"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 24
BAB 24 — Penggeledahan
Atmosfer di Ruang Makan Villa Grand Hills bukan lagi tegang. Atmosfernya beracun.
Pak Burhan sudah memegang lengan Mayang, siap menggiringnya ke ruang guru untuk interogasi tertutup. Uang tiga juta di jaket sudah cukup menjadi bukti awal.
Namun, Vivie belum puas.
Kemenangan setengah-setengah bukan gaya Vivie. Dia ingin kemenangan mutlak. Total annihilation.
“Tunggu, Pak!” seru Vivie, merentangkan tangan menghalangi jalan Pak Burhan.
“Apalagi, Vivie? Buktinya sudah ada. Biar Bapak proses,” kata Pak Burhan tidak sabar. Kopi paginya sudah dingin.
“Uang tunai itu cuma sebagian kecil, Pak. Yang paling penting itu dompetnya! Dompet Prada Saffiano merah muda. Di dalamnya ada kartu kredit Black Card Papa saya, KTP, dan SIM. Kalau itu nggak ketemu, bisa disalahgunakan buat gesek tunai atau pinjaman online!”
Vivie menatap Mayang dengan mata berkilat.
“Saya yakin dompetnya masih ada di sini. Di tasnya.”
Vivie menunjuk tas ransel kanvas hitam Mayang yang tergeletak di bawah meja prasmanan, tempat Mayang meletakkannya saat sedang mengecek logistik tadi.
“Pak, geledah tasnya sekarang. Di sini. Biar semua orang lihat kalau dia bukan cuma maling duit, tapi maling identitas.”
Pak Burhan ragu sejenak. “Vivie, penggeledahan barang pribadi sebaiknya di ruang tertutup...”
“Kenapa harus tertutup? Dia nyurinya di area terbuka kok! Kalau Bapak bawa dia ke ruang guru, bisa aja dia buang dompetnya di jalan. Kita butuh transparansi, Pak! Vino aja tadi bilang butuh transparansi!”
Vivie pintar. Dia menggunakan kata-kata Vino untuk memojokkan situasi.
Vino, yang berdiri di samping meja prasmanan, hanya diam. Wajahnya tidak terbaca. Dia tidak mengiyakan, tapi juga tidak melarang. Dia hanya menatap tas ransel hitam itu.
Pak Burhan menghela napas kasar. Tekanan dari anak pemilik donatur terbesar (Vivie) memang sulit diabaikan.
“Baik. Ambil tasnya.”
Sarah dan Oline, dua dayang setia Vivie, langsung bergerak cepat seperti hyena yang melihat bangkai. Mereka menyambar tas ransel Mayang.
“Jangan!” Mayang refleks berteriak. Suaranya serak.
Itu teriakan pertama Mayang pagi ini. Dia tidak berteriak saat dituduh mencuri uang. Tapi saat tasnya diambil, dia panik luar biasa.
Bukan karena ada dompet curian di sana. Tapi karena isi tas itu adalah harga dirinya.
“Balikin! Itu barang pribadi saya!” Mayang mencoba memberontak dari pegangan Pak Burhan.
“Tuh kan! Dia panik! Pasti ada barang buktinya!” kompor Oline.
Sarah membawa tas itu ke meja tengah, meja bundar besar yang kosong. Dia meletakkannya di sana seolah meletakkan bom.
“Buka, Sar. Tumpahin semuanya,” perintah Vivie dingin.
“Jangan... tolong jangan...” lirih Mayang. Tubuhnya mulai gemetar. Getaran itu dimulai dari tangan, lalu merambat ke bahu, hingga lututnya goyah.
Sarah membuka resleting tas itu dengan kasar. Zrekk.
Lalu, tanpa perasaan, dia membalik tas itu.
Bruk. Klontang.
Isi tas Mayang berhamburan keluar, tumpah ruah di atas meja marmer yang mengkilap.
Tidak ada gadget mahal. Tidak ada pouch makeup bermerk.
