NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang

Aula dalam kediaman Permaisuri sore itu dipenuhi aroma wewangian kamboja putih. Lampion merah muda digantung beraturan, memberikan kesan lembut dan damai sangat berbeda dengan suasana di dalamnya justru tegang. Para pelayan berdiri membentuk dua baris panjang, kepala tertunduk, menahan napas karena tak ingin mendapatkan kemurkaan Permaisuri.

Tak berpa lama pintu kayu ukiran phoenix itu terbuka perlahan. Langkah sepatu bermotif bordir biru giok memasuki ruangan, Ruoling melangkah masuk dengan kepala tegak, wajah tanpa ekspresi, seperti patung es yang diciptakan untuk bertahan dari hinaan dunia.

Ia membungkuk sedikit sebagai bentuk penghormatan kepada Permaisuri. “Yang Mulia memanggil?” suara Ruoling tenang namun dingin.

Permaisuri, yang duduk di kursi ukiran emas dengan kipas tipis di tangan, menatapnya tajam.

“Ruoling,” katanya tanpa basa-basi, “aku mendapat aduan mengenai perilakumu hari ini.”

Ruoling tidak menjawab. Napasnya stabil, seolah ia sudah tahu alasan pemanggilan ini. Tak masalah karna Ruoling sudah terbiasa mendapatkan hukuman, tapi setidaknya dirinya puas karna sudah membalas mereka yang membuatnya tidak senang.

Sementara Permaisuri memberi isyarat, seorang pelayan wanita yang matanya masih sembab maju dua langkah ke depan. Gadis muda itu tampak ketakutan, namun menemukan keberanian untuk berbicara karena ia berada di bawah perlindungan Permaisuri.

“Yang Mulia…” suaranya bergetar, “Putri Ruoling memarahiku dan menyebutku tidak tahu sopan santun. Ia menghina diriku di luar kediamannya dengan di saksikan pelayan lain, dan… dan… melukai hatiku dengan kata-katanya.”

Ruoling mendengus pelan. “Kalau hanya hatimu yang terluka, itu masih ringan. Kenyataannya kau lebih dulu melukai harga diriku dengan menjadi penasehat dan menyebarkan rumor tidak benar ke orang lain saat masih ada di wilayah kediamanku. Apa kau pikir itu pantas di lakukan padaku?"

Pelayan itu terisak sambil menggeleng lalu melirik Permaisuri dengan memohon perlindungan. "Itu tidak benar, Yang Mulia."

"Tidak benar? Aku dengan jelas mendengar kau berbicara dengan pelayan lain tentang diriku di luar kediamanku! Kau berkata aku menyakitimu dengan berlebihan tanpa berkata kalau itu semua berawal darimu."

"Apa itu benar?" Tanya Permaisuri pada pelayan yang tidak berani mengangkat wajahnya.

"Saya... saya berbicara apa adanya. Saat itu... Tuan Putri tidak terima dengan kejujuran saya lalu... dia berteriak marah, tanpa membiarkan saya membela diri langsung mendorong saya, Yang Mulia. Kemudian, setelahnya... Tuan Putri meminta saya untuk segera keluar sebelum dia menyakiti saya seperti apa yang sudah saya lakukan pada rambutnya."

"Apa itu semua benar?" Permaisuri mengalihkan pandangan pada Ruoling dengan tajam lalu menggala nafas kasar.

“Ya,” jawab Ruoling tanpa ragu. “Karena dia menarik rambutku, tapi tidak mengakui kesalahannya. Aku juga memarahi dan mendorongnya, tapi ceritanya tidak seperti yang dia katakan."

“A-aku tidak menarik rambut, Tuan Putri. Yang Mulia, aku hanya merapikan sanggulnya sesuai permintaannya. Tuan Putri mengatakan aku berlaku kasar padanya lalu mendorongku dan mengatakan kata-kata kasar, padahal aku... aku hanya melakukan tugasku."

