"Jangan bohong. Ayo cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu," desak Clara sambil menyenggol lengan Aluna.
Aluna memutar bola matanya malas. "Nggak, ah. Aku males. Kamu itu nggak bisa dipercaya, bisa-bisa nanti kamu ceritain ke semua orang. Kamu kan ember."
"Ih, Aluna! Kok gitu sih ngomongnya?" Clara mengerucutkan bibirnya, pura-pura tersinggung.
"Iya, emang kenyataan, kan? Udah ah, kantin yuk. Aku laper nih," ajak Aluna sambil menarik tangan sahabatnya itu sebelum Clara sempat protes lebih jauh.
"Yaudah ayok, tapi kamu traktir aku ya, Luna?"
"Kebiasaan deh, pengennya gratisan terus."
"Hehehe, sekali-kali,dong Aluna".
"Ya udah ayok, buruan. Nanti keburu masuk lho," ucap Aluna mempercepat langkahnya.
"Oke, siap Bos!"
Begitu sampai di kantin, suasana riuh itu sama sekali tidak mengalihkan perhatian Aluna. Matanya langsung menyapu seluruh penjuru ruangan dan berhenti tepat di satu titik, meja pojok tempat Bara dan Brian duduk. Pandangan Aluna tidak lepas dari sana, ia menatap Bara dengan tatapan menuntut penjelasan.
Bara yang awalnya sedang mengaduk minuman, tiba-tiba merasa ada sepasang mata yang mengarah padanya. Begitu ia mendongak dan menyadari Aluna sedang menatapnya dari kejauhan, Bara langsung membuang muka. Gerakannya sangat cepat, seolah-olah melihat Aluna adalah hal yang menyakitkan baginya.
"Brian, udah yuk. Masuk kelas, gue udah kenyang," ucap Bara tiba-tiba sambil berdiri dari kursinya.
Brian yang lagi asyik mengunyah baksonya nyaris tersedak. "Loh? Kok kenyang sih? Ini aja makanan lo belum habis, Bara. Lo gila ya?"
"Udah lah, biarin. Gue udah nggak mood buat makan."
"Ih, aneh banget sih ini anak," gerutu Brian sambil menatap mangkuk Bara yang masih penuh.
"Udah, ayok buruan!" paksa Bara, suaranya terdengar tidak sabar. Matanya sama sekali tidak menatap arah, tempat Aluna masih berdiri mematung memperhatikannya.
Aluna tidak sanggup lagi menahan rasa sesaknya. Saat melihat Bara hendak melangkah pergi meninggalkan kantin, ia segera berlari mengejarnya. Persetan dengan tatapan murid-murid lain; yang ia butuhkan sekarang hanyalah kejujuran.
"Bara tunggu....Bara kenapa kamu sekarang berubah banget sih sama aku?" seru Aluna. Suaranya sedikit melengking, menahan getaran emosi.
Bara seketika menghentikan langkahnya. napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya ia memutar tubuh untuk menghadap Aluna. Wajahnya datar, seolah-olah hatinya sudah membeku.
"Berubah gimana ya, maksud kamu Luna?" tanya Bara. Nada bicaranya begitu rendah dan dingin, sangat asing di telinga Aluna.
"Kenapa kamu menjauh dari aku, Bara?" Aluna menatap tepat ke manik mata laki-laki itu, mencari sisa-sisa kehangatan yang dulu selalu ada di sana.
Bara membuang muka, menatap ke arah lain "Itu cuma perasaan kamu aja Aluna, aku biasa-biasa saja gak ada yang berubah dari aku, jadi stop ganggu aku, Oke?"
Kalimat itu meluncur begitu saja, tajam dan tanpa ampun. Aluna terpaku di tempatnya.
Air mata Aluna akhirnya luruh, membasahi pipinya yang memerah.
Di saat yang sama, Brian muncul dan langsung menghampiri mereka dengan raut panik.
