Hidup ku hancur setelah di jual oleh ayahku pada seorang pria tua yang tidak aku kenal. Nama ku Alexsa Camellia usia ku masih cukup belia, 18 tahun. Di mana harusnya aku masih menginjak bangku sekolah dan bermain dengan teman teman sebaya ku. Namun mimpi buruk itu datang saat ibu ku meninggal dan aku harus bertemu dengan orang yang sudah menelantarkan ku sejak kecil, kedatangan nya bukan untuk menolong ku tapi mengingat kan pertukaran diriku dengan sejumlah uang.
Malam itu aku bertemu dengan seorang pria yang menolong ku saat aku berusaha kabur dari kejaran nya, pria itu memukul habis pria tua tidak tahu diri itu dan membawa ku pergi dari sana. Aku merasa aman tapi perasaan ku tetap waspada karena aku tidak mengenal pria itu, bisa saja dia lebih jahat dari ayah ku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajani Wuhhgy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Making Love
Brata menarik tangan Natasya dengan cepat membawa wanita hamil itu menuju ke suatu ruangan di rumah besar nya.
" Papi ngapain sih narik narik aku kesini, kalau ada yang lihat gimana?. " Ucap Natasya berusaha melepaskan genggaman erat tangan Brata.
" Apa kamu tidak merindukan ku sayang, aku begitu menginginkan mu.. " Brata langsung mengendus dan mengecup leher mulus Natasya membuat wanita mengeliat geli.
" Gak di sini mas, kan kita bisa ketemu di apartemen atau di hotel kalau ada yang lihat gimana coba?. " Natasya berusaha mendorong pelan dada Brata membuat pria itu kesal.
" Gak ada siapa siapa di rumah, Laras juga lagi pergi ke rumah Meta yang lain juga sibuk sendiri. Ayolah sayang aku menginginkan mu.. " Brata menaikan tubuh Natasya yang begitu ringan baginya itu.
Natasya mengalungkan kedua tangannya di leher Brama. Pria itu bersiap membuka celana nya dan nampak sesuatu yang telah berdiri dengan sempurna menyembul keluar dari balik celana dalamnya, Natasya selalu berbinar menatap senjata pria yang lebih pantas jadi ayahnya itu.
Ukurannya yang besar dan berurat membuat setiap wanita merasa kan kepuasan sesungguhnya di bandingkan bersama dengan Sam Natasya lebih merasa terpuaskan dengan mertuanya sendiri, Brama memasukan senjata nya dengan pelan dan langsung menggelamkan nya membuat Natasya memekik nikmat.
" Ah.. " Brata memaju mundur kan milik nya menerjang gua kenikmatan Natasya yang begitu sempit dan nikmat. Bunyi penyatuhan itu bergema di dalam ruangan kecil bekas tempat kerja Brata dulu.
Desahan desahan kenikmatan begitu nyaring terdengar. Brata memutar tubuh Natasya memasui wanita itu dari belakang dengan cepat membuat nya terpekik nikmat, tubuh nya bergoyang berirama dengan kegiatan Brata. Kedua gunung kembar nya tak lepas dari genggaman tangan kekar Brata yang kuat.
***
Alexsa yang di minta Sam mengambil berkas di ruangan itu seketika mematung saat mendengar suara desahan dan suara suara penyatuhan yang nyaring, bulu bulu halus tubuh nya meremang mendengar kan nya.
" Suara apa itu? " Gumam Alexsa menghentikan langkah nya tepat di depan pintu ruangan di mana Sam meminta nya mengambil kan berkas.
" Ah... ah.. iya.. terus.. ah.. " Desahan desahan seorang pria dan wanita semakin membuat Alexsa penasaran. Gadis itu mengintip di balik lobang kunci di mana mulutnya mengangga tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Alexsa membungkam mulutnya dan berjalan mundur perlahan. Matanya melotot tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat, kejadian itu dan seseorang di balik pintu itu bagaimana bisa mereka melakukan hubungan terlarang itu.
