NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29 Ujian

Cinta yang diuji bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk mengetahui apakah ia cukup kuat menjadi rumah saat badai datang.

—Afsheen Athariz—

Pagi itu datang terlalu tenang, seperti danau yang permukaannya halus tanpa riak—indah, namun menyimpan kedalaman yang tak terlihat. Cahaya matahari masuk melalui tirai kamar Celine, jatuh di lantai seperti kain sutra keemasan yang dibentangkan dengan lembut.

Celine sudah bangun sejak subuh, tetapi ia tidak beranjak dari sajadahnya. Lututnya masih terlipat, jemarinya memegang tasbih, sementara matanya terpejam rapat seolah takut dunia akan kembali menyerangnya begitu ia membuka pandangan.

Dadanya terasa sesak, seperti seseorang yang menahan tangis terlalu lama hingga napasnya sendiri terasa berat.

Malam tadi ia hampir tidak tidur.

Bayangan percakapan, tatapan orang, dan keraguan terhadap dirinya sendiri berputar di kepalanya seperti komidi putar yang tak memiliki tombol berhenti.

“Aku ingin tenang, ya Allah…” bisiknya lirih.

Suaranya hampir tak terdengar, seperti doa yang hanya ditujukan untuk langit.

Di luar kamar, rumah keluarga Cendana mulai hidup. Suara langkah kaki, dentingan peralatan makan, dan percakapan pelan terdengar samar seperti kehidupan di balik dinding akuarium.

Namun Celine merasa terpisah.

Seperti berada di dunia yang sama tetapi dalam dimensi yang berbeda.

Hari itu seharusnya menjadi hari biasa.

Namun tidak ada yang benar-benar biasa ketika hati sedang rapuh.

Saat Celine turun ke ruang makan, semua orang menyambutnya dengan senyum hangat. Mommy Chailey langsung menarik kursi untuknya, seperti kebiasaan yang tak pernah berubah sejak kecil.

“Makan dulu, Sayang. Kamu kelihatan pucat.”

Celine tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Mom.”

Padahal tidak.

Ia merasa seperti kaca tipis yang bisa retak hanya karena tekanan kecil.

Aldivano duduk di ujung meja, memperhatikan dalam diam. Tatapannya lembut, tetapi penuh kewaspadaan—seperti seseorang yang siap menangkap sesuatu sebelum jatuh.

Namun ia tidak berkata apa-apa.

Celine bersyukur sekaligus sedih.

Ia ingin dipahami tanpa harus menjelaskan, tetapi juga takut jika benar-benar dipahami.

Siang harinya, sebuah kabar datang tanpa diduga.

Mommy Chailey menerima telepon dengan wajah yang perlahan berubah pucat. Suaranya yang biasanya lembut kini terdengar tegang, seperti senar yang ditarik terlalu kuat.

“Iya… kami akan ke sana secepatnya.”

Telepon ditutup.

Semua orang langsung menoleh.

“Ayah Aarash tiba-tiba pingsan di kantor.”

Suasana berubah seketika, seperti langit cerah yang mendadak diselimuti awan hitam.

Celine membeku.

Ayah Aarash bukan hanya sosok yang ia hormati, tetapi juga figur ayah kedua baginya—tenang, bijaksana, selalu tersenyum hangat.

Mobil segera disiapkan. Semua bergerak cepat, namun terasa lambat bagi hati yang panik.

Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti mimpi buruk yang berjalan dalam gerakan lambat. Suara klakson, lampu lalu lintas, dan hiruk-pikuk kota terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain.

Celine menggenggam ujung hijabnya erat-erat.

“Ya Allah… lindungi beliau.”

Tangannya dingin seperti es.

Aldivano duduk di sampingnya, tidak memegang tangannya, tetapi cukup dekat untuk membuatnya merasa tidak sendirian.

Koridor rumah sakit berbau antiseptik yang tajam, menusuk seperti kenyataan yang tak bisa ditolak. Lampu putih terang membuat segalanya terasa dingin dan steril.

Bunda Afsheen sudah berada di sana, matanya merah seperti bunga mawar yang layu karena terlalu banyak hujan.

Saat melihat Celine, ia langsung memeluknya.

“Doakan Ayah…”

Tangisnya pecah, seperti bendungan yang tak mampu lagi menahan air.

Celine memeluk balik, tubuhnya gemetar.

Ia merasa kecil. Tak berdaya. Seperti anak kecil yang tersesat di tempat asing.

Aldivano berdiri di belakang mereka, wajahnya tegang namun tetap berusaha kuat.

Waktu terasa berjalan lambat seperti tetesan air yang jatuh satu per satu dari keran bocor.

