NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajakan

Rendra sudah memutar semua kemungkinan itu di kepalanya, berulang-ulang, sampai rasanya melelahkan. Ia membayangkan wajah Lala yang berubah dingin, suara tinggi penuh amarah, bahkan kemungkinan terburuk, Lala pergi tanpa menoleh lagi. Ia membayangkan tamparan, penolakan, jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka. Semua skenario buruk itu sudah ia terima bahkan sebelum ia membuka mulut.

Tapi tetap saja, ketika momen itu benar-benar datang, dadanya terasa sesak.

“La,” panggilnya akhirnya. Satu suku kata yang keluar dengan ragu, jauh dari nada santai yang biasanya ia pakai.

Lala menoleh. “Kenapa?” Ia sempat berdiri tadi, lalu kembali duduk, menunggu.

Rendra menarik napas, berdeham kecil seolah tenggorokannya mendadak kering. Tangannya masuk ke saku jaket. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil. sederhana, tanpa hiasan mencolok. Kotak cincin.

“Nikah sama gue, La.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, nyaris tanpa jeda, seolah jika ia berhenti sepersekian detik saja, keberaniannya akan runtuh.

Lala membeku. Pandangannya terpaku pada kotak di tangan Rendra. Otaknya kosong, pikirannya seolah berhenti bekerja. Ia tidak yakin apakah ia benar-benar mendengar dengan benar atau hanya salah menangkap kata-kata.

“Hahaha... becanda banget,” katanya akhirnya, tertawa kecil yang terdengar ganjil bahkan di telinganya sendiri. “Lo mau ngelamar siapa sih? Kaget gue.”

Rendra tidak ikut tertawa.

“Gue serius. Gak becanda,” katanya pelan tapi tegas. “Gue ngajak lo nikah.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari sebelumnya.

“Nikah sama gue, La.” ucapnya mengulang permintaanya.

Tawa Lala langsung terhenti. Udara di sekitar mereka terasa lebih berat. Lala terdiam, benar-benar diam, matanya menatap cincin itu tanpa fokus. Dadanya naik turun pelan.

Ia menelan ludah, rasanya sulit. “Lo tau sendiri, Ren... gue gimana—” suaranya nyaris pecah sebelum selesai.

“Gue tau,” potong Rendra cepat, seolah takut Lala mundur sebelum ia sempat menjelaskan. “Sangat tau. Semua keresahan lo soal ini.”

Ia menurunkan sedikit tangannya, tapi tidak menyimpan kotak itu. “Bukan maksud gue gak ngerti lo, La. Gue ngerti. Mungkin lo udah capek denger gue selalu datang minta tolong ke lo.”

Rendra tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip kelelahan. “Dan iya, kali ini juga gue minta tolong lagi. Maaf.”

Nada suaranya melemah, jujur, nyaris putus asa.

“Tolong nikah sama gue,” katanya. “Gue gak tau harus minta ke siapa lagi selain lo.”

Ia menatap Lala lurus-lurus, tanpa memaksa, tanpa berusaha terlihat meyakinkan dengan kata-kata besar.

“Gue gak janji semuanya bakal gampang,” lanjutnya pelan. “Tapi gue janji, gue gak main-main. Sama lo. Sama keputusan ini.”

Hening kembali menyelimuti mereka. Danau di depan mereka tetap tenang.

Rendra menghela napas panjang, seolah baru sekarang berani membuka bagian yang paling ia simpan rapat.

“La... gue jelasin ya,” katanya pelan. “Biar lo gak mikir gue asal ngomong, atau ngeprank”

Ia menatap danau sebentar, lalu kembali ke Lala. “Bokap gue makin turun kondisinya. Sakitnya udah lama, lo tau itu. Tapi beberapa minggu terakhir... badannya makin lemah. Dokter juga udah mulai ngomong pake nada yang bikin orang siap-siap.”

Lala menegang. Ia memang tahu ayah Rendra sakit, tapi mendengar nada suara Rendra sekarang, itu beda. Lebih berat.

“Gue anak terakhir,” lanjut Rendra. “Dari dulu bokap gak pernah minta macem-macem. Tapi akhir-akhir ini, tiap gue pulang, pertanyaannya itu selalu muncul.” Ia tersenyum tipis, getir.

Rendra menunduk. “Gue bisa bohong. Bisa bilang gue punya pacar, punya hubungan serius, segala macem. Tapi gue gak mau bohong ke orang tua gue di kondisi kayak gini.”

