"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pagi yang Hilang
Bab 4: Pagi yang Hilang
Kegelapan masih menyelimuti langit Desa Sukasari ketika suara ketukan keras di pintu kayu membuyarkan mimpi buruk Anindya. Gadis kecil itu tersentak, jantungnya berpacu cepat dalam kegelapan kamar sempitnya yang pengap. Untuk sejenak, ia mengira dirinya masih berada di gubuk reot bersama Ayah, menunggu suara lembut Ayah yang membangunkannya untuk salat subuh sebelum berangkat ke sawah.
Namun, bau detergen yang tajam dan lantai marmer yang dingin di bawah kakinya segera menyentakkan kesadarannya. Ia tidak di rumah. Ia berada di penjara megah Tuan Wijaya.
"Bangun! Dasar pemalas! Apa kau pikir kau di sini untuk menjadi permaisuri?" Suara melengking Nyonya Lastri menembus celah pintu.
Anindya segera bangkit. Kepalanya terasa pening karena kurang tidur. Ia masih mengenakan kebaya merahnya yang kini sudah kusut masai dan berbau asam akibat keringat dan tumpahan air semalam.
Dengan tangan gemetar, ia membuka palang pintu. Di depannya, Nyonya Lastri sudah berdiri dengan tangan di pinggang, mengenakan daster sutra yang mewah, namun wajahnya tampak menyeramkan di bawah cahaya lampu koridor yang remang.
"Cepat ke dapur! Mbok Sum sudah menunggumu.
Jangan hanya berdiri seperti patung! Mulai hari ini, setiap pekerjaan rumah adalah tanggung jawabmu sebelum matahari terbit," gertak Nyonya Lastri.
"Tapi... Bu... Nin belum cuci muka..." bisik Anindya takut-takut.
Nyonya Lastri hanya mendengus sinis. "Di dapur ada air. Cepat!"
Anindya melangkah gontai menuju dapur. Di sana, ia bertemu dengan wanita tua yang semalam memberinya makan secara sembunyi-sembunyi—Mbok Sum. Wanita itu sedang menyalakan kompor gas yang besar, sebuah pemandangan yang asing bagi Anindya yang biasanya hanya melihat tungku kayu bakar.
"Sini, Nak," ajak Mbok Sum lembut, meski matanya sesekali melirik ke arah pintu, takut majikannya melihat. "Bantu Mbok mengupas bawang dan mencuci sayuran ini."
Anindya duduk di kursi kecil di sudut dapur. Ia mulai mengupas bawang merah. Kulit bawang yang tipis itu seolah melambangkan nasibnya—begitu mudah dikoyak dan dibuang. Tak lama kemudian, matanya mulai perih. Bukan hanya karena uap bawang yang tajam, tapi juga karena rasa sesak yang kembali naik ke tenggorokannya.
"Mbok... jam berapa sekarang?" tanya Anindya pelan.
"Masih jam lima pagi, cah ayu," jawab Mbok Sum iba.
Anindya terdiam. Biasanya, jam lima pagi Ayah akan menyeduh kopi pahit dan ia akan menyiapkan tas sekolahnya yang kusam. Ia teringat buku matematikanya yang tertinggal di bawah dipan di rumahnya. Hari ini adalah hari ujian. Teman-temannya pasti sedang bersiap-siap sekarang.
"Anindya! Jangan melamun!" Teriak Nyonya Lastri yang tiba-tiba muncul lagi. "Setelah kupas bawang, sikat lantai teras belakang. Jangan sampai ada debu sedikit pun!"
Dengan tangan yang masih pedih karena getah bawang, Anindya menyeret ember berisi air sabun ke teras belakang. Udara subuh sangat menusuk, menyusup ke sela-sela kebaya tipisnya. Ia berlutut di atas lantai marmer, menggosoknya dengan sikat kayu yang kasar. Tangannya yang kecil perlahan memerah dan terasa perih, namun ia tidak berani berhenti. Ia takut Nyonya Lastri akan mengirimnya pulang dengan kabar bahwa ia anak yang tidak berguna, dan itu berarti Ayahnya akan kembali dikejar-kejar hutang.