Yang keluar adalah realitas kemiskinan yang telanjang.
Baju ganti Mayang: Kaos-kaos partai yang sudah pudar warnanya, daster batik tua milik Budhe yang dijahit tangan di beberapa bagian. Peralatan mandi: Sabun batangan yang sudah tipis dibungkus plastik kresek, sikat gigi yang bulunya sudah mekar, dan sampo sachet rencengan. Pakaian dalam: (Bagian ini yang paling memalukan). Pakaian dalam yang warnanya sudah kusam, karetnya melar, sangat kontras dengan lingerie sutra yang mungkin dibawa siswi lain.
Beberapa siswa laki-laki bersiul atau tertawa kecil melihat pakaian dalam itu.
Wajah Mayang memerah padam, semerah darah. Dia memejamkan mata. Rasa malunya lebih menyakitkan daripada tuduhan mencuri itu sendiri. Dia merasa ditelanjangi di depan satu angkatan.
Vino melihat itu. Rahangnya mengeras. Dia memalingkan wajah sedikit, memberi Mayang sedikit privasi dengan tidak menatap barang-barang itu. Tangannya di saku celana mengepal hingga kukunya menancap ke telapak tangan.
Ini bukan prosedur hukum, batin Vino. Ini eksekusi publik.
“Duh, gembel banget isinya,” komentar Oline jijik, memegang ujung kaos partai dengan dua jari. “Ini baju apa lap pel?”
“Fokus cari dompetnya!” bentak Vivie.
Sarah mengaduk-aduk tumpukan barang lusuh itu. Dia menyingkirkan handuk yang sudah kasar seratnya.
Di bawah tumpukan handuk itu, ada sebuah bungkusan plastik hitam.
“Apa ini?” tanya Sarah.
Dia merobek plastik itu.
Jatuhlah sebuah benda berwarna merah muda yang menyala.
Dompet Prada Saffiano.
Kondisinya mulus, kulit aslinya berkilau di bawah lampu gantung. Sangat tidak pada tempatnya di antara tumpukan baju rombeng itu. Seperti berlian di tempat sampah.
“KETEMU!” teriak Sarah histeris, mengangkat dompet itu tinggi-tinggi seperti piala kemenangan.
Sorak-sorai pecah di ruang makan. Sebagian besar bersorak menghujat.
“Gila! Beneran ada!” “Dasar maling!” “Nggak tahu diri! Udah miskin, nyusahin!”
Vivie tersenyum lebar. Kemenangan mutlak.
Dia menyambar dompet itu, membukanya.
“Kartu kredit Papa... ada. KTP... ada. Uang receh... ada.”
Vivie menatap Mayang yang kini berdiri mematung. Mayang tidak lagi memberontak. Dia seperti patung es yang retak di mana-mana. Pucat. Bibirnya membiru.
“Masih mau ngelak, Mayang Sari?” tanya Vivie lantang. “Dompet gue ada di dalem bungkusan handuk lo. Lo bungkus rapi biar nggak ketahuan. Rencana lo gagal.”
Mayang membuka matanya. Tatapannya kosong.
“Saya nggak tahu,” bisik Mayang. Suaranya hampir hilang. “Saya nggak pernah liat dompet itu.”
“Halah! Basi!” seru Jerry dari kerumunan. “Buktinya valid, Bro. Udah lah, akuin aja.”
Pak Burhan menggeleng-gelengkan kepala, wajahnya penuh kekecewaan.
“Saya kecewa sama kamu, Mayang. Saya pikir kamu anak baik. Ternyata prestasi kamu cuma kedok.”
“Pak, dengerin saya...” Mayang mencoba bicara, tapi suaranya bergetar hebat. Dia tidak bisa merangkai kalimat. Guncangan mentalnya terlalu besar.
Naufal, yang sedari tadi ditahan oleh Jerry agar tidak maju, akhirnya melepaskan diri.
“Minggir lo semua!”