" Mereka melakukan hubungan sex, tapi tuan Brata dan bu Natasya mereka... mereka ayah dan anak menantu bagaimana bisa seperti itu?. " Alexsa benar-benar syok dan langsung berlari pergi meninggalkan ruangannya.
Prang
Tubuh oleng dan neourfes gadis itu membuat nya menyenggol sebuah vas berisik kan bunga mawar hitam di sudut lorong, Alexsa benar benar gugup dan merasa begitu takut jika mereka melihat keberadaan nya di sana entah apa yang akan mereka lakukan.
Brata menghentikan kegiatan nya dan Natasya yang merasa sedikit takut jika mereka kepergok oleh orang lain, Brama melepaskan milik nya yang masih berdiri kokoh berjalan ke arah pintu kemudian mengintip sedikit melihat jika vas bunga itu sudah terjatuh dan pecah tanpa terlihat ada orang lain selain mereka.
" Ada orang?. " Celetuk Natasya panik.
Bram menggeleng kemudian melanjutkan kembali memasukan milik ke dalam milik Natasya yang hanya pasrah menuruti nafsu pria itu yang belum juga selesai, Natasya terkadang merasa aneh bagaimana dia bisa tetap berdiri kokoh sedang kan mereka tidak ada siapa yang menjatuhkan vas bunga itu.
" Apa mungkin ada orang yang memergoki kita, bagaimana jika kita ketahuan?. "
" Bukan kah itu yang kamu inginkan, kamu ingin menjadi nyonya Brata Wijaya bukan?. " Brata mempercepat genjotan nya karena sesuatu di bawah sana sudah benar-benar sesak dan ingin di muntah kan.
Natasya berpegangan kuat pada lengan Brama menikmati pelepasan pria itu yang cukup lama.
" Ah... " Brata melepaskan benih-benih nya kembali ke dalam tubuh Natasya tanpa ragu dan pengamanan.
" Kau selalu membuat ku puas sayang.. " Brama meremas kuat kedua gunung kembar milik Natasya membuat wanita itu memekik sakit.
Alexsa yang segera pergi dari ruangan itu kemudian langsung ke dapur dan mengambil secangkir air putih, tenggorokan nya terasa tercekik dan kering.
" Aku harus tetap diam, jangan sampai mereka tahu itu aku. Bu Laras dan kak Sam mereka pasti begitu terluka dan kecewa jika sampai ini semua terbongkar tapi.. tapi... bagaimana aku bisa menyimpan rahasia sebesar ini?. " Batin Alexsa bergetar memegang gelasnya.
" Hey.. " Arkhana memeluk tubuh Alexsa dari belakang membuat gadis itu terkejut dan menjatuhkan gelas yang dia pegang seketika.
Prag
Arkhana dan Alexsa yang terkejut hanya saling pandang dan bingung.
" Hey, kenapa?. " Arkhana yang panik menyentuh pipi Alexsa yang dingin. Gadis berpikir jika Brata atau Natasya yang datang, tubuh nya membeku dan takut.
" Maaf kak, Ale gak sengaja. " Alexsa dengan sadar memunguti pecahan demi pecahan gelas itu dengan hati hati.
" Udah gak papa, jika ada sesuatu yang mengganjal pikiran katakan pada ku Ale tidak usah raga aku akan mendengar kan semua itu. " Gumam Arkhana memegang kedua tangan Alexsa.
Alexsa tersenyum melihat pria itu yang selalu perhatian padanya.
" Terima kasih kak Arkhana. " Alexsa berdiri dan membuang sisa pecahan gelas itu di tempat sampah. Arkhana berdiri diam memperhatikan Alexsa yang nampak sedikit berbeda.
" Apa yang sedang gadis itu pikirkan, tidak seperti biasanya dia seperti itu?. " Batin Arkhana.