Ia menoleh ke Lala lagi. “Gue gak punya siapa-siapa, La. Gak ada perempuan yang bener-bener dekat sama gue. Yang tau gue gimana, yang ngerti kebiasaan gue, yang bisa gue percaya.”

Nada suaranya merendah. “cuma lo.”

Hening.

“Gue gak datang ke lo karena terdesak doang,” katanya cepat, seolah takut disalahpahami. “Tapi karena kalo pun gue harus minta tolong seumur hidup, gue cuma berani sama lo.”

Kotak cincin itu masih ada di tangannya, tapi kini posisinya lebih rendah, tidak lagi seperti tawaran lebih seperti pengakuan.

“Gue tau ini gak adil buat lo,” lanjutnya jujur. “Gue tau kata ‘nikah’ itu sensitif banget buat lo. Dan gue benci diri gue sendiri karena tetep narik lo ke situ.”

Ia mengusap wajah sebentar, lalu berkata lirih, “Tapi bokap gue cuma pengen satu hal sederhana, lihat anak bungsunya settle. Tenang. Dan gue pengen dia tenang tanpa kepikiran gue sendirian.”

Rendra menatap Lala, matanya serius tapi tidak memaksa. “Gue gak minta jawaban sekarang. Gue cuma minta lo dengerin gue. Dan... pertimbangin.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara hampir berbisik,

“Karena kalo soal percaya, soal aman, soal bareng-bareng ngejalanin ini... orang pertama yang kepikiran sama gue ya lo.”

Angin sore berhembus pelan. Lala masih diam. Tapi kali ini, diamnya bukan kosong melainkan penuh

Lala masih diam. Tatapannya belum juga lepas dari titik entah di depan mereka. Kata-kata Rendra berputar-putar di kepalanya, saling bertabrakan, membuat dadanya terasa penuh tapi kosong di saat yang sama.

Rendra menunggu. Tidak menyela. Tidak mendesak.

Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka suara, nadanya lebih pelan, lebih hati-hati.

“Mungkin...” ia berhenti sejenak, mencari kata yang tidak terdengar seperti jebakan.

“Mungkin ini juga bisa jadi solusi buat masalah lo, La. Biar lo gak terus-terusan ngegantung Mama lo dengan jawaban nanti, nanti, nanti.”

Lala menelan ludah. Jari-jarinya saling menggenggam tanpa sadar.

“Gue gak ngajak lo buat main-main sama pernikahan,” lanjut Rendra cepat, seolah ingin menegaskan. “Gue tau ini serius. Makanya gue juga gak mau maksa.”

“Kita jalanin aja pelan-pelan. Sejalannya. Gak usah ada yang dipaksa, gak usah ada target macem-macem. Biar ngalir... kalo emang klik, ya klik dengan sendirinya.”

Ia tersenyum tipis. “Kalo enggak, setidaknya kita gak bohong ke siapa-siapa.”

Lala akhirnya menghela napas panjang. Suaranya keluar pelan, hampir seperti bisikan.

“Gue... gue gak tau mau bilang apa.”

Itu bukan iya. Bukan juga tidak. Tapi cukup jujur untuk menunjukkan betapa kusut kepalanya sekarang.

Rendra mengangguk pelan. Tidak terlihat kecewa, justru seperti sudah mengantisipasi.

“Gak apa-apa,” katanya lembut. “Gue ngerti kok.”

Ia berdiri lebih dulu, merapikan barang barang yang mereka bawa dan alas duduk yang tadi digelar. “pulang yuk. Udah mau gelap juga.”

Lala ikut berdiri tanpa banyak bicara. Di perjalanan pulang, Rendra tidak membuka topik itu lagi. Ia mengendarai motor seperti biasa, tenang. seolah sore itu tidak ada apa-apa selain dua orang yang pulang setelah piknik kecil.

Sesampainya di depan rumah Lala, Rendra mematikan mesin.

“Makasih ya udah mau dengerin gue,” ucapnya singkat.

Lala mengangguk. “makasi juga kue nya.”

Rendra tersenyum kecil.

Setelah itu ia pergi, meninggalkan Lala berdiri sendiri di depan rumahnya.

Malam itu, Lala masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Kepalanya penuh, dadanya sesak oleh sesuatu.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
sunrise
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
sunrise
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!