"Luna, hey jangan nangis," ucap Brian lembut. Ia segera berdiri di samping Aluna, berusaha memberikan perlindungan. "Ada aku disini ya."
Bara tidak merespons. Ia tidak sudi melihat lebih lama lagi bagaimana Brian menenangkan gadis yang ia cintai. Tanpa sepatah kata pun, Bara berbalik dan pergi meninggalkan Brian dan Aluna begitu saja.
"Brian kenapa bara berubah?" isak Aluna.
Brian mengusap bahu Aluna pelan, mencoba menenangkan nya. "Berubah gimana sih lun, emang biasanya bara gimana sama kamu?" Brian menghela napas, menatap Aluna dengan penuh simpati. "Luna aku gak usah sedih bara gak perhatian sama kamu ada aku disini ya."
Aluna hanya bisa menunduk, tidak sanggup menjawab. Sementara itu, dari kejauhan, di balik pilar koridor yang sepi, Bara berdiri memandang Aluna. Dadanya berdenyut nyeri. Hatinya sebenarnya sangat sakit saat ia harus berpura-pura tidak peduli pada gadis itu.
Bara mengepalkan tangan di dalam saku celananya, menelan paksa kenyataan pahit yang ia ciptakan sendiri.
"Luna, maafin aku ya, aku terpaksa menjauh dari kamu, semua ini aku lakuin supaya Brian bisa bahagia sama kamu, aku gak mau merebut kamu dari Brian," gumamnya lirih.
Bara memejamkan mata sesaat, lalu melangkah pergi menjauh, membawa luka yang ia simpan sendirian demi sebuah persahabatan.
Brian masih setia berdiri di samping Aluna, mencoba memberikan kekuatan yang sebenarnya tidak benar-benar sampai ke hati gadis itu. Suara bel masuk berbunyi nyaring, memecah keheningan koridor yang sempat terasa mencekam.
"Luna ayok masuk kelas, nanti telat kita bisa kena hukuman lho," ajak Brian sambil menatap Aluna lembut.
Aluna menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan. Ia mencoba mengatur napasnya yang masih sedikit sesak. "Iya Brian," jawabnya lirih.
Melihat Aluna yang masih tertunduk lesu, Brian kembali berujar pelan, mencoba menghibur. "Udah gak usah sedih, kan ada aku ya."
Aluna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan, sebuah anggukan yang lebih terasa seperti kepasrahan daripada persetujuan. Setelah itu, mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam kelas.
Langkah Aluna terasa sangat berat saat melewati ambang pintu kelas.Sesuai dengan keinginan laki-laki itu, Luna mencoba untuk tidak melihat Bara. Ia berjalan lurus, melewati bangku Bara begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Bara merasakan embusan angin saat Aluna melewatinya. Dadanya berdenyut nyeri melihat punggung Aluna yang menjauh, namun di saat yang sama, ada setitik rasa lega yang menyeruak. Setidaknya, rencananya untuk menjauh mulai berhasil.
"Luna, aku berharap rasa cinta ini, biar aku kubur dalam dalam," batin Bara sambil mengepalkan tangan di bawah meja. "Aku gak mau kamu sampai tahu kalau aku suka kamu, karena Brian juga sangat mencintai kamu, aku cuma mau kamu dan Brian bahagia, meskipun harus aku yang sakit."
Bara memejamkan mata sesaat, menghirup udara kelas yang terasa sesak. Ia tahu ini adalah awal dari hari-hari yang panjang dan menyakitkan, tapi baginya, melihat Brian tersenyum jauh lebih penting daripada kebahagiaannya sendiri. Persahabatan mereka terlalu berharga untuk dihancurkan oleh perasaan yang, menurut Bara, seharusnya tidak pernah ada.
Bersambung......
Jangan lupa like dan vote ya kak🙏semoga yang sudah like cerita aku dilancarkan rezeki nya dan sehat selalu ♥️Amin....🤲🤲