Saat matahari mulai naik dan sinarnya menyentuh pucuk-pucuk pohon kelapa, suara riuh terdengar dari dalam rumah. Itu adalah suara Satria.
Anindya berhenti sejenak dari kegiatannya menyikat lantai. Dari balik pintu kaca yang membatasi teras dan ruang makan, ia melihat sebuah pemandangan yang menghancurkan hatinya. Satria duduk di kursi makan yang empuk, mengenakan seragam sekolah yang bersih, putih, dan rapi. Di depannya tersedia segelas susu cokelat dan roti panggang. Tuan Wijaya duduk di kepala meja, membacakan koran sambil sesekali mengacak rambut putranya itu dengan bangga.
Anindya menatap seragam Satria dengan mata berbinar sekaligus pedih. Ia sangat merindukan seragam merah-putihnya sendiri.
Tuhan... Nin juga ingin sekolah, bisiknya dalam hati. Air matanya jatuh, menetes ke dalam air sabun di embernya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Pelayan Kecil?" Satria tiba-tiba berdiri di balik pintu kaca, menatap Anindya dengan seringai merendahkan. Ia sengaja menggendong tas ransel barunya yang bermerek.
"Kau mau sekolah? Jangan mimpi. Istri seorang Satria Wijaya tidak perlu sekolah. Kau cukup tahu cara memegang sapu dan mencuci piring."
Satria kemudian mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan sombong sebelum berlari menuju mobil jemputan yang sudah menunggu di depan. Tuan Wijaya mengikuti dari belakang, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Anindya yang masih bersimpuh di lantai teras dengan tangan yang gemetar karena lelah.
Mobil itu melaju pergi, membawa pergi harapan Anindya tentang hari ujian matematikanya. Ia menunduk dalam-dalam, menatap bayangan dirinya sendiri di permukaan air sabun yang keruh. Ia merasa seolah-olah dunianya baru saja terbelah menjadi dua: dunia di dalam rumah yang penuh kemewahan namun terasa seperti neraka, dan dunia di luar sana—sekolah dan teman-temannya—yang kini terasa sejuta mil jauhnya.
"Anindya! Kenapa berhenti? Cepat selesaikan! Setelah ini cuci semua baju kotor di bak belakang!" Suara Nyonya Lastri kembali menggelegar.
Anindya menarik napas panjang, mencoba menghapus air matanya dengan bahunya yang lelah. Ia kembali menggosok lantai dengan tenaga yang tersisa. Setiap gesekan sikat di atas marmer itu seolah menjadi detak jam yang menandai dimulainya hidup barunya sebagai budak di balik status "istri".
Pagi itu, Anindya tidak hanya kehilangan kesempatan untuk mengikuti ujian sekolah. Ia kehilangan haknya untuk menjadi seorang anak kecil. Di bawah terik matahari pagi yang mulai menyengat, ia menyadari satu hal: di rumah ini, ia tidak punya suara. Ia hanyalah sebuah mahar—benda mati yang harus patuh demi keselamatan ayahnya di desa.
Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah Ayah yang sedang tersenyum. Ayah, Nin akan sabar... Nin akan kuat sampai Ayah datang jemput Nin nanti, janjinya dalam hati, meski ia sendiri tidak tahu kapan hari itu akan tiba.
Anindya bangkit, mengangkat ember yang terasa sangat berat bagi tubuh mungilnya, lalu berjalan menuju deretan tumpukan baju kotor di belakang. Langkahnya gontai, kepalanya tertunduk, sementara di kejauhan, lonceng sekolah mulai berbunyi—sebuah melodi yang kini hanya menjadi mimpi bagi sang mempelai kecil yang malang.