Akhirnya dokter keluar.

Semua berdiri serempak.

“Beliau mengalami serangan jantung ringan. Syukurlah sudah ditangani cepat.”

Kata “syukurlah” terasa seperti udara segar setelah hampir tenggelam.

Celine menutup wajahnya, air matanya jatuh deras. Bukan tangis sedih, melainkan kelegaan yang terlalu besar untuk ditampung.

Saat diperbolehkan masuk, Celine melangkah pelan ke ruang perawatan. Ayah Aarash terbaring dengan wajah pucat, selang infus terpasang, alat monitor berdetak pelan seperti jam yang mengukur waktu dengan sabar.

Melihatnya begitu rapuh membuat hati Celine teriris.

Sosok yang selalu tampak kuat kini terlihat seperti pohon besar yang kehilangan sebagian daunnya setelah badai.

Ia mendekat, menunduk, mencium tangan beliau.

“Cepat sembuh ya, Ayah…”

Suaranya bergetar seperti lilin yang tertiup angin.

Ayah Aarash membuka mata perlahan, tersenyum lemah.

“Celine… kamu pulang…”

Hanya dua kata, namun penuh kehangatan.

Celine menangis lagi.

“Ayah harus sehat. Kami masih butuh Ayah.”

Beliau mengangguk kecil, matanya berkaca-kaca.

Malam semakin larut, tetapi Celine tidak ingin pulang. Ia duduk di kursi dekat tempat tidur, membaca doa pelan seperti alunan lagu pengantar tidur.

Aldivano akhirnya mendekat.

“Kamu harus istirahat.”

Celine menggeleng.

“Aku ingin di sini.”

Ia tidak memaksa lagi. Hanya duduk di kursi sebelahnya.

Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, mereka duduk begitu dekat tanpa rasa canggung yang mengikat.

Kesedihan bersama ternyata mampu meruntuhkan tembok yang sulit ditembus kata-kata.

Celine menatap Ayah Aarash yang tertidur.

“Aku takut kehilangan,” bisiknya.

Aldivano menjawab pelan, “Semua yang kita sayangi di dunia memang tidak abadi.”

Ia menoleh, matanya basah.

“Makanya kita diberi waktu untuk mencintai mereka dengan sebaik mungkin.”

Kalimat itu terasa seperti pelukan yang hangat sekaligus perih.

Celine menyadari sesuatu—

Selama ini ia terlalu sibuk dengan luka dan ketakutannya sendiri hingga lupa bahwa hidup bisa berubah kapan saja.

Bahwa waktu bersama orang yang dicintai tidak selalu panjang.

Menjelang subuh, Celine akhirnya tertidur di kursi, kepalanya bersandar di dinding. Wajahnya terlihat damai, seperti anak kecil yang kelelahan setelah menangis lama.

Aldivano memperhatikannya dalam diam.

Ia melepas jaketnya, lalu menyelimutkan ke bahu Celine dengan hati-hati, seolah takut membangunkannya.

Dalam cahaya redup ruang perawatan, Celine terlihat begitu rapuh namun indah—seperti bunga yang tetap bertahan meski diterpa hujan berhari-hari.

Aldivano menatapnya lama.

Dalam hatinya, ia berdoa.

Bukan agar Celine menjadi sempurna.

Bukan agar semua masalah hilang.

Tetapi agar perempuan itu menemukan kedamaian yang selama ini ia cari.

Monitor di samping tempat tidur berdetak stabil. Di luar, langit mulai berubah warna, pertanda fajar akan datang.

Hari baru akan dimulai.

Mungkin masih dengan ujian.

Mungkin masih dengan ketakutan.

Mungkin masih dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Namun seperti matahari yang tetap terbit setelah malam paling gelap—

harapan selalu menemukan jalannya kembali.

Dan di ruang rumah sakit yang dingin itu, tiga hati sedang belajar hal yang sama:

Bahwa ujian tidak selalu datang untuk menghancurkan.

Kadang, ia datang untuk merapatkan yang renggang…

melembutkan yang keras…

dan mengingatkan bahwa cinta sejati tidak hanya terlihat saat bahagia, tetapi justru saat dunia terasa runtuh.

Celine menggeliat pelan dalam tidurnya, tangannya tanpa sadar menggenggam ujung jaket Aldivano.

Seperti seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu untuk dipegang agar tidak hanyut.

Dan Aldivano tidak menariknya kembali.

Ia membiarkan.

Karena terkadang, bentuk cinta paling tulus bukanlah menggenggam erat…

melainkan tetap ada saat seseorang membutuhkan pegangan.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!