罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Junbi part II
...**...
...⛔️⚠️ Mengandung adegan kekerasan ⚠️⛔️...
...⚠️⚠️ Part lebih panjang ⚠️⚠️...
..._________________________________...
...血を磨く石...
...-Chi o Migaku Toishi-...
...'Batu Asah Darah'...
...⛩️🏮⛩️...
Ruang rapat itu sunyi seperti pemakaman. Dindingnya basah oleh waktu dan udara yang dipenuhi aroma besi tua dan dupa yang tidak pernah padam.
Di ujung meja, Raizen-sama duduk diam. Seolah ia tidak sekadar mendengar tapi mengukur.
Di hadapan sang Oyabun, tiga sosok berdiri: Sakaki Jin, Kuroda, dan Mikami Torao.
Jin bicara lebih dulu. Suaranya tajam, seperti besi yang diasah di atas batu.
"Tujuh hari sejak segel dipasang. Dan dia sudah mulai berani. Itu... mengejutkan."
Torao melirik sekilas ke arah luar ruangan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan senyum ramah, melainkan tarikan tipis penuh cemooh.
Kuroda melipat tangan di dada. Di antara mereka bertiga, hanya ia yang masih memakai pakaian tradisi lengkap.
"Kurasa tubuhnya perlu dilatih. Jika tidak, kekuatan itu akan menghancurkannya dari dalam. Dan jika segel hancur... semua yang dilakukan tidak ada artinya."
Jin menoleh ke Oyabun, lalu menunduk sedikit.
"Benar, Raizen-sama... izinkan kami mulai proses pelatihan fisik. Setidaknya kita bisa latih ketahanan fisiknya."
Diam.
"Sakaki, kau atur saja." Raizen akhirnya bersuara.
"Hai..!" Jawab Jin sambil membungkukkan tubuh nyaris sempurna setelah menerima perintah.
...⛩️🏮⛩️...
Sebelum semua orang keluar dari ruang rapat, Arakawa Kaito melangkah maju.
"Raizen-sama."
Kaito berlutut di depan Oyabun. Diam. Tegap. Lalu dari dalam lipatan haorinya, ia mengeluarkan sebilah tantō pendek.
Tangan kirinya diletakkan di atas baki kayu kecil.
Jari kelingkingnya terbuka.
Sakaki Jin terdiam. Torao berhenti menyeringai. Kuroda menatapnya lama.
Pisau itu bergerak turun—lambat, pasti, seperti ritual yang sudah dilatih berulang-ulang.
Namun sebelum logam belati menyentuh kulit, suara Oyabun terdengar.
"Berhenti."
Satu kata saja, tapi seisi ruangan membeku.
Kaito menahan gerakannya.
Oyabun menatapnya tanpa raut murka. Tapi dinginnya pandangan itu seperti embun beku yang masuk ke mata.
"Ini pertama kalinya, bukan?" Ujarnya pelan.
Kaito menunduk lebih dalam, pisau masih tergenggam, tapi kini hanya menjadi saksi atas niatnya.
Oyabun melipat tangan di pangkuannya, mata setengah terpejam.
"Bangun, Arakawa. Aku membutuhkanmu, bukan untuk satu kegagalan... tapi pastikan tidak ada lagi yang kedua."
Kaito mengangguk dan berdiri lalu membungkuk lebih dalam, tak membantah, tak membela diri.
Tapi di matanya, sesuatu telah mengeras.
Ia telah gagal sekali.
Dan bagi pria seperti Arakawa Kaito... sekali saja sudah terlalu banyak.
...⛩️🏮⛩️...
Keesokan pagi.
Tiga hari setelah percobaan pelarian.
Luka-luka Noa belum juga pulih.
Kaki kirinya masih pincang, otot tertarik cukup parah dan lututnya lebam saat ia terjatuh dari pagar kawat berduri—menghantam lantai beton. Rusuk kirinya terasa nyeri tiap kali bernapas, bekas tendangan salah satu Gokaishu saat menangkapnya kembali. Ia ditinggalkan di sel dingin, hanya dengan lampu redup dan futon basah.
Tidak ada belas kasihan. Tidak ada waktu untuk pulih.
Mereka menyeretnya keluar dari kamar bahkan sebelum matahari terbit. Dingin masih menggigit kulit. Ujung irezumi merah gelap di punggungnya terasa seperti luka hidup—berdenyut, seolah tinta itu sendiri tahu apa yang akan terjadi.
Tempat pelatihan ini bukan aula bawah tanah atau area terbuka. Masih dalam kompleks markas utama, mereka berpindah ke bangunan dojo lama yang sudah lama tidak terpakai—ruang kayu lapang yang menyimpan keheningan berdebu. Embun fajar, membuat lantai tatami terasa basah dan dingin, seakan udara membeku diam enggan untuk beranjak.
Napas Noa tercekat... aura tiga sosok di tengah ruangan berdiri Kuroda, Sakaki Jin, dan Mikami Torao.
Tubuh mereka tegap. Hanya Kuroda dengan raut tersenyum samar dibanding mata lain yang tampak seperti cermin membeku.
