Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Dilepaskan Dengan Doa
Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan. Setiap awal bulan, ayah selalu menyisihkan sebagian gajinya untuk dikirim ke kampung. Uang itu menjadi penopang hidup kami—untuk bertahan dari hari ke hari dan untuk membiayai sekolah anak-anaknya, termasuk kakak dan abangku.
Bulan itu adalah bulan Juni. Bulan yang selalu terasa berbeda karena dipenuhi kesibukan ujian kenaikan kelas. Sejak hari pertama ujian dimulai, ibu memilih untuk tidak berjualan. Ia ingin anak-anaknya benar-benar fokus belajar, tanpa harus memikirkan membantu membuat kue atau berkeliling kampung seperti biasanya.
Setiap pagi, ibu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sederhana. Setelah itu, ia menyuruh kakak dan abangku duduk belajar. Buku-buku dibuka, pensil diasah, dan meja kecil di rumah kami berubah menjadi tempat menaruh harapan. Ibu mondar-mandir di sekitar mereka, sesekali mengingatkan, sesekali hanya berdiri memperhatikan, dengan mata yang tak lepas dari jam dinding.
Hari-hari ujian itu juga menjadi hari yang berbeda bagi kakak dan abangku. Ada waktu luang yang bisa mereka gunakan untuk beristirahat—bermain sebentar di depan rumah, tertawa kecil, atau hanya duduk memandang jalan. Hal-hal sederhana yang jarang mereka rasakan sebelumnya. Sejak kecil, mereka lebih sering berjualan keliling kampung daripada bermain dengan teman sebaya.
Aku sering memperhatikan mereka dari sudut rumah. Rasanya aneh melihat kakak dan abangku tertawa lepas seperti anak-anak lain. Namun di balik tawa itu, aku tahu mereka sedang mengumpulkan tenaga dan semangat—untuk kembali belajar, untuk lulus ujian, dan untuk melangkah sedikit lebih dekat ke masa depan yang selalu ibu doakan setiap malam.
Cerita yang berbeda datang dari Kak Rini dan Kak Pipi. Kak Rini sudah hampir enam bulan menganggur sejak pulang dari luar negeri. Hari-harinya ia habiskan membantu ibu di rumah, membuat kue, dan menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar ia tahu kapan datangnya.
Malam itu, Kak Rini dan Kak Pipi duduk di sebelah ibu yang sedang sibuk melipat kain. Lampu rumah temaram, suasana terasa hening. Aku duduk tidak jauh dari mereka, pura-pura bermain, padahaL telingaku menangkap setiap kata.
Kak Rini menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka percakapan.
“Bu… Rini minta izin dan restu ibu,” ucapnya pelan.
Ibu berhenti melipat kain dan menoleh. Tatapannya tenang, namun penuh perhatian.
“Kemarin Rini sempat menelepon ayah, pakai telepon rumah tetangga,” lanjut Kak Rini. “Ayah minta Rini dan Pipi ikut ke kota. Di sana katanya ada banyak pabrik, banyak Perusahaan tempat kami bisa bekerja.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Ibu terdiam cukup lama. Tangannya masih memegang kain, tapi tak lagi bergerak. Aku melihat wajah ibu berubah—antara cemas, berat, dan pasrah.
Aku tak sepenuhnya mengerti arti pergi ke kota. Tapi dari cara ibu menghela napas panjang malam itu, aku tahu keputusan ini bukan perkara kecil. Ini tentang berpisah lagi. Tentang melepaskan, demi bertahan.
Mendengar perkataan Kak Rini, ibu terdiam cukup lama. Tangannya yang semula sibuk melipat kain berhenti di udara. Pandangannya menunduk, seolah sedang menata perasaan yang tiba-tiba berdesakan di dadanya. Pergi ke kota… kata itu bukan hal asing bagi ibu. Ia sudah melepas ayah lebih dulu, dan kini harus kembali belajar merelakan anaknya.
Dalam hati, ibu diliputi banyak rasa. Ada lega karena tahu ayah masih memikirkan masa depan anak-anaknya.
Ada harap karena mungkin ini jalan keluar dari sempitnya hidup di kampung. Tapi di balik itu, ada cemas yang tak bisa ditolak—takut anaknya lelah, takut mereka terluka, takut mereka belajar terlalu cepat tentang kerasnya dunia.
Ibu menatap wajah Kak Rini dan Kak Pipi satu per satu. Wajah-wajah yang dulu masih kecil, yang dulu selalu berlarian di halaman rumah. Kini, mereka duduk di hadapannya dengan rencana besar tentang hidup mereka sendiri.
“Rini… Pipi…” suara ibu akhirnya terdengar, pelan namun dalam.
“Pergi itu bukan perkara jauh atau dekat. Pergi itu soal siap atau tidak.”
Kak Rini menunduk. Kak Pipi menggenggam tangannya sendiri.
“Kalau kalian ikut ayah ke kota,” lanjut ibu, “ibu cuma minta satu. Jaga diri baik-baik. Jangan malu kerja apa pun selama itu halal. Jangan lupa salat, jangan lupa pulang ke ibu lewat doa.”
Ibu berhenti sejenak, menarik napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca, namun suaranya tetap dijaga agar tidak goyah.
“Di sana mungkin kalian capek, mungkin merasa sendirian. Tapi ingat, ibu di sini selalu mendoakan. Jangan pernah merasa kalian sendirian.”
Kak Rini mengangguk pelan. Suaranya bergetar saat menjawab,
“Iya, Bu. Rini janji.”
Ibu lalu mengulurkan tangan, menggenggam tangan Kak Rini dan Kak Pipi erat-erat.
“Ibu ikhlas,” kata ibu akhirnya. “Kalau ini jalan terbaik menurut ayah dan kalian. Pergilah, tapi jangan lupa… rumah ini selalu tempat pulang.”
Aku yang sejak tadi diam, merasakan dada ikut sesak. Malam itu, aku mengerti satu hal meski usiaku masih kecil: cinta seorang ibu kadang bukan tentang menahan, melainkan tentang menguatkan diri untuk melepaskan.