NovelToon NovelToon
Tertembak Cinta Nona Gangster

Tertembak Cinta Nona Gangster

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Bad girl / Persaingan Mafia
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.

Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.


Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?

NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Gelisah dan Bimbang

​Lampu-lampu koridor rumah sakit mulai berpendar temaram, menciptakan bayangan panjang yang seolah mengikuti langkah Andreas. Ia berjalan dengan kepala tertunduk, mengenakan jaket hoodie gelap untuk menyamarkan identitasnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada musuh, melainkan karena rasa bersalah yang kini merambat seperti racun di pembuluh darahnya.

​Bayangan kejadian malam itu saat ia kehilangan kendali karena alkohol dan keputusasaan terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia ingat bagaimana Grace memohon, dan bagaimana ia justru mengabaikannya.

​"Tuan," bisik Miller yang berjalan di sampingnya. "Tuan Zavian baru saja pergi sekitar sepuluh menit yang lalu. Kamar sedang kosong, hanya ada perawat di pos jaga."

​Andreas menghembuskan napas berat. "Bagus. Tunggu di sini, Miller. Jangan biarkan siapa pun masuk."

​Dengan tangan gemetar, Andreas memutar kenop pintu kamar VVIP. Suara desis mesin oksigen dan ritme heart rate monitor menyambutnya. Di atas ranjang, Grace tampak sangat kecil dan rapuh. Wajahnya yang biasanya tegas kini pucat pasi, dengan perban yang masih melilit di beberapa bagian tubuhnya.

​Andreas melangkah mendekat. Setiap gesekan sepatunya di lantai terasa seperti teriakan di telinganya. Saat ia berdiri tepat di samping ranjang, Grace perlahan membuka mata.

​Keheningan menyergap. Mata Grace yang sayu seketika membelalak. Ada kilatan ketakutan yang nyata di sana, sebuah gerak refleks dari tubuh yang pernah disakiti. Ia mencoba menarik tubuhnya menjauh, namun rasa sakit di punggungnya membuatnya mengerang kecil.

​"Nona Grace... ini aku," ucap Andreas, suaranya parau dan hampir tidak terdengar.

​Grace mengatur napasnya yang memburu. Secara insting, ia mencoba memperbaiki posisi duduknya. Meski lemas, profesionalisme yang mendarah daging membuatnya tetap berusaha menunjukkan rasa hormat. "Tuan... Tuan Andreas? Ada apa Tuan datang kemari?"

​Andreas tertegun melihat Grace yang masih berusaha memanggilnya 'Tuan' dengan nada formal, meski pria di hadapannya inilah penyebab ia menderita.

​"Jangan bergerak," potong Andreas cepat, tangannya menggantung di udara, ragu apakah ia boleh menyentuh Grace atau tidak. Akhirnya, ia menurunkannya kembali. "Aku... aku hanya ingin melihat kondisimu."

​Grace menunduk, tidak berani menatap mata Andreas. Kenangan tentang tangan Andreas yang mencengkeramnya malam itu membuatnya merasa canggung dan kotor secara bersamaan. "Terima kasih, Tuan. Saya sudah jauh lebih baik."

​"Maafkan aku, Grace," kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Andreas. Ia berlutut di samping ranjang, membuat Grace tersentak kaget. "Aku benar-benar minta maaf. Malam itu... aku tidak sadar. Aku seperti iblis. Aku telah menghancurkan satu-satunya orang yang benar-benar setia menjagaku."

​Grace terdiam. Ia bisa mendengar getaran tulus dalam suara Andreas, namun rasa traumanya terlalu besar untuk sekadar dimaafkan dengan kata-kata. Ia meremas ujung selimutnya. "Semua sudah terjadi, Tuan. Saya hanya menjalankan tugas saya... menjaga Anda, termasuk dari diri Anda sendiri."

​"Kau masih saja bicara soal tugas?" Andreas mendongak, matanya berkaca-kaca. "Aku hampir merenggut segalanya darimu, Grace!"

​"Tuan," suara Grace sedikit lebih tegas, meski tetap lembut. "Saya sudah memaafkan Anda sebagai atasan saya. Tapi tolong... saya sedang lelah. Saya ingin beristirahat."

​Kalimat itu adalah penolakan halus yang sangat menyakitkan bagi Andreas. Grace tidak memaafkannya sebagai 'pria', melainkan hanya sebagai 'atasan'. Hubungan mereka telah mati secara personal.

​Andreas berdiri perlahan, merasa seperti orang asing yang paling tidak diinginkan di ruangan itu. "Baiklah. Istirahatlah. Aku sudah meminta Miller memastikan semua perawatanmu adalah yang terbaik. Aku... aku pergi."

​Grace hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. Begitu pintu tertutup, Grace memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan tangan Andreas yang seolah masih terasa di pundaknya.

​Andreas tidak langsung masuk ke dalam mobil. Ia justru duduk di pinggiran bumper depan mobil sedan hitamnya, mengeluarkan sebungkus rokok, dan menyalakannya. Asap mengepul di antara udara malam yang dingin.

