NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Kebebasan

Gisel melangkah masuk ke dapur dengan langkah yang terasa berat. Suasana rumah itu mendadak begitu dingin, meskipun di luar sana Jalan Bunga sedang mulai memanas oleh lampu-lampu neon. Ia melihat Tante Ira sedang duduk santai di meja makan, menyesap teh pahit sambil menatap kosong ke arah jendela.

"Besar juga nyalimu membawa pria itu ke sini," sindir Tante Ira tanpa menoleh.

Suaranya datar, namun mengandung ketajaman yang membuat Gisel merinding. Gisel terhenti, jemarinya meremas ujung seragamnya.

"Aku tidak seberani itu, Tante. Aku hanya ingin membantu. Keira sedang sakit, dan dia hanya menginginkanku." Tante Ira menoleh perlahan, menatap Gisel dengan tatapan kasihan sekaligus peringatan.

"Semoga saja keputusanmu kali ini tidak berakhir dengan pertumpahan darah, Gisel." Gisel terpaku.

Ia menatap bingung ke arah wanita yang biasanya bersikap acuh tak acuh itu. Ia ingin menuntut penjelasan apa yang dimaksud dengan 'pertumpahan darah', namun Tante Ira tidak memberi ruang untuk bertanya lebih lanjut. Ia melenggang pergi, menutup pintu kamarnya dengan bunyi berdebam yang pelan namun pasti.

Apa yang mungkin terjadi? Gisel mencoba menghubungkan kata-kata itu dengan sosok Arlan. Di matanya, Arlan adalah pria yang rapuh secara fisik dibandingkan pamannya.

Mungkin Arlan akan babak belur, mungkin ia akan pulang dengan lebam, tapi pertumpahan darah? Gisel menggelengkan kepala. Sejauh yang ia tahu, Om Arman adalah pria yang tegas dan kasar, tapi ia bukan pembunuh.

Gisel tidak pernah tahu bahwa selama belasan tahun ini, ia sengaja diletakkan di dalam gelembung suci, dijauhkan dari dunia yang abu-abu, dari sisi gelap Jalan Bunga di mana darah sering kali menjadi tinta untuk menulis kesepakatan.

Sementara itu, di ruang tamu yang temaram, suasana terasa begitu menyesakkan. Arlan duduk tegak di atas kursi rotan, berhadapan langsung dengan Om Arman.

Pria berwajah sangar itu baru saja mematikan puntung rokoknya di asbak kaca yang sudah penuh. Ia tidak bicara, hanya menatap Arlan dengan mata elang yang seolah bisa menembus tengkorak kepala pria di depannya.

"Kuakui kamu punya nyali, Tuan Bank," kata Om Arman, akhirnya memecah keheningan dengan suara rendah yang penuh penekanan.

"Sekarang, katakan apa maumu sebelum kesabaranku habis."

Arlan berdeham, mencoba mengusir rasa gentar yang merayap di tenggorokannya.

"Om Arman pasti sudah tahu maksud kedatanganku, tapi aku ingin mengatakannya secara resmi sebagai pria. Aku datang untuk meminta persetujuanmu. Aku ingin Gisel menjadi teman anakku, Keira. Dia bukan pengasuh, bukan pula pelayan. Dia hanya akan menemani Keira sepulang sekolah hingga makan malam. Di hari libur, aku akan menjemputnya dan memastikan dia pulang sebelum pukul tiga sore."

"Apa yang kamu tawarkan untuk waktu berharga keponakanku?" tanya Arman sinis.

"Aku akan menjamin seluruh pendidikannya hingga tingkat tertinggi yang diinginkannya. Aku akan membiayai semua kebutuhannya tanpa kecuali," jawab Arlan mantap.

"Aku pun bisa melakukannya. Aku punya uang untuk menyekolahkannya setinggi langit jika aku mau," decak Om Arman dengan nada mengejek yang kental.

Arlan menarik napas dalam, lalu meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di atas meja kayu di antara mereka.

"Ini... uang yang aku siapkan sebagai tanda keseriusanku. Bukan untuk membeli kebebasannya, tapi sebagai jaminan bahwa dia akan berada di tangan yang tepat."

Om Arman bahkan tidak melirik amplop itu. Baginya, uang kertas adalah benda mati yang tidak bisa membuktikan apa-apa. Ia justru menoleh ke belakang, ke arah Barong yang berdiri seperti patung.

"Barong, ambilkan pelindung kepala untuk tamu kita."

"Apa maksudnya ini?" batin Arlan, matanya menyipit waspada.

"Aku bukan sepertimu yang bisa bernegosiasi dengan angka dan kertas," kata Om Arman sambil berdiri dan melepaskan jaket kulitnya.