Naufal lari ke tengah ruangan. Dia berdiri di depan meja, melihat barang-barang Mayang yang berserakan.
Naufal mengambil jaketnya sendiri, lalu menutupi pakaian dalam dan baju lusuh Mayang di meja. Melindungi privasi gadis itu dari tatapan liar orang-orang.
“Kalian keterlaluan!” teriak Naufal. Matanya merah, basah oleh air mata marah. “Lo semua seneng ya? Seneng liat orang dipermaluin kayak gini?”
Naufal menunjuk Vivie.
“Lo puas, Vie? Lo udah nemu dompet lo kan? Terus ngapain lo harus numpahin semua barang dia? Lo mau buktiin apa? Bahwa lo kaya dan dia miskin? Kita semua udah tahu, Sialan!”
“Gue cuma cari barang bukti, Fal! Prosedur!” balas Vivie, sedikit gentar melihat amarah Naufal.
“Prosedur tai kucing!” Naufal mengambil tas kosong Mayang, memasukkan kembali barang-barang Mayang dengan kasar tapi hati-hati. “Ini bullying! Ini kriminal!”
“Naufal! Jaga bicaramu di depan guru!” tegur Pak Burhan.
“Bapak juga!” Naufal berbalik ke Pak Burhan. “Bapak guru kan? Harusnya Bapak lindungi murid Bapak! Bukan biarin dia ditelanjangi masa lalu di depan umum!”
Pak Burhan terdiam. Nurani pendidiknya tersentil.
“Naufal, minggir. Mayang tetap harus diproses,” kata Pak Burhan, suaranya lebih lunak tapi tetap tegas.
Naufal menatap Mayang.
Mayang berdiri di sana, gemetar. Tangannya memeluk dirinya sendiri, seolah kedinginan di tengah kutub utara.
“May...” panggil Naufal lembut. “Bilang ke mereka lo nggak ngelakuin. Bilang, May.”
Mayang menatap Naufal. Tatapan itu kosong. Jiwanya seolah sudah pergi dari sana.
Mayang tidak menjawab. Dia hanya melihat ke arah satu orang.
Vino.
Vino masih berdiri di posisi yang sama. Dia tidak ikut menertawakan. Dia tidak ikut menghujat. Tapi dia juga tidak maju seperti Naufal.
Vino menatap dompet merah di tangan Vivie. Matanya menyipit, menganalisis.
Ada yang salah, batin Vino.
Vino melangkah maju. Pelan. Tenang.
Kerumunan membelah memberinya jalan. Aura Vino selalu membuat orang segan.
Dia berhenti di depan meja. Di depan tumpukan barang Mayang yang sudah setengah dibereskan Naufal.
Vino mengambil bungkusan plastik hitam bekas pembungkus dompet tadi. Plastik kresek hitam biasa.
Dia mengangkat plastik itu dengan ujung jari.
“Plastik ini,” suara Vino memecah keheningan. Datar, analitis. “Ini plastik biodegradable singkong. Jenis yang teksturnya licin dan gampang sobek.”
Semua orang bingung. Kenapa Vino bahas plastik?
“Terus kenapa?” tanya Vivie sinis.
Vino menatap Vivie.
“Mayang belanja di Pasar Induk Kramat Jati. Gue pernah liat belanjaannya. Di sana, mereka pake plastik kresek hitam konvensional. Yang bau karet daur ulang dan tebal.”
Vino menggesekkan plastik di tangannya. Bunyinya krosak-krosak halus.
“Plastik ini... ini jenis yang dipake di minimarket premium di area Pondok Indah atau Senayan. Ada logonya samar-samar di sini: The Food Hall.”
Vino menunjukkan logo kecil yang hampir pudar di plastik itu.
“Pertanyaannya: Kapan Mayang belanja di The Food Hall Senayan? Dia makan Lasagna 70 ribu aja nggak mampu. Ngapain dia punya kresek belanjaan elit?”
Analisis deduktif Sherlock Holmes ala Vino.