Ruoling melipat tangan di depan dada, sikapnya santai namun penuh tantangan.

“Kau pikir aku tidak tahu perbedaan antara tangan yang membantu dengan tangan yang ingin menyakiti? Kau menarik rambutku dengan sengaja, mungkin berharap aku tersakiti supaya seseorang yang membayarmu puas!"

"Tidak! Saya hanya menghasilkan uang dari pekerjaan ini!"

"Jangan berbohong!"

"Saya tidak berbohong, Tuan Putri. Saya benar-benar mengatakan yang sesungguhnya."

"Aku tidak–"

"Diam!" Sela Permaisuri dengan tegas membuat dua orang yang berdebat itu diam, lalu orang nomor satu di kerajaan itu menyentuh keningnya pelan, pusing cara mendidik Ruoling. "Di sini urusan menghukum Ruoling biar jadi urusan saya sementara hukuman pelayan akan di lakukan oleh kepala pelayan!"

Suara bisik-bisik pelan tidak terima terdengar dari pelayan lain yang ikut menyaksikan sidang kecil yang di lakukan permaisuri. Kebanyakan dari mereka tidak percaya hukuman yang akan di berikan Permaisuri pada Ruoling akan berat.

Sementara itu Permaisuri mengangkat tangan untuk membungkam mereka. "Mereka berdua sama-sama salah, tapi di sini Ruoling yang paling bersalah."

"Tapi aku tidak bersalah," katanya pelayan itu pelan, tapi di dengar Ruoling yang menatap pelayan itu dengan senyum puas.

Setidaknya dirinya tidak di hukum seorang diri, tapi kepuasannya harus luntur karna mendapatkan tatapan tajam dari permaisuri.

"Pelayan itu akan tetap mendapatkan hukuman sesuai dengan yang di tetapkan karna sudah menyebarkan lebih dulu ke orang lain alih-alih ke istana untuk segera di tindak lanjuti." Jelas Permaisuri membuat Pelayan itu terisak semakin keras.

Beberapa pelayan saling bertukar pandang, kasihan sekaligus tidak bisa berbuat apa-apa karna akan di anggap tidak sopan saat berani membantah keinginan Permaisuri.

Permaisuri Lin menarik napas panjang. Ia memijat pelipisnya. “Ruoling… apa kau sadar berapa banyak laporan pelanggaran etika yang saya dapatkan hanya untukmu tahun ini? Mulai mencari masalah dengan anak-anak seusiamu, menteri, penjabat dan banyak orang lainnya yang tinggal di istana ini karna lidahmu yang tajam dan tanganmu semakin ringan menyakiti mereka itu."

Ruoling menundukkan kepala selama Permaisuri menasehatinya, namun bukan tanda penyesalan—lebih mirip bosan karna semua itu sudah sering di katakan padanya. “Kalau mereka tidak mulai, aku juga tidak akan membalas.”

Permaisuri mengisyaratkan sesuatu kepada salah satu pelayan senior di sampingnya. Pelayan itu segera menghampiri rak kayu dan mengambil sebuah buku tebal berwarna merah gelap—Buku Catatan Hukuman Istana.

Suara penutup terdengar berat ketika dibuka. Semua orang otomatis menegakkan tubuh. Buku itu adalah penuntun para Permaisuri untuk mendisiplinkan semua anak-anak Kaisar.

Permaisuri lalu mengalihkan pandangan, menatap Ruoling dengan mata yang menunjukkan campuran marah, iba dan sedih.

“Aku tidak ingin melakukan ini,” katanya lirih tapi tegas. “Tapi perangai burukmu semakin parah. Hari ini aku akan membacakan hukuman untukmu…”

Pelayan mendengarnya penuh harap sementara Ruoling hanya berdiri santai seolah tidak takut. Namun sebelum Permaisuri sempat bicara, pintu aula terbuka keras dan seorang pelayan lain berlari masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!