NovelToon NovelToon
Mengejar Mauren

Mengejar Mauren

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Gangster / Teen School/College / Persahabatan / Romansa / Kegiatan Olahraga Serba Bisa
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Mata Tak Bisa Berbohong

Sesampai di rumah saat santai dan ngobrol-ngobrol sambil nonton TV, papa Mauren nanya ke Mauren, “Oya Ren, kemarin Rommy dan Rony datang ke sini kayaknya diskusi serius banget sama kamu, ada apa, Ren?”

“Em Mauren nggak boleh cerita sih, Pa,” jawab Mauren. Mukanya langsung berubah sedih ketika papanya bertanya soal itu.

“Nggak apa-apa, papa nggak bakalan cerita-cerita,” jawab papa Mauren. “Siapa tahu papa bisa kasih solusi juga.”

“Anu, Pa, istri Pak Sajit terkena kanker usus stadium 4, dan kondisinya sudah paliatif,” jawab Mauren sedih. “Semua dokter sudah angkat tangan.”

“Aduh…” seru mama Mauren sambil ngasih teh ke papa Mauren. “Apa yang bisa kita bantu buat meringankan bebannya?”

“Kemarin kita diskusi soal itu, Ma, keputusannya Mauren, Rommy dan Sony menggalang dana lewat lingkaran teman masing-masing,” kata Mauren pelan. “Cuma masalahnya Pak Sajit nggak mau hal itu diketahui murid-murid dan guru-guru.”

“Papa donasi Rp 5 juta, Ren,” kata papa Mauren. “Tapi jangan kasih tahu atas nama papa ya? Bilang saja NN.”

“Wah terima kasih, Pa, papa baik banget,” kata Mauren lalu mencium pipi papanya.

“Papa langsung transfer sekarang ke rekening kamu, ya?” kata papa Mauren sambil meraih HP-nya dan membuka aplikasi mobile banking-nya.

“Terima kasih, Pa,” kata Mauren. Mama Mauren tersenyum melihat kehangatan mereka.

Keesokan harinya, acara di sekolah berlangsung seperti biasa, dan Pak Sajit sudah tiba dengan berwibawa seperti biasa. Saat bertemu Mauren, Mauren menyapa selamat pagi yang disambut oleh Pak Sajit dengan ramah dan senyum. Tapi Mauren melihat mata Pak Sajit nggak bisa bohong, bahwa dia menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang bikin trenyuh siapa pun.

Pada saat istirahat pertama, Mauren, Rommy dan Tony mulai bergerilya, menghubungi teman-temannya yang sekiranya bisa dipercaya untuk menjaga rahasia, mengumpulkan donasi untuk Pak Sajit.

Pada hari ketiga, usai jam sekolah, Rommy, Mauren dan Tony berkumpul di kelas XI-A sejenak. Sesuai janji, mereka meng-update perkembangan donasi untuk Pak Sajit.

“Di catatan aku, donasi yang terkumpul sudah mencapai Rp 10.500.000,” kata Mauren.

“Banyak banget, aku baru Rp 3.500.000,” kata Rommy.

“Aku malah baru 2,5 jutaan,” tukas Tony.

“Nggak apa-apa, semua nanti kita kumpulkan hari Jumat seusai sekolah, dan Sabtunya kita bersama-sama ke rumah Pak Sajit,” kata Mauren sambil menunjukkan catatan donasi yang sudah diterima.

Nilai yang sudah terkumpul pasti jauh dari biaya pengobatan Bu Sajit, tapi semoga bisa meringankan beban Pak Sajit.

“Omong-omong, aku hampir keceplosan ngomong ke Aryo soal donasi untuk Pak Sajit,” kata Tony. “Kalau sampai keceplosan ngomong, pasti dia cerita ke Axel, dan dia nggak mau kalah, dia pasti akan ngumpulkan donasi juga.”

“Dan ngember ke mana-mana pastinya,” kata Rommy sambil terkekeh.

“Kalau bisa jangan sampai Axel terlibat,” kata Mauren. “Kita pilih teman-teman atau orang-orang yang bisa jaga rahasia.”

“Coach Barda, temannya juga pelatih di Sasana Bulungan, juga ada yang terkena kanker stadium 4,” kata Rommy. Berdasarkan pengalamannya dia pernah berkata, “Uang memang penting pada saat begitu, tapi yang lebih penting orang-orang di sekitar yang mensupport dia.”

“Kita berusaha sebisa kita,” timpal Mauren.

“Tapi aku salut sama Pak Sajit, dalam situasi begini dia masih mampu tampil seolah tidak ada apa-apa,” kata Tony.

“Tapi tadi pagi aku ketemu Pak Sajit dan dia tetap berwibawa, ramah dan tersenyum seperti biasa,” kata Mauren. “Tapi matanya nggak bisa bohong bahwa dia sedang memikul sesuatu yang berat.” Mata Mauren berkaca-kaca setelah berkata demikian.

“Waktu aku dihukum skorsing 3 bulan aku sangat marah dan dendam kepada Pak Sajit waktu itu karena hukuman itu sangat tidak adil buatku,” kata Tony pelan. “Tapi setelah tahu apa yang dialami oleh Pak dan Bu Sajit, aku bisa mengerti kenapa Pak Sajit bisa mengambil keputusan secara terburu-buru.”