Kelas mulai berbisik lagi. Keraguan mulai muncul.
Vivie pucat. Dia lupa detail itu. Dia mengambil kresek sembarangan dari kamarnya untuk membungkus dompet itu sebelum menyelipkannya ke tas Mayang.
“Ya... ya mungkin dia nemu di jalan! Atau bekas bungkus sampah orang lain! Pemulung kan suka mungut plastik!” elak Vivie panik.
“Mungkin,” jawab Vino. Dia tidak mendebat. Dia hanya melempar fakta.
Vino meletakkan plastik itu kembali ke meja.
Lalu dia menatap Mayang.
“Gemetar itu reaksi biologis akibat lonjakan adrenalin dan kortisol,” kata Vino pada Mayang. “Bukan tanda bersalah. Itu tanda trauma.”
Vino membuka jaket parkanya sendiri. Jaket tebal hitam yang hangat.
Dia menyampirkannya ke bahu Mayang yang gemetar.
Mayang tersentak. Wangi Sandalwood dan Citrus langsung menyelimutinya. Wangi yang sama dengan saat di pesta.
“Pake,” bisik Vino. “Jangan gemetar di depan musuh. Mereka seneng liat lo lemah.”
Mayang mendongak menatap Vino.
“Vino...” suara Mayang pecah. “Aku nggak ambil...”
“Simpen tenaga lo buat sidang,” potong Vino.
Vino berbalik ke Pak Burhan.
“Pak, bukti fisik ditemukan. Mayang harus diproses sesuai aturan. Bawa dia ke ruang guru. Sidang tertutup.”
Naufal kaget. “Vin! Lo barusan buktiin plastiknya beda! Kok lo malah nyuruh dia disidang?!”
“Karena di sini pengadilan jalanan, Naufal!” balas Vino tajam. “Di sini nggak ada hukum. Di sini cuma ada massa yang haus drama. Mayang butuh ruang sidang yang adil. Bukan sirkus.”
Vino menatap Pak Burhan.
“Saya minta saya dilibatkan dalam sidang sebagai Ketua Panitia. Saya bertanggung jawab atas integritas anggota saya.”
Pak Burhan mengangguk. Argumen Vino masuk akal.
“Baik. Mayang, ikut saya. Vivie, kamu juga. Sebagai pelapor. Naufal, kamu tetap di sini jaga kondusifitas peserta.”
“Tapi Pak...” Naufal ingin ikut.
“Itu perintah!” bentak Pak Burhan.
Naufal terdiam, kalah lagi.
Pak Burhan membawa Mayang keluar dari ruang makan. Vivie mengikuti di belakang dengan senyum penuh kemenangan, sambil memeluk dompetnya.
Vino berjalan paling belakang.
Sebelum keluar, Vino berhenti di ambang pintu. Dia menoleh ke arah Jerry yang sedang merekam kejadian itu dengan HP.
“Siapapun yang upload video tadi ke medsos,” kata Vino dingin, matanya menyapu seluruh ruangan. “Gue pastikan beasiswa kuliah kalian di masa depan bakal gue persulit. Keluarga gue punya saham di banyak universitas. Try me.”
Jerry buru-buru menurunkan HP-nya. Siswa lain langsung memasukkan ponsel ke saku. Ancaman Vino adalah jaminan mutu.
Vino keluar, menutup pintu ruang makan.
Di lorong menuju ruang guru yang sepi, Mayang berjalan dengan kepala tertunduk, menyeret kakinya yang berat. Jaket kebesaran Vino membungkus tubuhnya, satu-satunya perisai yang tersisa.
Dia tidak menangis. Air matanya sudah kering. Yang tersisa hanyalah rasa dingin yang membekukan hati.
Dia dicap pencuri. Dipermalukan. Ditelanjangi.
Dan satu-satunya harapannya sekarang ada pada "plastik singkong" dan logika dingin seorang cowok jenius yang berjalan dua langkah di belakangnya.
Bersambung......