"Pelarianmu," kata Jin nyaris seperti gumaman, "mengungkapkan dua hal."
Langkahnya maju satu langkah. Sepasang tabi—kaos kaki berbelah jempol, berketuk lembut di tatami.
"Satu—kau bodoh."
"Dua—itu berarti tubuhmu siap menerima latihan fisik."
"Kita akan perbaiki itu."
Dan siksaan neraka pun dimulai.
Tiga puluh menit kemudian Kuroda dan Mikami Torao, meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata. Dan hanya menyisakan Jin dan Noa.
...⛩️🏮⛩️...
Oyabun tidak ikut mengawasi, ia hanya menerima laporan rutin dari kaki tangan kepercayaannya.
Minggu Pertama – dipimpin oleh Jin.
Latihan pertama bukan teknik. Bukan bela diri.
Tapi kepatuhan.
Noa dipaksa duduk seiza di atas paku baja tumpul selama berjam-jam, tulang keringnya membiru, kakinya berdarah. Setiap kali tubuhnya goyah, cambuk rotan berujung logam menghantam lengan atau pahanya.
Makanannya selalu datang di mangkuk kecil: seporsi protein keras setengah matang, segenggam nasi merah hambar, bubur oat kental tanpa rasa, dan sayuran rebus pahit. Tidak ada rasa, hanya fungsional—bahan bakar.
Tidurnya pun di lantai dingin, futon yang biasa ia tempati—diambil, punggung pegal tiap terbangun. Malam terasa lebih seperti latihan tambahan ketimbang istirahat.
Hanya air yang berlimpah—botol demi botol, liter demi liter—seakan tubuhnya mesin yang dipaksa tetap hidup, meski jiwanya perlahan terkikis.
Setiap malam, ia dipaksa menghafal doktrin sejarah klan dan warisan Kuraokami dalam aksara kuno.
Sekecil apa pun kesalahan, tidak pernah dibiarkan lolos. Satu kata yang meleset, satu gerakan yang tidak sesuai aturan—balasannya datang seketika.
Jin menyebut ini "Pemurnian melalui rasa sakit."
"Kau bukan lagi manusia utuh.
Kau hanya benda pusaka milik klan.
Dan pusaka dibentuk dalam api dan pukulan."
...⛩️🏮⛩️...
Minggu Kedua dan Ketiga– Torao dan lima Gokaishu yang melatih.
Luka-luka Noa belum juga sembuh—namun latihan mulai meningkat.
Ia dihadapkan pada simulasi pertempuran brutal, seringkali tanpa senjata. Lawan-lawan bersenjata tongkat logam tumpul. Ia harus bertahan. Tapi yang dicari bukan kemenangan, melainkan bertahan sambil tetap sadar.
Kaki Noa pincang makin parah, tapi tidak ada yang peduli.
Kadang ia merangkak, darah dari kakinya menetes di lantai pelatihan, membentuk jejak yang diabaikan semua orang.
Gokaishū mulai memainkan mental Noa:
Bayangan-bayangan dilempar ke ruangan gelap. Rekaman tangis ibunya. Bisikan suara masa kecilnya muncul saat ketakutan.
'Kau cuma anak liar.'
'Kau mengecewakan.'
'Kau bukan naga, kau binatang gagal.'
Tiap malam, suhu tubuhnya turun.
Tiap pagi, dia harus berdiri sambil membaca naskah sambil gemetaran.
...⛩️🏮⛩️...
...Minggu Keempat – diawasi oleh Kuroda....
Dan saat itu... sesuatu berubah.
Satu malam, ia dipaksa berdiri telanjang di bawah pancuran es selama dua jam. Tubuhnya mulai kejang, kuku-kuku dan ujung jarinya nya memutih. Ia jatuh. Menggigil. Tidak bergerak.
Noa dipaksa bertahan sampai batas kesadarannya tak bersisa.
Kemudian...
Tato naga merah di punggungnya yang dulu hanya mengular dari bahu ke pinggang, mulai menyebar.
Tinta itu bergerak.
Garis merah menjalar ke tulang belikat, membentuk bayangan seperti sayap yang tidak tumbuh. Urat-urat darah menyembur dari garis tinta, tapi anehnya, Noa tidak merasa sakit.
Ketika sadar kembali, dunia berubah.
Ia bisa mendengar detak jantung Kuroda dari seberang ruangan.
Ia bisa mencium besi dari pisau tersembunyi di sepatu Jin.
Ia bisa merasakan niat seseorang sebelum mereka menyerang.
Kekuatan itu—Kuraokami telah bangkit dalam darahnya. Hanya sebatas kesadaran yang diambil alih. Hanya sebentar.
Namun, setiap kali Kuraokami kembali terlelap, selalu ada harga yang harus dibayar.
Penglihatan Noa mulai kabur. Luka-lukanya tidak mengering, justru membentuk jaringan luka bakar menghitam. Tiap kali ia gunakan kekuatannya, efek-efek ini berlangsung selama beberapa hari, dan berangsur pulih setelah empat hari.
...—つづく—...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