“Yang lalu biarlah berlalu, Ton. Toh dendammu sudah terbayar lunas,” kata Rommy sambil menepuk bahu sahabat barunya tersebut.

“Iya, sudah aku lupain, kok bro,” jawab Tony.

Saat di kantornya yang tidak mewah namun nyaman itu papa Mauren (atau Logan) terkenang pada masa mudanya dulu. Dia waktu itu masih aktif bertinju dan sebagai petinju dari Manado, dia cukup sering bertanding di Jakarta dan bertemu dengan coach Bruno muda. Waktu itu dia belum coach, dan terkenal sebagai petinju brutal yang menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya.

Sebagai petinju dari kota Manado yang sering bertanding di Jakarta, akhirnya Logan muda menetap sementara di Jakarta dan bergabung dengan sebuah sasana tinju di Jakarta, di mana Bruno juga bergabung.

Bruno waktu itu tidak suka Logan bergabung di sasananya, karena dia iri karena para promotor lebih menyukai gaya bertinju Logan yang sangat indah disaksikan dan penuh teknik yang brilian. Tapi suka atau tidak suka, Logan dan Bruno adalah kawan dalam satu sasana di bawah pelatih yang sama.

Saat itu Logan muda sedang dijadwalkan oleh promotor bertanding melawan petinju dari Amerika. Berbagai latihan keras dan persiapan matang dilakukan oleh Logan, sehingga suatu ketika dia harus berlatih tanding atau sparing melawan Bruno.

Dalam aturan tak tertulis, dalam latihan sparing seharusnya petinju hanya mengeluarkan pukulan ringan dan yang penting untuk latihan kecepatan, refleks, dan teknik pukulan. Namun itu tidak berlaku buat Bruno. Dia menggempur Logan dengan berbagai pukulan keras. Bruno berharap Logan cedera, dan batal tanding melawan petinju Amerika tersebut, dan dia yang tampil menggantikan Logan. Apalagi kalau bukan mengincar bayaran besar dan kemasyhuran jika berhasil menang atas petinju top dari Amerika tersebut?

Ambisi Bruno tercapai. Akibat pukulan-pukulan kerasnya dalam latihan tersebut, Logan menderita cedera pada lengannya, dan dia batal tampil melawan petinju Amerika yang terkenal itu. Akhirnya Bruno ditunjuk oleh promotor menggantikan Logan.

“Melayang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah,” kata Bruno menyindir Logan yang kecewa karena gagal bertanding itu dengan mengutip perkataan petinju legendaris Muhammad Ali.

Hasilnya tidak terlalu penting, namun fakta berbicara bahwa Bruno kalah TKO pada ronde 1, tapi dia memperoleh bayaran besar, fantastis untuk bayaran petinju Indonesia pada saat itu.

Papa Mauren tersenyum tipis mengenang masa mudanya dulu dengan Bruno. Dan ciri khas Bruno yang dulu penuh ambisi dan menghalalkan segala cara dalam menggapai ambisinya tersebut masih terbawa sampai sekarang, walaupun dia sudah berumur dan sudah menyandang gelar coach.

Malam itu Mauren melihat catatan di spreadsheet-nya, donasi yang sudah terkumpul di rekeningnya ada Rp 18.750.000, not bad, dan dia segera mengeceknya di rekening m-banking-nya, dan cocok.

Esok sore setelah usai jam sekolah, Rommy, Mauren dan Tony berkumpul terakhir kali sebelum berkunjung ke rumah Pak Sajit besoknya.

“Donasi yang terkumpul di aku Rp 18.750.000,” ujar Mauren sambil menunjukkan printout spreadsheet-nya.

“Banyak banget, dasarnya cewek cakep emang mudah menggalang donasi,” kata Rommy yang mulai bisa menggoda Mauren.

Langsung pipi Mauren memerah dan segera mencubit lengan Rommy sekeras-kerasnya.

“Ampun, non. Ampun,” teriak Rommy. “Sekarang serius. Total yang aku kumpulkan ada Rp 6 juta.”

“Wah banyak tuh. Aku cuma bisa Rp 4,75 juta,” kata Tony. “Mungkin karena tampangku preman ya? Nggak berbakat cari donasi.”

“Berapapun yang terkumpul akan sangat bernilai buat Pak dan Bu Sajit,” kata Mauren. “Jadi kita besok ke rumah Pak Sajit jam berapa?”

“Jam 4 sore saja,” usul Rommy.

“Setuju, kita ketemu jam 4 sore di rumah Pak Sajit,” kata Tony.

Akhirnya mereka berpisah. Donasi sudah terkumpul, tapi sebelum tidur malam itu pikiran Mauren berkeliaran menyisakan satu pertanyaan: apakah Pak Sajit akan marah karena rahasia soal sakit istrinya itu dibocorkan? Yang pasti mereka bertiga berani menanggung risiko itu karena ini demi tindakan kemanusiaan.

1
bartolomeus marsudiharjo
Gue banget
bartolomeus marsudiharjo
Seru banget. Menjanjikan.
jc: terimakasih
total 1 replies
Noname
Karya Ai ?
jc: bukan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!