Di bawah lampu yang remang, tato di lengan kekarnya tampak hidup, otot-ototnya menegang di balik kaos kutung yang ia kenakan.

"Aku lebih suka mendengarkan suara tinju untuk memutuskan apakah seseorang layak atau tidak."

Arlan menerima pelindung kepala yang disodorkan Barong dengan tangan sedikit gemetar. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Jika ia mundur sekarang, ia tidak akan pernah mendapatkan Gisel, dan Keira akan kehilangan satu-satunya harapannya.

Dengan langkah berat, Arlan mengikuti Om Arman menuju sepetak tanah lapang di samping rumah, tempat yang biasanya digunakan untuk latihan tanding anak buah Arman.

Beberapa penghuni Jalan Bunga yang lewat mulai berbisik-bisik, mengintip dari balik pagar. Mereka penasaran melihat pria necis dengan kemeja mahal berdiri di arena tanding melawan sang penguasa wilayah.

Om Arman mengambil posisi kuda-kuda yang kokoh. Sementara Arlan, yang hanya pernah melihat tinju dari layar televisi, mencoba mengangkat kedua tangannya di depan wajah, mengepalkan tinju dengan kikuk. Posisinya jauh dari kata siap, namun Om Arman tidak memberi ampun.

Bugh!

Satu pukulan mentah menghantam lengan Arlan yang mencoba menangkis. Lengannya seketika terasa berdenyut, seolah tulang di dalamnya retak. Arlan terhuyung, namun ia mencoba bertahan. Ia mencoba mengingat gerakan dasar pertahanan diri, tetapi kecepatan Om Arman jauh melampaui koordinasi matanya.

Pukulan demi pukulan mendarat telak di tubuh Arlan. Di bahu, di rusuk, dan di dada. Anak buah Om Arman bersorak rendah, menikmati pemandangan pria kota yang mulai terhuyung dengan napas tersengal.

"Aku akui keteguhanmu, tapi itu tidak cukup untuk menjaga seseorang di dunia ini!" teriak Om Arman.

Bugh!

Kali ini, sebuah pukulan keras menghujam perut Arlan. Arlan seketika jatuh bertumpu pada lututnya. Oksigen seolah direnggut paksa dari paru-parunya. Ia merasa mual yang hebat, perutnya melilit, dan pandangannya mulai mengabur. Ia membuka mulutnya, terbatuk-batuk seperti orang yang hendak muntah.

"Ayo berdiri! Katanya kamu pria!" tantang Om Arman, suaranya menggelegar di keheningan senja.

Pandangan Arlan berkunang-kunang, namun bayangan wajah Keira yang pucat di rumah sakit muncul di benaknya. Dorongan itu memberinya tenaga tambahan yang mustahil. Dengan tubuh yang sudah mati rasa, ia kembali memaksakan diri untuk berdiri tegak, meskipun kakinya gemetar hebat.

Om Arman tersenyum, sebuah senyum puas sekaligus kejam. Ia menghargai kegigihan itu, tapi ujian terakhir harus diberikan. Satu pukulan hook kiri yang presisi menghantam rahang Arlan. Suara benturan itu terdengar jelas. Tubuh Arlan seketika ambruk, tak sadarkan diri sebelum wajahnya menyentuh tanah.

"Angkat dia ke dalam!" perintah Om Arman pada Barong.

Tubuh Arlan yang tak berdaya diangkat masuk ke ruang tamu dan dibaringkan di sofa tua. Gisel, yang sejak tadi berkutat di dapur dengan kekhawatiran, segera dipanggil keluar.

Begitu melihat keadaan Arlan, Gisel membekap mulutnya sendiri. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Arlan yang biasanya terlihat bersih, rapi, dan penuh wibawa, kini terkapar dengan wajah babak belur, sudut bibir yang pecah, dan napas yang berat.

"Om..." suara Gisel tercekat.

Tahu apa yang akan keponakannya katakan, Om Arman hanya menatap amplop cokelat di atas meja, lalu beralih pada Gisel.

"Dia sudah membayar izinnya dengan rasa sakit. Sekarang, dia adalah tanggung jawabmu di rumah ini."

Om Arman mengambil jaket kulitnya kembali, menatap Gisel dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Bersihkan lukanya dan oleskan obat!” perintah Om Arman yang kemudian meninggalkan rumah bersama dengan anak buahnya.

Gisel segera mengambil kotak P3K dan duduk di samping sofa. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengusap darah di sudut bibir Arlan.

Di tengah kebisingan yang mulai di Jalan Bunga, Gisel menyadari bahwa pria ini baru saja mempertaruhkan nyawanya hanya untuk seorang anak kecil dan untuk dirinya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di masa depan, tapi malam itu, di antara bau obat merah dan keringat, Gisel tahu bahwa dinding di sekelilingnya telah benar-benar runtuh.

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!