​"Tuan," Miller mendekat dengan hati-hati. "Sebaiknya kita pulang sekarang. Tuan Wisnu dan Nyonya Miranti pasti sangat khawatir. Apalagi Tuan Besar Hadi... Anda tahu beliau sangat disiplin soal jam pulang."

​Andreas menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menengadah menatap langit Jakarta yang tanpa bintang. "Biarkan saja mereka khawatir, Miller. Rumah itu tidak terasa seperti rumah lagi. Semuanya penuh tekanan. Kakek, Paman Gio, Papah, Mamah... rasanya kepalaku mau pecah."

​"Tapi Tuan Besar Hadi bisa marah besar jika tahu Anda keluyuran tanpa tujuan," Miller mencoba menasehati lagi.

​"Kalau kau ingin pulang, silakan pergi. Tinggalkan saja aku sendiri di sini. Aku butuh ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun di rumah itu," sahut Andreas dingin.

​Miller terdiam. Ia melihat bahu tuannya yang bergetar. Ia sadar, di balik sifat sombong dan arogannya, Andreas hanyalah seorang pemuda yang sedang mengalami konflik batin yang luar biasa hebat. Miller memilih berdiri beberapa meter di belakang, menjadi bayangan yang setia bagi tuannya yang sedang galau berat.

​Pintu kamar terbuka pelan. Zavian kembali dengan pakaian yang lebih segar, kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku. Ia baru saja pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian sesuai janji pada Grace.

​Grace yang tadinya gelisah, seketika menoleh. Melihat sosok Zavian, hatinya yang tadi mencm seolah tersiram air es yang sejuk.

​"Belum tidur, Sayang?" Zavian mendekat, meletakkan tasnya di sofa. Ia membungkuk, mengecup kening Grace dengan penuh kasih sayang. "Maaf ya, kalau kecupan Abang membangunkanmu."

​Grace tidak menjawab. Ia justru meraih tangan Zavian dan menariknya pelan. "Abang... peluk..." bisik Grace lirih.

​Zavian sedikit terkejut dengan permintaan manja Grace yang tidak biasa, namun ia segera naik ke sisi ranjang dan memeluk Grace dengan sangat hati-hati, memastikan tidak menekan lukanya. Grace menyembunyikan wajahnya di dada Zavian, menghirup aroma sabun dan parfum maskulin yang menenangkan.

​Di dalam hatinya, Grace ingin sekali bercerita bahwa Andreas baru saja datang. Ia ingin menangis dan mengadu betapa takutnya ia tadi. Namun, ia menelan semua kata-kata itu. Ia tidak ingin Zavian marah. Ia tahu seberapa besar kebencian Zavian pada Andreas, dan jika Zavian tahu Andreas berani menemuinya di sini, bisa terjadi keributan besar yang akan memperumit masalah.

​"Kenapa tanganmu dingin sekali, Grace? Kamu sakit lagi?" tanya Zavian khawatir, merasakan jemari Grace yang bergetar di punggungnya.

​"Hanya... hanya mimpi buruk sedikit, Bang. Tetaplah seperti ini sebentar saja," dusta Grace, mempererat pelukannya.

​Zavian mengelus rambut Grace, tak menyadari bahwa beberapa lantai di bawah sana, pria yang sangat ia benci sedang duduk di kegelapan parkiran, meratapi kesalahan yang tak mungkin bisa ia perbaiki. Di kamar itu, cinta dan trauma beradu dalam diam, sementara di luar, badai yang lebih besar sedang bersiap untuk menerjang.

1
awesome moment
gmn y klo Hadi senior tahu althea adalah grace.
awesome moment
zavian layak murka. luka jiwa grace tll parah
awesome moment
p rcn Gio
awesome moment
mmg mengerikan klo pendiam udh bucin dan marah
SENJA
halah lu sampah menjijikan
SENJA
emang ga becus semua andreas seketurunan 🤮
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
dahlah menikah sana kalian tunggu apalagi Zavian kan sudah saling melengkapi sekarang 🤭😛🤭
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
Andreas luu sebentar lagi lengser gak jadi CEO karena Althea anaknya Hadi akan menggantikan posisi itu sebagai ahli waris yang sah 🤭🤔🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
ciyeeeeh malu nih yeee kan beautiful view itu sick pack loh perut Zavian kek roti sobek 🤭😍🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
SENJA
aciyeee ciyeee🤣
SENJA
kepo kau aaah 😂
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
Zavian udah belajar beladiri sewaktu Grace masih dirawat waktu itu jadinya sekarang bisa diandalkan lah ya🤭
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
ayo Nalea Grace hajar semua orang kalian wanita kuat pasti bisa 🤭
❥␠⃝ ͭ🍁ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD 😋🦄
owalah pantasan Gio jadi krk gitu ternyata begitu ceritanya meninggalnya ibu Chintya bisa di mengerti Gio ingin membalas dendam 🤔
SENJA
belajar dia laaah 😂
SENJA
mampu gak lu??? 🤣
SENJA
hajar cecunguk itu semua
SENJA
hmmm sampah
SENJA
ternyata gio paling waras 😳
SENJA
beda umur jauh wakakaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!